Menu Al-Qur'an

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". (Al-Hijr: 9).
Baca Al-Qur'an Digital Mushaf Kuno Tafsir Al-Qur'an Tajwid Murotal Juz 30 Download

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 ┃Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى - Staff Pengajar Ponpes Al-Madinah Surakarta
🗓┃Pertemuan 2: 27 November 2025 / 6 Jumadil Akhir 1447 H 
🕰┃ Ba'da Isya [19:30-20:30]
🕌┃ Masjid Ponpes Joglo Qur'an - Boyolali



Tadabbur Surat Nuh #2 | Ayat 5-14

Melanjutkan Tafsir Surat Nuh dari pertemuan sebelumnya: Pertemuan 1

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

٥. قَالَ رَبِّ إِنِّى دَعَوْتُ قَوْمِى لَيْلًا وَنَهَارًا

qāla rabbi innī da’autu qaumī lailaw wa nahārā

5. Nuh berkata: “Ya Rabbi sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

Tafsir: Nuh berkata, “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku telah mengajak kaumku untuk menyembah-Mu dan menauhidkan-Mu siang dan malam dengan terus menerus.

٦. فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَآءِىٓ إِلَّا فِرَارًا

fa lam yazid-hum du’ā`ī illā firārā

6. maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).

Tafsir: Seruanku kepada mereka itu tidak menambah mereka melainkan semakin menambah mereka lari dan menjauh dari apa yang aku serukan kepada mereka.

٧.  وَإِنِّى كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوٓا۟ أَصَٰبِعَهُمْ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَٱسْتَغْشَوْا۟ ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا۟ وَٱسْتَكْبَرُوا۟ ٱسْتِكْبَارًا

wa innī kullamā da’autuhum litagfira lahum ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum wa aṣarrụ wastakbarustikbārā

7. Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

Tafsir: Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka kepada apa yang menyebabkan pengampunan dosa-dosa mereka, yaitu berupa ibadah hanya kepada-Mu semata, menaati-Mu, dan menaati Rasul-Mu, mereka malah menutup telinga mereka dengan jari-jemari mereka agar tidak mendengar seruanku dan mereka menutup wajah mereka dengan pakaian mereka agar tidak melihatku. Mereka terus melakukan kesyirikan dan berlaku sombong dengan tidak mau menerima apa yang aku serukan kepada mereka dan tidak mau tunduk padanya.

٨. ثُمَّ إِنِّى دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا

ṡumma innī da’autuhum jihārā

8. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,

Tafsir: Kemudian aku -wahai Tuhanku- menyeru mereka secara terang-terangan.

٩. ثُمَّ إِنِّىٓ أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

ṡumma innī a’lantu lahum wa asrartu lahum isrārā

9. kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,

Tafsir: Kemudian aku meninggikan suaraku kepada mereka dalam berdakwah, juga menyeru mereka dengan sembunyi-sembunyi, serta dengan suara yang lembut, sebagai bentuk meragamkan metode dakwahku kepada mereka.

 .١. فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

fa qultustagfirụ rabbakum innahụ kāna gaffārā

10. maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,

Tafsir: Lalu aku katakan kepada mereka, 'Wahai kaumku! Mintalah ampunan kepada Tuhan kalian dengan bertobat kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun atas dosa-dosa orang yang bertobat kepada-Nya dari hamba-hamba-Nya.

١١. يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

yursilis-samā`a ‘alaikum midrārā

11. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,

Tafsir: Sungguh, jika kalian melakukan hal itu, niscaya Allah akan menurunkan hujan secara berturut-turut untuk kalian apabila kalian membutuhkannya, sehingga kalian tidak ditimpa kekeringan.

١٢. وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّٰتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَٰرًا

wa yumdidkum bi`amwāliw wa banīna wa yaj’al lakum jannātiw wa yaj’al lakum an-hārā

12. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Tafsir: Dia juga akan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, membuatkan taman-taman yang buah-buahannya bisa kalian makan, serta membuatkan untuk kalian sungai-sungai yang darinya kalian minum, mengairi tanaman-tanaman kalian, dan memberi minum ternak-ternak kalian.

١٣. مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

mā lakum lā tarjụna lillāhi waqārā

13. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

Tafsir: Kalian kenapa -wahai kaumku- tidak takut kepada keagungan Allah dengan melakukan maksiat kepadaNya tanpa peduli?

١٥. وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا

wa qad khalaqakum aṭwārā

14. Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.

Tafsir: Padahal Dia telah menciptakan kalian kejadian demi kejadian, dari setetes air mani, kemudian segumpal darah kemudian segumpal daging.

📃 Penjelasan:

1. Ayat 5: Penetapan sifat Rububiyah bagi Allah ﷻ. Maka, penerjemahan yang tepat adalah Ya Rabbi... Bukan Ya Tuhanku...
2. Teladan akan Kesungguhan Nabi Nuh alaihi salam dalam berdakwah.

Dakwah adalah jalannya para Nabi ﷺ dalam mengajak kepada Tauhid.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Yusuf Ayat 108:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Keutamaan Dakwah disebut dalam hadits dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ »

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia” (HR at-Tirmidzi (no. 2685) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 7912), dalam sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh hadits lain yang semakna).

Nabi Nuh alaihi salam termasuk dalam Ulul Azmi, Ulul Azmi artinya adalah gelar kehormatan bagi para nabi dan rasul yang memiliki ketabahan, kesabaran, dan tekad yang sangat kuat dalam menghadapi cobaan dakwah. Gelar ini dianugerahkan kepada lima rasul pilihan: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ.

3. Ayat 6: Keberhasilan dakwah bukan dilihat dari banyaknya pengikut, tetapi apa yang Allah ﷻ ajarkan berupa Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena kebanyakan penyeru di dunia akan menyesatkan dari jalan Allah ﷻ.
4. Ayat 7:

  • Mengajak orang ke dalam pengampunan dosa-dosa, yaitu berupa ibadah hanya kepada Allah ﷻ dan mentaatiNya dan mentaati Rasul.
  • Larangan terus menerus dalam kemaksiatan dan dosa, sebelum pintu taubat tertutup.
  • Keras kepalanya kaum nabi Nuh dengan menutup telinga saat diajak mengikuti kebenaran. Karena sifat sombong (meremehkan kebenaran dan menghinakan manusia). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

«لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر» فقال رجل: إنّ الرجلَ يحب أن يكون ثوبه حسنا، ونَعله حسنة؟ قال: إنّ الله جميلٌ يحب الجمالَ، الكِبر: بَطَرُ الحق وغَمْطُ الناس

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi.” Seorang lelaki bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” (HR. Muslim)

5. Ayat 8-10:

  • Berbagai metode dilakukan nabi Nuh alaihissalam dalam berdakwah: dengan suara keras, semhunyi-sembunyi, suara lembut telah dilakukannya.
  • Penetapan sifat Rububiyah dan Asma wa shifat (Ghoffar) dalam ayat 10.
    Sifat Allah ﷻ kebanyakan berwazan fa'al yang menunjukkan sibghah mubalaghah yang menunjukkan sangat (Ghoffar - Sangat Pengampun).

6. Ayat 11- 14:

  • Keutamaan istighfar: satu kalimat yang sudah diajarkan nabi-nabi terdahulu.
    1. Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

  1. Allah ﷻ akan menurunkan hujan akibat kekeringan.
  2. Memberikan rizki berupa harta.
  3. Memberikan rizki berupa keturunan.
  4. Menyuburkan tanaman.

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menukil dari Ibnu Shubaih dalam tafsirnya , bahwasanya ia berkata,

شَكَا رَجُلٌ إِلَى الْحَسَنِ الْجُدُوبَةَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا آخَرُ إِلَيْهِ الْفَقْرَ فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَقَالَ لَهُ آخَرُ. ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي وَلَدًا، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. وَشَكَا إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ، فَقَالَ لَهُ: اسْتَغْفِرِ اللَّهَ. فَقُلْنَا لَهُ فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: مَا قُلْتُ مِنْ عِنْدِي شَيْئًا، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي سُورَةِ” نُوحٍ”

”Ada seorang laki-laki mengadu kepadanya Hasan Al-Bashri tentang kegersangan bumi maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!”, yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” yang lain lagi berkata kepadanya, ”Doakanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!” maka beliau mengatakan kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan yang lain lagi mengadu tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan pula kepadanya,”beristighfarlah kepada Allah!” Dan kamipun menganjurkan demikian kepada orang tersebut. Lantas Hasan Al-Bashri menjawab: ”Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.” (Jami’ Liahkamil Quran 18/302, Darul Kutub Al-Mishriyah, kairo, cet. Ke-2, 1348 H, Asy-Syamilah)

6. Istighfar dapat menahan azab dari suatu kaum. Ada dua penyebab Allah ﷻ menahan adzab: masih ada nabi dan banyaknya istighfar.

7. Dengan Istighfar dapat memasukkan ke dalam surga, memberikan rezeki tak terduga.

Rasul shallallahu ’alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi,

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanad-nya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir)

Istighfar terbaik adalah Sayyidul Istighfar. Yang biasa dibaca pagi dan petang.

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sesungguhnya Istighfâr yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan :

ALLAHUMMA ANTA RABBII LÂ ILÂHA ILLÂ ANTA KHALAQTANII WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’ÛDZU BIKA MIN SYARRI MÂ SHANA’TU ABÛ`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA WA ABÛ`U BIDZANBII FAGHFIRLÎ FA INNAHU LÂ YAGHFIRU ADZ DZUNÛBA ILLÂ ANTA

(Ya Allâh, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

(Beliau bersabda) “Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga". 

  • Imam al-Bukhari dalam shahîhnya (no. 6306, 6323) dan al-Adabul Mufrad (no. 617, 620) Dan lainnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan lafazh istigfâr ini dengan Sayyidul Istighfâr karena terkandung dalam hadits ini makna taubat dan merendahkan diri di hadapan Allâh Azza wa Jalla , yang tidak terdapat dalam hadits-hadits taubat lainnya.

Imam ath-Thîbiy rahimahullah berkata, “Karena do’a ini mengandung makna-makna taubat secara menyeluruh maka dipakailah istilah sayyid, yang pada asalnya, sayyid itu artinya induk atau pimpinan yang dituju dalam semua keperluan dan semua urusan kembali kepadanya.” (Fat-hul Bâri (XI/99).

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم