kategori-niswah

Istri yang Membahagiakan

06 May 2011

maarij-19

“Sesungguhnya   manusia   diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19)

purple

Kebahagiaan  rumah  tangga  yang  menjadi  tujuan  setiap  keluarga  terbentuk  di  atas  beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor anggota keluarga. Mereka inilah faktor dan aktor  pencipta kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka. Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah istri, karena dia adalah ratu dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ‘Um’ yang berarti induk tempat kembali.

Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang cukup signifikan  di  dalamnya,  maka  istri  harus  membekali  diri  dengan  sifat-sifat  dan kepribadian-kepribadian   sehingga   dengannya   dia   bisa   mengemban   tugas   dan memerankan    perannya    sebaik    mungkin,    dengan    itu    maka    kondisi    yang membahagiakan dan situasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.

Mengetahui skala prioritas

Dunia  memang  luas  dan  lapang,  namun  tidak  dengan  kehidupan,  yang  akhir  ini, selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-tembok yang membatasi, ada rambu-rambu  yang  mengekang,  namun  pada  saat  yang  sama  tuntutan  dan  hajat kehidupan terus datang silih berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak mau, berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas, mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan seterusnya.

Sebagai  ikon  dalam  rumah  tangga,  istri  tentu  mengetahui  benar  keterbatasan  rumah tangga  di  berbagai  sisi  kehidupan,  keterbatasan  finansial  dan  ekonomi  misalnya, sebesar apapun penghasilan suami plus penghasilan istri (jika istri bekerja), tetap ada atap  yang  membatasi,  ada  ruang  yang  menyekat,  tetap  ada  hal-hal  yang  tidak terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan jiwa manusia yang tidak    pernah    berhenti    berkeinginan,    keadaannya    selalu    berkata,    “Adakah tambahan?”, maka sebagai istri yang membahagiakan, dia harus mengetahui dengan baik  prinsip  dasar  ini,  mendahulukan  perkara  yang  tingkat  urgensinya  tertinggi kemudian setelahnya dan seterusnya.

Keterbatasan  dalam  hubungan  di  antara  suami  dan  istri,  mungkin  karena  latar belakang  keduanya  yang  berbeda,  tingkat  pendidikan  yang  berbeda,  keluarga  yang berbeda,  tabiat  dan  watak  yang  berbeda,  hobi  dan  kesenangan  yang  berbeda,  waktu yang  tersedia  untuk  berdua  minim,  semua  itu  membuat  hubungan  suami  istri  serba terbatas, namun hal ini bukan penghalang yang berarti, selama istri memahami kaidah prioritas ini.

Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas dengan baik, dalam tataran hubungan suami istri, secara emosinal dan fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia menempati deretan nomor wahid.

Sekali  lagi  wajar,  selama  hal  itu  masih  realistis.  Dan  soal  harapan  dan  ambisi biasanya  istri  selalu  yang  menjadi  motornya.  Dalam  sebuah  ungkapan  dikatakan, “Wanita  menginginkan  suami,  namun  jika  dia  telah  mendapatkannya,  maka  dia menginginkan  segalanya.”  Memang  tidak  semua  wanita,  karena  ini  hanya  sebuah ungkapan  dan  tidak  ada  ungkapan  yang  general.  Namun  dalam  batas-batas  tertentu ada  sisi  kebenarannya,  karena  tidak  jarang  kita  melihat  beberapa  orang  suami  yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.

Realistis dalam menuntut

Di  hari-hari  pertama  pernikahan,  biasanya  dalam  benak  orang  yang  menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan yang hendak dibuktikan. Umum, lumrah dan jamak. Kata orang, hidup ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup dengan berbagai macam siatuasi dan kondisinya. Demikian pula dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu. Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.

Sekali  lagi  wajar,  selama  hal  itu  masih  realistis.  Dan  soal  harapan  dan  ambisi biasanya  istri  selalu  yang  menjadi  motornya.  Dalam  sebuah  ungkapan  dikatakan, “Wanita  menginginkan  suami,  namun  jika  dia  telah  mendapatkannya,  maka  dia menginginkan  segalanya.”  Memang  tidak  semua  wanita,  karena  ini  hanya  sebuah ungkapan  dan  tidak  ada  ungkapan  yang  general.  Namun  dalam  batas-batas  tertentu ada  sisi  kebenarannya,  karena  tidak  jarang  kita  melihat  beberapa  orang  suami  yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.  Maka    alangkah    bijaknya    jika    dalam    menuntut    dan    mencanangkan    target memperhatikan  realita  dan  kapasitas  suami,  jika  sebuah  harapan  sudah  kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud, maka kecewanya akan berat, bak orang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?

Sebagian  istri  memaksa  suami  menelusuri  jalan-jalan  yang  berduri  dan  berkelok-kelok,  di  mana  dia  tidak  menguasainya,  jika  suami  mengangkat  tangan  tanda  tak mampu  mewujudkan  sebagian  dari  tuntutannya,  maka  istri  berteriak  mengeluh.  Hal ini, sesuai dengan tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga kepada  jalan  buntu  selanjutnya  yang  muncul  adalah  perselisihan,  jika  ia  menyentuh dasar kehidupan, maka bisa berakibat keruntuhannya.

Seorang  istri  shalihah  selalu  mendahulukan  akalnya,  dia  tidak  membuat  lelah suaminya  dengan  tuntutan-tuntutan  yang  irasional,  tidak  membebaninya  di  luar kemampuannya  dan  tidak  memberatkan  pundaknya  dengan  permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-keinginannya semata.

Salah  satu  contoh  yang  jarang  ditemukan  yang  terjadi  dalam  sejarah  tentang keteladanan  sebagian  istri  yang  begitu  memperhatikan  keadaan  suami  tanpa  batas walaupun  hal  tersebut  berarti  mengorbankan  kemaslahatannya  sendiri  adalah  apa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fatimah az-Zahra` pada saat dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang membuatnya bermalam  selama  tiga  malam  dalam  keadaan  lapar,  pada  saat  Ali  melihatnya  pucat, dia  bertanya,  “Ada  apa  denganmu  wahai  Fatimah?”  Dia  menjawab,  “Telah  tiga malam ini kami tidak memiliki apa pun di rumah.” Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?”  Fatimah  menjawab,  “Pada  malam  pernikahan  bapakku  berkata  kepadaku, ‘Hai Fatimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau tidak maka jangan memintanya.”

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada  yang  lain,  jika  istri  tidak  bermental  kaya,  maka  dia  akan  selalu  merasa kekurangan,  akibatnya  dia  akan  mengeluh  ke  mana-mana  dengan  kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental  miskin,  minim  syukur,  memposisikan  diri  sebagai  orang  miskin  sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.  Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini

Bermental kaya

Mental  kaya,  dalam  agama  dikenal  dengan  istilah  qana’ah,  rela  dengan  apa  yang Allah Subhanahu waTa’ala bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.  Kaya  bukan  kaya  dengan  harta  benda,  namun  kaya  adalah  kaya  hati,  artinya  hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau belum merasa cukup, maka dia  adalah  fakir.  Kata  fakir  dalam  bahasa  Arab  berarti  memerlukan,  jadi  kalau seseorang masih memerlukan [baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.

Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasan istri dalam skala lebih besar daripada  yang  lain,  jika  istri  tidak  bermental  kaya,  maka  dia  akan  selalu  merasa kekurangan,  akibatnya  dia  akan  mengeluh  ke  mana-mana  dengan  kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental  miskin,  minim  syukur,  memposisikan  diri  sebagai  orang  miskin  sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.  Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi  semua  keutamaan  ini  tidak  ada  nilai  dan  harganya  jika  yang  bersangkutan mempunyai  tabiat  sengsara  dan  mental  miskin.  Kedua  tabiat  ini  bagi  wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.

Banyak  wanita  sejak  zaman  batu  sampai  hari  ini  merasa  nyaman  dengan  tabiat sengsara  dan  mental  miskin  ini.  Dalam  kehidupan  sejarah,  Nabiyullah  Ibrahim ’alaihissalam pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedua bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anaknya, Ismail. Dengan  bahasa  sindiran,  Nabi  Ibrahim  ’alaihissalam  pernah  meminta  Ismail  untuk berpisah  dari  istri  pertamanya.  Ibrahim  ’alaihissalam  melihat  istri  pertama  anaknya bukan  istri  yang  layak,  karena  dia  bermental  miskin.  Ketika  Ibrahim  ’alaihissalam bertanya   kepadanya   tentang   kehidupannya   dengan   suaminya,   yang   Ibrahim ’alaihissalam  dengar  dari  mulutnya  hanyalah  keluh  kesah.  Sebaliknya  istri  kedua, jawabannya  kepada  mertuanya  mengisyaratkan  bahwa  dia  adalah  istri  yang  pandai bersyukur  dan  bersikap  qana’ah,  maka  Ibrahim  ’alaihissalam  meminta  Ismail  untuk mempertahankannya.

Dalam  kehidupan  ini  tidak  sedikit  kita  menemukan  istri  model  seperti  ini.  Ditinjau secara  sepintas  dari  keadaan  rumahnya,  rumah  milik  sendiri,  lengkap  dengan perabotan  elektronik  yang  modern,  didukung  kendaraan  keluaran  terbaru,  tapi  dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangakutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah  orang  termiskin  di  dunia.  Apakah  hal  ini  merupakan  kebenaran  dari  firman Allah   Subhanahu   waTa’ala,   yang   artinya,   “Sesungguhnya   manusia   diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.

Jika   istri   bermental   kaya,   maka   keluarga   akan   merasa   kaya   dan   cukup.   Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan. (Ust. Izzudin Karimi, Lc).

Sumber:Buletin An-Nur