Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

Bismillah

Format: Daurah Bedah Buku
Pemateri: Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A. hafidzahullah
Hari, Tanggal: Ahad, 20 September 2026 / 9 Rabi’ul Akhir 1448
Lokasi: Hotel Anaya Azana, Tawangmangu, Karanganyar
Topik Utama: Membangun "Umur Kedua" Melalui Amalan yang Pahalanya Tidak Terputus
Daftar Isi


Mukadimah dan Pengantar Daurah

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih, mubarakan ‘alaih, kama yuhibbu rabbuna wa yardha. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wa man sara ‘ala nahjihi wastanna bi sunnatihi.

Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Azza wa Jalla. Pada pagi hari yang cerah ini, di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan kita dalam rangka menuntut ilmu bersama. Semoga Allah menjadikan majelis ini sebagai majelis yang penuh keberkahan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam. Salah satu bukti kecintaan kita kepada beliau adalah dengan memperbanyak bacaan shalawat. Oleh karena itu, mari kita biasakan—apabila nama atau gelar Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam disebutkan—untuk senantiasa membasahi lidah kita dengan bacaan shalawat, seperti:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

"Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyina Muhammad"

Ucapan terima kasih (jazakumullahu khairan) juga kami haturkan kepada segenap panitia dan fasilitator yang telah memfasilitasi daurah pada pagi hari ini.

Syarat Ilmu Dapat Meresap ke Dalam Hati

Sebelum membedah materi utama dari buku Umur yang Kedua, ada sebuah pengantar penting mengenai efektivitas dalam menuntut ilmu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan syarat agar suatu ilmu dan peringatan dapat masuk serta menetap di dalam hati:

إِنَّ فِي ذَٰلِك لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

"Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf: 37)

Berdasarkan ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ada empat syarat agar ilmu sampai ke dalam hati:

  1. Sumber yang Baik: Yaitu wahyu Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama.
  2. Hati yang Hidup: Hati yang terbuka, tidak terkunci, serta memiliki kesiapan untuk menerima kebenaran.
  3. Pendengaran yang Berfungsi (Alqas-Sam'a): Memasang pendengaran dengan baik dan tidak tidur saat majelis ilmu berlangsung.
  4. Fokus dan Konsentrasi (Wahua Syahid): Kehadiran jiwa dan pikiran secara utuh, bukan sekadar hadir secara fisik sementara pikiran melayang ke tempat lain.

Ibarat sebuah lampu yang terhubung dengan power supply, kabel, dan sakelar: lampu (hati) baru bisa menyala terang apabila sumber listriknya bagus (guru/ilmu Al-Qur'an dan As-Sunnah), kabelnya tidak putus (pendengaran yang terjaga), dan sakelarnya terhubung (fokus serta konsentrasi).

Tiga Nikmat Utama dalam Menerima Ilmu

Manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani (fuad), agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)

Allah membekali manusia dengan tiga sarana utama:

  • Pendengaran (As-Sam'a) & Penglihatan (Al-Absar): Sarana untuk menyerap informasi dan data.
  • Hati/Akal (Al-Af'idah): Berfungsi layaknya prosesor dan memori untuk memahami serta menyimpan ilmu.

Setiap manusia memulai proses belajarnya dari titik nol. Yang membedakan kecepatan dan kedalaman pemahaman seseorang adalah kesehatan fuad-nya (pemahaman dan daya simpan hafalan).

Mengenal Hakikat "Umur yang Kedua"

Rata-rata usia umat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ الستِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَقَلِيلٌ مِنْهُمْ مَنْ يُجَاوِزُ ذَلِكَ

"Umur umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit sekali dari mereka yang melebihi usia tersebut." (HR. Tirmidzi no. 3550 & Ibnu Majah no. 4236; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Oleh karena jatah umur manusia terbatas, seorang mukmin hendaknya merencanakan amalan yang usianya lebih panjang daripada usia biologisnya. Inilah yang disebut dengan Umur yang Kedua—kondisi ketika jasad telah terkubur di dalam tanah, tetapi aliran pahala dari amalan di dunia terus mengalir tanpa henti.

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menyampaikan:

"Barang siapa yang ingin amalannya tidak terputus setelah kematiannya, hendaklah ia menyebarkan ilmu melalui tulisan dan pengajaran."

Perbedaan Amal Qasir dan Amal Muta'addi

Ditinjau dari jangkauan kemanfaatannya, amalan hamba terbagi menjadi dua kategori:

  1. Amal Qasir (Terbatas): Amalan yang manfaatnya hanya dirasakan oleh pelaku ibadah itu sendiri.

    • Contoh: Salat sunah, berzikir, dan puasa pribadi.
  1. Amal Muta'addi (Meluas): Amalan yang manfaatnya melimpah hingga dirasakan oleh orang lain dan masyarakat luas.

    • Contoh: Mengajar ilmu agama, bersedekah, mewakafkan harta, dan membantu sesama.

Para ulama menegaskan bahwa Amal Muta'addi lebih utama daripada Amal Qasir karena dampaknya yang menyelamatkan dan memberdayakan masyarakat.

Allah Ta'ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." QS. Ali Imran: 110.

Di dalam ayat tersebut terdapat sifat yang memberikan manfaat kepada masyarakat: amar makruf dan nahi mungkar.

Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

"Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang terburuk di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain tidak merasa aman dari keburukannya." HR. Tirmidzi; dinilai sahih.

Hadis ini memberikan ukuran penting dalam kehidupan sosial. Jangan sampai keberadaan kita justru membuat orang lain khawatir. Jangan sampai orang merasa:

  • takut ketika kita datang,
  • khawatir terhadap ucapan kita,
  • khawatir terhadap sikap kita,
  • atau tidak yakin apakah kita akan membantu atau justru menyusahkan.

Sebaliknya, jadilah orang yang ketika hadir membawa manfaat.

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan dirasa aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak dirasa aman dari keburukannya." (HR. Tirmidzi no. 2263; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Pencatatan Amal dan Pengaruhnya (Atsar)

Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak hanya mencatat amal perbuatan yang langsung dikerjakan oleh hamba-Nya, tetapi juga mencatat seluruh dampak (atsar) dari perbuatan tersebut:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yasin: 12)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dua penafsiran para ulama mengenai makna "bekas-bekas yang mereka tinggalkan" (aatsaarahum)

  1. Jejak Langkah Kaki: Langkah kaki seseorang menuju tempat ketaatan (seperti masjid) bernilai pahala, sedangkan langkah kaki menuju kemaksiatan bernilai dosa.
  2. Pengaruh dan Dampak Perbuatan: Segala bentuk kebaikan yang dicontohkan atau diwariskan lalu diikuti oleh orang lain akan menjadi aliran pahala. Sebaliknya, tradisi buruk atau kemaksiatan yang dipelopori akan mengalirkan dosa bagi perintisnya.

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

"Barang siapa yang memelopori suatu tradisi yang baik dalam Islam, lalu diamalkan oleh orang-orang setelahnya, maka dicatat baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memelopori suatu tradisi yang buruk dalam Islam, lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ditanggung atasnya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim no. 1017)

Dalam hadis dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا بَنِي سَلِمَةَ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ

"Wahai Bani Salimah, tetaplah di rumah kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat. Tetaplah di rumah kalian, karena langkah-langkah kalian akan dicatat." HR. Muslim no. 665.

Bani Salimah dahulu tinggal cukup jauh dari Masjid Nabawi. Mereka berkeinginan pindah mendekati masjid agar lebih mudah menghadiri salat berjamaah.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam justru meminta mereka tetap tinggal di tempatnya karena langkah mereka menuju masjid akan dicatat sebagai pahala. Maka seseorang yang pergi menuju majelis ilmu, salat berjamaah, atau kegiatan ketaatan lainnya hendaknya tidak menganggap perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang sia-sia.

Kajian ini membahas buku Umur yang Kedua, sebuah buku yang mengajak seorang muslim untuk memikirkan bagaimana mendapatkan amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun dirinya telah meninggal dunia.

Umur manusia terbatas. Ketika seseorang meninggal, kesempatan untuk melakukan amal secara langsung telah berakhir. Namun Allah memberikan rahmat kepada hamba-Nya dengan membuka sejumlah pintu amal yang manfaatnya tetap berlangsung setelah kematian.

Inilah yang disebut sebagai umur yang kedua: masa ketika seseorang telah meninggalkan dunia, tetapi pahala dari amal yang pernah ia tinggalkan masih terus mengalir.

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya memikirkan bagaimana menjalani hidupnya, tetapi juga mulai merencanakan apa yang akan menjadi "umur keduanya".

Pertanyaannya bukan hanya: "Apa yang bisa saya lakukan hari ini?"  Tetapi juga:

"Apa yang bisa saya tinggalkan sehingga manfaatnya tetap dirasakan setelah saya meninggal?"

Buku Umur yang Kedua secara khusus membahas hakikat umur kedua, manusia yang memberikan banyak manfaat, berbagai amal yang pahalanya terus mengalir, serta pembahasan fikih wakaf. Buku ini pada akhirnya diarahkan untuk membangun kesadaran agar seorang muslim mampu menjadi wakif, yaitu orang yang mewakafkan hartanya untuk kemaslahatan.

Ciri Buku yang Layak Dipelajari

Ada tiga karakter yang menjadikan sebuah buku layak untuk dimiliki dan dipelajari.

  • Pertama: Bahasanya mudah dijangkau

Buku yang baik hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dipahami pembaca. Penggunaan istilah yang terlalu rumit atau terlalu banyak istilah asing terkadang justru membuat pembaca membutuhkan kamus sebelum memahami isi buku.

Bahasa ilmiah tidak harus berarti bahasa yang sulit.

  • Kedua: Disusun secara sistematis

Materi yang disampaikan secara sistematis lebih mudah dipahami.

Jika pembahasan berpindah-pindah dari awal ke tengah, kemudian kembali ke belakang dan kembali lagi ke awal, pembaca akan kesulitan mengikuti alur.

Karena itu, sebuah buku yang baik perlu memiliki susunan yang jelas.

  • Ketiga: Berdasarkan realitas dan sumber yang benar

Ilmiah berarti sesuai dengan kenyataan dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam ilmu yang berkaitan dengan fenomena alam, realitas tersebut dapat berupa bukti empiris, data penelitian, dan fakta yang dapat dibuktikan.

Sementara dalam ilmu agama, ada realitas syar'i, yaitu sesuatu yang bersumber dari keterangan syariat. Sumber utamanya adalah Al-Qur'an dan hadis yang sahih.

Dengan demikian, buku keagamaan perlu dilihat dari tiga sisi:

  1. Apakah bahasanya mudah dipahami?
  2. Apakah penyusunannya sistematis?
  3. Apakah isinya sesuai dengan dalil dan realitas syariat?

Amal Baik Melahirkan Pahala yang Terus Mengalir

Makna kedua dari "bekas-bekas yang ditinggalkan" adalah pengaruh amal seseorang setelah amal tersebut dilakukan.

Jika seseorang melakukan kebaikan dan kemudian kebaikan itu diikuti orang lain, ia memperoleh pahala dari pengaruh kebaikan tersebut.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

"Barang siapa membuat suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa membuat suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." HR. Muslim.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

"Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." HR. Muslim no. 2674.

Hadis ini menunjukkan betapa besar peluang seorang muslim untuk mendapatkan pahala melalui pengaruh amalnya. Karena itu, kita dianjurkan memperbanyak amal yang manfaatnya luas dan bertahan lama, seperti ilmu yang diajarkan, sedekah jariah, wakaf, dan berbagai bentuk kebaikan yang dapat diteruskan orang lain.

Sebaliknya, kita juga harus berhati-hati agar tidak menjadi sebab orang lain melakukan keburukan.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Mendapat Pahala dari Amal Umatnya

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang pertama yang mengajarkan umat ini berbagai bentuk ibadah dan kebaikan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

"Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang tidak terputus." QS. Al-Qalam: 3.

Pahala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terus mengalir karena beliau menjadi sebab umat mengenal dan mengamalkan agama.

Karena itu, seseorang tidak perlu membuat ritual khusus untuk "mengirimkan pahala" bacaan Al-Qur'an kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau telah mendapatkan bagian pahala dari amal umatnya melalui peran beliau sebagai pembawa dan pengajar risalah.

Dalam kajian juga dijelaskan bahwa menggambarkan pahala Nabi seperti sebuah "tandon" yang apabila penuh lalu meluber dan kembali kepada kita merupakan ilustrasi yang tidak dibangun berdasarkan dalil.

Allah telah menegaskan:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." QS. Hud: 115.

Tidak ada konsep bahwa pahala Nabi akan "meluber" karena terlalu banyak sehingga sebagian amal beliau hilang. Allah menjaga pahala orang-orang yang beramal.

Bahaya Menjadi Perintis Keburukan

Jika seseorang menjadi pelopor dalam keburukan lalu orang lain mengikutinya, ia dapat menanggung dosa akibat pengaruh tersebut.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، لِأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

"Tidaklah seseorang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama mendapatkan bagian dosa dari darah tersebut, karena dialah orang pertama yang membuat tradisi pembunuhan." HR. Bukhari dan Muslim.

Kisah dua anak Adam juga menunjukkan bahwa manusia perlu menjaga amalnya agar diterima Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka dan tidak diterima dari yang lain. Dia berkata, 'Sungguh, aku pasti membunuhmu.' Dia berkata, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.'" QS. Al-Ma'idah: 27.

Di zaman sekarang, diterima atau tidaknya amal tidak ditampakkan kepada kita. Ini merupakan bagian dari rahmat Allah.

Jika setelah setiap salat manusia langsung mengetahui apakah amalnya diterima atau ditolak, mungkin sebagian orang akan berputus asa.

Karena tidak mengetahui hasil amal secara pasti, seorang muslim justru harus terus memperbaiki amal dan berharap agar Allah menerimanya.

 Melayani Orang Lain

Para sahabat dan ulama terdahulu sangat memperhatikan pelayanan kepada orang lain.

Dalam perjalanan, sebagian orang berusaha melayani teman seperjalanannya.

Diceritakan bahwa Mujahid pernah menemani Ibnu Umar dalam perjalanan dengan tujuan melayani beliau. Namun ternyata Ibnu Umar justru melayani Mujahid.

Ada pula kisah Abu Muhammad Al-Marwazi yang ketika melakukan perjalanan haji bersama temannya justru berusaha melayani temannya tersebut.

Bahkan ketika hujan turun, ia meminta temannya berlindung sementara dirinya berdiri melindunginya dari hujan.

Ini menunjukkan karakter orang-orang saleh: Mereka tidak sibuk menuntut untuk dilayani, tetapi sibuk mencari kesempatan untuk melayani.

Jangan Mengasingkan Diri dari Masyarakat karena Tidak Sabar

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah merenungkan dorongan dalam dirinya untuk meninggalkan majelis ilmu dan memilih menyendiri.

Setelah direnungkan, beliau melihat bahwa keinginan tersebut bisa menjadi godaan setan.

Mengapa? Karena melalui majelis ilmu, banyak orang mendapatkan hidayah, menangis karena mengingat dosa, bertobat, dan memperbaiki kehidupannya.

Jika seorang dai meninggalkan masyarakat, kesempatan tersebut dapat terputus.

Para nabi bukanlah orang yang hanya beribadah sendiri lalu meninggalkan masyarakat.

Mereka mengajarkan manusia, membimbing mereka, mengingatkan mereka, dan bersabar terhadap gangguan mereka. Karena itu, hidup bersama masyarakat membutuhkan kesabaran.

Hidup Bersama Masyarakat dan Bersabar

Imam An-Nawawi menjelaskan keutamaan hidup bersama masyarakat, menghadiri salat berjamaah, majelis ilmu, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, membantu orang yang membutuhkan, membimbing orang yang belum mengetahui, melakukan amar makruf nahi mungkar, menahan diri dari mengganggu orang lain, dan bersabar terhadap gangguan masyarakat.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

"Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka."

Karena itu, jika seseorang hidup di lingkungan yang belum baik, jangan langsung menyerah. Tetaplah memberikan manfaat. Tetaplah menyampaikan kebaikan dengan cara yang bijak.

Tetaplah bersabar. Bisa jadi pengaruh kebaikan itu tidak terlihat hari ini, tetapi muncul bertahun-tahun kemudian.

Sepuluh Amal yang Pahalanya Terus Mengalir

Setelah pembahasan pengantar, kajian masuk kepada sepuluh bentuk amal yang pahalanya dapat terus mengalir setelah seseorang meninggal.

Di antara dalil terpenting adalah hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." HR. Muslim no. 1631.

Ada pula hadis yang menyebutkan tujuh amal:

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ كَرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

"Ada tujuh perkara yang pahalanya terus mengalir untuk seorang hamba ketika ia berada di dalam kuburnya setelah kematiannya: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun untuknya setelah kematiannya."

Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani.

Dengan menggabungkan beberapa riwayat yang dibahas dalam buku, kajian merinci sepuluh bentuk amal berikut.

Pertama: Mengajarkan Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, terutama ilmu yang:

  • mengenalkan manusia kepada Allah,
  • menunjukkan jalan hidayah,
  • menjelaskan perbedaan antara kebenaran dan kebatilan,
  • menjelaskan halal dan haram,
  • membimbing manusia agar menjalani kehidupan sesuai syariat.

Orang yang mengajarkan ilmu yang kemudian diamalkan oleh orang lain akan mendapatkan pahala dari manfaat ilmu tersebut.

Imam Ahmad menggambarkan peran ulama sebagai orang yang menghidupkan manusia yang mati hatinya dengan kitab Allah.

Karya ulama juga merupakan salah satu bentuk umur kedua. Ketika seorang ulama meninggal, ilmu yang telah ia ajarkan tidak ikut terkubur.

  • Buku-bukunya tetap dibaca.
  • Pelajarannya tetap disampaikan.
  • Murid-muridnya tetap mengajarkan.
  • Dengan demikian, rantai manfaatnya terus berlangsung.

Ilmu dunia yang mubah dan bermanfaat juga dapat menjadi sebab pahala apabila benar-benar memberikan manfaat bagi manusia.

Namun ilmu syariat memiliki kedudukan yang sangat utama karena berkaitan langsung dengan petunjuk manusia menuju keselamatan akhirat.

Kedua: Mengalirkan Sungai atau Saluran Air

Amal berikutnya adalah membuat aliran air yang sebelumnya tertahan agar dapat dimanfaatkan masyarakat. Tidak harus berupa sungai besar. Membuat saluran air, pipanisasi, atau fasilitas penyaluran air di daerah yang membutuhkan juga termasuk bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Air merupakan kebutuhan pokok manusia. Karena itu, menyediakan akses air bagi masyarakat dapat menjadi amal yang besar manfaatnya.

Pada masa sekarang, program pipanisasi atau pembangunan sarana air bersih di daerah yang mengalami kekeringan merupakan contoh nyata bagaimana konsep ini dapat diterapkan.

Ketiga: Menggali Sumur

Menyediakan sumur agar manusia memperoleh air juga termasuk amal yang pahalanya dapat terus mengalir. Memberikan minum kepada makhluk hidup merupakan amal yang mulia.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang seseorang yang sangat kehausan. Ia turun ke sebuah sumur dan minum. Ketika keluar, ia melihat seekor anjing menjulurkan lidah karena kehausan.

Ia kembali turun ke sumur, memenuhi sepatunya dengan air, kemudian memberikan minum kepada anjing tersebut. Allah menghargai perbuatannya dan mengampuni dosanya.

Para sahabat bertanya apakah berbuat baik kepada hewan mendapatkan pahala. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

"Pada setiap makhluk hidup terdapat pahala dalam berbuat baik kepadanya." HR. Bukhari dan Muslim.

Jika memberikan minum kepada seekor hewan saja dapat menjadi sebab ampunan Allah, maka menyediakan sumber air yang dimanfaatkan banyak manusia tentu merupakan amal yang sangat besar nilainya.

Keempat: Menanam Pohon yang Bermanfaat

Menanam pohon yang memiliki usia panjang memungkinkan orang lain menikmati manfaatnya meskipun orang yang menanamnya sudah meninggal.

Dalam hadis disebutkan pohon kurma karena kurma memiliki banyak manfaat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah membuat perumpamaan seorang muslim dengan pohon kurma karena banyak manfaatnya.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

"Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman, lalu apa yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri darinya menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang darinya menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah seseorang mengambil darinya kecuali menjadi sedekah baginya." HR. Muslim.

Karena itu, seseorang tidak perlu kecewa jika pohon yang ia tanam justru lebih banyak dinikmati orang lain atau binatang. Justru itulah salah satu bentuk sedekah yang manfaatnya terus berjalan.

Kelima: Membangun Masjid

Masjid adalah tempat yang sangat mulia.

Di dalamnya manusia:

  • shalat,
  • membaca Al-Qur'an,
  • belajar agama,
  • berzikir,
  • berkumpul untuk kemaslahatan,
  • dan melakukan berbagai amal kebaikan.

Allah Ta'ala berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

"Di rumah-rumah yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." QS. An-Nur: 36.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

"Barang siapa membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." HR. Bukhari dan Muslim.

Orang yang membangun masjid tidak hanya memperoleh pahala dari pembangunan fisiknya, tetapi juga berharap mendapatkan pahala dari berbagai amal kebaikan yang dilakukan di dalam masjid tersebut.

Keenam: Mewakafkan Mushaf Al-Qur'an

Memberikan mushaf kepada orang yang benar-benar membacanya dapat menjadi sarana bagi orang tersebut untuk memperoleh pahala membaca Al-Qur'an.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

"Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf." HR. Tirmidzi.

Karena itu, wakaf mushaf sebaiknya mempertimbangkan siapa penerimanya. Jangan sampai mushaf hanya menjadi benda yang disimpan di rak atau gudang dan jarang dibaca.

Semakin tepat sasaran penerima wakaf, semakin besar peluang manfaat wakaf tersebut berlangsung.

Ketujuh: Anak Saleh yang Mendoakan

Anak merupakan salah satu bentuk investasi akhirat bagi orang tua. Namun pembahasan ini perlu dipahami dengan benar.

Hadis Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut:

أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Atau anak saleh yang mendoakannya."

Dengan demikian, yang secara tegas disebutkan dalam hadis adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

Tidak berarti setiap amal anak secara otomatis menjadi pahala orang tua tanpa sebab.

Orang tua mendapatkan manfaat dari amal anak ketika orang tua memiliki kontribusi dalam pendidikan dan pembentukan kebaikan anak tersebut, di samping doa anak kepada mereka.

Karena itu, mendidik anak adalah amal yang sangat penting.

Orang tua perlu terlibat dalam:

  • mengajarkan shalat,
  • mengajarkan Al-Qur'an,
  • mengajarkan doa,
  • mengajarkan adab,
  • membiayai pendidikan,
  • memilih lingkungan pendidikan,
  • dan membimbing anak menuju kebaikan.

Tidak cukup menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada orang lain sementara orang tua sama sekali tidak mengambil peran.

Kedelapan: Wakaf Rumah Singgah

Hadis juga menyebut rumah yang disediakan untuk kepentingan orang yang melakukan perjalanan.

Pada masa sekarang, bentuknya dapat dikembangkan menjadi rumah singgah.

Misalnya untuk:

  • pasien dari daerah yang harus berobat ke kota,
  • keluarga pasien,
  • musafir,
  • penuntut ilmu,
  • anak yatim,
  • janda,
  • fakir miskin,
  • atau kebutuhan kemaslahatan lainnya.

Banyak masyarakat dari daerah terpencil harus menempuh perjalanan berjam-jam menuju rumah sakit. Setelah sampai, mereka terkadang masih harus menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan.

Jika mereka tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menyewa penginapan, rumah singgah menjadi solusi yang sangat membantu. Menyediakan tempat semacam ini dapat menjadi bentuk wakaf yang manfaatnya dirasakan banyak orang.

Kesembilan: Sedekah Jariah

Sedekah jariah merupakan amal yang manfaatnya terus berjalan. Para ulama menjelaskan bahwa bentuk yang sangat jelas dari sedekah jariah adalah wakaf.

Mengapa?

Karena dalam wakaf, pokok harta dipertahankan sementara manfaatnya disalurkan.

Misalnya:

  • tanah diwakafkan,
  • bangunan diwakafkan,
  • kebun diwakafkan,
  • sumur diwakafkan,
  • rumah diwakafkan,
  • fasilitas pendidikan diwakafkan.

Pokok harta tetap bertahan, sementara manfaatnya diberikan kepada pihak yang berhak.

Karena manfaatnya terus berlangsung, pahala juga diharapkan terus mengalir.

Kesepuluh: Berjaga di Perbatasan dan Membela Kaum Muslimin

Amal berikutnya yang disebutkan adalah ribath, yaitu berjaga di wilayah perbatasan dalam rangka menjaga kaum muslimin.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

"Berjaga sehari semalam di jalan Allah lebih baik daripada puasa dan salat malam selama sebulan. Jika ia meninggal, amal yang biasa ia lakukan akan terus mengalir kepadanya, rezekinya juga terus diberikan kepadanya, dan ia aman dari fitnah." HR. Muslim.

Dalam konteks pembahasan kajian, bentuk ancaman terhadap umat tidak hanya berupa serangan fisik. Ada pula ancaman berupa penyimpangan pemikiran dan kerusakan pemahaman agama.

Karena itu, para ulama yang mengajarkan ilmu, menjelaskan halal dan haram, membantah penyimpangan, dan menjaga umat dari kesesatan memiliki peran penting dalam menjaga agama masyarakat.

Bahaya Serangan Pemikiran

Serangan fisik dapat menghilangkan sebagian nyawa. Namun kerusakan pemikiran dan akidah dapat memengaruhi manusia dalam jumlah sangat besar dan dalam waktu yang panjang.

Salah satu contoh yang disebutkan dalam kajian adalah fitnah Dajjal.

Dajjal tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi membawa fitnah yang menyerang keyakinan manusia. Karena itu, umat Islam membutuhkan penjagaan ilmu dan pendidikan. Orang yang mengajarkan agama secara benar memiliki peran penting dalam menjaga masyarakat.

Pelajaran Utama dari Sepuluh Amal

Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan sepuluh bentuk amal yang disebutkan dalam kajian:

  1. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
  2. Mengalirkan air atau membuat saluran air.
  3. Menggali sumur.
  4. Menanam pohon yang bermanfaat.
  5. Membangun masjid.
  6. Mewakafkan mushaf Al-Qur'an.
  7. Meninggalkan anak saleh yang mendoakan.
  8. Membangun atau mewakafkan rumah singgah.
  9. Sedekah jariah, terutama wakaf.
  10. Ribath atau berjaga menjaga kaum muslimin.

Intinya bukan sekadar menghafal daftar tersebut.

Yang lebih penting adalah mulai bertanya: "Dari sepuluh pintu kebaikan ini, mana yang mampu saya perjuangkan sesuai kemampuan saya?"

Tidak semua orang mampu membangun masjid.
Tidak semua orang mampu menggali sumur.
Tidak semua orang mampu menulis kitab.
Namun hampir setiap orang dapat memberikan manfaat dalam bentuk tertentu.
 

Poster Ringkasan

*****