بسم الله الرحمن الرحيم
📚┃Materi : "Haadzihi 'Aqidatunaa"
✍🏼┃Karya : Abu Umair Majdi bin Arafat Al-Mishri Hafidzahullah
🎙┃Pemateri : Ustadz Mohammad Alif, Lc, M.Pd Hafidzahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari)
🗓┃Hari & Tanggal : Hari Jum'at, 29 Juni 2026 / 5 Muharram 1448 H
🕰┃Waktu : Ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃Tempat : Masjid Al-Qomar - Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo, Jawa Tengah 57142
Inilah Aqidah Kami - Pertemun#10 Prinsip akidah kita adalah mencintai sahabat Nabi ﷺ dan Taat pada Pemimpin
Prinsip akidah kita adalah mencintai sahabat Nabi ﷺ
Malanjutkan pembahasan pada pertemuan sebelumnya.
Kemudian Ali, menantu Rasulullah melalui putrinya Fatimah dan sepupunya, Anak laki-laki pertama yang beriman dan anak yang kepadanya Nabi ﷺ berkata: “Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa.” (Diriwayatkan oleh Muslim (2404) dan At-Tirmidhi (3731) dari Sa'd ibn Abi Waqqas).
Kemudian datanglah sepuluh orang lainnya yang dijanjikan Surga: Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin 'Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, Abdurrahman bin 'Auf, dan Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah. Kemudian datanglah penduduk Badar, tiga ratus lebih laki-laki dan perempuan. Kemudian datanglah penduduk Ridwan, sebagaimana firman Allah Yang Maha Agung:
لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Allah berkenan kepada orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepada kamu di bawah pohon itu, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberi mereka kemenangan yang dekat.” [Al-Fath: 18]
- Kemenangan yang dekat ditafsirkan sebagai kemenangan perang Khaibar.
Kemudian datanglah penduduk Uhud, dan kemudian semua Sahabat lainnya, semoga Allah memberkati dan memberi mereka kedamaian. Kewajiban kita adalah mencintai dan menghormati mereka semua. Dan kami tetap diam tentang apa yang terjadi di antara mereka. Ketika para Sahabat Nabi ﷺ disebutkan, kami menahan diri untuk tidak berbicara, karena kami tahu bahwa mereka semua akan mendapat pahala. Siapa pun di antara mereka yang benar akan mendapat dua pahala, dan siapa pun yang keliru akan diampuni kesalahannya dan mendapat pahala atas usahanya.
Hal ini agar kami dapat membedakan diri dari kaum Syiah yang membenci mereka, kaum Khawarij yang menyatakan mereka kafir, dan kaum Nawasib yang menyimpan permusuhan terhadap keluarga Nabi. Kami adalah umat yang moderat; kami mencintai para Sahabat Rasulullah, dan kami menghormati masing-masing dari mereka. Kami tidak membenci salah satu dari mereka, dan kami juga tidak menyebutkan apa yang terjadi di antara mereka secara rinci, karena penyebutan seperti itu akan menyebabkan sebagian hati akan mewarisi kedengkian kepada mereka. Maka cukup yang demikian itu sebagai sebab kebinasaan. Na'udzubillahmindalik.
Adapun Ummahatul Mukminin adalah istri-istri Nabi ﷺ di dunia dan akhirat. Berbeda dengan orang-orang Syiah yang menuduh mereka bukan Ummahatul Mukminun dan bukan Isteri-isteri Nabi ﷺ di akhirat.
Sesungguhnya Allah ﷻ membersihkan hati mereka dan kita mengagungkan mereka dan kedudukan Mereka yang tidak didapat pada Isteri-isteri yang lain.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an ayat ke-33 dari surah al-Ahzab,
وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۗ اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ ٣٣
Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (al-Ahzab: 33).
Meskipun ayat ini ditujukan untuk Isteri-isteri Nabi ﷺ, tetapi hukumnya untuk seluruh wanita muslim.
Isteri-isteri Nabi ﷺ adalah ahlul bait Nabi ﷺ (berbeda dengan Syiah). Begitu juga Ali dan Fathimah, anak keturunan Nabi ﷺ juga masuk pada ahlul bayt golongan pertama dan begitu juga Isteri-isteri Nabi ﷺ yang ayat-ayat Al-Qur’an turun dan dibacakan di rumah-rumah mereka.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 34:
وَٱذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِى بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ وَٱلْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.
Allah ﷻ memilih mereka sebagai pasangan Nabi ﷺ sebagai wanita-wanita yang suci, terjaga, mulia kedudukannya, menjaga dirinya, mukmin, ahli taat (berhijrah kepada Allah ﷻ), ahli puasa dan janda dan gadis.
Ibunda kaum mukminin itulah Isteri-isteri Nabi ﷺ yang kelak berada di surga bersama Nabi ﷺ. Maka, kita benci kepada kaum Syiah karena iman, kita wajib mencela mereka jika mereka mencela kehormatan Rasûlullâh ﷺ dan jika mereka mencela Nabi ﷺ dan Al-Qur'an, maka kita wajib mencela mereka.
Kita wajib mencintai dan memuliakan Ummahatul Mukminin dan wajib mempelajari kedudukan para isteri Nabi ﷺ. Mereka adalah isteri Nabi ﷺ yang mengetahui rahasia dan kepribadian Nabi ﷺ. Yang mana ini disebut Allâh dalam firman-Nya dalam Surat Al-Ahzab Ayat 6:
اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْۗ وَاُولُوا الْاَرْحَامِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ اِلَّآ اَنْ تَفْعَلُوْٓا اِلٰٓى اَوْلِيَاۤىِٕكُمْ مَّعْرُوْفًاۗ كَانَ ذٰلِكَ فِى الْكِتٰبِ مَسْطُوْرًا ٦
Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (saling mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikian itu telah tertulis dalam Kitab (Allah).
Maka, Isteri-isteri Nabi ﷺ semuanya dari Khadijah hingga Aisyah Radhiyallahu’anha. Mereka wanita-wanita yang suci, ahli taat dan mereka adalah ibunda-ibunda kita. Barangsiapa ada yang berlepas diri dari mereka, maka menjadi orang yang berlepas diri dari kaum yang beriman. Sebagaimana Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma saat memberantas Khawarij, yang ingin menawan sedang itu ada ibunda Aisyah
Wahai kalian, apakah isteri Nabi ﷺ ingin menjadi salah satu yang dipanah oleh kalian, bukankah mereka bukan dari ibunda kaum mukminin, Ibnu Abbas berkata, jika kalian berlepas diri dari ibunda Aisyah, maka kalian telah kafir atau jika kalian akan menawan maka kalian telah kafir, beliau adalah ibunda orang-orang yang beriman, dan siapa yang mau menyakiti ibunda kaum mukminin, ingatlah bahwa mereka harus lebih dicintai dari pada ibunda sendiri.
Kemudian beliau menyebut surat Al-Ahzab Ayat 6 di atas. Dan Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu menyebut Nabi ﷺ sebagai bapaknya orang yang beriman.
******
Prinsip akidah kita adalah Taat kepada Pemimpin
Termasuk dari prinsip akidah Ahlussunnah adalah wajib mentaati pemimpin kaum muslimin selagi mereka mendirikan shalat, tidak memberontak kepada mereka, mendo'akan kebaikan dan tidak mendoakan keburukan bagi mereka.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 59:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, ”Wahai Rasulullah, tidakkah kita menentang mereka dengan pedang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855)
Dalam hadits di atas terdapat dalil untuk memerangi penguasa dengan pedang apabila mereka tidak mendirikan shalat.
Tetapi dilarang selama pemimpin itu selalu membawa nama Islam, mewakili kaum muslimin dan mengatur urusan kaum muslimin. Mendirikan shalat dan mengajak untuk mendirikan shalat dan selalu di atas Islam, maka wajib mentaatinya.
Tetapi jika pemimpin mengajak maksiat, maka tidak boleh ditaati, sebagaimana orang yang mengajak kebaikan, maka kita wajib taati dan haram dalam hal maksiat. Dan tidak ada pemimpin yang maksum selain Rasulullah ﷺ.
اصبروا فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنه لا يأتي على الناس زمان إلا وما بعده شر منه حتى تلقوا ربكم
“Bersabarlah, karena sesungguhnya Nabi shalallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya tidaklah datang suatu jaman, melainkan jaman setelahnya itu lebih buruk dari jaman sebelumnya sampai kalian menghadap kepada Rabb kalian.'”
Sabda Nabi Muhammad ﷺ:
عَنْ أَبِي بَكَرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ «مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الدُّنْيَا، أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
Diriwayatkan dari Abu Bakrah ia berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa memuliakan pemimpin di dunia, maka Allah akan memuliakan nya di akhirat. Namun barang siapa merendahkan (menghina) pemimpin di dunia, maka Allah akan merendahkannya di akhirat. (HR. Al-Turmidzi No. 2224)
Lihatlah para salaf dahulu bermuamalah dengan pemimpin tanpa memberontak kepada mereka, ketika pemimpin buruk mereka tidak memberontak dan mendo'akan kebaikan kepada mereka dan wajib mendoakan pemimpin dengan kebaikan, sebagaimana Imam Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata, "Seandainya aku memiliki satu do'a yang mustajab, niscaya aku tidak akan menjadikannya kecuali untuk pemimpin."
Alasannya adalah jika seorang pemimpin menjadi baik, amanah, dan bertakwa, maka kebaikannya akan memberikan dampak positif kepada seluruh rakyat dan wilayah yang dipimpinnya. Hal ini juga menjadi pedoman bagi para ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, yang meyakini pentingnya mendoakan pemerintah demi kemaslahatan bersama.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم