Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : 11 Peristiwa Penting Menjelang dan Sesudah Wafatnya Nabi ﷺ
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi hafizhahullah.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Sabtu, September 2026 M / 23 Jumadil Awwal 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖┃ Daftar Isi:

 



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Saat ini kita masih dalam bulan Rabi'ul Awal, dan ada 3 kejadian besar pada bulan ini:

  1. Rabi'ul Awal adalah kelahiran Nabi ﷺ. Ulama sepakat dilahirkan di Mekah pada tahun Gajah pada Bulan Rabi’ul Awal hari Senin. Tetapi berbeda pendapat tentang tanggal, sebagian berpendapat tanggal 12 dan sebagian lain mengatakan tanggal 9.
  2. Hijrah Nabi ﷺ dari Mekah ke Madinah. Kenapa penanggalan Awal Muharram sementara awal hijrah di bulan Rabi’ul Awal. Ulama menjelaskan bahwa azzam untuk melaksanakan hijrah adalah akhir Dzulhijjah - awal Muharram, makanya Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu menjadikan awal bulan Hijriyah adalah awal Muharram. Adapun praktek Hijrahnya Nabi ﷺ pada bulan Rabi’ul Awal.
  3. Wafatnya Rasulullah ﷺ pada 12 Rabi’ul Awal di hari Senin. Di kamar ibunda Aisyah Radhiyallahu'anha pada usia 63 tahun pada waktu Dhuha.

Berikut beberapa hadits dan peristiwa sebelum dan sesudah Nabi ﷺ wafat.

📖 Hadits ke-1: Larangan Menjadikan Kuburan sebagai Masjid

Dari Jundub bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu berkata: “Aku mendengar bahwa lima hari sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُوْنَ لِي مِنْكُمْ خَلِيْلٌ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيْلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

“Sungguh aku menyatakan kesetiaanku kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) di antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil, seandainya aku menjadikan seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.’”

HR. Muslim (no. 532 (23)) bab: An-Nahyu ‘an Binaa-il Masaajid ‘alal Qubuuri wa Ittikhadzis Shuwari fiiha wan Nahyu ‘an Ittikhadzil Qubuuri Masaajid (Larangan Membangun Masjid di Atas Kuburan dan Larangan Membuat Patung-Patung serta Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid).

💡 Faedah Hadits:

1. Pentingnya masalah tauhid.

Waspada dari kesyirikan dan wasilah-wasilah nya. Jangankan dibangun masjid, kuburan ditinggikan saja dilarang, maksimal 1 jengkal.

2. Larangan ghuluw kepada Nabi dan orang-orang shalih. Sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani.

  • Kaum Yahudi: Melakukan ghuluw terhadap Uzair dengan menganggapnya sebagai anak Allah (QS. At-Taubah: 30).
  • Kaum Nasrani: Melakukan ghuluw terhadap Nabi Isa alaihissalam dengan mengangkat statusnya dari seorang utusan Allah menjadi anak Allah atau bagian dari oknum ketuhanan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa mencintai orang yang shalih adalah bagian dari agama. Akan tetapi, jangan hal itu dilakukan dengan berlebih-lebihan (ghuluw) karena mereka adalah manusia biasa.

3. Larangan menyerupai ahlul Kitab.

Maka, kita dianjurkan mempelajari Masail Jahiliyah agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan Jahiliyyah mereka.

📖 Hadits ke-2. Kaum musyrikin harus dikeluarkan dari Jazirah Arab

وعن ابن عباس قال : ” أوصى رسول الله صلى الله عليه وسلم بثلاثة أشياء , قال : أخرجوا المشركين من جزيرة العرب , وأجيزوا الوفد بنحو ما كنت أجيزهم ، وسكت عن الثالث

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah shallallahu berwasiat dengan tiga perkara, dia berkata, “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. Bolehkan utusan mereka selama aku membolehkannya. Beliau diam yang ketiga.” [HR. Abu Daud. Al-Mughni, 9/285-286]

Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma mendengar hadits ini 4 hari sebelum Beliau ﷺ wafat.

💡 Faedah Hadits:

Tidak dibolehkan memberikan kesempatan kepada orang kafir untuk tinggal di Jazirah Arab, dalam rangka menjaga akidah umat. Hal ini berkaitan dengan Al-Wala wal bara': Loyalitas itu berkaitan dengan orang-orang yang beriman dan berpisah dengan orang-orang kafir. Baik hidup ataupun mati.

Hadits ke-3. Wasiat untuk selalu mendirikan shalat.

Sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Ucapan terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Kerjakanlah) salat, (kerjakanlah) salat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak hamba sahaya kalian.”

(HR. Ahmad no. 585, Abu Daud no. 5156, dan Ibnu Majah no. 2698. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 4616)

Dalam riwayat yang lain, terdapat penegasan yang lebih lagi, sebagaimana teks hadis dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ: الصَّلَاةَ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, ketika beliau sakaratul maut yaitu, ‘Jagalah salat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.’”

(HR. Ibnu Majah no. 2697, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2178)

💡 Faedah Hadits:

1. Shalat adalah syariat yang sangat penting: Sebagai tiang penyangga Islam.

Diriwayatkan oleh Ahmad (22016), At-Tirmidzi (2616), dan Ibnu Majah (3973) dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dengan lafadz,

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

“Maukah kamu aku tunjukkan pokok perkara agama, tiang, dan puncaknya?” Aku menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad.” Dinilai shahih oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam Al-Irwa’ (413).

2. Siapa saja yang menjaga ibadah shalat, maka hati, wajah, kubur, dan hari kebangkitannya akan bercahaya, dia akan mendapatkan keselamatan pada hari kiamat. Dia pun akan dikumpulkan bersama-sama dengan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat, baik itu para Nabi, shiddiqiin, asy-syuhada’, dan ash-shalihin.

Cara menjaga shalat, sebagaimana firman-Nya : Maka sungguh beruntung orang-orang Mukmin, yaitu orang yang menjaga shalat dan khusyu dari shalatnya. Ada lima cara: Ikhlas, ittibâ Nabi ﷺ, khusyu' (menghadirkan hati), dikerjakan di awal waktu dan Berjama'ah di Masjid bagi laki-laki.

Jika tidak ke masjid, zaman sahabat ada dua kategori :
1. Karena sakit atau Safar.
2. Terjangkit sifat Munafik

3. Amal ibadah yang pertama kali dihisab adalah shalat

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا )) رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيثٌ حَسَنٌ ))

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.”

(HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadits tersebut hasan.) [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

3. Haknya orang lemah disuruh kita jaga. Apalagi orang yang merdeka. Maka, hukum ditetapkan sesuai haknya.

📖 Hadits 4: Nabi ﷺ memerintahkan Abu Bakar untuk mengimani shalat.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: لما اشتد برسول الله صلى الله عليه وسلم وجعه، قيل له في الصلاة، فقال: «مروا أبا بكر فليُصَلِّ بالناس» فقالت عائشة رضي الله عنها : إن أبا بكر رجل رقيق، إذا قرأ القرآن غلبه البكاء، فقال: «مُرُوه فليُصَلِّ». وفي رواية عن عائشة رضي الله عنها ، قالت: قلت: إن أبا بكر إذا قام مقامك لم يُسْمعِ الناس من البكاء. [صحيح] - [متفق عليه]

Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Ketika Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sakit keras, ada seseorang yang menanyakan tentang imam salat. Beliau bersabda, "Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami salat!" Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar itu orang yang sangat lembut hatinya (sensitif). Apabila ia membaca Al-Qur`ān, ia tidak dapat menahan tangisnya." Namun beliau bersabda, "Suruhlah ia (Abu Bakar) untuk menjadi imam!" Dalam satu riwayat dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar apabila menempati tempatmu (menjadi imam), orang-orang tidak dapat mendengar bacaan salatnya karena tangisnya."

[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]

💡 Faedah Hadits:

  1. Hal ini menunjukkan bahwa shalat itu penting sekali. Meskipun Nabi ﷺ berhalangan, beliau tetap menunjuk sahabatnya mengimami shalat.
  2. Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu.

📖 Hadits ke-5: Jangan kalian sekali-kali mati sebelum berprasangka baik kepada Allah ﷻ

Diriwayatkan dari sahabat Jabir sebelum 3 hari meninggal. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berhusnuzan pada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

💡 Faedah Hadits:

1. Termasuk amalan hati yang paling agung dan kewajiban iman yang mulia adalah husnuzan billah (berbaik sangka kepada Allah). Sesunggguhnya berbaik sangka kepada Allah memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama yang mulia ini.

2. Hadits ini menunjukkan anjuran jika kondisi mau meninggal, harapannya ditingkatkan.

3. Dalam kondisi normal diimbangkan antara Raja dan khauf. Karenanya dua hal ini dimisalkan seperti sayap burung, tidak boleh ada yang lebih berat atau rusak sebelah. Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,

والعبد يسير إلى الله بين الرجاء والخوف كالجناحين للطائر، يخاف الله ويرجوه

“Seorang hamba harus beribadah kepada Allah di antara raja’ dan khauf sebagaimana dua sayap burung.”

Hadits ke-6: Do'a Nabi ﷺ saat dipangku Aisyah

Hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

سَمِعْتُ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ مُسْتَنِدٌ إِلَىَّ يَقُولُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى

Ketika Nabi ﷺ bersandar di pangkuanku, aku dengar beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى

Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan kumpulkanlah aku bersama ar-Rafiq al-A’la. (HR. Bukhari 5674 & Muslim 2191).

Juga hadis A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَرَأْسُهُ عَلَى فَخِذِى غُشِىَ عَلَيْهِ سَاعَةً ثُمَّ أَفَاقَ فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى السَّقْفِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

Ketika Rasulullah ﷺ mendekati ajal, saat kepala beliau ada di pahaku, belia pingsan sasaat. Kemudian beliau sadar kembali, dan menatapkan wajahnya ke atap rumah. Kemudian beliau mengucapkan, ‘Allahumma ar-Rafiq al-A’la.” (HR. Bukhari 6509 & Muslim 6450)

Secara bahasa, ar-Rafiq artinya teman. Al-A’la artinya yang paling tinggi, dalam arti paling mulia. Surat an-Nisa ayat 69 di atas menjelaskan siapa teman paling mulia bagi manusia. Mereka adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang soleh.

💡 Faedah Hadits:

  1. Beliau berdo'a semacam itu dengan maksud memohon kepada Allah, jika nanti datang kematian, maka kumpulkan aku bersama ar-Rafiq al-A’la.
  2. Beliau lebih memilih akhirat dibandingkan dunia.

📖 Hadits ke-7: Nabi ﷺ Membasuh Wajah dengan Air ketika Sakit

Saat membahas sakaratul maut, digambarkan dalam Hadits Bukhori bagaimana pedihnya sakaratul maut. ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha menceritakan ketika ajal hendak menjemput Nabi ﷺ

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rosululloh ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Alloh. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut (kepedihan)”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas” [HR Bukhori 6029].

💡 Faedah Hadits:

1. Nabi ﷺ menggunakan air untuk membasuh muka, agar lebih segar, menunjukkan Sunnahnya berobat dikala sakit.

2. Dalam kondisi berat ucapkan laa ilaaha illallah. Maknanya hanya bersandar kepada Allah ﷻ. Sebagaimana do'a nabi Yunus alaihi salam.

Bahkan dzikir yang berisi semua pentauhidan Allah ﷻ : Subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaaha illallah, Allahu akbar.

3. Setiap orang yang akhir perkataannya saat menjelang ajal adalah kalimat laa ilaaha illallah dipastikan masuk surga, sebagaimana janji Nabi Muhammad ﷺ.

Janji ini tidak tertuju pada satu orang tertentu saja, melainkan berlaku umum bagi setiap hamba yang dimudahkan untuk mengucapkannya dengan ikhlas.

Sebagaimana do'a nabi Yunus alaihissalam,

لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn

"Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

4. Bagi orang kafir yang sakaratul maut, perintahkan untuk bersyahadat sebagaimana Hadits anak yahudi yang ditalkin Nabi ﷺ agar mengucapkan laa ilaaha illallah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

أَنَّ غُلاَمًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ ، فَقَالَ : أَسْلِمْ . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهوَ عِنْدَ رَأْسِهِ ، فَقَالَ لَهُ : أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ . فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

"Dahulu ada seorang anak laki-laki Yahudi yang biasa melayani Nabi ﷺ, lalu ia jatuh sakit. Maka Nabi ﷺ datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya lalu bersabda kepadanya: 'Masuklah Islam!' Anak itu pun memandang kepada ayahnya yang berada di dekatnya. Ayahnya lalu berkata: 'Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ).' Maka anak itu pun masuk Islam. Setelah itu Nabi ﷺ keluar sambil bersabda: 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.'" (HR. Bukhari no. 1356).

5. Mempersiapkan perjumpaan dengan Allah ﷻ karena ada sekarat.

📖 Hadits ke-8: Nabi ﷺ diracun Yahudi

Dari [Anas bin Malik] berkata: "Seorang wanita Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa daging kambing yang telah diberi racun, lalu beliau memakannya. Setelah itu, wanita Yahudi tersebut dibawa ke hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau lantas menanyakan tentang hal tersebut, wanita itu menjawab: "Aku ingin membunuhmu!" beliau bersabda: "Allah tidak akan memberikan kemudahan bagimu untuk melakukan itu." Atau beliau mengatakan: "untuk melakukan (hal itu) terhadapku." Para sahabat berkata: "Bagaimana jika kami membunuhnya saja?" beliau bersabda: "Jangan." Anas berkata: "Dan aku masih melihat sisa-sisa racun itu di tenggorokan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

📖 Shahih Sunan Abu Dawud #3909.

Peristiwa tersebut terjadi setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Khaibar pada tahun 7 Hijriah. Rasulullah ﷺ menjadi target upaya pembunuhan menggunakan racun yang disusupkan ke dalam hidangan makanan.

Meski Rasulullah ﷺ selamat hari itu berkat mukjizat dan tindakan bekam (hijamah), sisa efek racun tersebut menetap di tubuh beliau. Dalam beberapa riwayat, rasa sakit akibat sisa racun Khaibar ini kembali muncul menjelang wafatnya beliau, sehingga sebagian ulama menyebut wafatnya Rasulullah ﷺ juga mengadung kemuliaan pahala mati syahid.

💡 Faedah Hadits:

Waspada dari makar orang Yahudi. Karena kelicikan dan permusuhan mereka kepada umat Islam. Bahkan mereka berani melaknat Nabi ﷺ pada saat masih hidup.

📖 Hadits ke-9: Nabi ﷺ tidak meninggalkan warisan yang banyak.

Dari Amr bin Al Harits, ia berkata, “Rasulullah tatkala meninggal tidak meninggalkan dirham, dinar, budak laki-laki, budak perempuan atau sesuatu yang lain kecuali bighal putih, senjata, dan tanah yang beliau jadikan shadaqah (wakaf)” (HR. Al Bukhari)

Bahkan baju besinya masih tergadai untuk membeli makanan.

💡 Faedah Hadits:

  1. Kesempurnaan Zuhud dan qona'ah Nabi ﷺ terhadap dunia.
  2. Semua para nabi tidak mewariskan harta kepada keluarga mereka, melainkan harta peninggalan tersebut berstatus sebagai sedekah atau kemaslahatan umat.
  3. Beliau meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud No. 3641, At-Tirmidzi No. 2682

📖 Hadits ke-10: Sahabat berduka setelah Wafatnya Nabi ﷺ

Bahkan Umar berat menerimanya dan kaum muslimin berduka. Umar bin Khattab sempat menolak percaya dan mengancam akan menghunus pedang bagi siapa saja yang menyebut Rasulullah ﷺ wafat karena mengalami syok dan kecintaan yang sangat mendalam kepada Nabi.

Sahabat Abu Bakar as-Siddiq datang dan menenangkan Umar. Abu Bakar mengucapkan kalimat pujian kepada Allah dan berkata:

"Amma ba'du, barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad ﷺ, maka sesungguhnya Muhammad ﷺ telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati."

Abu Bakar kemudian membaca surat Ali Imran ayat 144 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang rasul yang telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.

Umar bin Khattab menuturkan bahwa seketika ia mendengar ucapan dan bacaan ayat dari Abu Bakar, kedua kakinya lemas hingga ia jatuh bersimpuh ke tanah dan menyadari bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat.

💡 Faedah Hadits:

  1. Sesembahan yang benar hanya untuk Allah ﷻ bukan nabi atau makhluk.
  2. Umar berwatak keras, namun ada sisi kelembutan. Sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhuma berkarakter lembut tapi ada sisi ketegasan.

📖 Hadits ke-11: Perselisihan Kuburan Nabi ﷺ dan Pengganti Kepemimpinannya

Setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, para sahabat sempat mengalami perselisihan dan silang pendapat mengenai lokasi terbaik untuk memakamkan jenazah beliau

Perselisihan tersebut akhirnya berhasil diselesaikan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau menenangkan para sahabat dengan menyampaikan sebuah hadis yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ:

"Tidaklah seorang Nabi dicabut nyawanya (wafat) kecuali ia harus dimakamkan di tempat ia meninggal." (HR. Tirmidzi)

Mendengar hujah dan kesaksian dari Abu Bakar, seluruh sahabat langsung sepakat dan menerima keputusan tersebut dengan bulat.

💡 Faedah Hadits:

  1. Perselisihan dikembalikan kepada dalil.
  2. Pengangkatan Amir pengganti Nabi ﷺ. Pecah menjadi dua. Sehingga Nabi ﷺ dikubur hari Rabu meskipun meninggal hari senin.

Peristiwa pengangkatan amir (pemimpin) pengganti Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu momen paling krusial dalam sejarah Islam yang memicu pembagian kelompok:

  1. Kaum Anshar (penduduk asli Madinah) berniat mengangkat Sa'ad bin Ubadah sebagai pemimpin.
  2. Perwakilan kaum Muhajirin (urban dari Mekkah) seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah segera mendatangi pertemuan untuk bermusyawarah agar tidak terjadi perpecahan.

Musyawarah berakhir setelah Umar Abu Bakar As-Shiddiq berkata Kami pemimpin dan kalian sebagai menteri.

  1. Kekosongan kepemimpinan dalam waktu lama akan memicu kekacauan besar. Ibnu Taimiyah berkata: 60 thn dipimpin pemimpin zalim lebih baik dari satu malam tanpa pemimpin. Oleh karena itu salaf seperti fudhail bin iyadh, Ahmad bin Hambali dll berkata: jika kami memiliki doa mustajab akan kami doakan utk kebaikan penguasa.

Poster:

Poster 11 Peristiwa Penting Menjelang dan Sesudah Wafatnya Nabi

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم