Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Sirah Nabawiyah  - Hari-Hari Terakhir Kehidupan Rasulullah ﷺ (Kitab Ar-Rahiq Al-Maktum - Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury Rahimahullah)
🎙┃ Pemateri : Ustadz Iqbal Muammar hafizhahullah.
🗓┃ Hari/Tanggal :   Sabtu, 10 Oktober 2026 M / 29 Rabi'ul Akhir 1448 H
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖┃ Daftar Isi:


 


Pembukaan

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, menciptakan darinya pasangannya, dan mengembangbiakkan dari keduanya banyak laki-laki dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, serta jagalah hubungan kekerabatan. Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian.

Amma ba’du.

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada kita. Di antara nikmat yang patut kita syukuri ialah nikmat keimanan, keistiqamahan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu, khususnya untuk mempelajari sirah Nabi Muhammad ﷺ.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan pembahasan mengenai hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ, ketika beliau mengalami sakit menjelang wafatnya. Peristiwa-peristiwa tersebut mengandung banyak pelajaran, terutama mengenai pentingnya menjaga tauhid, menegakkan shalat, dan berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah ﷺ.

1. Tujuan penciptaan manusia dan amanah sebagai khalifah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk menjalankan amanah di bumi. Ketika Allah hendak menciptakan Adam ‘alaihissalam, Allah berfirman kepada para malaikat:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Artinya: “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’” QS. Al-Baqarah [2]: 30.

Kata khalifah dapat dijelaskan dari sisi pergantian generasi, yakni manusia yang datang silih berganti dari generasi sebelumnya. Manusia lahir, tumbuh, meninggal dunia, kemudian digantikan oleh generasi berikutnya. Adapun dalam konteks menjalankan amanah agama, manusia dituntut untuk menegakkan ketaatan kepada Allah dan menyampaikan kebenaran sesuai kemampuan serta tuntunan syariat.

Tujuan utama penciptaan manusia dan jin ditegaskan dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat [51]: 56.

Rasulullah ﷺ merupakan teladan terbaik dalam menjalankan amanah tersebut. Beliau berdakwah selama kurang lebih 23 tahun, mengajarkan tauhid, membimbing manusia untuk beribadah kepada Allah, serta menunjukkan akhlak dan keteladanan dalam kehidupan.

Risalah beliau tidak terbatas untuk satu suku atau masyarakat pada zamannya. Allah mengutus beliau membawa petunjuk bagi seluruh manusia. Karena itu, umat Islam berkewajiban melanjutkan perjuangan dakwah dengan ilmu, hikmah, dan amal saleh.

2. Lima hari sebelum wafatnya Rasulullah ﷺ

Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum, pembahasan mengenai hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sakit beliau semakin berat menjelang wafatnya.

Pada masa sakit tersebut, Rasulullah ﷺ tetap memberikan perhatian besar kepada urusan umat dan pelaksanaan shalat berjamaah. Ketika demam dan rasa sakit semakin berat, beliau meminta agar air dituangkan ke tubuhnya untuk membantu meredakan panas. Beliau juga beberapa kali kehilangan kesadaran karena beratnya penyakit yang diderita.

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa Rasulullah ﷺ tetap memikirkan umat dan ibadah, meskipun sedang menghadapi sakit yang berat.

Adapun tanggal-tanggal terperinci dalam transkrip perlu diperiksa kembali karena terdapat ketidakkonsistenan penyebutan tanggal. Oleh sebab itu, pembahasan ini mengikuti urutan peristiwa yang dikenal dalam riwayat-riwayat sirah, tanpa memastikan tanggal yang belum terverifikasi.

Perhatian terhadap kisah yang tidak berdasar

Dalam masyarakat terkadang beredar cerita bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meminum air bekas Rasulullah ﷺ ketika beliau sakit atau air bekas memandikan jenazah beliau, lalu hal tersebut menjadi sebab kecerdasan atau kemuliaannya.

Cerita semacam ini [dari kelompok Syiah], tidak boleh dipastikan sebagai fakta sejarah atau keutamaan agama tanpa sanad dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemuliaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sudah sangat besar berdasarkan keutamaan yang benar-benar diriwayatkan, di antaranya kedudukannya sebagai salah seorang Khulafaur Rasyidin dan kerabat Rasulullah ﷺ.

Dalam membahas sirah, kita hendaknya membedakan riwayat yang sahih dari cerita yang beredar di tengah masyarakat. Kecintaan kepada keluarga Nabi ﷺ harus disertai ilmu dan kejujuran dalam menyampaikan berita.

3. Rasulullah ﷺ tetap memperhatikan shalat berjamaah

Salah satu peristiwa penting pada masa sakit Rasulullah ﷺ adalah perhatian beliau terhadap pelaksanaan shalat berjamaah. Ketika beliau tidak mampu keluar untuk mengimami kaum muslimin, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu agar menggantikan beliau sebagai imam.

Dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ، فَقَالَتْ فَاطِمَةُ: وَاكَرْبَ أَبَاهُ، فَقَالَ: «لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ» ... وَأَوْصَى بِالصَّلَاةِ

Riwayat-riwayat sahih tentang sakit Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa ketika beliau tidak keluar untuk shalat selama beberapa hari, Abu Bakar maju mengimami kaum muslimin. Rasulullah ﷺ sempat membuka tirai rumahnya dan memberi isyarat agar Abu Bakar tetap melanjutkan shalat sebagai imam.

Rujukan peristiwa imam Abu Bakar: Sahih al-Bukhari no. 681, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Peristiwa ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan perhatian Rasulullah ﷺ terhadap kelangsungan shalat berjamaah. Penunjukan beliau sebagai imam pada masa sakit juga menjadi salah satu peristiwa yang dibahas para ulama ketika menjelaskan kedudukan Abu Bakar setelah wafatnya Nabi ﷺ.

Ketika Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang shalat

Salat bukan perkara ringan. Seorang muslim hendaknya menjaga shalat lima waktu, mempelajari tata caranya berdasarkan dalil, dan mengajarkan pentingnya shalat kepada keluarga.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Artinya: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.”

HR. At-Tirmidzi no. 2621; juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan riwayat yang berkaitan.

Hadis ini menunjukkan betapa beratnya persoalan meninggalkan shalat. Para ulama memiliki perincian dalam menetapkan hukum orang yang meninggalkan shalat, terutama terkait perbedaan antara mengingkari kewajibannya dan meninggalkannya karena malas. Karena itu, pembahasan hukum terhadap individu tertentu tidak boleh dilakukan secara serampangan.

Orang tua hendaknya membimbing anak-anaknya untuk menjaga shalat sejak dini. Jangan sampai urusan pendidikan, pekerjaan, harta, atau kegiatan sosial membuat keluarga lalai dari kewajiban yang sangat mendasar ini.

4. Menjaga keadilan dan memilih saksi pernikahan yang baik agamanya

Dalam pembahasan fikih, pemateri mengingatkan pentingnya memilih saksi pernikahan yang baik agamanya, bukan semata-mata karena kedudukan sosial, jabatan, atau kekayaannya.

Saksi hendaknya dipilih dengan mempertimbangkan persyaratan yang ditetapkan syariat. Orang yang dikenal menjaga agama dan amanah patut diprioritaskan, selama memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.

Dalam mazhab Syafi’i, persyaratan wali dan saksi pernikahan dibahas secara khusus, termasuk persoalan keadilan dan kefasikan. Namun, rincian hukum tentang sah atau tidaknya wali dan saksi perlu dijelaskan berdasarkan kitab fikih dan kondisi yang sebenarnya. Jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap pernikahan seseorang yang lalai dalam shalat otomatis tidak sah tanpa memeriksa persoalan tersebut secara ilmiah.

Prinsip yang dapat kita ambil adalah bahwa urusan agama harus lebih diutamakan daripada gengsi duniawi. Memilih saksi karena kesalehan dan amanah lebih sesuai dengan tujuan menghadirkan orang-orang yang dapat dipercaya dalam akad pernikahan.

5. Larangan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah

Di antara nasihat penting Rasulullah ﷺ menjelang wafatnya ialah peringatan agar umat Islam tidak menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.

Dalam hadis Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda lima hari sebelum wafatnya:

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

Artinya: “Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal itu.” HR. Muslim no. 532.

Peringatan tersebut berkaitan dengan penjagaan tauhid. Seorang muslim diperintahkan beribadah dan berdoa kepada Allah, bukan menjadikan kuburan sebagai tempat pelaksanaan ritual yang tidak disyariatkan.

Kecintaan kepada para nabi dan orang saleh harus diwujudkan dengan mengikuti ajaran mereka yang benar, bukan dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ.

Allah memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan keagungan-Nya

Dalam nasihat yang sama, Rasulullah ﷺ menjelaskan kedudukan beliau di sisi Allah. Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih yang sangat dekat), sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil.”

Hadis ini merupakan bagian dari riwayat Jundub bin Abdullah dalam Sahih Muslim no. 532.

Dalam akidah Islam, nama dan sifat Allah ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis yang sahih, dengan tetap meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” QS. Asy-Syura [42]: 11.

Karena itu, sifat-sifat Allah tidak boleh disamakan dengan sifat makhluk. Kita menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa mengingkari dalil.

Dalam hadis yang sama, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan tentang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Ini menunjukkan bahwa penjagaan tauhid merupakan persoalan mendasar yang harus diperhatikan oleh umat Islam, bahkan ketika Rasulullah ﷺ sedang berada pada hari-hari terakhir kehidupannya.

Tidak semua klaim tentang makam nabi dapat dipastikan

Dalam transkrip, pemateri juga menyinggung sejumlah cerita mengenai lokasi makam Nabi Adam ‘alaihissalam. Cerita-cerita semacam ini perlu diteliti sumber dan kekuatan riwayatnya. Tidak tepat memastikan suatu tempat sebagai makam nabi hanya berdasarkan cerita populer atau tradisi setempat.

Sikap ilmiah dalam masalah sejarah adalah menyampaikan apa yang memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memastikan sesuatu yang belum terbukti. Hal ini sejalan dengan kewajiban menjaga kejujuran dalam menyampaikan agama.

6. Memohon hujan kepada Allah: Istisqa’

Pembahasan berikutnya berkaitan dengan istisqa’, yaitu memohon kepada Allah agar menurunkan hujan ketika manusia membutuhkannya.

Istisqa’ tidak terbatas pada pelaksanaan shalat istisqa’. Memohon hujan juga dapat dilakukan melalui doa secara langsung kepada Allah dan doa yang dipanjatkan dalam khutbah Jumat.

Pertama: Berdoa langsung kepada Allah

Allah menceritakan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ketika kaumnya membutuhkan air:

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu!’ Maka memancarlah darinya dua belas mata air.”

QS. Al-Baqarah [2]: 60.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam memohon pertolongan kepada Allah ketika kaumnya membutuhkan air. Allah kemudian memberikan jalan keluar bagi mereka.

Pelajarannya, seorang muslim hendaknya mengarahkan permohonan dan kebutuhannya kepada Allah. Ketika petani membutuhkan hujan, ketika sumber air mengering, atau ketika masyarakat mengalami kekeringan, mereka dapat memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Allah.

Kedua: Memohon hujan melalui doa dalam khutbah Jumat

Di antara dalilnya adalah hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah pada hari Jumat, seorang laki-laki datang mengadukan kekeringan yang menimpa masyarakat. Ia meminta Rasulullah ﷺ agar berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan.

Rasulullah ﷺ kemudian berdoa:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.”

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa setelah Rasulullah ﷺ berdoa, awan berkumpul dan hujan turun.

HR. Al-Bukhari no. 1014; lihat pula Sahih al-Bukhari no. 1015.

Riwayat tersebut menjadi dalil disyariatkannya memohon hujan melalui doa dalam khutbah Jumat. Kaum muslimin dapat meminta khatib mendoakan agar Allah menurunkan hujan yang bermanfaat, terutama ketika terjadi kekeringan.

Ketiga: Salat istisqa’

Salat istisqa’ merupakan ibadah yang disyariatkan untuk memohon hujan kepada Allah. Pelaksanaannya hendaknya mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, termasuk ketentuan mengenai waktu, tata cara, khutbah, dan doa berdasarkan dalil yang sahih.

Ketika menghadapi kekeringan, masyarakat dapat bekerja sama untuk menyelenggarakan shalat istisqa’, memperbanyak istigfar dan doa, serta memperbaiki hubungan mereka dengan Allah.

Dalam pelaksanaannya, yang utama adalah mengikuti tata cara yang memiliki dasar dalam sunnah. Adapun rincian mengenai membawa hewan, cerita semut yang berdoa dalam kisah Nabi Sulaiman, atau tata cara khusus lain yang disebutkan dalam ceramah perlu diteliti sumbernya sebelum dinyatakan sebagai tuntunan khusus shalat istisqa’.

Kita tidak boleh menetapkan suatu amalan sebagai sunnah tertentu hanya berdasarkan kisah yang belum jelas kesahihannya.

7. Memperbanyak doa dan tidak berputus asa dari rahmat Allah

Dalam berdoa, seorang muslim perlu menyadari kelemahan dirinya dan besarnya kebutuhan kepada Allah. Kita memiliki banyak kekurangan, sehingga hendaknya memperbanyak tobat, istigfar, dan amal saleh.

Namun, kesadaran akan dosa bukan berarti seseorang harus merasa tidak pantas berdoa langsung kepada Allah. Justru seorang hamba diperintahkan untuk memohon kepada Rabbnya, mengakui kelemahannya, dan berharap kepada rahmat-Nya.

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagi kalian.’” QS. Ghafir [40]: 60.

Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, janganlah berputus asa. Berdoalah kepada Allah, lakukan ikhtiar yang dibenarkan syariat, dan perbaiki amal. Kita tidak mengetahui dari mana Allah memberikan jalan keluar, tetapi kita diperintahkan untuk terus berharap kepada-Nya.

8. Menjelang wafat, Rasulullah ﷺ kembali menekankan tauhid dan shalat

Peristiwa-peristiwa pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ memperlihatkan dua perkara penting yang berulang kali beliau tekankan: tauhid dan shalat.

Tauhid merupakan fondasi agama. Seorang muslim harus memurnikan ibadah hanya kepada Allah, menjauhi segala bentuk kesyirikan, serta tidak membuat tata cara ibadah yang bertentangan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Salat juga merupakan ibadah yang harus dijaga. Kesibukan, kebiasaan masyarakat, atau keinginan memperoleh sesuatu tidak boleh membuat seseorang meremehkan rukun-rukun shalat.

Di antara hal yang perlu diperhatikan ialah menyempurnakan shalat sampai salam. Jangan terburu-buru meninggalkan shalat sebelum menyelesaikannya dengan benar. Orang tua dan pengurus masjid hendaknya membimbing anak-anak serta jamaah agar memahami tata cara shalat dengan baik.

Dalam hadis disebutkan:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Artinya: “Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkan (perbuatan-perbuatan di luar shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam.” HR. Abu Dawud no. 61; diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi no. 3.

Hadis ini menjelaskan kedudukan bersuci, takbiratul ihram, dan salam dalam shalat. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mempelajari rukun dan tata cara shalat berdasarkan dalil, bukan sekadar mengikuti kebiasaan tanpa mengetahui dasarnya.

Mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dalam tata cara ibadah

Dalam urusan ibadah, niat baik harus disertai cara yang benar. Seseorang mungkin melakukan suatu gerakan dengan maksud yang menurutnya baik, tetapi jika gerakan tersebut tidak memiliki dasar dalam tuntunan Rasulullah ﷺ, ia tidak boleh begitu saja menganggapnya sebagai bagian dari sunnah.

Prinsip mengikuti tata cara shalat Nabi ﷺ dijelaskan dalam sabda beliau:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Artinya: “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” HR. Al-Bukhari no. 631.

Hadis ini diriwayatkan dalam konteks perintah Nabi ﷺ kepada para sahabat untuk menunaikan shalat sebagaimana mereka melihat beliau melaksanakannya.

Maka, dalam perkara ibadah, kita hendaknya mempelajari dalil, mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, dan tidak menambahkan gerakan atau tata cara khusus berdasarkan dugaan pribadi. Jika ada perbedaan pendapat fikih yang diakui, persoalannya perlu dipelajari dengan merujuk kepada penjelasan para ulama.

9. Penutup: Mengambil pelajaran dari hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ

Jamaah kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ merupakan pelajaran besar bagi umatnya. Dalam keadaan sakit sekalipun, beliau tetap memberikan perhatian kepada urusan agama, khususnya penjagaan tauhid dan pelaksanaan shalat.

Dari pembahasan ini, beberapa pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Menjaga tauhid. Memurnikan ibadah dan doa kepada Allah serta menjauhi segala bentuk kesyirikan.
  2. Menjaga shalat lima waktu. Tidak meremehkan kewajiban shalat dan mengajarkannya kepada keluarga sejak dini.
  3. Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Beribadah berdasarkan dalil yang sahih, bukan hanya mengikuti kebiasaan atau cerita yang beredar.
  4. Bersikap hati-hati dalam menyampaikan riwayat. Tidak memastikan cerita tentang keutamaan seseorang, makam nabi, atau amalan tertentu tanpa sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
  5. Memperbanyak doa dan istigfar. Memohon pertolongan kepada Allah ketika menghadapi kesulitan dan tetap berharap kepada rahmat-Nya.
  6. Mendahulukan agama daripada kedudukan duniawi. Dalam urusan sosial maupun ibadah, ilmu, amanah, dan ketakwaan harus mendapat perhatian besar.

Pembahasan tentang hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ akan dilanjutkan pada kajian berikutnya, insyaallah, dengan memperhatikan riwayat-riwayat mengenai hari menjelang wafatnya beliau.

Wallahu a’lam bish-shawab.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Artinya: “Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.”

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم