Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

📘 | Materi : Kitab Mandzumah Hā’iyyah - Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Dawud As-Sijistāni Rahimahullah
📖 | Syarah: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafidahullah | Download Kitab
🎙| Bersama: Ustadz Adi Abdul Jabbar Hafidzahullah
🗓 | Hari : Selasa, 25 Syawal 1447 / 14 April 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.


 [التَّمسُّكُ بالكِتابِ والسُّنَّةِ]

Berpegang Teguh pada Kitab dan Sunnah

               ١-  تمسك بحبلِ الله واتبعِ الهُدى .. ولا تكُ بدعيا لعلك تُفلحُ 

1. Berpegang teguhlah pada tali Allah dan ikutilah petunjuk, dan jangan menjadi pengikut ahli bid’ah, agar kamu bahagia

Lanjutan Syarah:

Sampai pada perkataan penulis: لعلك تُفلحُ (Agar kamu bahagia).

Maknanya: Jika engkau menginginkan kesuksesan, yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka berpegang teguhlah pada tali Allah, dan ikuti petunjuk. Inilah jalan menuju kebahagiaan. Dan kebahagiaan adalah: banyaknya kebaikan dan tercapainya kebahagiaan tersebut. Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ في صَلَاتِهِمْ خَشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. [Al-Mu'minun: 1-2], hingga firman-Nya:

وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ. ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi? (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. [Al-Mu'minun: 9-11].

Inilah sebab-sebab kebahagiaan.

Jika engkau menginginkan kebahagiaan, maka engkau harus berpegang teguh pada tiga hal ini:

  1. Berpegang teguhlah pada Kitab Allah.
  2. Ikuti petunjuk.
  3. Hindari bid'ah dalam agama.

Jika engkau mengabaikan salah satu dari tiga hal ini, engkau akan kalah dan tidak akan pernah berhasil (merugi). Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٢ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فِيْ جَهَنَّمَ خٰلِدُوْنَۚ ۝١٠٣

Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang beruntung. Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka kekal di dalam (neraka) Jahanam. (QS. Al-Mu'minun: 102-103)

Kebalikan dari kebahagiaan (Kesuksesan) adalah kerugian -semoga Allah melindungi kita darinya- dan mereka tidak rugi dalam harta benda, melainkan merugikan diri mereka sendiri. Kerugian diri sendiri adalah kerugian yang paling besar -semoga Allah melindungi kita darinya-. Katakanlah,

قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ۝١٥

“Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar : 15).

Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang siapa sebenarnya orang yang benar-benar bangkrut dalam hadits berikut:

انَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟” قَالُوا: “الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ.” فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.”

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tahukah kalian siapa yang disebut orang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi dia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencela orang ini, menuduh dan memfitnah orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang, dan memukul orang lain. Maka, akan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya sebagian dari kebaikannya. Jika kebaikannya sudah habis sebelum seluruh tanggungannya terbayar, maka diambilkan dosa-dosa mereka (yang dizalimi) dan dibebankan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, No. 2581).

Dan perkataan penulis: لعلك (Semoga kamu bahagia)

Ini adalah harapan; karena keyakinan yang benar adalah kita tidak menetapkan untuk seseorang bahagia kecuali bagi yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah ﷺ kepadanya atau disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa dia termasuk orang-orang yang beruntung.

Adapun bagi yang tidak disebut dalam kitab atau sunnah tentang penetapan bahwa dia termasuk orang yang berhasil, maka kita tidak menetapkan padanya kesuksesan, tetapi kita berharap bagi orang yang berbuat baik masuk surga, dan khawatir bagi orang yang berbuat buruk akan masuk neraka, dan juga seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan amalannya.

Berkacalah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Makna perkataan penulis: لعلك تُفلحُ (Semoga kamu berhasil) adalah janganlah kamu tertipu dengan amalmu, tetapi kamu harus melakukan amal-amal yang baik, dan berharap kepada Allah agar menjadikanmu termasuk orang-orang yang berhasil, dan jangan hanya mengandalkan harapan tanpa amal; karena ini adalah cara orang yang tersesat, dan itulah harapan yang tercela, sedangkan harapan yang terpuji adalah yang disertai dengan amal yang baik. Maka kamu melakukan sebab dan berharap dari Allah Yang Maha Tinggi.

Ingatlah!

فَقَالَ: اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)”  [HR Muslim no. 2648 dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu]

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم