بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Meniti Jalan Keselamatan
🎙┃ Pemateri : Ustadz Farhan Abu Furaihan Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Sabtu , 6 Juni 2026 M / 20 Dzulhijjah 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Ibaadurrahmaan - Goro Assalaam Kartasura
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat hingga dipertemukan atas dasar kecintaan karena Allah ﷻ. Saling berkunjung dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan menuntut ilmu agama.
Selain mendapatkan kecintaan Allah, orang-orang yang gemar saling mengunjungi karena Allah akan mendapatkan tempat yang mulia di akhirat yang membuat para Nabi dan orang shalih iri dengan tempat mereka tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
حقَّتْ محبَّتي على المُتحابِّينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتناصِحينَ فيَّ وحقَّت محبَّتي على المُتزاوِرينَ فيَّ وحقَّتْ محبَّتي على المُتباذِلينَ فيَّ وهم على منابرَ مِن نورٍ يغبِطُهم النَّبيُّونَ والصِّدِّيقونَ بمكانِهم
“Berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling mencintai karena Aku. berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling menasehati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling mengunjungi karena Aku, berhak mendapatkan kecintaanKu, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu” (HR. Ibnu Hibban 577, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid 2129).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
Demikian pula dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Dalam hadits tersebut Rasulullah mengatakan, ”memahamkan dia dalam urusan agamanya.” Rasulullah tidak bersabda, ”memahamkan dia dalam urusan dunianya.”
Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan,
وَمَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر
“Dapat disimpulkan dari hadits tersebut bahwa siapa yang tidak memahami agama, enggan mempelajari dasar-dasar Islam dan cabang-cabangnya, maka ia diharamkan untuk mendapatkan kebaikan.” (Fath Al-Bari, 1: 165)
Syaikh abdurrazak menulis sebuah kutaib berjudul 10 jalan Keselamatan, inilah yang akan kita bahas dalam pertemuan kali ini.
Secara umum, setiap manusia menginginkan jalan keselamatan. Namun banyak diantara kita yang mengabaikan jalan keselamatan tersebut.
Terdapat sebuah syair Arab terkenal:
ترجو النجَاة وَلم تسلك مسالكها ... إِن السَّفِينَة لَا تجْرِي على اليبس
"Engkau mengharapkan keselamatan, namun tidak menempuh jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidak mungkin berlayar di atas daratan." [Bustanul Wa'izhin, 1/282]
Sesungguhnya hamba yang diberi taufik akan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dirinya, mensucikannya, dan menyelamatkannya di dunia dan akhirat dari segala keburukan dan kebinasaan. Ini adalah tujuan yang agung dan cita-cita mulia yang diperjuangkan oleh orang-orang beriman. Perhatian mereka tercurah untuk memikirkan urusan keselamatan mereka, dan mencari sebab-sebab yang mengantarkan kepada kemenangan dan keselamatan mereka. Bahkan, kekhawatiran ini pernah menimpa sebaik-baik umat ini setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu tiga orang Khalifah pertama yang utama.
Nabi Muhammad dalam hadisnya, ketika ditanya oleh sahabat mengenai jalan keselamatan mengatakan setidaknya ada 3 jalan keselamatan manusia ketika hidup didunia:
عن عُقْبَة بن عامر رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله ما النَّجَاة؟ قال: «أَمْسِكْ عليك لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيتُك، وابْكِ على خَطِيئَتِكَ».
“Dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku bertanya, Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau bersabda, “Jagalah lisanmu, jadikanlah rumahmu terasa luas olehmu dan menangislah karena kesalahanmu! (Shahih Sunnah Tirmidzi no. 2406).
Sisi pendalilan hadits ini adalah Kesungguhan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- untuk mengetahui jalan keselamatan. Meskipun mereka sudah di jamin keselamatan mereka melalui lisan manusia terbaik Nabi ﷺ.
Dikisahkan dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Ketika itu, aku sedang duduk di naungan sebuah tembok. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu melewatiku. Ia kemudian memberikan salam kepadaku. Namun, aku tidak menyadari bahwa ia telah lewat dan memberikan salam. Dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pergi hingga ia menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Lalu ‘Umar bercerita kepada Abu Bakar, ‘Mengherankan… Aku melewati ‘Utsman, dan aku memberikan salam padanya, namun dia tidak membalas salamku!’
‘Umar dan Abu Bakar menemuiku di tempatnya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, sampai mereka berdua memberikan salam kepadaku. Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Saudaramu, ‘Umar datang menemuiku, kemudian dia menceritakan bahwa dia melewatimu dan memberikan salam kepadamu. Namun, kamu tidak membalas salamnya. Apa yang membuatmu seperti itu?’
Aku mengatakan kepadanya, ‘Demi Allah! Aku tidak menyadari dia melewatiku dan juga memberikan salam.’
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘‘Utsman benar. Sungguh ada yang menyibukkan pikiranmu dari hal ini!’
Aku mengatakan, ‘Betul.’
Abu Bakar bertanya, ‘Apa itu?’
‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Allah ‘Azza wa Jalla telah mewafatkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum kami bertanya kepadanya tentang keselamatan dari perkara (akhirat) ini.’
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Aku telah bertanya tentang hal itu.’
‘Utman berkata, ‘Engkau dengan ayah dan ibuku, engkau lebih berhak untuk mengetahui hal itu.’
Abu Bakar melanjutkan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menyelamatkan kita dari akhirat? Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من قبل مني الكلمة التي عرضت على عمي, فردها علي, فهي نجاة
“Barangsiapa yang menerima satu kalimat dariku yang itu aku tawarkan kepada pamanku yang kemudian ia menolaknya dariku (yaitu kalimat tauhid, laa ilaaha illallah, pen.), maka itulah keselamatan.” (HR. Ahmad no. 20)
Barangsiapa yang merenungkan kisah mulia ini, dia akan mengetahui bahwa perkara kesalamatan di negeri akhirat adalah perkara yang sangat penting. Sampai inilah yang membuat gaduhnya pikiran orang-orang yang beriman lagi jujur hatinya.
Barangsiapa merenungkan kisah agung ini, ia akan mengetahui bahwa urusan keselamatan adalah urusan yang sangat besar, hingga menjadi kekhawatiran dan menyibukkan pikiran orang-orang beriman yang jujur. Inilah Utsman radhiyallahu 'anhu yang sangat mengkhawatirkan urusan keselamatan, padahal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentangnya: "Dan Utsman di surga," dan sabdanya tentangnya: "Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini".
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3701) dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam "Al-Mishkah" (6073).
Suatu hari, ketika Abdullah bin Rawahah sakit, beliau meletakkan kepalanya dipangkuan sang isteri sambil menangis. Sang isteri turut menangis karenanya. Lalu beliau bertanya kepada isterinya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Isterinya menjawab, “Aku melihatmu menangis, maka aku ikut menangis!”. Abdullah berkata, “Sesungguhnya aku ingat firman Allah Ta’ala
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا
“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu”, maka aku tidak tahu apakah aku bisa selamat dari neraka ataukah tidak?!”
Ayat yang beliau maksud adalah firman Allah,
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا(71)ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا(72)
“Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang dzalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”, (QS. Maryam:71-72).
Ayat itu menegaskan, bahwa semua manusia akan mendatangi neraka. Ini telah menjadi ijma’ para ulama berdasarkan ayat di atas. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang maksud ‘mendatangi’ neraka.
Jika demikianlah keadaan generasi pertama dari kalangan sahabat dalam mencari sebab-sebab keselamatan di dua negeri (dunia dan akhirat), padahal mereka telah diberi kabar gembira dengan masuk surga, maka bagaimana keadaan orang-orang setelah mereka?!
Seorang penyair berkata:
"Mengapa agamamu engkau rela untuk dinodai
Sementara pakaianmu selamanya bersih dari noda
Engkau mengharap keselamatan namun tidak menempuh jalan-jalannya
Sesungguhnya kapal tidak berlayar di daratan"
Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan keselamatan bagi hamba, membukakan pintu-pintunya baginya, mengenalkan kepadanya jalan-jalan untuk meraih kebahagiaan, memberikan kepadanya sebab-sebabnya, memperingatkannya dari akibat buruk kemaksiatan kepada-Nya, dan memperlihatkan kepadanya dan kepada orang lain keburukan dan sisanya. (Dari perkataan Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam "Uddat al-Shabirain", halaman 284).
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 165:
رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Dan sang penyair berkata dengan baik:
"Alangkah sesal diriku, umur telah habis dan berlalu
Waktu-waktunya antara kehinaan kelemahan dan kemalasan
Sedangkan kaum telah mengambil kendaraan keselamatan
Dan telah berjalan menuju tujuan tertinggi dengan tenang"
Dan semoga Allah memberkahi, melimpahkan salam, berkah, dan karunia kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kami Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, serta keluarga dan para sahabatnya semuanya.
Ada 10 macam yang menjadi sebab jalan keselamatan.
1. Tauhid Kepada Allah Dan Keikhlasan Dalam Beragama Kepada-Nya
2. Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
3. Ketakutan Kepada Allah Dan Takwa Kepada-Nya
4. Menjaga lisan
5. Lari dari Fitnah
6. Memperbanyak Doa Dan Berlindung Kepada Allah ﷻ.
7. Senantiasa Bertobat Dan Beristighfar
8. Berhati-Hati Dari Sikap Ujub Dan Tertipu.
9. Mengingat Perhitungan dan Berdiri di Hadapan Allah
10. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar.
Sebab Pertama: Tauhid Kepada Allah Dan Keikhlasan Dalam Beragama Kepada-Nya
Sebab terbesar untuk selamat pada hari kiamat, bahkan tidak ada keselamatan kecuali dengannya adalah: bertauhid kepada Allah dan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Telah disebutkan sebelumnya dalam kisah besar tersebut perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Barangsiapa menerima dariku kalimat yang aku tawarkan kepada pamanku namun dia menolaknya, maka kalimat itu akan menjadi keselamatan baginya" (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad dengan sanad yang Hasan).
Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah).
Bukan maksudnya hanya sekedar mengucapkan kalimat itu dengan lisan saja, tetapi maksudnya adalah: mewujudkan apa yang ditunjukkan oleh kalimat tersebut berupa keikhlasan dalam beragama kepada Allah dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya semata.
Tauhid adalah tujuan yang untuk itu Allah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka untuk mewujudkannya, sebagaimana firman-Nya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku" (Adz-Dzariyat: 56), dan firman-Nya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kecuali kepada-Nya" (Al-Isra: 23), dan firman-Nya: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus" (Al-Bayyinah: 5).
Maka dasar keselamatan dan keberuntungan pada hari kiamat adalah bertauhid kepada Allah. Dan keselamatan yang diperoleh dengan tauhid ini terbagi menjadi dua jenis:
- (Pertama): Selamat dari masuk neraka. Seseorang jika telah mewujudkan tauhid dengan sempurna maka ia tidak akan masuk neraka, bahkan ia akan masuk surga secara langsung tanpa hisab dan tanpa azab.
- (Kedua): Selamat dari kekal di neraka. Ini bagi orang yang tidak menyempurnakan tauhid dan tidak melengkapinya, bahkan ia melakukan sejumlah kemaksiatan dan dosa-dosa besar yang melemahkan iman dan tauhidnya, sehingga ia berhak masuk neraka karenanya. Maka tauhid akan menyelamatkannya dari kekal di neraka, kemudian akhirnya ia akan masuk surga.
Penyebab Kedua: Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
Perhatian terhadap Sunnah Nabawi dan petunjuk yang penuh berkah yang dimiliki Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal mempelajari dan mengamalkannya merupakan salah satu sebab yang sangat besar untuk keselamatan di hari Kiamat.
Oleh karena itu, Imam Malik bin Anas berkata: "Barangsiapa menginginkan keselamatan, maka hendaklah ia berpegang pada Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." [Kitab “Dzam al-Hawā wa Ahluh” karya Abu Isma’il al-Harawi (4/118)].
Dan ia berkata kepadanya: "Sunnah adalah bahtera Nuh; barangsiapa menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tidak menaikinya akan tenggelam." [Diriwayatkan oleh Al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “At-Tarikh” (8/308)].
Sesungguhnya dunia "perumpamaannya seperti lautan yang semua makhluk pasti harus mengarunginya agar bisa menyeberanginya menuju pantai yang di sana terdapat rumah-rumah mereka, negeri mereka, dan tempat tinggal mereka. Dan tidak mungkin menyeberanginya kecuali dengan bahtera keselamatan. Maka Allah mengutus para Rasul-Nya untuk memberitahu umat-umat tentang cara membuat bahtera keselamatan, memerintahkan mereka untuk membuatnya dan menaikinya; yaitu: menaati-Nya, menaati para Rasul-Nya, beribadah hanya kepada-Nya, mengikhlaskan amal untuk-Nya, bersungguh-sungguh untuk akhirat, menginginkannya, dan berjuang untuk akhirat dengan sungguh-sungguh.
Maka orang-orang yang diberi taufik bangkit dan menaiki bahtera, dan mereka tidak mau mengarungi lautan; karena mereka mengetahui bahwa lautan tidak bisa diseberangi dengan mengarunginya atau berenang. Adapun orang-orang bodoh menganggap sulit membuat bahtera beserta peralatannya dan menaikinya, dan berkata: 'Kita akan mengarungi lautan, jika tidak mampu kita akan menyeberanginya dengan berenang', dan mereka adalah mayoritas penduduk dunia, maka mereka mengarunginya. Ketika mereka tidak mampu mengarungi, mereka mulai berenang hingga mereka tenggelam, dan penumpang bahtera selamat sebagaimana mereka selamat bersama Nuh 'alaihissalam, sedangkan penduduk bumi tenggelam. Maka renungkanlah perumpamaan ini dan keadaan penduduk dunia, akan jelas bagimu kesesuaiannya dengan kenyataan."
Maka di antara penyebab keselamatan adalah: perhatian terhadap sunnah Nabi yang mulia dan melekat pada jalan lurus beliau. Allah berfirman: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (Surat Al-Ahzab ayat 21). Dan Allah berfirman: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih" (Surat An-Nur ayat 63), dan ayat-ayat dengan makna ini sangat banyak.
Penyebab Ketiga: Ketakutan Kepada Allah Dan Takwa Kepada-Nya
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surah An-Nur: 52) Allah menyebutkan dalam ayat ini beberapa perkara yang tanpanya tidak akan tercapai kemenangan, keselamatan, dan kesuksesan, yaitu: ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ketaatan kepada Rasul-Nya dengan mengikuti sunnahnya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Adapun dua perkara lainnya adalah: takut kepada Allah dan takwa kepada Nya.
Mengenai ketakutan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesungguhnya ia merupakan landasan yang agung untuk mencapai keselamatan pada hari kiamat. Allah telah menggambarkan orang-orang yang selamat dan beriman bahwa mereka "Dari takut kepada Tuhan mereka, mereka merasa khawatir." (Surah Al-Mu'minun: 57)
Dan Allah menggambarkan mereka dengan firman-Nya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar." (Surah Al-Anfal: 2) Hal itu karena ketakutan kepada Allah mendorong manusia untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk, melakukan ketaatan, dan mengerjakan ibadah-ibadah.
Penyebab Keempat: Menjaga lisan
Salah satu cara untuk selamat dan terhindar dari bahaya adalah menjaga lisan dan memeliharanya dari segala sesuatu yang buruk. Dalam hadits dari Uqbah bin Amir dia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?" Beliau bersabda: "Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu, dan tangislah atas kesalahanmu." [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (no. 2406), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah (no. 890)]
Sabda beliau "Kendalikan lisanmu" adalah peringatan tentang pentingnya menjaga lisan, yaitu dengan cara seorang hamba memperhatikan perkataannya. Jika itu baik, maka ia mengucapkannya, dan jika tidak demikian, maka ia menahan diri, sebagaimana beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6018), dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 47)]
Sesungguhnya bahaya lisan sangat besar, dan kejahatannya sangat besar terhadap seseorang, terhadap agamanya, terhadap masyarakatnya dan orang-orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, ancaman tentang hal ini sangat keras, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang ia tidak memperhatikannya, lalu ia tergelincir karenanya ke dalam Neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6477), dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 2988)].
Karena keselamatan sangat erat kaitannya dengan lisan, maka semua anggota tubuh bergantung padanya dalam nasibnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Apabila anak Adam berada di pagi hari, maka seluruh anggota tubuh merendahkan diri kepada lisan seraya berkata: Bertakwalah kepada Allah dalam hal kami, karena sesungguhnya kami ini tergantung padamu. Jika engkau lurus, maka kami lurus, dan jika engkau bengkok, maka kami bengkok." [ Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami‘-nya (no. 2407), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ (no. 3244)].
Hendaklah seorang mukmin bersungguh-sungguh untuk tidak melepaskan lisannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, karena sesungguhnya diam dalam kondisi seperti ini adalah keselamatan dan penyelamatan, sebagaimana shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa diam, maka ia selamat." [Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitabnya (2501), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (536)].
Penyebab Kelima: Lari dari Fitnah
Sesungguhnya lari dari fitnah, menjauh darinya, dan menutup pintu-pintu terhadapnya adalah penyelamat bagi seorang hamba di dunia dan pada Hari Kiamat, serta keselamatan bagi agama dan dunianya. Banyak nash yang menunjukkan hal itu, di antaranya adalah yang telah disebutkan sebelumnya dalam hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu ketika dia bertanya: "Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?" Beliau bersabda kepadanya: "Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu, dan tangislah atas kesalahanmu." [Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitabnya (2406), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (890)]
Sabda beliau "Hendaklah rumahmu menjadi tempat yang cukup bagimu" artinya adalah hendaknya seseorang bersungguh-sungguh untuk menetap di rumahnya, terutama ketika fitnah bermunculan, agar ia jauh dari menghadapinya. Karena sesungguhnya di dalam rumah-rumah terdapat keamanan dan keselamatan bagi seseorang dari fitnah. Jika ia keluar dari rumahnya dan menghadapi fitnah, maka ia telah membahayakan dirinya sendiri. Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak memohon perlindungan dari fitnah, sebagaimana shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sabda beliau kepada para sahabatnya: "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi." [Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahihnya (2867).]
Pada zaman ini telah muncul perangkat-perangkat modern yang mungkin ada bersama seseorang di rumahnya, dan memasukkan kepadanya berbagai jenis fitnah dan kejahatan, dalam hal syahwat dan syubhat. Banyak orang telah terjerat dalam persoalan yang sangat besar akibat kelalaian dalam menggunakan perangkat-perangkat ini dan masuk ke sejumlah situs serta program yang rusak. Oleh karena itu, keselamatan yang terkait dengan menetap di rumah dalam hadits sebelumnya dibatasi dengan menjauhi penggunaan perangkat modern yang dapat mendatangkan fitnah kepada manusia, dan menghancurkan akhlak, dunia, dan akhiratnya. Dan kerugiannya saat itu sangat besar.
Kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan menghindari fitnah dan selamat dari kejahatannya, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah." [Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (4263), dan Al-Albani menshahihkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1975).]
Penyebab Keenam: Memperbanyak Doa Dan Berlindung Kepada Allah Doa adalah kunci segala kebaikan di dunia dan akhirat.
Apabila seorang hamba mengetahui bahwa tidak ada keselamatan di dunia maupun di akhirat kecuali bagi orang yang diselamatkan oleh Allah, maka wajib baginya untuk meminta keselamatan itu kepada-Nya. Keselamatan itu berada di tangan Allah semata, tidak ada yang lain. Maka mintalah keselamatanmu dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186). Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" (QS. Ghafir: 60).
Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan untuk dirinya, hendaklah ia memperbanyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan segala kebaikan. Ia berdoa kepada Allah agar diberi keteguhan, berdoa agar selamat dari penyimpangan, berdoa agar diberi kebaikan, dan berbagai kebaikan dunia dan akhirat lainnya.
Doa yang paling agung secara mutlak adalah doa yang terdapat dalam Surah Pembuka (Al-Fatihah): "Tunjukilah kami jalan yang lurus" (QS. Al-Fatihah: 6), hingga akhir surah. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala, apabila memberi petunjuk kepada hamba-Nya menuju jalan-Nya, maka ia pasti akan selamat di dunia dan akhirat.
Penyebab Ketujuh: Senantiasa Bertobat Dan Beristighfar
Telah banyak dalil dari Al-Quran dan Sunnah yang menjelaskan keutamaan tobat dan istighfar, dan bahwa keduanya merupakan penyebab besar untuk mendapat keselamatan pada hari kiamat. Oleh karena itu, sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku heran terhadap orang yang binasa padahal keselamatan bersamanya!" Ditanyakan: "Apa itu?" Beliau menjawab: "Istighfar (memohon ampun)." [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam "Al-Majalisah wa Jawahir Al-Ilm" (jilid 4, halaman 49).]
Dan ketika Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang keselamatan, beliau bersabda: "Kendalikan lisanmu, hendaklah rumahmu mencukupimu (tidak banyak keluar), dan menangislah atas kesalahanmu." [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam "Jami'nya" (nomor 2406), dan Syaikh Al-Albani mengesahkan dalam "Ash-Shahihah" (nomor 890)].
Sabda beliau: "dan menangislah atas kesalahanmu": merupakan isyarat untuk bertobat dan beristighfar. Yang dimaksud dengan kesalahan adalah semua kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh manusia. Kata mufrad (tunggal) bila diidhafahkan menunjukkan keumuman. Dalam hal ini terdapat isyarat bahwa seorang hamba dalam kondisi beristighfar dan bertobat hendaknya menghadirkan banyaknya dosa dan kesalahannya, baik yang dilakukan secara tersembunyi maupun terang-terangan, baik yang lama maupun yang baru, dan hendaknya ia memohon ampun kepada Allah dan bertobat dari semuanya agar memperoleh keselamatan dan kemenangan besar.
Apabila seorang hamba bertobat kepada Tuhannya dengan tobat yang tulus, dengan meninggalkan semua dosa, menyesal telah melakukannya, dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi, serta memperbanyak istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka sesungguhnya Allah akan menyelamatkannya di dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. Al-Anfal: 33). Maka tobat dan istighfar mereka menjadi sebab keselamatan mereka dan terhindarnya azab dari mereka.
Penyebab Kedelapan: Berhati-Hati Dari Sikap Ujub Dan Tertipu
Di antara penyebab keselamatan adalah: seorang tidak boleh ujub (bangga) dengan amal salehnya, tidak boleh tertipu dengan dirinya dan ketaatannya, dan harus berhati-hati dari hal tersebut dengan sangat wati-hati. Karena kehati-hatiannya dari hal tersebut adalah sebab keselamatannya. Adapun orang yang mengabaikan aspek ini dan memasukkan ke dalam dirinya kebanggaan dan ujub, maka sesungguhnya ia akan binasa tanpa bisa dielakkan. Syaikh Hafizh Al-Hakami rahimahullah telah berkata: "Dan ujub, maka berhati-hatilah darinya. Sesungguhnya ujub itu merusak amal-amal pelakunya dalam banjir bandangnya yang dahsyat."
Sebagian manusia memiliki amal-amal saleh dan ketaatan yang beragam, lalu masuklah kepadanya sesuatu berupa kebanggaan atau ujub, dan ia bersandar pada amalnya, maka ia binasa karenanya dan seluruh amalnya menjadi sia sia. Kewajiban bagi manusia adalah mengetahui bahwa ia adalah orang yang lalai, dan bahwa bagaimanapun tinggi amalnya, ia tidak akan mampu menunaikan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah kepadanya. Sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan ada seorang pun yang amalnya memasukkannya ke surga." Mereka bertanya: Tidak juga engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Tidak, dan tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku karunia dan rahmat Nya." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5733) dan Muslim dalam Shahih-nya (no. 6816), dan lafazhnya milik Al-Bukhari]
Inilah keadaan orang-orang terbaik dari umat ini, yaitu para sahabat dan orang-orang setelah mereka. Di antaranya adalah perkataan Abdullah bin Abi Mulaikah rahimahullah, dan ia termasuk ulama tabi'in: "Aku mendapati tiga puluh orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, semuanya takut akan kemunafikan pada diri mereka sendiri." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, diriwayatkan secara mu‘allaq dan dijadikan bagian darinya (no. 48).]
Penyebab Kesembilan: Mengingat Perhitungan dan Berdiri di Hadapan Allah
Di antara sebab-sebab keselamatan adalah: mengingat hari yang agung itu, di mana semua makhluk akan berdiri di hadapan Tuhan semesta alam untuk dihisab dan dibalas amal perbuatannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan, memberi manfaat, atau mencelakakan orang lain. "Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah." (Surat Al-Infithar: 17-19).
Apabila seorang mukmin mengingat hari itu beserta kengerian dan kesulitannya, hal itu akan menimbulkan dalam dirinya rasa takut dan kesiapan untuk akhiratnya, serta mengambil sebab-sebab yang menjadi jalan bagi keselamatannya dan kemenangannya.
Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang selamat di akhirat menyebutkan bahwa menghadirkan dalam pikiran mereka di dunia tentang perhitungan dan pembalasan adalah sebab kemenangan dan keselamatan mereka. Allah berfirman: "Adapun orang yang diberi kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia berkata, 'Ambillah, bacalah kitabku. Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui perhitunganku.'" (Surat Al-Haqqah: 19-20).
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami dahulu (di dunia) merasa takut (akan azab Allah) ketika kami berada di tengah-tengah keluarga kami. Maka Allah menganugerahkan nikmat kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'" (Surat Ath-Thur: 25-28).
Maka barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah, dan bahwa Allah akan menanyainya tentang amal perbuatannya, hendaklah dia bersiap untuk hari itu, dan hendaklah dia menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu, dan hendaklah dia bersungguh-sungguh agar jawabannya benar.
Penyebab Kesepuluh: Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Dan ini termasuk syiar Islam yang agung dan amalan-amalannya yang mulia serta perisai keselamatan bagi umat, bahkan termasuk sebab terbesar yang mewujudkan keselamatan umat dari kebinasaan. Dengannya kemungkaran akan surut, kebaikan bertambah banyak, keberkahan merata, dan rahmat turun. Dan ia memiliki dampak terhadap kebaikan hamba dan masyarakat yang tidak diketahui kecuali oleh Rabb Penguasa langit dan bumi. Telah banyak nash yang mendorong untuk melaksanakan syiar ini dan menjelaskan pentingnya, Allah Ta'ala berfirman: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar" (Ali Imran: 110).
Dan Allah berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (Ali Imran: 104).
Dan Allah berfirman: "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar" (At-Taubah: 71).
Dan Allah berfirman: "(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan" (Al-Hajj: 41).
Dan kami memohon kepada Allah kesempurnaan nikmat-Nya dengan kemenangan meraih surga dan keselamatan dari neraka, dan agar Dia menetapkan hati-hati kami di atas agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan. Dan semoga Allah bershalawat dan memberi salam kepada hamba dan Rasul-Nya Nabi kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.
***
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Tambahan Keterangan tiap poin diambil dari terjemahan Kitab: Download di sini