ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Tema: Meraih Pahala Berlipat Ganda
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#3: 27 Dzulhijjah 1447 / 13 Juni 2026
Tempat: Masjid Al-Ikhlas Menuran Baki Surakarta
Daftar Isi:
- Kunci Sukses dalam Menuntut Ilmu
- Meraih Pahala Berlipat Ganda
- 1. Keistimewaan jenis amal ibadah
- 2. Dilihat dari wajib atau sunnahnya
- 3. Ikhlas dan Ittibâ
- 4. Melakukan ibadah secara kontinu
- 5. Melakukan amalan yang paling mudah
- 6. Kedudukan pelaku
- 7. Keutamaan Waktu
- 8. Keistimewaan Tempat
- 9. Jika amal tersebut manfaatnya dirasakan oleh orang lain.
- 10. Ibadah disaat orang yang lalai
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat hadir majelis ilmu.
Salah satu tanda kebaikan adalah cinta kepada majelis ilmu. Diriwayatkan dalam shahihain, dari sahabat Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya. “ (Muttafaqun ‘alaihi)
Maka, jika kita suka hadir di majelis ilmu sangat patut bersyukur, namun sebaliknya jika malas dan susah diajak ke majelis ilmu, maka tangisilah diri kita.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menasihatkan:
من لا يحب العلم لا خير فيه
“Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan pada dirinya.” (Ibnu Hajar, Tawâlît Ta’nis, 167).
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali. Adapun ilmu itu dibutuhkan sebanyak hembusan nafas.”
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, Beliau pernah mengatakan: "Sungguh, mempelajari satu bab saja dari ilmu agama, jauh lebih aku cintai daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya."
Maka, semanagatlah dalam menuntut ilmu, agar kita semakin bertaqwa dan beribadah dengan benar.
Kunci Sukses dalam Menuntut Ilmu
Agar sukses menempuh ilmu, maka harus sesuai dengan kuncinya yaitu:
1. Ikhlas karena Allah ﷻ. Semakin ikhlas Allah ﷻ akan berkahi ilmu kita.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
ُوَمَا لَا يَكُوْنُ لَهُ لَا يَنْفَعُ وَلَا يَدُوْم
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).
2. Dengan semangat dan pengorbanan yang tinggi.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,
ولا يستطاع العلم براحة الجسد
“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)” [Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi I/348 no.553, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H,]
اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ
Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu.
وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ
Dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah
3. Bersabar
Tanpa kesabaran kita tidak akan mendapatkan ilmu. Sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Musa alaihissalam.
Sabar mendengarkan, mencatat, menghafal, mengamalkan dan Mendakwahkan.
4. Berdo'a
Karena yang memberikan ilmu adalah Allah ﷻ. Maka, perbanyak doa memohon agar Allah ﷻ memberikan ilmu yang bermanfaat.
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا
Robbi zidnii 'ilmaa, warzuqnii fahmaa,
"Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu, berilah aku pemahaman."
Atau do'a yang dibaca setiap pagi:
☀️ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪ ᴀꜱ-ᴀʟᴜᴋᴀ ‘ɪʟᴍᴀɴ ɴᴀᴀꜰɪ’ᴀ ᴡᴀ ʀɪᴢQᴏɴ ᴛʜᴏʏʏɪʙᴀᴀ ᴡᴀ ‘ᴀᴍᴀʟᴀɴ ᴍᴜᴛᴀQᴏʙʙᴀʟᴀᴀ
“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” [HR. Ibnu Majah no 295]
Do'a adalah kunci kebaikan.
5. Beradab.
Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”
Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,
تعلم من أدبه قبل علمه
“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah berkata, seorang penutut ilmu tidak akan bermanfaat tanpa adanya adab.
Meraih Pahala Berlipat Ganda
Allah ﷻ menciptakan manusia untuk beribadah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ad-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Karena banyak begal dari golongan setan, agar kita jauh dari Peribadatan kepada Allah ﷻ.
Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya siapakah orang yang paling cerdas. Beliau menjawab bahwa orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati.
Maka, dengan singkatnya umur kita, kita harus mempersiapkan bekal dengan modal yang sedikit dan mendapatkan keuntungan yang besar. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur`ān), mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fatir (35): 29).
Karena kesuksesan sejati adalah tatkala menginjakkan kaki di surga. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 185:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ١٨٥
Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Contohlah sahabat Nabi ﷺ yang selalu bertanya dengan cara yang cerdas. Sebagaimana pertanyaan mereka : amalan apa yang paling dicintai Allah ﷻ, amalan-amalan apa yang paling utama dan seterusnya.
Allah ﷻ telah menjanjikan pelipatgandaan amal. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-an'am ayat 160:
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Siapa yang melakukan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan balasan 10 kali lipatnya.” (QS. Al-An’am: 160).
Demikian juga bilangan-bilangan pelipatgandaan yang lain, hingga 700 bahkan tak terbatas, seperti:
1. Puasa
Ada hadits yang menerangkan pahala puasa Ramadhan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)
2. Sabar
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar yang diberi pahala di akhirat tanpa batasan, hitungan, dan kadar. Ini adalah pengagungan terhadap balasan bagi orang-orang yang sabar dan pahala mereka.
3. Memaafkan
Allah ta’ala menjelaskan dalam firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ
“Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”. [asy-Syuura/42: 40].
Demikian juga indikator lain yang mempengaruhi pelipatgandaan amalan, inilah yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini.
1. Keistimewaan jenis amal ibadah
Sebagaimana pertanyaan mereka para sahabat Nabi ﷺ: amalan apa yang paling dicintai Allah ﷻ, amalan-amalan apa yang paling utama dan seterusnya.
Dan jawaban Nabi ﷺ berbeda-beda, seperti iman kepada Allah ﷻ, kemudian shalat. Maka, Tauhid adalah inti yang utama, kemudian amalan-amalan wajib seperti shalat, puasa dan haji.
Kemudian baru amalan-amalan sunnah yang utama seperti:
1. Menuntut ilmu
وقال ما تقرب إلى الله تعالى بشئ بعد الفرائض أفضل من طلب العلم
Imam As-Syafi’i berkata, tiada ibadah yang lebih utama setelah shalat wajib daripada menuntut ilmu (An-Nawawi, Al-Majmu': 33).
2. Dzikir
Sebagaimana hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَنْبِئْنِيْ مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ؟ قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ
Dari ‘Abdullâh bin Busr Radhiyallahu anhu berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (IV/188, 190); at-Tirmidzi (no. 3375). Beliau berkata, “Hadits ini hasan gharib.”; Ibnu Majah (no. 3793) dan lafazh ini miliknya. Ibnu Abi Syaibah (X/89, no. 29944); Al-Baihaqi (III/371).
Seperti juga keutamaan 2 KALIMAT RINGAN DI LISAN, TAPI BERAT DI TIMBANGAN
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ.
"Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman, ringan diucapkan di lidah, namun berat dalam timbangan amal pada hari kiamat, (yaitu kalimat):
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ.
"SUBHANALLAH WABIHAMDIHI, SUBHANALLAHIL 'AZHIM"
(Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya, Maha Suci Allah lagi Maha Agung).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Jihad
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda yang artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ditanyakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Haji mabrur” (HR Bukhari dan Muslim).
2. Dilihat dari wajib atau sunnahnya
Prioritas adalah yang wajib daripada yang sunnah. Allah ﷻ berfirman dalam Hadits Qudsi (riwayat Imam Bukhari): "Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan... dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya."
Hadits ini mengajarkan bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang melengkapi kewajiban (seperti sholat fardhu dan puasa Ramadhan) dengan amalan-amalan sunnah (seperti sholat rawatib, dhuha, tahajud, dan puasa senin-kamis).
Jangan sampai Kita sibuk dengan amalan-amalan yang sunnah, tetapi lalai dengan yang wajib.
Sahabat Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu pernah mengatakan, Saya shalat subuh berjama'ah lebih aku sukai daripada shalat tahajud semalam suntuk.
- Hak Allah ﷻ lebih diutamakan daripada hak terhadap manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda :
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840)
- Berbakti kepada suami lebih diutamakan daripada kepada orang tua.
- Infak kepada keluarga lebih diutamakan dari pada kepada fakir miskin.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu — yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim, no. 995)
3. Ikhlas dan Ittibâ
Karena dua hal inilah syarat diterimanya amal.
Allah ﷻ ingin menguji siapa yang paling baik amalnya. QS Al-Mulk Ayat 2:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda pada Mu’adz, “Demi Allah, aku sungguh mencintaimu. Aku wasiatkan padamu, janganlah engkau lupa untuk mengucapkan pada akhir shalat (sebelum salam):
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih)
Ungkapan "berinfak hingga tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan tangan kiri" merupakan perumpamaan tentang keikhlasan mutlak. Hal ini bersumber dari hadis shahih (HR. Bukhari dan Muslim) mengenai tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di mana seseorang menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui amalan tangan kanannya.Hal ini menekankan pentingnya menjaga ibadah agar terhindar dari riya.
Maka, koreksilah amal ibadah kita ikhlas dan ittibâ kepada Nabi ﷺ. Semakin ikhlas dan semakin mendekati cara Nabi ﷺ beribadah, maka akan semakin besar pahalanya.
Ulama besar Tabi' Tabi'in, Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah: "Jika kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali ada dalil/tuntunannya, maka lakukanlah."
Imam Ahmad rahimahullah berkata tidak ada satupun sunnah yang Nabi ﷺ , yang tidak aku lakukan. Maka, tatkala beliau dicari dan bersembunyi selama tiga hari sebagaimana Nabi ﷺ bersembunyi selama 3 hari di gua Tsur.
4. Melakukan ibadah secara kontinu
Amalan yang sedikit tetapi kontinu maka lebih utama.
Di antara keunggulan suatu amalan dari amalan lainnya adalah amalan yang rutin (kontinu) dilakukan. Amalan yang kontinu –walaupun sedikit- itu akan mengungguli amalan yang tidak rutin –meskipun jumlahnya banyak-. Amalan inilah yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.]
Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,
أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”[HR. Muslim no. 782]
Agar bisa istiqomah:
1. Berdo'a
2. Bertaubat dan beristighfar
3. Membaca Fadhailil amal untuk memotivasi diri.
4. Cari teman yang baik.
5. Melakukan amalan yang paling mudah
Islam adalah agama yang mudah.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” [Al-Baqarah/2: 185]
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah/5: 6]
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“… Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu da-lam agama …” [Al-Hajj/22: 78]
Maka, lebih baik kita memilih masjid yang lebih nyaman jika keduanya menjalankan sunnah.
Demikian juga saat kita Safar, lebih utama diqashar agar memudahkan.
6. Kedudukan pelaku
Semakin tinggi derajat pelaku maka semakin besar pahalanya.
Rasulullah ﷺ bersabda :
إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يحب أن تؤتى عزائمه
“Sesungguhnya Allah mencintai tatkala diambil rukhshah dari-Nya sebagaimana ia mencintai ketika dilaksanakan perintah-perintah-Nya” (HR Thabrani dalam Mujam Al Kabiir dan Al Bazzar, dan perawinya tsiqah).
Pahala istri Nabi ﷺ dilipatgandakan dua kali lipat karena kedudukan mereka sebagai Ummul Mukminin (Ibu Orang-orang Beriman).
Hal ini merupakan anugerah dan konsekuensi dari tanggung jawab besar mereka sebagai teladan umat.
Hal ini secara jelas disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 31: “Dan barangsiapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dua kali lipat...” (QS. Al-Ahzab: 31)
7. Keutamaan Waktu
Sebagaimana bulan-bulan haram, bulan Ramadhan, 10 malam akhir Bulan Ramadan, 10 awal bulan Zulhijah, 10 Muharram dan Hari Arafah.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari, rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun“.
8. Keistimewaan Tempat
Seperti Mekah, Madinah dan negeri Syam (Yordania, Suriah, Palestina dan Libanon), Masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjid Kuba.
Sebagaimana hadits berikut:
وَعَنِ اِبْنِ اَلزُّبَيْرِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا اَلْمَسْجِدَ اَلْحَرَامَ , وَصَلَاةٌ فِي اَلْمَسْجِدِ اَلْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةٍ فِي مَسْجِدِي بِمِائَةِ صَلَاةٍ } رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ
Dari Ibnu Az-Zubair bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekali shalat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali shalat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram dan sekali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali shalat di masjidku ini.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban) [HR. Ahmad, 26:41-42; Ibnu Hibban, 1620. Sanad hadits ini sahih].
Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ
“Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
9. Jika amal tersebut manfaatnya dirasakan oleh orang lain.
Amalan Muta’addiyah (atau ibadah muta'addi) adalah segala bentuk amalan yang manfaat atau pahalanya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak positif dan manfaat bagi orang lain. Para ulama menempatkan amalan ini pada kedudukan yang sangat tinggi dan mulia.
Bentuk-bentuk amalan ini bisa berupa manfaat ukhrawi (akhirat) maupun duniawi, seperti:
- Mengajarkan Ilmu & Dakwah: Menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain atau mengajak kepada kebaikan.
- Membantu Hajat Sesama: Membantu orang yang sedang kesulitan, meringankan beban, atau melunasi hutang orang lain.
- Membahagiakan Muslim Lain: Senantiasa menyebarkan kebahagiaan dan menolong orang yang sedang didzalimi.
- Amal Jariyah: Membangun atau berkontribusi dalam pembangunan fasilitas umum seperti masjid.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” [Shahih al-Jami’ no 3289 (Hasan)].
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد
“Sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selama sebulan.” [HR. Ath-Thabarani di dalam Al-Mu’jamul Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al-hadits Ash-Shahihah, no. 906].
Kaidah: ibadah yang dirasakan banyak orang lebih utama. Maslahat yang bersifat umum lebih didahulukan dari maslahat yang sifatnya khusus. Kepentingan untuk masyarakat luas lebih didahulukan dari kepentingan pribadi ketika keduanya bertabrakan, dengan syarat tidak sampai menyi-nyiakan kepentingan pribadi.
Maka, mendo'akan pemimpin besar pahalanya karena manfaatnya untuk orang banyak.
10. Ibadah disaat orang yang lalai
Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ
“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)
Dalam satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” [HR.Tirmidzi. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.8002]
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah menjelaskan bahwa mengamalkan Sunnah disaat orang melalaikan, mendapatkan dua pahala : menghidupkan dan mengamalkannya.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang dikaji hari ini.
Download E-book Kajian ini: Kiat-kiat Agar Pahala Berlipat
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم