#ad-Durar an-Nafisah 5/6
بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Kajian Kitabad-Durar an-Nafisah fi Rihlati Ila Makkah Wal Madinah
🎙┃ Ustadz Mohammad Alif, Lc. M.Pd Hafidzahullah
🗓️┃Selasa, 2/16 Juni 2026 - 16 Dzulhijjah 1447 / 1 Muharram 1448 H
🕰️┃ Ba'da Maghrib - Isya
🕌┃ Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Solo
📖┃Daftar Isi:
- [Bab tentang Akidah]
- Bab Kesembilan: Risalah yang Dibawa Nabi ﷺ
- Bab Kesepuluh: Kaidah dalam Beraqidah dan Beragama
- Bab Kesebelas: Tidak Ada Ruang Bagi Akal dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah
- Pertemuan #6: 16 Juni 2026/1 Muharram 1448 H
- Bab Keduabelas: Manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam Menetapkan Nama-nama dan Shifat Allah
- Bab ketiga belas: Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah selamat dari Tahrif dan Tafwidh
[Bab tentang Akidah]
Bab Kesembilan: Risalah yang Dibawa Nabi ﷺ
Risalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam meliputi dua hal: Ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, sebagaimana firman Allah ﷻ:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. [QS. At-Taubah Ayat 33]
Petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, dan agama yang benar adalah amal saleh yang meliputi keikhlasan kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Ilmu yang bermanfaat meliputi semua ilmu yang membawa kebaikan dan ketakwaan bagi umat Muslim di dunia dan akhirat. Yang pertama tentang ilmu yang bermanfaat adalah pengetahuan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya, karena pengetahuan tentang hal-hal tersebut adalah yang paling bermanfaat. Ini adalah intisari pesan ilahi, inti dari seruan kenabian, dan dasar agama dalam ucapan, perbuatan, dan keyakinan.
Oleh karena itu, mustahil bagi Nabi ﷺ untuk mengabaikannya atau tidak menjelaskannya dengan jelas sehingga menghilangkan keraguan dan ketidakjelasan. Ketidakmungkinan ini ditunjukkan dalam beberapa cara:
Pertama: Risalah Nabi ﷺ pada dasarnya adalah cahaya dan petunjuk. Allah ﷻ mengutusnya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, menyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang bersinar, hingga beliau meninggalkan umatnya di jalan yang jelas, malamnya seperti siangnya, yang hanya orang-orang yang celaka yang menyimpang darinya. Cahaya terbesar dan terdalam adalah cahaya yang diterima hati melalui pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ pasti telah menjelaskannya dengan sangat jelas.
Kedua: Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya segala hal yang mereka butuhkan mengenai agama dan kehidupan duniawi, bahkan adab makan, minum, duduk, tidur, dan sebagainya. Abu Dzar (semoga Allah meridainya) berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat, dan tidak ada satu pun burung yang mengepakkan sayapnya tanpa beliau mengajarkannya kepada kami.” Tidak diragukan lagi, pengetahuan tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya termasuk dalam prinsip umum ini; bahkan, ini adalah hal pertama yang dimasukkan karena sangat dibutuhkan.
Ketiga: Kepercayaan kepada Allah Yang Maha Kuasa, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya adalah dasar agama dan inti dari risalah para Rasul. Ini adalah hal yang paling wajib dan utama yang dapat diperoleh hati dan dipahami pikiran. Lalu bagaimana mungkin Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabaikannya tanpa pengajaran atau penjelasan, terutama karena beliau mengetahui dan telah mengajarkan hal-hal yang kurang penting dan derajatnya lebih rendah dari ilmu tentang Allah?!
Keempat: Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang paling berpengetahuan tentang Tuhannya, paling tulus dalam nasihatnya kepada umat manusia, dan paling fasih dalam penyampaian dan kejelasannya. Oleh karena itu, dengan kemampuan penjelasan yang sempurna ini, tidak mungkin masalah iman kepada Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya akan tetap meragukan dan tidak jelas.
Kelima: Para Sahabat, semoga Allah meridai mereka telah mengatakan kebenaran dalam masalah ini, karena alternatifnya adalah diam atau mengatakan kebohongan, yang keduanya mustahil bagi mereka.
*****
Bab Kesepuluh: Kaidah dalam Beraqidah dan Beragama
Landasan Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dalam keyakinan dan hal-hal lain dalam agama adalah ketaatan penuh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya (shalawat dan salam kepadanya), serta kepada petunjuk dan Sunnah para Khalifah yang diberi petunjuk, berdasarkan firman Allah Yang Maha Tinggi:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al Imran: 31], dan firman-Nya:
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًاۗ
Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka. [An-Nisa: 80], dan firman Allah Yang Maha Tinggi:
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. [Al-Hashr: 7] Hal ini lebih berlaku lagi untuk masalah hukum Islam, karena Nabi ﷺ, Beliau biasa berkhutbah kepada orang-orang pada hari Jumat, seraya berkata:
((أَمَّا بَعدُ فَإِنَّ خَيرَ الحَدِيثِ كِتَابُ الله، وَخَيرَ الهَديٍ هَديُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةِ فِي النَّار))
“Amma ba'du: Ucapan yang terbaik adalah Kitab Allah, dan petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya. Perkara yang terburuk adalah perkara-perkara yang baru diciptakan, dan setiap perkara yang baru diciptakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan mengarah ke neraka.” [HR. Muslim, no. 867]
Dan beliau ﷺ bersabda:
عَلَيكُم بِسُنَّنِي، وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الَمَهدِيِينَ مِن بَعدِي، تَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَاِيَّاكُم وََحَدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ حَدَثَّةٍ بِدعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةِ ضَلَالَةٌ
“Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” . [HR. Abu Dawud, no. 4607, dan At-Tirmidhi, no. 2676. Hadits ini sahih.]
Ada banyak hadits tentang masalah ini. Jalan Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah dan metodologi mereka adalah berpegang teguh sepenuhnya pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya (shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya), dan Sunnah para Khalifah yang mendapat petunjuk setelahnya, dan di antara ciri-ciri mereka adalah bahwa mereka menegakkan agama dan tidak memecah belah diri di dalamnya, sebagai ketaatan kepada firman Allah Yang Maha Kuasa:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. [Ash-Shura: 13].
Dan sekalipun timbul perbedaan pendapat di antara mereka, yang diperbolehkan melalui penafsiran ulama, perbedaan pendapat ini tidak menyebabkan perpecahan di antara mereka. Sebaliknya, kamu akan mendapati mereka bersatu dan saling menyayangi, sekalipun perbedaan ini timbul di antara mereka melalui penafsiran ulama. (Fatwa tentang Rukun Islam (hlm. 19-20).
*****
Bab Kesebelas: Tidak Ada Ruang Bagi Akal dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah
Akal tidak berperan dalam ranah nama dan sifat Allah karena dasar untuk menegaskan atau menyangkal nama dan sifat adalah wahyu. Akal kita tidak pernah dapat menghakimi Allah; oleh karena itu, dasarnya adalah wahyu. Ini bertentangan dengan kaum Asy'ariyah, Mu'tazilah, Jahmiyah, dan lainnya yang menyangkal sifat-sifat Allah, yang menjadikan akal sebagai dasar untuk menegaskan atau menyangkal sifat-sifat tersebut. Mereka berkata: Apa pun yang didiktekan akal untuk kita tegaskan, kita tegaskan, baik Allah menegaskannya untuk Diri-Nya sendiri atau tidak! Dan apa pun yang didiktekan akal untuk kita ingkari, kita ingkari, bahkan jika Allah menegaskannya!
Dia tidak memiliki tangan, Dia tidak bersemayam di atas Arasy, dan Dia tidak turun ke langit terendah. Tetapi mereka memutarbalikkan dan menyebut penyimpangan mereka sebagai penafsiran. Jika mereka menyangkalnya secara terang-terangan, mereka akan menjadi orang kafir, karena mereka telah berbohong. Tetapi mereka menyangkal apa yang mereka sebut penafsiran, yang menurut pandangan kami adalah penyimpangan.
Singkatnya, akal tidak memiliki tempat dalam ranah nama dan sifat Allah. Jika Anda berkata, "Pernyataan Anda bertentangan dengan Al-Quran, karena Allah berfirman,
أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? [Al-Ma'idah: 50], dan perbandingan antara satu hal dengan hal lain ditentukan oleh akal," dan Yang Mahakuasa berfirman,
وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ
dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi [An-Nahl: 60], dan Dia berfirman,
اَفَمَنْ يَّخْلُقُ كَمَنْ لَّا يَخْلُقُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
"Maka, apakah (Zat) yang (dapat) menciptakan (sesuatu) sama dengan yang tidak (dapat) menciptakan? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" [An-Nahl: 17], dan ayat-ayat serupa yang dengannya Allah merujuk pada akal mengenai apa yang Dia tegaskan untuk Diri-Nya dan apa yang Dia ingkari mengenai tuhan-tuhan yang diduga?
Jawabannya adalah bahwa akal memahami apa yang ditetapkan bagi Allah ﷻ, dan apa yang mustahil bagi-Nya, secara umum, bukan secara terinci. Misalnya, akal memahami bahwa Allah harus memiliki sifat-sifat yang sempurna, tetapi ini tidak berarti bahwa akal menegaskan atau menyangkal setiap sifat spesifik. Sebaliknya, akal menegaskan atau menyangkal secara umum bahwa Allah harus memiliki sifat-sifat yang sempurna dan bebas dari kekurangan apa pun.
*****
Pertemuan #6: 16 Juni 2026/1 Muharram 1448 H
Bab Keduabelas: Manhaj Ahlussunnah Wal Jama'ah dalam Menetapkan Nama-nama dan Shifat Allah
Ahlussunnah wal Jama'ah mereka bersatu bersama-sama untuk mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Dan,mengamalkan ajaran Nabi ﷺ baik secara dzahir maupun batin dalam ucapan dan perbuatan atau keyakinan. Maka, barangsiapa yang tidak mengambil sunnah Nabi ﷺ bukan termasuk Ahlussunnah wal Jama'ah.
Adapun metode Ahlussunnah wal Jama'ah dalam menetapkan
1. Dalam menetapkan (Isbat)
Ahlussunnah wal Jama'ah menetapkan nama-nama dan Shifat Allah ﷻ apa yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ tanpa mentahrif (Mengubah atau menyelewengkan lafaz atau makna ayat/hadits dari makna aslinya (zahirnya) tanpa dalil), tanpa ta'til (Menolak, meniadakan, atau mengosongkan Allah dari sifat-sifat-Nya.), tanpa Mempertanyakan atau membayangkan "bagaimana" hakikat sifat Allah (takyif) dan Menyerupakan atau menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk (tamtsil) .
2. Dalam Menafikan (menolak).
Ahlussunnah wal Jama'ah menafikan apa yang dinafikan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi ﷺ dan meyakini kesempurnaan Allah ﷻ.
3. Perkara yang tidak ada dalil menetapkan atau menafikan.
Yaitu jika ada nama dan Shifat Allah ﷻ yang tidak ada dalil menetapkan atau menafikan seperti lafadz jism, makan (tempat) atau jihah (arah). Maka Ahlussunnah wal Jama'ah bersikap tawaquf (diam) dan tidak menetapkan, tidak ditolak secara mutlak. Maka, dalam masalah maknanya, tetapi meminta dijelaskan maksudnya. Seperti Allah ﷻ tidak memiliki jism, jika dijelaskan Allah ﷻ tidak punya tangan, maka ini ditolak karena ada dalilnya. Dan jika dimaksud merendahkan Allah ﷻ, maka kita berlepas diri dari yang demikian. Dan jika dimaksud kebenaran maka, kita tidak menolaknya.
Inilah jalan yang wajib ditempuh Ahlussunnah wal Jama'ah, dan merupakan pendapat pertengahan antara ahli ta'til (meniadakan) dan ahli tamtsil (menyerupakan).
Kewajiban akan hal ini harus berdasarkan dalil aqli dan naqli.
Dalil akal, perincian yang berkaitan dengan hal-hal yang wajib, boleh dan tertolak harus berdasarkan dalil, tanpa akal. Harus mengikuti dalil sama' (wahyu) dalam perkara yang disebutkan, menolak yang ditolak dan diam dalam hal-hal yang tidak disebutkan.
Dan dalil sama' adalah firman Allah ﷻ :
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Surat Al-A’raf Ayat 180).
Ayat 1 ini menunjukkan menetapkan nama dan sifat Allah ﷻ tanpa tahrif dan tatil dan ilhad.
Dalam surat As-Syura ayat 1:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١١
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat 2 menunjukkan kewajiban kita menafikan penyerupaan dengan makhluk.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. (Al-Isra Ayat 36)
Ayat ke 3: Wajib menolak takyif (mengira-ngira) dan, membayangkan sifat Allah ﷻ dan wajibnya tawaquf jika tidak disebutkan.
Setiap ayat yang Allah ﷻ tetapkan untuk diriNya maka itu adalah sifat yang sempurna, yang dengannya wajib dipuji dan tidak ada kekurangan dari sisi manapun.
*****
Bab ketiga belas: Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah selamat dari Tahrif dan Tafwidh
Tafwidh ada dua macam yaitu menyerahkan makna dan kaifiatnya (caranya) kepada Allah ﷻ. Menyerahkan makna kepada Allah ﷻ adalah kebatilan, karena Allah ﷻ telah menetapkan dalam dalil. Demikian juga Tahrif ada dua: merubah secara lafadh dan makna.
Ahlussunnah wal Jama'ah berlepas diri dari dua jalan:
1. Tahrif dalam lafadz dan makna
2. Metode ahli Tafwidh (mufawidhah)
Ahlussunnah wal Jama'ah tidak memahami: bal yadaahu kedua tangan Allah ﷻ terbentang dengan qudrah kekuatan dan nikmat. Tetapi menetapkan maknanya tetap Tangan, adapun bentuknya tawaquf.
Maka, aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah berlepas diri dari Tahrif dan ta'til. Jalan salaf yang sesungguhnya adalah menyerahkan urusannya kepada Allah ﷻ (Tafwidh dalam kaifiatnya).
Mereka orang-orang yang tersesat karena tidak berilmu karena berdusta menurut ahlul Hijaz. Maka, tidak diragukan bahwa jika ada yang mengatakan madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah adalah Tafwidh adalah salah, karena madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah adalah menetapkan makna, tetapi menyerahkan kaifiatnya kepada Allah ﷻ.
Madzhab Tafwidh menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu adalah seburuk-buruk ucapan ahlul bida (ahlul ilhad). Dimana dia menganggap dirinya berusaha berada di pertengahan yaitu menyerahkan semuanya kepada Allah ﷻ agar selamat, padahal ini menyimpang.
Jika engkau perhatikan Ahlu Tafwidh, maka mereka mendustakan Al-Qur’an dan menganggap Nabi ﷺ adalah bodoh dan merendahkan.
Karena Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 89:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu
Penjelasan mana dalam Al-Qur'an yang kalimatnya tidak diketahu maknanya, Sedangkan yang terbanyak dalam Al-Qur’an adalah nama-nama dan shifat Allah ﷻ. Kalau kita tidak tahu makna nama dan sifat Allah ﷻ di dalam Al-Qur’an, maka apakah Al-Qur'an bisa disebut sebagai tibyan? mana makna penjelasan?.
Kalau kalian mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mengetahui makna nama dan sifat Allah ﷻ, maka yang bukan rasul tentu tidak mengetahui. Yang lebih parah lagi Ahlu Tafwidh mengatakan bahwa Allah ﷻ memiliki nama dan sifat Allah dan Nabi ﷺ tidak mengetahui maknanya?
Jika Nabi ﷺ bersabda Allah ﷻ turun ke langit dunia sepertiga malam, dan ditanya apa artinya Nuzul dan tidak mengetahui maknanya? Ini sungguh tidak beradab kepada Nabi ﷺ.
Ini adalah celaan terbesar kepada Nabi ﷺ! Beliau adalah utusan Allah ﷻ yang menjelaskan syariat Allah ﷻ, kemudian dikatakan tidak mengetahui makna nama dan sifat Allah ﷻ. Maka ini adalah celaan yang besar.
Maka, Ahlussunnah wal Jama'ah berlepas diri dari Ahlu tahrif dan Ahlu Tafwidh.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم