بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Tuntaskan di Sini Sebelum di Sana
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden, Lc Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Jum'at, 11 September 2026 M / 29 Rabi’ul Awal 1448
🕌┃ Tempat : Masjid As-Syifa Ampel Boyolali
1. Hari Kiamat Pasti Akan Datang
Hari kiamat adalah perkara yang pasti terjadi. Allah ﷻ berulang kali menyebutkannya dalam Al-Qur’an dengan berbagai nama.
Hari kiamat sangat panjang. Allah ﷻ berfirman:
فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Dalam satu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij ayat 4)
Hari kiamat adalah hari pembalasan. Dunia adalah tempat beramal, sedangkan akhirat adalah tempat menerima balasan. Karena itu, selama masih hidup, seseorang memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan menyelesaikan hak orang lain.
2. Dahsyatnya Hari Kiamat
Pada hari kiamat:
- Langit akan terbelah.
- Para malaikat berada di berbagai penjuru langit.
- Arsy Allah ﷻ dibawa oleh delapan malaikat.
- Neraka Jahanam didatangkan ke hadapan manusia.
- Manusia berdiri dalam keadaan sangat takut dan gelisah.- Tidak ada yang berani berbicara kecuali yang Allah ﷻ izinkan.
- Bumi akan menjadi saksi atas apa yang pernah dilakukan manusia.
- Mulut manusia dapat ditutup, sementara tangan dan kaki berbicara memberikan kesaksian.
Allah ﷻ berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang akan hilang atau terlupakan.
3. Keadilan Sempurna di Akhirat
Keadilan di dunia tidak selalu dapat dituntaskan. Ada orang yang dizalimi tetapi pelakunya tidak pernah tertangkap. Ada kejahatan yang hukumannya di dunia tidak sebanding dengan penderitaan korbannya.
Maka keberadaan hari akhir menunjukkan bahwa keadilan Allah ﷻ akan sempurna.
Orang yang selama di dunia dizalimi tidak perlu khawatir. Haknya akan dikembalikan di akhirat. Sebaliknya, orang yang menzalimi orang lain harus takut karena semua kezalimannya akan dituntut.
4. Hak Manusia Harus Dituntaskan di Dunia
Inilah inti kajian:
Jangan menunggu penyelesaian sampai akhirat. Selesaikan hak manusia selama masih di dunia.
Taubat dari dosa kepada Allah memiliki tiga syarat:
1. Meninggalkan dosa tersebut.
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
Namun jika dosa berkaitan dengan hak manusia, ada syarat tambahan:
4. Menyelesaikan hak orang yang dizalimi
Contohnya:
• Mengembalikan harta yang diambil.
• Membayar utang.
• Meminta maaf atas kezalimannya.
• Meminta kehalalan dari orang yang dizalimi.
• Memperbaiki kehormatan orang yang telah dirusak.
Taubat kepada Allah tidak otomatis menggugurkan hak manusia.
5. Jangan Menjadi “Orang Bangkrut” di Akhirat
Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang memiliki kezhaliman terhadap saudaranya agar meminta kehalalannya sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, ”Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda laitnya.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sudut pandang yang berbeda. Baliau bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa dan zakat. namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa alasan yang dibenarkan). Maka orang-orangyang menjadi korbannya ini akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikan si pelaku. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” [HR. Muslim].
Pada hari itu, “mata uang” yang digunakan adalah amal kebaikan dan amal keburukan.
Jika seseorang pernah menzalimi orang lain:
• Pahala amalnya dapat diberikan kepada orang yang dizalimi.
• Jika pahala kebaikannya habis, dosa orang yang dizalimi dapat dipindahkan kepadanya.
Inilah gambaran orang yang bangkrut di akhirat.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada orang yang datang membawa pahala salat, puasa dan zakat, tetapi ia juga pernah:
• Mencaci orang lain.
• Menuduh orang lain.
• Mengambil harta orang lain.
• Menyakiti dan memukul orang lain.
• Menumpahkan darah atau menjadi sebab terjadinya kezaliman.
Akhirnya pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahala itu habis, dosa mereka ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka.
Jangan sampai banyak amal, tetapi bangkrut karena kezhaliman kepada manusia.
6. Semua Hak Akan Dituntaskan
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Benar-benar hak-hak itu akan diberikan kepada pemiliknya pada hari kiamat.”
Keadilan Allah ﷻ sangat sempurna. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa hewan yang tidak bertanduk akan mendapatkan kesempatan membalas hewan bertanduk yang pernah menanduknya.
Maka manusia jauh lebih layak untuk mendapatkan keadilan atas kezalimannya.
7. Pada Hari Kiamat, Bahkan Keluarga Bisa Saling Menuntut
Allah ﷻ menggambarkan:
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36)
Mengapa? Karena setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri dan takut terhadap tuntutan hak.
Hubungan keluarga yang biasanya sangat dekat tidak lagi menjadi jaminan keselamatan.
Allah ﷻ juga berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Yang menyelamatkan bukan sekadar hubungan keluarga, tetapi ketakwaan.
8. Beberapa Kezaliman yang Harus Diwaspadai
A. Pembunuhan
Dari ‘Abdullah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِى الدِّمَاءِ
“Urusan pertama yang akan diselesaikan (pada hari kiamat) di antara sesama manusia adalah mengenai darah.” (HR. Bukhari no. 6864 dan Muslim no. 1678).
Perkara darah merupakan perkara yang sangat berat dan termasuk perkara yang pertama kali diselesaikan di akhirat. Orang yang membunuh tidak boleh meremehkan masalah ini.
Jika masih hidup, ia harus benar-benar bertaubat dan menempuh penyelesaian yang sesuai dengan syariat terhadap hak korban dan keluarganya.
B. Kezaliman terhadap Tetangga
Perselisihan antar-tetangga termasuk perkara yang berbahaya. Jangan meremehkan gangguan kecil kepada tetangga, karena setiap hak akan dipertanggungjawabkan. Jangan mencari masalah dengan tetangga.
C. Ketidakadilan dalam Rumah Tangga
Orang yang memiliki tanggung jawab terhadap lebih dari satu istri wajib berlaku adil. Kezaliman dalam rumah tangga juga akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada istri sesuai kemampuan dan secara ma’ruf, meliputi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan. Namun hak yang dimiliki seseorang dapat ia relakan.
Jika seorang istri dengan ikhlas menggugurkan haknya, maka itu menjadi kebaikan baginya.
D. Kezaliman Pemimpin terhadap Bawahan
Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula amanahnya. Seorang pemimpin yang memiliki bawahan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Keadilan adalah syarat keselamatan dari beratnya pertanggungjawaban tersebut.
9. Ghulul: Khianat dan Korupsi
Ghulul adalah khianat terhadap harta yang bukan menjadi haknya. Maknanya tidak terbatas pada harta rampasan perang, tetapi mencakup berbagai bentuk pengkhianatan terhadap harta dan amanah.
Di zaman sekarang, salah satu bentuknya adalah korupsi.
Termasuk di dalamnya:
• Mengambil uang yang bukan haknya.
• Memanipulasi anggaran.
• Mengambil keuntungan pribadi dari fasilitas yang dipercayakan.
• Menggunakan fasilitas pekerjaan untuk kepentingan pribadi tanpa hak.
• Mengurangi atau menyembunyikan bagian yang seharusnya diberikan kepada orang lain.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatinya.” (QS. Ali ‘Imran: 161)
Apa yang dikorupsi akan dibawa dan dipertanggungjawabkan di akhirat.
10. Jangan Meremehkan Korupsi Sekecil Apa Pun
Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang seseorang yang menyembunyikan barang yang menjadi amanahnya, bahkan sesuatu yang sangat kecil.
Ini menunjukkan bahwa besar-kecilnya nominal bukan alasan untuk meremehkan pengkhianatan. Satu barang yang bukan hak kita tetap menjadi amanah yang harus dikembalikan. Karena itu, jangan menganggap: “Cuma sedikit.”
Di akhirat, yang sedikit pun akan dipertanggungjawabkan.
11. Sengketa Tanah
Mengambil tanah orang lain secara zalim merupakan dosa besar.
Rasulullah ﷺ memperingatkan orang yang mengambil tanah orang lain walaupun hanya sejengkal.
Maka jangan bermain-main dengan batas tanah:
• Jangan menggeser patok.
• Jangan mengambil tanah tetangga.
• Jangan memanipulasi batas kepemilikan.
• Jangan mengklaim sesuatu yang bukan hak kita.
Lebih baik mengalah di dunia daripada dituntut di akhirat.
12. Utang Harus Dibayar
Utang bukan dosa yang cukup diselesaikan hanya dengan istighfar. Utang harus dibayar.
Al-Qur’an bahkan memberikan perhatian sangat besar terhadap utang. Ayat terpanjang dalam Al-Qur’an adalah ayat tentang pencatatan utang, yaitu QS. Al-Baqarah: 282.
Jika seseorang memiliki utang: Selesaikan selama masih hidup. Jangan menunda-nunda karena tidak ada yang tahu kapan kematian datang. Jika orang yang memberi utang sudah tidak ditemukan, salah satu solusi yang disebutkan para ulama adalah bersedekah senilai utang tersebut atas namanya, sambil tetap memiliki tanggungan dan kesiapan untuk menyelesaikan hak tersebut jika suatu saat pemiliknya ditemukan.
13. Utang Sangat Berat di Akhirat
Dalam beberapa hadis dijelaskan beratnya persoalan utang.
Bahkan Rasulullah ﷺ pernah tidak langsung menyalatkan jenazah yang masih memiliki utang hingga ada sahabat yang bersedia menanggung pembayarannya. Ini menunjukkan bahwa: Utang adalah hak manusia yang tidak boleh dianggap ringan.
Maka pilihannya sederhana: Bayar dengan uang di dunia atau berisiko membayar dengan amal di akhirat. Tentu jauh lebih ringan menyelesaikannya dengan uang selama masih di dunia.
14. Ghibah dan Merusak Kehormatan Orang
Ghibah juga merupakan bentuk kezaliman terhadap manusia.
Jika seseorang pernah mengghibahi orang lain, kemudian merasa meminta maaf secara langsung justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar, para ulama menyebutkan bentuk perbaikan yang dapat dilakukan, di antaranya:
• Memohonkan ampun untuk orang yang dighibahi.
• Mendoakan kebaikan untuknya.
• Menyebutkan kebaikan orang tersebut di hadapan orang-orang yang sebelumnya mendengar ghibahnya.
• Berusaha memperbaiki citra buruk yang pernah ia sebabkan.
Intinya adalah memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan oleh ghibah.
15. Amanah Pekerjaan dan Upah
Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga golongan yang Allah ﷻ menjadi musuh mereka pada hari kiamat. Salah satunya adalah: Orang yang mempekerjakan seseorang, mengambil manfaat dari pekerjaannya, tetapi tidak memberikan upahnya.
Maka menahan atau tidak membayar upah pekerja secara zalim adalah perkara yang sangat berbahaya. Begitu pula seorang pemimpin atau atasan harus menunaikan amanah terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
16. Pesan Utama Kajian
Seluruh pembahasan ini bermuara pada satu pesan:
TUNTASKAN DI SINI SEBELUM DI SANA
Selama masih hidup:
• Bayar utang.
• Kembalikan barang yang bukan milik kita.
• Selesaikan sengketa.
• Minta maaf kepada orang yang kita zalimi.
• Minta kehalalan dari orang yang pernah kita sakiti.
• Jangan mengambil hak orang lain.
• Jangan korupsi.
• Jangan mengganggu tetangga.
• Jangan merusak kehormatan orang.
• Tunaikan amanah.
• Bayarkan hak pekerja.
• Berlaku adil kepada keluarga dan bawahan.
Jangan menunggu hari ketika dinar dan dirham tidak lagi berlaku. Karena di akhirat, yang menjadi alat pembayaran adalah amal.
17. Penutup: Selagi Masih Ada Kesempatan
Hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kita masih bisa: meminta maaf, mengembalikan hak, membayar utang, memperbaiki amanah, dan bertaubat.
Tetapi ketika kematian datang, kesempatan itu berakhir. Dunia yang sekarang terasa nyata akan menjadi cerita, sedangkan akhirat yang sekarang hanya kita dengar akan menjadi kenyataan. Maka jangan menunda.
Tuntaskan hak manusia di dunia sebelum datang hari ketika seluruh hak akan dituntaskan di hadapan Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ memberikan kita taufik untuk menunaikan seluruh amanah, menjauhi kezaliman, menyelesaikan hak manusia, dan menghadap-Nya dalam keadaan membawa amal yang diterima.
Poster Ringkasan

آمين يا رب العالمين
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم