بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 17: Rabu, 26 Jumadil Akhir 1447 / 17 Desember 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
Melanjutkan pembahasan pada pertemuan sebelumnya:
Pemimpin yaitu orang yang mengurusi urusan kaum Muslimin, dialah yang disepakati rakyat baik diangkat secara sukarela, kesepakatan, penunjukan bahkan meskipun dengan kudeta. Maka, siapapun yang menang diakui meskipun caranya kita tidak menyetujuinya.
وَمَنْ خَرَجَ عَلَى إِمَامِ المُسْلِمِينَ - وَقَدْ كَانَ النَّاسُ اجْتَمَعُوا عَلَيْهِ وَأَقَرُّوا لَهُ بِالخِلَافَةِ بِأَيِّ وَجْهٍ كَانَ بِالرِّضَا أَوْ بِالغَلَبَةِ - فَقَدْ شَقَّ هَذَا الخَارِجُ عَصَا المُسْلِمِينَ، وَخَالَفَ الآثَارَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، فَإِنْ مَاتَ الخَارِجُ عَلَيْهِ؛ مَاتَ مِيتَةَ جَاهِلِيَّةٍ.
(39) Siapa yang memberontak pemimpin kaum Muslimin, sementara manusia telah menyepakatinya dan mengakui kepemimpinannya dengan cara apapun, dengan kerelaan maupun kudeta, maka si Khowarij itu telah mematahkan persatuan kaum Muslimin, menyelisihi hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika si Khowarij ini mati di atas itu maka ia mati seperti matinya orang Jahiliyah.
وَلَا يَحِلُّ قِتَالُ السُّلْطَانِ وَلَا الخُرُوجُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ عَلَى غَيْرِ السُّنَّةِ وَالطَّرِيقِ.
(40) Tidak boleh bagi siapapun memerangi penguasa dan tidak boleh pula memberontaknya. Siapa yang melakukan itu maka ia seorang mubtadi, tidak di atas Sunnah dan jalan yang lurus.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 16: Rabu, 19 Jumadil Akhir 1447 / 10 Desember 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِيرِ المُؤْمِنِينَ البَرِّ وَالفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِيَ الخِلَافَةَ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوا بِهِ، وَمَنْ غَلَبَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيفَةً وَسُمِّيَ أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ.
34. Wajib mendengar dan taat kepada para imam dan Amirul Mukminin, shalih maupun zolim, dan kepada siapa saja yang memegang kepemimpinan di mana manusia berkumpul padanya dan meridhoinya, dan kepada siapa yang menang kudeta dengan senjata hingga menjadi khalifah dan dipanggil Amirul Mukminin.
وَالغَزْوُ مَاضٍ مَعَ الأَمِيرِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ البَرِّ وَالفَاجِرِ، لَا يُتْرَكُ.
35. Berperang bersama pemimpin yang shalih dan zolim berlaku hingga hari Kiamat, dan tidak boleh ditinggalkan.
وَقِسْمَةُ الفَيْءِ وَإِقَامَةُ الحُدُودِ إِلَى الأَئِمَّةِ مَاضٍ، لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَطْعَنَ عَلَيْهِمْ وَلَا يُنَازِعَهُمْ.
36. Pembagian fai (ghonimah yang diperoleh tanpa peperangan) dan penerapan had (hukuman) menjadi hak pemimpin dan selalu diberlakukan. Tidak boleh seorang pun memprotesnya dan menentangnya.
وَدَفْعُ الصَّدَقَاتِ إِلَيْهِمْ جَائِزَةٌ نَافِذَةٌ، مَنْ دَفَعَهَا إِلَيْهِمْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا.
37. Pembayaran zakat kepada mereka adalah diperbolehkan dan sah. Siapa yang menyerahkan zakat mereka kepada penguasa (untuk didistribusikan) maka telah sah, baik pemimpin baik maupun zolim.
وَصَلَاةُ الجُمُعَةِ خَلْفَهُ وَخَلْفَ مَنْ وَلَّاهُ جَائِزَةٌ بَاقِيَةٌ تَامَّةٌ رَكْعَتَيْنِ، مَنَ أَعَادَهُمَا فَهُوَ مُبْتَدِعٌ، تَارِكٌ لِلْآثَارِ، مُخَالِفٌ لِلسُّنَّةِ، لَيْسَ لَهُ مِنْ فَضْلِ الجُمُعَةِ شَيْءٌ إِذَا لَمْ يَرَ الصَّلَاةَ خَلْفَ الأَئِمَّةِ مَنْ كَانُوا بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ؛ فَالسُّنَّةُ أَنَّ يُصَلِّيَ مَعَهُمْ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدِينُ بِأَنَّهَا تَامَّةٌ، وَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ مِنْ ذَلِكَ شَكٌّ.
38. Shalat (Jumat) bermakmum kepadanya dan kepada siapa yang ditunjuk olehnya adalah boleh dan sempurna dua rakaat. Siapa yang mengulangnya (karena menganggap tidak sah) maka ia seorang ahli bid’ah, meninggalkan petunjuk dan menyelisihi Sunnah. Tidak mendapatkan pahala Jumat sedikitpun siapa yang memandang tidak sah bermakmum kepada pemimpin tersebut, yang shalih maunpun yang zolim. Sebab, yang sesuai Sunnah adalah shalat bersama mereka dua rakaat dan meyakini telah sempurna, tanpa ada keaguan sedikitpun di hatimu.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 15: Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 / 26 November 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ
وَخَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، نُقَدِّمُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ كَمَا قَدَّمَهُمْ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَمْ يَخْتَلِفُوا فِي ذَلِكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ أَصْحَابُ الشُّورَى الخَمْسُ: عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَسَعْدٌ، كُلُّهُمْ يَصْلُحُ لِلْخِلَافَةِ وَكُلُّهُمْ إِمَامٌ. وَنَذْهَبُ فِي ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ: كُنَّا نَعُدُّ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيٌّ، وَأَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ نَسْكُتُ.
Yang terbaik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu Umar bin Khatab lalu Utsman bin Affan. Kami mendahulukan mereka bertiga seperti yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka tidak berselisih tentangnya. Kemudian setelah tiga orang ini adalah tim musyawarah (di zaman Umar), yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad. Mereka semua layak menjadi khalifah dan mereka semua adalah pemimpin (tokoh). Kami berpendapat seperti itu merujuk kepada hadits Ibnu Umar: “Kami dahulu mengurutkan saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat masih hidup: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu kami diam.”
ثُمَّ مِنْ بَعْدِ أَصْحَابِ الشُّورَى أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ المُهَاجِرِينَ، ثُمَّ أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَدْرِ الهِجْرَةِ وَالسَّابِقَةِ أَوَّلًا فَأَوَّلًا.
Kemudian setelah tim musyawarah adalah pasukan Badar dari Muhajirin lalu pasukan Badar dari Anshor yang merupkan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (pilihan), di mana keutamaan mereka sesuai keterdahuluan hijroh dan masuk Islam.
ثُمَّ أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ هَؤُلَاءِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: القَرْنُ الَّذِي بُعِثَ فِيهِمْ. كُلُّ مَنْ صَحِبَهُ سَنَةً أَوْ شَهْرًا أَوْ يَوْمًا أَوْ سَاعَةً أَوْ رَآهُ، فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ. لَهُ مِنَ الصُّحْبَةِ عَلَى قَدْرِ مَا صَحِبَهُ، وَكَانَتْ سَابِقَتُهُ مَعَهُ، وَسَمِعَ مِنْهُ، وَنَظَرَ إِلَيْهِ نَظْرَةً. فَأَدْنَاهُمْ صُحْبَةً هُوَ أَفْضَلُ مِنَ القَرْنِ الَّذِينَ لَمْ يَرَوْهُ، وَلَوْ لَقُوا اللَّهَ بِجَمِيعِ الأَعْمَالِ.
Kemudian manusia terbaik setelah mereka para Sahabat Rasulullah adalah generasi yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus kepada mereka. (31) Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik setahun, sebulan, sehari, bahkan sesaat pun atau pernah melihatnya, maka ia termasuk Sahabatnya. Derajat persahabatannya sesuai kadar lama bersahabat, keterdahuluan masuk Islam, mendengar darinya, dan melihatnya. (32) Orang yang paling rendah kadar persahabatannya adalah lebih utama daripada generasi yang tidak melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun bertemu Allah membawa semua jenis amal shalih.
كَانَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ صَحِبُوا النَّبِيَّ ﷺ وَرَأَوْهُ وَسَمِعُوا مِنْهُ وَمَنْ رَآهُ بِعَيْنِهِ وَآمَنَ بِهِ وَلَوْ سَاعَةً: أَفْضَلَ لِصُحْبَتِهِ مِنَ التَّابِعِينَ وَلَوْ عَمِلُوا كُلَّ أَعْمَالِ الخَيْرِ.
Orang-orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, melihatnya, mendengar darinya, dan siapapun yang melihat dengan kedua matanya dan beriman kepadanya meski sesaat adalah lebih utama disebabkan persahabatan ini daripada Tabiin meskipun pernah mengerjakaan semua amal kebaikan.
Selengkapnya: Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ