بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
🎙️┃ Pemateri : Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jazairi Hafidzahullah
🎙️┃ Penerjemah : Ustadz Abdulaziz Luthfi, B.A., M.Hum Hafidzahullah
📚┃ Tema : Nasihat di Masa Sulit
🗓️┃ Waktu & Jam : Ahad, 28 Juni 2026 M / 13 Muharram 1448 H | Pukul 09.00 - 11.30 WIB
🕌┃ Tempat : Masjid Jami’ Ponpes Imam Bukhari | Jl. Solo–Purwodadi KM. 8 Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar 57773
Daftar Isi:
- 1. Bertakwa kepada Allah ﷻ
- 2. Mempelajari Ilmu Agama
- 3. Memperbanyak Do'a Kepada Allah ﷻ
- 4. Mendengar dan Taat Kepada Pemerintah Kaum Muslimin
- 5. Berpegang Teguh dengan Sunnah-sunnah Nabi ﷺ dan Para Khulafaur Rasyidin
- 6. Merujuk kepada Ahli Ijtihad baik ulama maupun umara.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. (آل عمران: 102)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. (النساء: 1)
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. (الأحزاب: 70-71)
أَمَّا بَعْدُ:
Beliau membuka kajian dengan khutbah di atas dan bersyukur hingga dipertemukan dalam majelis ilmu, beliau senang akan semangat kepada jamaah dan mendoakan agar diberi taufik dan hidayah dan didoakan oleh para malaikat.
Tema kajian kita hari ini adalah Nasihat di Masa Sulit.
Negara kita tercinta tentu pernah dan akan menjumpai masa sulit, yaitu masa tersebarnya fitnah, maksudnya banyak kerancuan, sulit membedakan antara yang hak dan batil. Dan beliau Syiakhuna akan membantu menjelaskan kepada kita untuk melewati masa-masa sulit ini.
Fitnah atau cobaan memiliki beberapa jenis, dan yang paling besar adalah fitnah berperangnya dua kelompok besar di suatu wilayah.
Berikut beberapa rambu agar kita selamat dari fitnah:
1. Bertakwa kepada Allah ﷻ
Hendaklah kita bertakwa kepada Allah ﷻ, karena hamba yang bertakwa akan dijaga oleh Allah meskipun dunia sangat jauh. Seperti halnya kisah nabi Yunus alaihissalam yang diselamatkan Allah ﷻ dari perut ikan di dalam lautan yang dalam.
- Syaikh membawakan dua dalil:
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 29:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ٢٩
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu, menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Allah memiliki karunia yang besar.
Dan dalil kedua adalah hadits Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu’anhu, disampaikan Nabi ﷺ di depan para Sahabatnya yang membuat mereka menangis. Dan hadits ini akan selalu diulang dalam pertemuan kali ini.
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Hadirin rahimakumullah...
Untuk mempertegas keterangan ini Syaikh menjelaskan dengan peristiwa dahulu, dimana sekelompok orang akan memberontak dan akan membunuh gubernur Irak Al-Hajaj Ibnu Yusuf.
Al-Hajjaj bin Yusuf dikenal dalam sejarah Islam sebagai Gubernur Irak yang sangat tangan besi, bengis, dan tidak segan menumpahkan darah. Kedzaliman inilah yang memicu kejenuhan dan kemarahan luar biasa dari rakyat serta para tokoh ulama saat itu.
Pesan dari ulama tabi'in Thalq bin Habib rahimahullah yang sangat terkenal dalam menghadapi masa-masa sulit adalah: "Padamkanlah fitnah (bencana/ujian) dengan takwa."
Karena jika kalian bertakwa kepada Allah ﷻ, maka Allah akan melindungi kalian.
Hadirin rahimakumullah...
Masih dalam situasi yang sama, dimana terjadi pemberontakan, dikisahkan hajaj memanggil Abdullah ibnu Ukain yang dahulu seorang Jahiliyah yang berstatus al-mukhadram (sebutan untuk orang-orang yang hidup di dua zaman (masa kenabian dan masa Khulafaur Rasyidin) yang memeluk Islam, tetapi tidak sempat atau tidak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah), setelah dipanggil beliau shalat dan berdo'a dengan bermunajat:
Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah berzina, tidak mencuri, tidak pernah makan harta anak yatim dan aku tidak pernah menuduh muslimah yang baik berbuat zina. Maka, jika semuanya aku lakukan dalam rangka aku beribadah dan ikhlas karenamu, maka lindungilah aku dari fitnah yang akan ditimpakan dari Hajaj bin Yusuf.
Dalam Kisah ini, beliau bertawasul dengan takwa agar diselamatkan dari fitnah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Hafidzahullah berkata: orang-orang yang benar-benar jujur dengan imannya kepada Allah ﷻ atau bertakwa kepada Allah ﷻ, ia tidak akan tertimpa fitnah dan marabahaya. Allah akan memberi solusi bagi orang-orang yang bertakwa pada setiap fitnah yang muncul.
2. Mempelajari Ilmu Agama
Karena ketika muncul fitnah (masa sulit) maka, orang-orang akan menjadi bimbang mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan ilmu ia akan tahu jalan, dan ini akan berpengaruh terhadap takwa.
Puncak dari ilmu adalah takwa. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, hakikat dan kedudukan tertinggi dalam menuntut ilmu adalah melahirkan rasa takut kepada Allah (khasyah), yang menjadi fondasi kuat dalam beramal dan menjalani kehidupan.
3. Memperbanyak Do'a Kepada Allah ﷻ
Semua orang butuh berdo'a kepada Allah ﷻ. Segala masalah akan selesai dengan pertolongan Allah ﷻ yang diminta dengan do'a.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Az-Zumar Ayat 46:
قُلِ اللّٰهُمَّ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ عٰلِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ اَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْ مَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ٤٦
Katakanlah, “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang gaib dan nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang selalu mereka perselisihkan.”
Maksudnya, hamba banyak berselisih, maka aku berdo'a agar diberi petunjuk, mana yang benar dan salah.
Hadits Nabi ﷺ :
Berlindunglah dari berbagai macam fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, Anda bisa mengamalkan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Allahumma inni a’udzu bika mina al-fitani ma zahara minha wa ma batana.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (HR Muslim).
Dan juga do'a dari fitnah Dajjal:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan fitnah Dajjal.”
Dari Abdullah bin Amir bin Rabi'ah Radhiyallahu’anhu bahwa beliau menceritakan ayahnya, ayahnya saat terjadi fitnah beliau tidur dan bermimpi agar bangun dan shalat.
Setelah terbangun, beliau segera melaksanakan shalat dan memilih untuk menjauh dari konflik. Langkah ini sejalan dengan petunjuk dari Rasulullah ﷺ agar seorang Muslim tetap beribadah dan tidak melibatkan diri dalam fitnah (konflik berdarah antar-umat).
Setelah itu beliau sakit dan meninggal... Subhanallah. Allah ﷻ menyelamatkan beliau dengan meninggal dan tidak bertemu fitnah.
4. Mendengar dan Taat Kepada Pemerintah Kaum Muslimin
Yaitu mentaati perintah dalam perkara yang makruf. Dalam hadits disebutkan,
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Patuh dan taat pada pemimpin tetap ada selama bukan dalam maksiat. Jika diperintah dalam maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan.” (HR. Bukhari, no. 2955)
Sebagaimana dalam hadits Irbadh bin Sariyah di atas:
1. Wasiat Takwa (Hubungan yang baik dengan Allah ﷻ)
2. Taat kepada pemerintah (Hubungan baik dengan manusia).
Meskipun yang memimpin adalah seorang budak dari Habasyah (Ethiopia) yang memiliki status yang rendah maka harus taat.
Ada pertanyaan : Wajib dan taat kepada pemimpin bukankah hanya untuk orang yang taat dan shalih, bukankah ini solusi?
Ada sebuah hadits yang menjawab pertanyaan ini. Karena segala sesuatu telah dijelaskan Nabi ﷺ.
وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
“Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya” [al-Isra/17 : 12]
Dalam sebuah hadits, lanjutan hadits tersebut, Hudzaifah berkata; saya bertanya,
‘Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda perintahkan kepadaku?’ Beliau menjawab, ‘Dengar dan patuhilah kepada pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan patuhilah dia.”
(HR. Baihaqi no. 16617).
Bahkan kalau pemimpin kalian adalah pemimpin yang dzalim. Tetaplah kalian bersama jamaah kaum muslimin, artinya jangan memprovokasi masyarakat untuk melawan pemerintah, meskipun pemerintahnya merupakan pemerintah yang dzalim.
5. Berpegang Teguh dengan Sunnah-sunnah Nabi ﷺ dan Para Khulafaur Rasyidin
Dalilnya adalah hadits Irbadh bin Sariyah di atas: Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal).
Jangan Kita mencari solusi dengan cara solusi kita sendiri, tetapi carilah solusi yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para khalifah sesudahnya. Merekalah yang telah diselamatkan Allah ﷻ dari berbagai macam fitnah. Jika kita ingin selamat dan mendapatkan hidayah, maka ikutilah jalannya orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah ﷻ.
Hadirin Rahimakumullah...
Beliau menyebut kisah perselisihan Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhuma setelah Usman bin Affan Radhiyallahu’anhu terbunuh.
Perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahu’anhuma bermula dari perbedaan strategi dalam menuntut qishas (hukum balas) atas pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan.
- Pandangan Muawiyah: Menuntut agar qishas dilaksanakan segera. Menurutnya, menunda hukuman berarti mengabaikan keadilan atas pembunuhan seorang khalifah yang terzalimi.
- Pandangan Ali: Ali juga ingin menegakkan keadilan dan menolong Utsman, namun ia memandang bahwa penghukuman harus ditunda bukan sekarang. Kondisi negara masih sangat tidak stabil dan para pemberontak bercampur dengan masyarakat, sehingga tergesa-gesa melakukan qishas dikhawatirkan memicu kekacauan dan fitnah yang lebih besar.
Kemudian Muawiyah mengelompokkan pendukungnya. Dalam satu riwayat, Muawiyah bertanya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma: "Apakah kiranya engkau bersama Ali bin Abi Thalib?"
Dengan tegas Ibnu Abbas menjawab: "Aku bahkan tidak juga bersama kelompoknya Usman, aku di atas agamanya Nabi ﷺ"
Apa yang disampaikan Abdullah bin Abbas dalam riwayat di atas, adalah beliau tidak condong ke salah satu kelompok mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ, agar kita tidak berpecah belah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ
Berpegang teguhlah pada tali agama Allah dan jangan bercerai berai (QS. Ali Imran ayat 103).
Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan petuah di mimbar,
وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Bersatu dalam satu jama’ah adalah rahmat. Sedangkan perpecahan adalah azab.”
(HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan, perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667)
6. Merujuk kepada Ahli Ijtihad baik ulama maupun umara.
Ulama adalah Ulil Amri kaum muslimin dalam bidang agama dan umara adalah pemimpin kaum muslimin dalam hal pemerintahan. Maka, jika kita menjumpai fitnah hendaknya merujuk kepada ulama kibar yang berilmu, jangan kepada ulama yang menjadikan
Jika sampai kepada mereka hal-hal yang samar, mereka langsung menyebarkannya, apa saja yang diketahui langsung difatwakan.
Jika mereka mau mengembalikan kepada Ulil Amri, maka orang yang mencari kebenaran maka, tentu mereka akan mendapatkan solusi dari Rasul-Nya melalui ahli ijtihad.
Maka, jika terjadi fitnah, kembalikan kepada ulama yang akan menjelaskan posisi kita di atas kebenaran.
Bukti Nyata Para Salaf
Banyak kaum muslimin yang bertindak tanpa ilmu, seperti yang terjadi di Ghaza, mereka tanpa merujuk kepada ulama dan melakukan demonstrasi yang memperlebar fitnah.
Berikut adalah bukti nyata dari para salaf sebagai contoh.
-
Kisah dalam Fitnah Qadariyah:
Ketika awal munch Fitnah qodariyah di Irak yang dipelopori Mabad Al-Juhani. Kedua orang tabi'in dari Irak: Yahya bin Ya'mar dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari, pergi menemui Sahabat Nabi ﷺ tatkala mereka berhaji atau umrah.
Mereka melaporkan bid'ah pengingkaran takdir (Qadariyah) yang dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani di Bashrah. Sahabat yang mereka temui adalah Abdullah bin Umar bin al-Khattab di dalam masjid.
Kedua Tabi'in tersebut mengapit Ibnu Umar dan menceritakan bahwa ada sekelompok orang yang rajin beribadah dan membaca Al-Qur'an, namun menolak adanya takdir (Qadar).
Abdullah bin Umar menyatakan berlepas diri dari mereka dan menegaskan bahwa Allah ﷻ tidak akan menerima amal ibadah orang yang menolak takdir. Beliau bersumpah demi Allah, seandainya pengingkar takdir memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.
Untuk membantah Ma'bad Al-Juhani, Ibnu Umar meriwayatkan Hadits Jibril yang panjang dari ayahnya, Umar bin Khattab, yang menegaskan bahwa rukun iman mencakup beriman kepada takdir, baik dan buruk.
Inilah contoh tabi'in yang meminta fatwa kepada ulama yang lebih fakih hingga terhindar dari fitnah. Atau pemerintah yang tidak melakukan pencegahan akan dituduh kafir.
-
Kisah dalam Fitnah Khawarij:
Kisah tentang orang-orang Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa-dosa besar, seperti wanita yang tidak memakai jilbab yang Syar'i.
Kisah Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma menekankan bahwa pelaku dosa besar akan selamat dan pada akhirnya masuk surga selama mereka meninggal dalam keadaan membawa tauhid (tidak berbuat syirik).
Kronologi Kisah Jabir dan Yazid Al-Faqir
- Perjalanan ke Madinah: Yazid dan kelompoknya berencana melakukan kudeta atau pemberontakan. Mereka singgah ke Madinah dalam perjalanan ibadah haji untuk menemui seorang ulama.
- Pertemuan di Masjid Nabawi: Mereka mendapati seorang pria tua sedang meriwayatkan hadits di Masjid Nabawi. Yazid mendatangi pria tersebut, yang kemudian diketahui adalah sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah Radhiyallahu’anhu.
- Materi Hadits: Saat itu, Jabir sedang menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ tentang orang-orang yang dikeluarkan dari neraka Jahannam dan dimasukkan ke dalam surga setelah mereka diazab.
- Bantahan terhadap Khawarij: Kelompok Khawarij menganggap hadits ini tidak masuk akal dan bertentangan dengan prinsip mereka. Mereka meyakini bahwa siapa pun yang masuk neraka (akibat dosa besar) tidak akan pernah keluar lagi.
- Kesaksian Jabir: Mereka berdialog dan menantang Jabir, "Apakah engkau benar-benar mendengar hadits ini dari Rasulullah ﷺ?" Jabir menegaskan dan bersumpah bahwa ia mendengarnya langsung dari telinganya dan menghafalnya dari Nabi Muhammad ﷺ.
- Tobat Massal: Berdasarkan penjelasan langsung dari sahabat Nabi tersebut, kesesatan paham Khawarij yang dipegang oleh kelompok Yazid runtuh. Semua pemuda dalam rombongan tersebut bertobat dan meninggalkan paham Khawarij, kecuali satu orang.
Pelajaran Utama (Ibrah) dari Kisah Ini
- Pelaku Dosa Besar Tidak Kafir: Hadits yang disampaikan Jabir menjadi dalil akidah Ahlussunnah wal Jamaah bahwa dosa di bawah kesyirikan tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Pelaku dosa besar bisa diazab di neraka, tetapi akan diangkat dan dimasukkan ke surga berkat syafa'at dan rahmat Allah.
- Pentingnya Merujuk pada Ulama: Kesesatan Khawarij muncul karena mereka menafsirkan Al-Qur'an secara dangkal menggunakan pemahaman dan logika sempit mereka sendiri, tanpa merujuk pada sanad dan penjelasan ulama/sahabat.
Dua kisah di atas atas munculnya fitnah qodariyah dan Khawarij ada di shahih Muslim yang menunjukkan kisah yang shahih. Maka, ini menunjukkan kita harus merujuk kepada ulama dalam mencari solusi setiap masalah.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata apabila fitnah muncul, maka setiap orang yang berilmu akan mengenalinya, sedangkan orang jahil akan mengira sebuah kebaikan, dan jika fitnah sudah sirna, akan diketahui oleh semua orang meskipun orang-orang jahil.
Maka, rujuklah ulama kibar, bukan ulama bohongan untuk mengetahui kebenaran.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasehat (pelajaran) dari (peristiwa yang dialami) orang lain.” (Riwayat Muslim 2645).
7. Menjauhi Fitnah dan tidak Ikut Serta di Dalamnya
عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
Dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah dan bagi orang yang diuji lalu bersabar, maka alangkah bagusnya.
Hadis ini diriwayatkan Imam Abu Daud dalam sunannya, kitab al-Fitan Wal Malaahim, Bab Fi al-Nahyi ‘an-Al Sa’yi Fil Fitnah, no. 4263. 4/460 dan dishohihkan al-Albani dalam al-Misykah al-Mashoobih no. 5405 dan silsilah Ahadis al-Shohihah no. 975 dan shohih Sunan Abu Daud no. 4263. Syekh menyatakan: hadis ini diriwayatkan Abu daud (4263) dari al-Laits bin Sa’ad dan Abul Qaasim al-Hana’I dalam al-Tsaalits Minal Fawaa’id 1/82 dari Abdullah bin Sholih.
Adapun bukti dari para salaf, bahwa menjauhi fitnah adalah solusi antara lain:
- Ulama besar tabi'in, Thawus bin Kaisan rahimahullah, menjadikan riwayat ini sebagai teladan untuk menjauhi fitnah:
Diceritakan bahwa saat terjadi fitnah pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, seseorang berkata kepada keluarganya: "Ikatlah aku, sesungguhnya aku ini mulai gila." Setelah situasi mereda, ia berkata: "Lepaskanlah ikatanku. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari kegilaan dan keterlibatan."
- Kisah Abdullah bin Hubairah:
Abdullah bin Hubairah berkata, “Barangsiapa mendapati fitnah, maka hendaknya dia mematahkan kakinya. Kalau dia masih berjalan, maka hendaknya mematahkan kaki satunya lagi.”
- Kisah Al-Aswad bin Sura’i :
Al-Aswad bin Sura’i tatkala terjadi fitnah di Bahsroh, beliau menaiki kapal di laut lalu tidak diketahui kabarnya setelah itu!!
Saudaraku, sibukkan dirimu dengan ilmu, amal dan dakwah. Jangan terjerumus dalam kubangan fitnah. Kembalilah kepada jalan ulama.
8. Ketika terjadi fitnah atau peperangan, hendaknya kita tidak ikut serta di dalamnya
Maksudnya jauhi pertikaian atau peperangan dari kaum muslimin.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 25:
وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
Maksudnya, tatkala ada orang-orang yang berbuat dzalim, jangan ikutan karena bisa jadi kita kena hukuman musibah pada saat fitnah.
Jika kita terbunuh tanpa ikut perang, itu lebih baik dari pada ikut peperangan meskipun menang.
عن خالد بن عُرْفُطَةَ رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : "يا خالد إنها ستكون بَعْدِي أَحْدَاثٌ وفِتَنٌ واختلاف، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أن تكون عبد الله المقتول لا القاتل فَافْعَلْ".
[صحيح] - [رواه أحمد]
Khālid bin 'Urfuṭah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah berkata kepadaku, "Wahai Khālid! Sungguh akan terjadi sepeninggalku berbagai peristiwa, fitnah dan perselisihan. Bila engkau mampu menjadi hamba Allah yang terbunuh, bukan yang membunuh, maka lakukanlah."
[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Ahmad]
Kaum muslimin Rahimakumullah,
Ada kisah dari Zainab binti Ummu Salamah Radhiyallahu’anha yang dua puteranya terbunuh di Madinah.
Yaitu pada saat Fitnah Al-Harrah yang merupakan tragedi berdarah dan pembantaian penduduk Madinah pada 63 H (683 M). Peristiwa ini dipicu oleh pemberontakan masyarakat Madinah. Dua putra dari Sayyidah Zainab binti Abi Salamah (anak tiri sekaligus didikan Rasulullah ﷺ) gugur dalam peristiwa tragis Tragedi Al-Harrah (63 H) di Madinah ini.
Beliau Zainab kemudian berkata: aku khawatir anak yang ini karena ikut dalam perang dan aku berharap agar dia mendapatkan tempat terbaik karena dia tidak ikut dalam fitnah atau perang tersebut.
9. Tinggal di Dalam Rumah, dan patahkan Senjata yang Kita Miliki
Tujuannya agar selamat dari berbagai macam fitnah dan tidak terpancing ikut serta dalam peperangan kaum muslimin.
Saat terjadi perang antara Muawiyah dan Ali, maka ada seseorang yang mengambil pedang dari kayu, yang ini merupakan perintah Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ pernah bersabda mengenai masa-masa fitnah atau perpecahan umat Islam. Beliau bersabda: "...maka patahkanlah pedangmu dan pakailah pedang dari kayu."
Hadits lengkap, dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata, Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Sesungguhnya menjelang terjadinya hari kiamat, akan terjadi berbagai macam fitnah seperti potongan-potongan kegelapan malam, di mana seseorang beriman di waktu pagi hari kemudian menjadi kafir di sore hari, ataupun beriman di sore hari kemudian menjadi kafir di pagi hari. Ketika itu, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari, maka hancurkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian, serta pukulkanlah pedang-pedang kalian kepada bebatuan, dan jika fitnah tersebut memasuki kediamannya, hendaklah dia menjadi sebaik-baik anak Adam.” (HR. Abu Dawud, berkata Syaikh Al-Albani, “Shahih”).
Pesan ini bermakna anjuran untuk menahan diri, menghindar dari pertumpahan darah sesama muslim, dan tidak mengangkat senjata.
Kaum muslimin Rahimakumullah,
Bukti yang menunjukkan akan nasehat ini adalah kisah yang dialami Ibrahim An-nakhai rahimahullah, saat ditanya ketika terjadi perang Zawiyah dan Jamajim (peperangan pada pemerintahan Hajaj bin Yusuf) beliau menjawab keduanya, berada di rumah.
Bukti lainnya adalah fitnah Abdullah bin Zubair dan Abdul Malik bin Marwan pada saat Bani Umayah. Menurut Jumhur ulama Abdullah bin Zubair berijtihad dan ijtihadnya salah, sedangkan Abdul Malik bin Marwan dalam posisi yang benar.
Akan tetapi para salaf, semuanya berada di dalam rumah dan tidak ikut dalam kedua kelompok peperangan tersebut.
10. Tidak Menjual Senjata
Dan ini merupakan wujud nyata tidak ikut dalam pertikaian itu. Karena dalam syari'at, jika Islam mengharamkan sesuatu maka kita diharamkan mensupport hal yang berkaitan dengan apa yang diharamkan itu.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat atau dosa.
Nasehat kepada kaum muslimin yang bertakwa kepada Allah,
Jangan merusak umat ini saat terjadi fitnah, jangan menjual senjata yang akan memperbesar fitnah dan jangan menganggap itu sebagai jihad.
Begitu pula aku nasehatkan bagi yang berkelapangan rezeki agar tidak mengeluarkan harta pada jalan yang tidak benar, bisa jadi 1 peluru yang diberikan akan menjadikannya pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisa Ayat 93:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدًا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.
Tidak semua lembaga yang membela kaum muslimin, berada dalam jalan yang benar, betapa banyak sekolah yang dibangun kaum muslimin ternyata banyak mengajarkan penyimpangan. Betapa banyak donasi untuk Palestina, ternyata banyak dimanfaatkan koruptor yang tidak amanah. Betapa banyak wakaf yang Salah sasaran dimanfaatkan oleh paham yang7menyimpang.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 36:
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ لِيَصُدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,
Berhati-hatilah Jangan sampai donasi yang dimaksudkan untuk jihad tapi ternyata dimanfaatkan untuk yang bukan jihad.
11. Menjaga Lisan Saat terjadi Fitnah
Bukanlah fitnah itu muncul karena tangan tapi karena lisan. Banyaknya pertumpahan darah terjadi karena fitnah orator ditengah Kaum Muslimin.
Abdullah bin Aqil yang dahulu seorang Jahiliyah yang berstatus al-mukhadram berkata aku tidak akan mau lagi membantu orang yang menumpahkan darah Khalifah, setelah Ustman Radhiyallahu’anhu.
Ada yang bertanya, Ya Aba Ma'bad, apakah dulu engkau membantu orang-orang yang membunuh Ustman? Beliau mengatakan sebuah nasihat:
Menurutku menyebutkan kesalahan-kesalahan pemimpin adalah salah satu bentuk bantuan kita untuk menumpahkan darah para pemimpin.
Artinya adanya provokasi yang bisa menyebabkan pertumpahan darah.
12. Tidak banyak mencari berita ketika terjadi Fitnah
Tutup telinga agar tidak mendengar berita, karena banyak berita diambil dari sumber yang fasik yang memusuhi islam.
Firman-Nya dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Apabila sumber yang datang dari kaum fasik saja kita harus saring, apalagi yang datang dari kaum kafir.
Mutharrif bin Abdullah (seorang tabi'in senior dari Bashrah) yang memilih untuk menjauhi dan menutup diri dari fitnah (konflik/peperangan saudara) antara pihak Abdullah bin Zubair dan Bani Umayyah. Beliau berkata: Ketika terjadi fitnah selama 7 atau 9 tahun aku menutup berita dari fitnah antara Abdullah bin Zubair dan bani umayah.
Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari fitnah dunia dan akhirat. Aamiin.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم