Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Tema: Mulia di Atas Sunnah
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy Hafizhahullah
Pertemuan: 28 Dzulhijjah 1447 / 14 Juni 2026
Tempat: Masjid Umar bin Khathab Kartasura
Daftar Isi:

 


Atau di facebook: Bagian 1

Atau di facebook: Bagian 2


Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Atas nikmatNya kita berkesempatan untuk datang di majelis ilmu.

Dengan menghadiri majelis ilmu, akan Allah ﷻ akan memudahkan jalan menuju surga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Dengan menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkannya masuk surga. Akan menambah ketakwaan dan semakin takut kita kepada Allah ﷻ. Dan charger terbaik bagi iman kita adalah dengan menuntut ilmu. Hingga akhir hayat kita.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat 99:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Dan termasuk ibadah yang paling mulia adalah dengan menuntut ilmu. Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih,

إلى متى وأنت مع المحبرة

”Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?”

Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal,

مع المحبرة إلى المقبرة

“Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.

Maksudnya, janganlah terputus untuk meraih ilmu agama. Raihlah ilmu agama sampai ajal menjemput.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dalam kitab beliau, Miftah Dar As-Sa'adah berkata: selama engkau masih bernafas, teruslah belajar. Maka, semangatlah dalam menuntut ilmu, agar kita semakin bertaqwa dan beribadah dengan benar.

Sungguh kalau kita menghitung nikmat Allah ﷻ tidak akan mampu menghitungnya.

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 18).

Cara terbaik untuk mengetahui betapa berharganya nikmat mata adalah dengan memejamkannya sejenak. Renungkan bagaimana rasanya berada dalam kegelapan dan membayangkan semua detail dunia yang tidak bisa dilihat. Ini baru nikmat melihat...

Namun, ada nikmat yang lebih besar dari itu semua, yaitu nikmat iman, Islam dan hidayah. Nikmat berkesempatan berkunjung ke masjid Allah ﷻ untuk menuntut ilmu. Berbeda dengan nikmat dunia, dimana semua orang bisa mendapatkannya, baik itu muslim ataupun kafir, baik itu hamba yang taat atau yang fasiq, semua mendapat bagian. Oleh karenanya disebutkan dalam sebuah hadits:

إِنَّ الله يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لا يُحِبُّ ، وَلا يُعْطِي الإيْمَانَ إِلا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (Diriwayatkan oleh Al Maruzi dalam Zawaiduz Zuhd, Ibnu Abi Syaibah 3/294, Al Bukhari dalam Adabul Mufrod 279, sanadnya shahih kata Syaikh ‘Ali Al Halabi dalam tahqiq beliau terhadapa kitab Ad Daa’ wad Dawaa’ Ibnul Qayyim)

Nikmat terbesar adalah nikmat Islam, Iman dan Sunnah, karena dengannya menentukan kita masuk surga atau neraka. Sungguh nikmat mengenal sunnah adalah nikmat yang tiada tara dan bandingnya setelah nikmat Islam. Sampai-sampai Abul ' Aliyah rahimahullah mengungkapkan:

'Aku tidak tahu, nikmat mana yang paling istimewa di antara dua nikmat yang kuraih; Apakah nikmat hidayah Allah (lantas) aku nemeluk Islam, ataukah nikmat (hidayah sunnah sehingga) Dia tidak menjadikanku seorang Haruriy (pengikut Khawarij, sekte pertama yang menyeleweng dari kemurnian Islam)." (Tarikh Dimasyq no. 16494, Ibnu Asakir).

Makna Sunnah

Sunnah secara bahasa adalah Jalan, adapun secara istilah memiliki tiga makna:

  1. Lawan kata wajib: yaitu jika dikerjakan berpahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa.
  2. Hadits: Yang bermakna jika digandengkan dengan Al-Qur’an.
  3. Cara beragama Nabi ﷺ baik dalam aqidah, ibadah dan akhlak.

Sebagaimana dalam hadits irbad bin syariyah:

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.”

(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].

Nama sunnah dikenal untuk penyebutan akidah. Dan Penamaan Akidah ada dalam beberapa istilah:

- As-Sunnah
- Aqidah
- Asy-Syariah
- Al-Fiqhul Akbar
- Al-Iman
- At-Tauhid

Keutamaan Berpegang Teguh kepada Sunnah

1. Mendapatkan Rahmat dan Kebahagiaan

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran Ayat 132:

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.

Dalam Surat Al-Ahzab Ayat 71:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Karena kesuksesan sejati adalah tatkala menginjakkan kaki di surga. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 185:

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.

2. Amal kita diterima

Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ dan ini hanya bisa diterima jika memenuhi dua syarat: ikhlas dan ittibâ.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 110:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ ۝١١٠

Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa dalam ayat ini disebutkan dua syarat diterimanya amal.

Karena kita diuji akan baiknya amalan. Dalam QS. Al-Mulk Ayat 2 Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa hidup dan mati diciptakan untuk menguji hamba-Nya. Ukuran ujian ini bukan sekadar kuantitas (seberapa banyak), melainkan kualitasnya. Menurut para ulama, amal yang "paling baik" (ahsanu 'amala) adalah yang paling ikhlas (hanya karena Allah) dan sesuai dengan tuntunan (sunnah) Nabi ﷺ.

Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718). Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Sederhana dalam as-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr, 30, al-Lalikai 1/88 no. 114, dan al-Ibanah 1/320 no. 161)

3. Selamat dunia dan akhirat

Selamat Dunia adalah selamat dari penyimpangan dan selamat di akhirat adalah selamat dari neraka.

Berkata Imam Malik: “Tidak akan baik akhir perkara umat ini kecuali dengan mencontoh kebaikan yang ada pada generasi pertama. Dan yang menjadikan baik perkara generasi pertama ialah al-Qur’an dan sunah Nabi -Nya.

قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِ مَهُ اللَّهُ: «السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ. ذَمَّ الْكَلَامِ لِلْيَرْوِيِّ (١٢٤/٤)

Malik bin Anas rahimahullah ta’la berkata “Sunnah itu seperti perahu Nabi Nuh. Siapa saja yang menaikinya, maka selamat. Dan siapa saja yang terlambat menaikinya, maka ia akan tenggelam (binasa)”.

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata:

كان من مضى من علمائنا يقول: الاعتصام بالسنة نجاة

“Para ulama kita terdahulu mengatakan, ‘Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan’”.

4. Mendapatkan petunjuk hidayah

Dia tidak akan tersesat. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A'raf ayat 158:

فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"...maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata :

من فارق الدليل ضل السبيل، ولا دليل إلا بما جاء به الرسول ﷺ

Siapa yang meninggalkan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah maka jalannya akan tersesat. Tidak ada petunjuk yang benar kecuali apa yang dibawa oleh Rasullullah ﷺ. - (Miftah Daari As-Sa'adah (1/83).

6. Masuk surga

Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“ (HR Bukhari).

Allah ﷻ berfirman dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133:

۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

*****

Cara Mewujudkan Prinsip Berpegang Teguh pada Sunnah

Mewujudkan hal tersebut dengan 7 hal:

1. Mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Allah ﷻ berfirman yang memerintahkan umat-Nya untuk mengikuti Sunnah sebagai bukti cinta sejati kepada-Nya (QS. Ali 'Imran: 31):

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ

“Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al Quran maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid berkata: “semua rijalnya shahih”).

2. Mentaati Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka apa yang menjadi perintah syariat kita lakukan dan apa yang dilarang kita tinggalkan.

3. Mengilmui Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tidak ada ketaatan jika tidak ada ilmunya, maka harus bersemangat, mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah.

4. Mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jangan sampai kita ihtihza yang berarti memperolok-olok, mengejek, atau merendahkan agama Islam, istihza' terhadap Allah, Rasulullah, Al-Quran, sebagai perbuatan yang sangat tercela dan dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.

5. Meyakini bahwa tidak ada jalur hidayah kecuali lewat mereka (Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang memisahkan diri dari dalil, maka ia akan tersesat dari jalan yang lurus".

6. Memahami dengan benar.

Semua pemahaman yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ adalah menyimpang. Sebagaimana cara memahami surat Al-Hijr ayat 99. Allah ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99).

Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim.

Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan".

7. Tegar dan istiqomah berpegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ sampai akhir hayat.

Dari Muawiyah Radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

“Selalu ada dari umatku senantiasa yang menegakkan perintah Allah. Tidak dapat mencelakai mereka orang yang menghinanya dan juga orang yang menyelisihinya, hingga Allah datangkn kepada mereka perkaranya sedangkan mereka tetap kondisi seperti itu.”

*****

Kewajiban kita terhadap Sunnah Nabi ﷺ

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun Ayat 73:

وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.

Maka, kita di setiap shalat selalu memohon jalan yang lurus yaitu Al-Qur'an dan sunnah.

Adapun kewajiban kita terhadap Sunnah Nabi ﷺ adalah:

1. Mencintai sunnah Rasulullah ﷺ

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini dibuktikan dengan mendahulukan perintah Nabi ﷺ di atas perintah keluarga. Seperti memelihara jenggot, makan harta yang halal dan lainnya,

Bahkan Gunung Uhud pun mencintai ٌRasulullah dan Rasulullah mencintainya. Rasulullah ﷺ bersabda :

وهذا أحد جبل يحبنا ونحبه

“Inilah Uhud, gunung yang mencintai kita, dan kita juga mencintainya.” (HR. Muslim).

2. Mengagungkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat al-fath ayat 9:

لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا ۝٩

agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, baik pagi maupun petang.

Qatadah berkata: yakni agar kalian menolong dan melindunginya dari setiap orang yang ingin mencelakainya. (Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir).

Lawannya adalah merendahkan sunnah atau mengolok-oloknya. Seperti menganggapnya sebagai ketinggalan zaman, ciri teroris dan lainnya.

Jangan sampai Kita mengolok-olok sunnah Nabi ﷺ. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 65:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)

Akibat mengolok-olok Sunnah Nabi ﷺ

  • Menganggap remeh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur di malam hari:

Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il At Taimiy -dalam penjelasan beliau terhadap shohih Muslim- berkata, “Aku telah membaca di sebagian kisah (hikayat) mengenai sebagian ahli bid’ah ketika mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah dia mencelupkan tangannya di dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali terlebih dahulu, karena dia tidak tahu di manakah tangannya bermalam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam rangka mengejek, ahli bid’ah ini berkata, “Ya, saya tahu ke mana tangan saya bermalam di ranjang!!” Lalu tiba-tiba pada saat pagi, dia dapati tangannya berada dalam dubur sampai pergelangan tangan.

At Taimiy berkata, “Oleh karena itu hendaklah seseorang berhati-hati untuk meremehkan sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kondisi-kondisi yang menuntut diam. Lihatlah apa yang terjadi pada orang ini karena akibat dari perbuatannya.” (Bustanul ‘Arifin li An Nawawi. Dinukil dari Ta’zimus Sunnah, hal. 19-20, Darul Qosim)

  • Diperintahkan makan dengan tangan kanan namun enggan:

Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim.

عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

Dari Ikrimah bin ‘Ammar, (beliau berkata) Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ telah berkata bahwa ayahnya mengatakan kepadanya (yaitu) ada seorang laki-laki makan dengan tangan kirinya di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lalu dia mengatakan, “Aku tidak mampu.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau memang tidak akan mampu”. Tidak ada yang menghalanginya untuk menaati Nabi kecuali rasa sombong. Akhirnya, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulut. (HR. Muslim no. 5387)

An Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim mengatakan, “Perkataan ‘Tidaklah ada yang menghalanginya kecuali rasa sombong’, ini bukan berarti dia adalah munafik. Karena semata-mata ada rasa sombong dan menyelisihi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah mengharuskan adanya nifak dan kekufuran dalam diri seseorang. Akan tetapi perbuatan ini adalah maksiat, mengingat perintah itu adalah perintah yang harus diperhatikan.”

3. Meyakini bahwa sunnah Nabi ﷺ adalah sebaik-baiknya petunjuk

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Maka, untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk, hanya dengan mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Tidak ada jalan lain!

Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau melihat ada sebagian dari Taurat di tangan Umar, maka beliau marah dan berkata,

أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي

“Apakah engkau masih ragu wahai Ibnu Khattab? Aku telah bawakan kepadamu (Al-Qur’an) yang putih bersih, seandainya Musa masih hidup, tidak ada cara lain baginya kecuali mengikuti aku.”

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu ketika berfatwa bolehnya tamattu’. Beliau memegang perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian manusia, ketika beliau berfatwa dengan fatwa tamattu’ mengatakan bahwa Abu Bakar As-Siddiq dan Umar bin Al Khattab Radhiyallahu ‘Anhuma, mereka berpendapat berbeda dengan pendapat Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma marah semarah marahnya dan beliau berkata:

أراهم سيهلكون أقول قال النبي صلى الله عليه و سلم ويقول نهى أبو بكر وعمر

“Mereka akan binasa, aku berkata kepada kalian, ‘Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,’ kemudian kalian bantah dengan perkataan ‘Abu Bakar dan Umar’?”

Ibnu ‘Abbas mengajarkan kepada kita bahwa perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak boleh kita bantah.

4. Tunduk dan patuh

Sikap seorang muslim tatkala mendapatkan perintah melalui sunnah Nabi ﷺ adalah tunduk dan patuh (sami'na wa atho'na).

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

Karena akal manusia terbatas dan terkadang tidak bisa mencernanya. Dalam atsar yang shahih, Umar bin Khattab pernah berkata ketika mencium Hajar Aswad:

إني أعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع ، ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم قبلك ما قبلتك

“Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak memberi mudharat dan tidak pula memberikan manfaat. Andaikan saya tidak melihat Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam melakukannya, saya tidak akan menciummu.”

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Mu'āżah al-'Adawiyah -raḍiyallāhu 'anhā- bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Mengapa wanita haid harus mengqada puasa dan tidak mengqada salat?" Aisyah balik bertanya, "Apakah engkau wanita dari golongan Khawarij Ḥarūriyyah yang suka bertanya untuk menolak dan memaksa diri?" Mu'āżah menjawab, "Aku bukan wanita Ḥarūriyyah. Tetapi aku hanya bertanya." Aisyah berkata, "Dulu kami juga mengalami haid bersama Nabi ﷺ. Kami diperintahkan untuk mengqada puasa, tetapi tidak diperintahkan untuk mengqada salat."

5. Mengamalkannya

Jika itu sebuah perintah, maka kita mengamalkannya, dan jika itu sebuah larangan, maka tugas kita untuk meninggalkannya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.

Dengan demikian, kita akan mendapatkan kehidupan yang sebenarnya. Yaitu mendapatkan hati yang hidup. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-anfal ayat 24:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.

Intinya ilmu adalah untuk mengamalkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,

ما كتبت حديثا إلا وقد عملت به حتى مر بي أن النبي

صلى الله عليه وسلم ) احتجم وأعطى أبا طيبه دينارا فأعطيت الحجام دينارا حين احتجمت

“Tidak pernah aku menulis sebuah hadits pun kecuali aku akan berusaha mengamalkan hadits tersebut. Hingga pada suatu ketika, sampai kepadaku sebuah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam dan memberi upah kepada Abu Thayyibah (tukang bekam) sebanyak satu dinar, maka aku pun memberikan upah satu dinar kepada tukang bekam setiap kali aku berbekam.”[Siyar A’laamun Nubala’ 9/213]

Ibrohim bin hani berkata: "Imam Ahmad bersembunyi dirumahku selama tiga hari kemudian berkata: "Carikan untuk ku tempat yang lain" Maka aku berkata: "Saya khawatir dengan keselamatanmu" ia menjawab: "kerjakanlah, apabila kamu mengerjakannya maka saya akan memberikan satu faidah kepadamu" lalu saya mencari tempat baru, setelah keluar dari rumahku ia berkata: "Rosululloh Shalallahualaihi wa Sallam bersembunyi di gua hiro selama tiga hari kemudian berpindah tempat"

Sampai-sampai imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri dalam ucapannya yang terkenal pernah berkata, “Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan (mencontoh) sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka lakukanlah!”[Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/216)].

Menurut Syaikh bin Baz dan para ulama berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, hukum berjalan memakai satu sandal (sandal sebelah) adalah terlarang, maka jika dua sandal berjauhan, hendaknya jangan memakai sandal sebelah. Karena menyelisihi sunnah.

6. Mencukupkan dengan Sunnah tanpa ada bid'ah

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa seburuk-buruk perkara adalah bid'ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Bid'ah adalah sejelek perbuatan. Dan konsekuensi bid'ah minimal ada dua:

1. Menuduh Islam belum sempurna.

Imam Malik berkata, "Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru (bid'ah) di dalam agama ini sedangkan ia menganggap baik perbuatan tersebut maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad telah berbuat khianat, karena Allah ta'ala telah berfirman,

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu." (QS. al-Maidah: 3). Maka perkara yang pada hari ayat ini diturunkan bukan agama maka sekarang juga bukan merupakan agama." (Al-I'tishom, 1/49, dinukil dari 'Ilmu Usul Bida', 20)

2. Menuduh Rasulullah ﷺ berkhianat.

Ini adalah tuduhan yang sangat berat, karena Rasulullah ﷺ adalah seorang yang sangat terpercaya. Sabda Nabi ﷺ

أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Ucapan Beliau ﷺ: Apakah kalian tidak percaya kepadaku sedangkan aku adalah orang yang dipercaya oleh Dzat yang ada di atas. (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim).

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

“Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H) rahimahullah berkata, “Tidak seorang pun yang menuntut dan mempelajari hadis kecuali wajahnya cerah dan berseri-seri disebabkan doa dari Nabi shallallahu alaihi wasallam di hadis tersebut.” (Syaraf Ashhabil Hadis, Imam Al-Khathib Al-Baghdadi (wafat 463 H).)

7. Memahami hadits dengan pemahaman yang benar

Yaitu pemahaman para sahabat Nabi ﷺ. Karena merekalah pewaris risalah Nabi ﷺ yang langsung mendengar dan mempraktekkannya.

Maka, perlu adanya bimbingan ulama Rabbani dalam memahami hadits Nabi, bukan bermodalkan cocoklagi dan logika semata seperti halnya klaim Ustadz akhir zaman dalam memahami hadits-hadits Nabi tentang peristiwa akhir zaman. Ini sangat berbahaya sekali.

Sangat penting untuk memahami hadits berpedoman dengan pemahaman para sahabat Nabi ﷺ, kalau tidak maka bisa tersesat dan mendatangkan keburukan.

8. Menyebarkan hadits Nabi ﷺ

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Apalagi zaman sekarang, begitu mudah menyampaikan hadits melalui perangkat elektronik. Karena banyaknya bid’ah dan kemungkaran timbul karena sedikitnya penyebaran hadits atau sunnah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

“تبليغ سنته إلى الأمة أفضل من تبليغ السهام إلى نحور العدو؛ لأن ذلك التبليغ يفعله كثير من الناس، وأما تبليغ السنن فلا تقوم به إلا ورثة الأنبياء وخلفاؤهم “

“Menyampaikan Sunnah kepada umat lebih utama daripada melempar anak panah ke leher-leher musuh Islam. Karena hal itu (berperang dengan senjata) bisa dilakukan oleh sekian banyak orang. Adapun menyampaikan Sunnah hanya bisa dilakukan oleh para pewaris Nabi dan pengganti mereka.” Pernyataan ini membuka wawasan terhadap pentingnya penyebaran ajaran Nabi lebih daripada terlibat dalam konflik fisik.

9. Membela Sunnah Nabi ﷺ

Sebagaimana dahulu para sahabat rela berkorban untuk membela dan melindungi Nabi ﷺ, maka selayaknya kita membela hadits-hadits Nabi ﷺ dari golongan yang mememeranginya.

Sebagaimana kita membela kehormatan orang tua kita, saat dicela, apalagi terhadap sunnah-sunnah Nabi ﷺ bagi orang-orang yang ingin merubah maknanya atau mendustakannya.

Membela hadits-hadits Nabi berarti mempertahankan, menjaga, dan menegakkan ajaran-ajaran Nabi ﷺ yang terdapat dalam hadits. Ini melibatkan upaya untuk memastikan keaslian, keabsahan, dan pemahaman yang benar tentang hadits, serta melindunginya dari berbagai bentuk penolakan, penyimpangan, dan pemalsuan.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم