#ad-Durar an-Nafisah 1
بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Kajian Kitabad-Durar an-Nafisah fi Rihlati Ila Makkah Wal Madinah
🎙┃ Ustadz Mohammad Alif, Lc. M.Pd Hafidzahullah
🗓️┃Selasa, 07 April 2026 / 18 Syawal 1447 H
🕰️┃ Ba'da Maghrib
🕌┃ Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Solo
Mukadimah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ::
Kita memuji Allah ﷻ di awal dan di akhir, dengan pertolongan Allah ﷻ dan taufik Nya, memberiku kesempatan untuk berziarah di dua tanah suci pada tahun 1446 H.
Ini adalah kesempatan yang sangat berharga, sungguh merugi orang yang diberi kesempatan untuk berkunjung ke tanah suci dan tidak digunakan sebaik-baiknya.
Diantara kesempatan yang paling utama adalah kesempatan untuk duduk di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Maka, kesempatan itu, aku gunakan untuk menuntut ilmu dan aku gunakan untuk membaca buku-buku dan mengambil faedah dari para ulama, mencatat, memilih dan memilah permasalahan penting dari permasalahan manhajiyah.
Maka, kitab yang ringkas ini adalah kumpulan dari faedah-faedah Kitab yang aku baca dari kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah. Selama aku berada di dua kota suci tersebut.
Semoga Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan buku ini, dan menjadikannya pemberat timbangan di hari kiamat dan menjadi sebab hidayah bagi pembaca dan kaum Muslimin.
Kami berterima kasih dan bersyukur pada seorang yang telah membantuku dalam perjalanan yang penuh berkah ini. Mudah-mudahan Allah ﷻ membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Dan aku juga memohon kepada Allah ﷻ mudah-mudahan aku dan antum semuanya, pada masa yang akan datang dimudahkan untuk kembali ziarah ke dua tanah suci. Dan Allah ﷻ menjadikannya ikhlas dalam ucapan dan perbuatan.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
*****
Bab Ilmu
1. Adab bagi orang yang berilmu dan yang Mempelajarinya
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah:
Bagi orang yang berilmu dan penuntut ilmu ada adab yang harus diperhatikan. Ada adab yang sama bagi keduanya dan ada adab yang khusus bagi salah satunya.
Diantara adab bagi orang yang berilmu dan penuntut ilmu adalah:
1. Mengikhlaskan niat karena Allah ﷻ.
Yaitu ikhlas dengan cara niat dalam belajar dan mengajar adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Kita berusaha untuk terus menjaga keikhlasan dengan menjaga syariat Allah ﷻ dan menyebarkannya, dan mengangkat kebodohan dari diri kita dan orang lain.
Maka siapa yang belajar ilmu syar'i dan ingin mendapatkan sebagian dari kenikmatan dunia, maka dia telah menjerumuskan dirinya kepada siksa Allah ﷻ.
Siapa yang belajar yang seharusnya untuk mendapatkan wajah Allah ﷻ, tapi ternyata ada niatan untuk mendapatkan kenikmatan dunia, maka orang itu tidak akan mendapatkan bau wanginya surga di hari kiamat.
2. Mengamalkan ilmu
Siapa yang mengamalkan ilmu yang dipelajarinya, maka dia akan mendapatkan ilmu-ilmu yang dia belum ketahui dan mengamalkannya adalah sebab kekuatan ilmu pada dirinya.
Seperti membaca surat Al-Fatihah, akan selalu ingat meskipun menghafal dari kecil, karena selalu membacanya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 17:
وَٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ زَادَهُمْ هُدًى وَءَاتَىٰهُمْ تَقْوَىٰهُمْ
Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.
Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk untuk mengikuti kebenaran, Allah menambah hidayah kepada mereka, maka hidayah mereka menjadi kuat, dan Allah juga membimbing mereka kepada takwa dan memudahkannya bagi mereka.
Dan siapa yang meninggalkan ilmu yang telah dipelajari, maka Allah ﷻ akan mencabut ilmu tersebut.
3. Berakhlak dengan Akhlak yang Mulia
Ada wibawa, ketenangan, lemah lembut, mudah dan gampang untuk berbuat baik dan bersabar atasnya. Dan akhlak yang mulia lainya yang dipuji dalam syariat dan adat manusia yang benar.
Sebagian penuntut ilmu bagaikan tiang yang tidak bergerak.
4. Wajib bagi penuntut ilmu dan orang yang berilmu, menjauhi akhlak-akhlak yang rendah.
Dari ucapan kotor, mudah mencela, mengganggu orang lain, sikap kasar, dan menjauhi perkara yang rendah baik dalam ucapan dan perbuatan. Wajib meninggalkan akhlak yang buruk yang dicela syariat dan kebiasaan masyarakat.
Adab-Adab bagi Para Guru
Di antara adab (etika) khusus bagi seorang guru adalah:
1. Bersemangat untuk menyebarkan ilmu dengan segala cara, dan menyampaikannya kepada mereka yang mencarinya dengan lancar dan sepenuh hati, bergembira atas nikmat Allah berupa ilmu dan pencerahan, dan memudahkan pewarisan ilmunya oleh mereka yang akan meneruskannya. Ia harus sangat berhati-hati agar tidak menahan ilmu ketika orang membutuhkan penjelasan, atau ketika seseorang yang mencari petunjuk bertanya kepadanya tentang hal itu, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ
“Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka akan diberikan pada hari kiamat penutup mulut dari api neraka.” (Abu Dawud No. (3658), dan At-Tirmidhi No. (2649)), dan hadits ini sahih.
2. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan perlakuan buruk dari murid; agar ia dapat memperoleh pahala orang yang sabar dan membiasakan mereka untuk bersabar dan menanggung bahaya dari orang lain.
3. Memberikan teladan kepada murid tentang perilaku keagamaan dan moral yang benar, karena guru adalah panutan terbesar bagi muridnya, dan ia adalah cermin tempat agama dan moral guru tercermin.
4. Menggunakan metode yang paling mudah dalam menyampaikan ilmu kepada muridnya dan mencegah segala sesuatu yang menghalangi hal ini, dengan memperhatikan penjelasan dan kejelasan makna, serta menanamkan rasa cinta kepada hati mereka, agar dia dapat membimbing mereka, dan mereka dapat mendengarkan kata-katanya dan menanggapi bimbingannya.
Adab-Adab Bagi Penuntut Ilmu
Di antara adab khusus bagi seorang pelajar adalah:
1. Berusaha keras (sungguh-sungguh) dalam memperoleh ilmu, karena ilmu tidak diperoleh melalui kenyamanan jasmani. Oleh karena itu, seseorang harus menempuh semua jalan menuju ilmu. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (Abu Dawud No. (3641) dan Al-Tirmidzi No. (2682), dan hadits ini sahih).
2. Memulai dengan hal-hal yang paling penting dalam ilmu yang dibutuhkan untuk agama dan urusan duniawi, karena inilah hikmah.
وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” [Al-Baqarah: 269]
3. Kerendahan hati dalam mencari ilmu, sehingga seseorang tidak menganggap dirinya terlalu sombong untuk belajar dari siapa pun. Karena kerendahan hati dalam mengejar ilmu adalah suatu peningkatan, dan kerendahan hati dalam mencarinya adalah suatu kehormatan.
4. Menghormati dan memuliakan guru sebagaimana mestinya. Karena guru yang bijaksana bagaikan seorang ayah, yang memelihara jiwa dan hati dengan pengetahuan dan iman. Oleh karena itu, adalah hak murid untuk menghormati dan memuliakannya dengan sepatutnya, tanpa berlebihan atau lalai. Ia harus mengajukan pertanyaan sebagai seseorang yang mencari bimbingan dan inspirasi, bukan sebagai seseorang yang menantang atau sombong. Ia juga harus bersabar terhadap segala kekerasan, ketegasan, atau teguran yang mungkin datang dari gurunya.
5. Bersemangat dalam mengulang, menghafal, dan mengingat apa yang telah dipelajari, baik di dalam hati maupun dalam tulisan. Karena manusia cenderung lupa, dan jika seseorang tidak tekun meninjau, ia akan melupakan apa yang telah dipelajarinya dan itu akan hilang. Ia harus berhati-hati untuk menjaga buku-bukunya agar tidak hilang dan melindunginya dari kerusakan, karena buku-buku itu adalah harta berharga dalam hidupnya dan referensi yang ia butuhkan. (Musthalah Hadits (hlm. 87-91), cet. 1440/6 H, Yayasan Sheikh Qassim).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم