Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Kajian Kitab Fawaid Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah Karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Muhsin Rahimahullah
🎙┃ Ustadz Mohammad Alif, Lc. حفظه الله تعالى
🗓️┃Jum'at, 09 Januari 2026 / 20 Rajab 1447 H
🕰️┃ Ba'da Maghrib
🕌┃ Masjid Al-Qomar Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo
📖┃ Daftar Isi:




Sekilas Mengenai Kitab

Kitab ini adalah ringkasan dari kitab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah Karya Abdullah bin Shalih Al-Muhsin Rahimahullah yang telah lama dipakai di Majelis Ilmu Universitas Madinah.

Hadits ini diawali oleh Majelis Imam Ibnu Sholah Rahimahullah yang menyebutkan dan mendikte sebanyak 26 hadits dalam majelis tersebut.

Kemudian Imam An-Nawawi rahimahullah mengumpulkan kembali dan menambah menjadi 42 Hadits (Disingkat menjadi Arba'in An-Nawawi) yang telah disyarah oleh banyak ulama, diantaranya yang terkenal disyarah oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah (Murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu) dan diberi judul kitab Jami' Al-Ulum Wal Hikam dalam dua jilid dan ditambah 8 hadits menjadi 50 hadits.

Kitab ini adalah ringkasan dari Syarah Kitab Arba'in An-Nawawi Karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Muhsin Rahimahullah dengan hanya disebutkan hadits, fawaid dan tambahan Kaidah Nabawiyah dalam setiap akhir hadits.

Kebiasaan ulama menyusun kitab 40 hadist (Arbain) adalah tradisi untuk merangkum pokok-pokok ajaran Islam menjadi hadis-hadis pilihan yang mudah dihafal dan dipahami, biasanya dimotivasi oleh hadits tentang keutamaan menghafal 40 hadis, lalu mereka mengkoleksi hadis-hadis yang mencakup berbagai aspek agama (ushul dan furu') untuk mempermudah umat awam, seperti contoh terkenal Imam an-Nawawi dengan Arbain Nawawi yah yang kita bahas ini.

📖 Hadits ke-1: Setiap Amalan Tergantung pada Niat

[ الحديث الأول]

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

📃 Penjelasan:

Hadits ini disebutkan oleh Bukhari dalam kitabnya no. 1 dan beliau menyebutkan dalam beberapa bab. Sedangkan dalam hadits no. 1 beliau tidak menyebutkan secara lengkap, dan beliau berguru lebih dari 1000 guru, dan menyebutkan hadits ini dalam bab lainnya secara lengkap dari guru lainnya.

Disebutkan juga oleh Muslim yang merupakan murid dari Bukhari. Maka, ada yang mengatakan bahwa tidak akan ada Muslim, jika tidak ada Bukhari.

Hadits ini disebutkan oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu yang ditunjuk oleh Abu Bakar Radhiyallahu’anhu sebagai penerus kepemimpinan.

Keutamaan perawi: Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu

1. Diriwayatkan dari Said bin Al-Musayyib rahimahullah, bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِى فِى الْجَنَّةِ ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ ، فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ ، فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا » . فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Sewaktu tidur, aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudu di samping istana, maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ orang-orang yang ada di sana pun menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiyallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu, Wahai Rasulullah.”

(HR. Bukhari, no. 3242 dan Muslim, no. 2395)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Radhiyallahu’anhu menjelaskan bahwa, meskipun ini dalam mimpi, tetapi mimpi para Nabi ﷺ adalah kenyataan.

2. Bukan hanya manusia, syaithān pun takut kepada ‘Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu.

Oleh karenanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam wassalam mengatakan:

إِيهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

“Wahai Ibnul Khaththab (Umar), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu syaitanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong, melainkan syaithan akan mencari jalan yang lain selain yang kamu lalui.”

(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 3683)

3. Bahkan dalam hadīts kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ

“Kalau seandainya ada nabi setelah ku maka ‘Umar ibnu Khaththāb yang akan menjadi Nabi.” (Hadīts riwayat Imām Ahmad nomor 17405 dan At Thirmidzī nomor 3686)

4. Setelah ‘Umar masuk Islām maka berubahlah kondisi kaum muslimin.

Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu berkata:

مَا زِلْنَا أَعِزَّةً مُنْذُ أَسْلَمَ عُمَرُ.

“Kami menjadi jaya sejak Umar masuk Islam.” (HR Bukhari nomor 3684)

5. Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu adalah pintu terjadinya fitnah. Setelah beliau Syahid timbul banyaknya fitnah di kalangan kaum muslimin.

Dalam sebuah majelis, sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, “Siapa yang dapat memberitahukan kepada kami tentang fitnah yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?”

Sahabat Hudzaifah menjawab pertanyaan sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan bahwa fitnah yang dimaksud Hudzaifah adalah fitnah yang datang dari keluarga, harta, anak-anak, dan tetangga, yang terkadang membuat seseorang lupa atau lalai dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, tergoda oleh dunia disebabkan oleh orang-orang terdekatnya. Sebagaimana yang Allah Azza wa Jalla firmankan:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah ujian bagi kalian.” (QS. Al-Taghabun [64]: 15)

Sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu kemudian menanggapi, “Fitnah itu (yang berkaitan dengan kelalaian, karena keluarga, anak-anak, dan harta) termasuk dosa-dosa kecil yang bisa dihapuskan dengan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya.”

Namun, sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu kemudian berkata, “Yang aku tanyakan adalah fitnah yang datang seperti ombak lautan yang sangat besar, yang kerusakannya dan bahayanya menimpa seluruh umat manusia.”

Hudzaifah Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Sesungguhnya antara engkau dan fitnah tersebut ada pintu yang tertutup.”

Sahabat Umar Radhiyallahu ‘Anhu bertanya, “Apakah pintu tersebut akan dibuka (dengan lembut) atau dipecahkan (dengan kasar dan tidak bisa dibuka lagi)?” Hudzaifah menjawab, “Pintu itu akan dipecahkan.” Umar berkata, ”Kalau pintunya dihancurkan, berarti tidak akan tertutup selama-lamanya.”

Ditanyakan kepada Hudzaifah tentang apakah Umar mengetahui siapa pintu tersebut? Sahabat Hudzaifah menjawab, “Ya, seperti halnya ia mengetahui, bahwa sebelum hari esok adalah malam nanti. Sesungguhnya aku telah menceritakan kepada Umar hadits yang tidak keliru (betul-betul datangnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).”

💡 Faedah Hadits:

1. Tidak diperbolehkan melakukan suatu tindakan sebelum seseorang mengetahui hukumnya.

2. Tidak diperbolehkan mewakilkan niat, karena setiap orang berniat masing-masing.

3. Orang yang lalai dari niatnya tidak melakukan perbuatan yang sah, dan semua perbuatan tidak dianggap sah kecuali dengan niat.

4. Pendelegasian tidak diperbolehkan dalam ibadah kecuali jika ada bukti atau dalil yang membolehkan. Seperti badal haji.

5. Keutamaan berhijrah dari negeri yang kafir ke negeri yang beragama Islam untuk mencari ridha Allah Yang Maha Kuasa, atau dari negeri yang banyak terdapat dosa ke negeri yang penduduknya orang-orang shaleh.

6. Keikhlasan dalam beramal hanya untuk Allah Yang Mahakuasa dan waspada terhadap kemunafikan, mencari pujian, dan beramal untuk kepentingan dunia.

7. Sesungguhnya niat berada di dalam hati, dan mengucapkannya adalah suatu bid'ah.

Syaikh Utsaimin Rahimahullah saat menjelaskan hadits ini, menyebutkan kisah di Masjidil Haram, ada seorang dari Najd dan ketika akan shalat dzuhur didapati berniat dengan jahr, maka diingatkan kenapa tidak disebut hari, jam tanggal... Untuk mengingatkan agar tidak memberatkan dalam hal niat.

💡 Kaidah nabawiyah:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.

*****

📖 Hadits ke-: Pengertian Islam, Iman dan Ihsan

[الحديث الثاني]

عن عمر رضي الله عنه أيضا قال:"بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر لا نرى عليه أثر السفر ولا يعرفه منا أحد، حتى جلس إلى النبي صلى الله عليه وسلم. فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه وقال: يا محمد. أخبرني عن الإسلام، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله. وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا، قال: صدقت؟ فعجبنا له يسأله ويصدقه، وقال: فأخبرني عن الإيمان قال: أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان، قال: أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك، قال: فأخبرني عن الساعة، قال: ما المسئول عنها بأعلم من السائل قال فأخبرني عن أماراتها؟ قال: أن تلد الأمة ربتها وأن تر الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان. ثم انطلق فلبثنا مليا، ثم قال: يا عمر أتدري من السائل؟ قلت الله ورسوله أعلم، قال: فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم" رواه مسلم.

Dari ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Pada suatu hari ketika kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba datanglah kepada kami seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian ia menghapiri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya seraya mengatakan, ‘Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Islam ialah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika kamu mampu menempuh perjalanan kepadanya.’ Ia berkata, ‘Kamu benar’,”

‘Umar berkata, “Kami heran kepadanya, ia bertanya kepadanya dan membenarkannya. Ia berkata lagi, ‘Kabarkan kepadaku tentang iman.’ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan beriman kepada qadar, baik dan buruknya.’ Ia berkata, ‘Kamu benar.’ Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang ihsan.’ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihatNya, maka Dia melihatmu.’ Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang Kiamat.’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya tentang Kiamat tidaklah lebih tahu dibandingkan orang yang bertanya.’ Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Beliau menjawab, ‘Bila sahaya wanita melahirkan tuannya, dan bila kamu melihat orang-orang yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing bermegah-megahan dalam bagunan’.”

‘Umar berkata, “Kemudian laki-laki itu pergi, tapi aku masih diam di situ cukup lama. Kemudian beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai ‘Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya tadi?’ Aku menjawab, ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian’.”

HR. Muslim No. 8

💡 Faedah Hadits:

1. Para malaikat bisa berubah dalam bentuk apa pun yang mereka inginkan.

2. Pentingnya adab pelajar dan pencari ilmu dengan ulama.

3. Apabila Islam dan iman disebutkan bersama-sama, Islam diartikan sebagai perbuatan lahiriah dan iman sebagai perbuatan batiniah.

4. Islam, iman, dan kebajikan semuanya disebut agama. (Tingkatan agama).

5. Sesungguhnya Hari Kiamat adalah salah satu hal yang pengetahuannya hanya dimiliki Allah. Sesungguhnya hanya Allah ﷻ yang mengetahui Hari Kiamat.

6. Salah satu tanda Hari Kiamat adalah banyaknya perbudakan dan anak-anak mereka, atau anak-anak yang durhaka kepada ibu mereka seolah-olah mereka adalah budak mereka.

7. Kewajiban untuk beriman pada takdir dan bahwa apa pun yang telah ditetapkan Allah bagi manusia, baik atau buruk, harus diterima dan meridhoinya.

8. Seseorang hendaknya menahan diri untuk tidak mencampuri urusan yang tidak ia ketahui.

9. Makruh dalam hal-hal yang tidak dibutuhkan seperti dekorasi bangunan yang tidak perlu.

10. Pernyataan bahwa salah satu tanda Kiamat adalah dunia akan terbuka (dimudahkan) bagi orang-orang di padang pasir dan kemiskinan, sehingga perhatian mereka akan beralih ke pembangunan struktur dan mereka tidak akan memiliki perhatian pada hal yang lain.

💡 Kaidah Nabawiyah:

فإنه جبريل أتاكم يعلمكم دينكم

Sesungguhnya, Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم