Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Sirah Nabawiyah  - Ada Dusta antara Tabuk dan Madinah (Kitab Ar-Rahiq Al-Maktum - Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury Rahimahullah)
🎙┃ Pemateri : Ustadz Iqbal Muammar hafizhahullah.
🗓┃ Hari/Tanggal :  Sabtu, 11 April 2026 M / 22 Syawal 1447 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran


 


Melanjutkan pembahasan perang terakhir Rasulullah ﷺ, yaitu Perang Tabuk. Meskipun pasukan Romawi telah terdesak dan tercerai-berai, tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil dari perang ini.

Semua perang yang dilakukan pasukan kaum muslimin adalah baik, baik dalam keadaan menang maupun kalah.

Sebagaimana banyak pelajaran dari perang Uhud, meskipun kalah dalam peperangan tersebut.

Hikmah Kemenangan dan Kekalahan dalam Peperangan Kaum Muslimin

Imam At-Thabari Rahimahullah, dalam kitab sejarahnya yang monumental Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Tarikh At-Thabari), menarasikan pertempuran-pertempuran Umat Islam untuk menunjukkan bahwa kemenangan atau kekalahan adalah bagian dari sunnatullah yang bertujuan untuk membentuk mental, ketaatan, dan keikhlasan kaum muslimin. Kemenangan menuntut syukur, sementara kekalahan menuntut sabar dan evaluasi diri.

Berikut adalah hikmah kemenangan dan kekalahan dalam sejarah perang kaum muslimin:

A. Hikmah Kemenangan (Contoh: Perang Badar)

1. Perang Badar adalah bukti pertolongan Allah (nashrullah) kepada pasukan yang beriman meskipun jumlahnya sedikit (313 orang) melawan pasukan Quraisy yang besar (1000 orang).
2. Pengokohan Keyakinan: Kemenangan ini menumbuhkan rasa percaya diri dan keyakinan mutlak bahwa kebenaran (haq) akan mengalahkan kebatilan, bukan berdasarkan kuantitas pasukan.
3. Ujian Kesyukuran: Kemenangan adalah ujian. Umat Islam diajarkan untuk bersyukur dan tidak sombong, serta menyadari bahwa kemenangan datang semata-mata karena pertolongan Allah, bukan kehebatan diri sendiri.
4. Konsolidasi Politik & Sosial: Kemenangan ini meningkatkan posisi tawar umat Islam di Madinah dan menggetarkan musuh-musuh Islam di jazirah Arab.

B. Hikmah Kekalahan (Contoh: Perang Uhud)

Kekalahan kaum muslimin di Perang Uhud, meski sudah menang di awal, membawa pelajaran yang sangat dalam bagi umat Islam.

1. Pentingnya Ketaatan kepada Pemimpin: Kekalahan terjadi karena sebagian pasukan pemanah mengabaikan perintah Nabi Muhammad ﷺ untuk tetap di atas bukit. Hikmahnya, ketaatan mutlak kepada perintah Rasulullah adalah kunci stabilitas.
2. Penyucian dari Sifat Cinta Dunia dan kesombongan: Kekalahan ini menjadi ujian untuk memisahkan antara mereka yang berjuang demi Allah dengan mereka yang mengharapkan ghanimah (harta rampasan perang).
3. Seleksi Orang Munafik: Peristiwa ini menampakkan siapa saja yang sungguh-sungguh beriman dan siapa yang berpura-pura (munafik) di tengah situasi sulit.
4. Derajat Kesyahidan: Allah memberi kesempatan kepada sebagian mujahidin untuk mencapai derajat kemuliaan tertinggi, yaitu mati syahid.
5. Pelajaran tentang Sunnatullah: Bahwa kemenangan dan kekalahan silih berganti (ayyamullah) untuk mendidik umat agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan perjuangan.

Provokasi Kaum Munafik: Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abu Amr Ar-Rahib

Abdullah bin Ubay bin Salul adalah tokoh munafik utama yang memprovokasi perpecahan dalam tubuh umat Islam, terutama dengan membawa mundur 300 pasukan (sepertiga pasukan) saat perjalanan menuju Perang Uhud, menyebabkan jumlah pasukan Islam tersisa 700 orang dari awalnya 1000 orang. Ia berkhianat karena kecewa taktiknya tidak dipakai Nabi dan berupaya melemahkan mental Muslimin.

Berikut detail provokasi Abdullah bin Ubay bin Salul:

  1. Pengkhianatan Perang Uhud (3 H). Abdullah bin Ubay awalnya mendukung ide bertahan di dalam kota Madinah. Ketika Nabi Muhammad ﷺ memutuskan untuk menjemput musuh di luar kota, ia membawa pulang 300 pengikutnya dengan alasan keputusan tersebut merupakan saran para pemuda, bukan dirinya.
  2. Provokasi Perpecahan: Tindakan mundur tersebut bertujuan membangkitkan keraguan di kalangan pasukan Islam dan menciptakan kesan bahwa pasukan Muslim lemah dan akan dikalahkan.
  3. Upaya Mengadu Domba: Dalam kesempatan lain, ia berusaha mengadu domba kaum Muhajirin dan Anshar untuk memecah belah persatuan kaum Muslimin di Madinah.
  4. Fitnah Terhadap Aisyah (Peristiwa Al-Ifk): Ia menjadi aktor utama dalam menyebarkan fitnah keji (berita bohong) bahwa Aisyah Radhiyallahu’anha., istri Rasulullah ﷺ, berselingkuh dengan Shafwan bin Mu'aththal.
  5. Konspirasi dengan Quraisy: Sebelum Perang Uhud, ia sempat disurati oleh kaum Quraisy untuk memerangi Nabi Muhammad ﷺ saat baru tiba di Madinah, namun ia tidak berani melakukannya secara terbuka karena ketakutan.

Abu Amir Ar-Rahib (sering disebut juga Abu Amr) adalah salah satu tokoh utama kaum munafik di Madinah yang sangat membenci Nabi Muhammad ﷺ. Ia dikenal sebagai pendeta atau rahib di kalangan Bani Aus sebelum Islam datang dan merupakan musuh dalam selimut yang berencana menjatuhkan Rasulullah ﷺ melalui pembangunan Masjid Dhirar.

  1. Permusuhan: Saat Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, Abu Amir merasa kedudukannya terancam. Ia kemudian secara terang-terangan menunjukkan kebencian dan berpura-pura masuk Islam dengan menjadi munafik untuk mencari celah menghancurkan Islam.
  2. Otak di Balik Masjid Dhirar: Abu Amir Ar-Rahib adalah orang yang menyuruh orang-orang munafik di Madinah untuk membangun Masjid Dhirar (masjid pertentangan/bahaya). Masjid ini dibangun dekat dengan Masjid Quba dengan tujuan sebagai pusat perpecahan, tempat bersekongkol melawan Nabi, dan pangkalan bagi Abu Amir untuk mendatangkan bantuan asing (Romawi).
  3. Akhir Hayat: Setelah rencananya gagal dan kaum munafik terungkap, Abu Amir meninggalkan Madinah dan melarikan diri ke Romawi (Syam) dalam keadaan kafir dan terhina, sesuai dengan doanya yang berbalik kepada dirinya sendiri.

Imam At-Thabari rahimahullah mengatakan: Inti Sifat munafik adalah kebohongan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59)

Sifat munafik ini terlihat pada sifat tajassus, sebagaimana dalam hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu berita yang paling dusta. Dan janganlah kamu melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi, dan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allâh!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6064]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Janganlah sebagian kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya. Hendaklah kamu menerima urusannya yang nampak bagi kamu, dengan yang tampak itu hendaknya kamu memuji atau mencela, bukan dengan rahasia-rahasianya yang tidak kamu ketahui.” [Tafsir ath-Thabari, 22/304]

Allah ﷻ menjelaskan keberadaan masjid Dhirar dalam Surat At-Taubah Ayat 107:

وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًۢا بَيْنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَآ إِلَّا ٱلْحُسْنَىٰ ۖ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَٰذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

Karena masjid wakaf adalah milik Allah ﷻ, sebagaimana Surat Al-Jin Ayat 18:

وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

Dan yang memakmurkan masjid dijelaskan dalam Surat At-Taubah Ayat 18:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Demikian pelajaran, dari provokasi kaum munafikin pada zaman Nabi ﷺ dalam kehidupan kaum muslimin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم