بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى - Staff Pengajar Ponpes Al-Madinah Surakarta
🗓┃Pertemuan 2: Kamis, 22 Januari 2026 / 3 Sya'ban 1447 H
🕰┃ Ba'da Isya [19:30-20:30]
🕌┃ Masjid Ponpes Joglo Qur'an - Boyolali
Tadabbur Surat Jin #2 | Ayat 3-7
Telah berlalu tafsir ayat 1-3:
1. Al-Qur'an adalah kalamullah wahyu kepada Nabi ﷺ yang disampaikan oleh malaikat Jibril.
2. Surat ini membicarakan makhluk Allah ﷻ: Jin, yaitu makhluk yang terbuat dari api yang merupakan keturunan dari iblis. Golongan jin ada yang muslim dan kafir.
3. Menetapkan Tauhid asma' wa shifat yaitu sifat uluw bagi Allah ﷻ dan Tauhid Rububiyah Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam ayat 4-7:
وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا
4. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,
wa annahû kâna yaqûlu safîhunâ ‘alallâhi syathathâ
- Tafsir: Sesungguhnya Iblis telah mengatakan perkataan yang menyimpang terhadap Allah -Subḥānahu-, yaitu dengan menisbahkan adanya istri dan anak kepada-Nya.
وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا
wa annâ dhanannâ al lan taqûlal-insu wal-jinnu ‘alallâhi kadzibâ
5. dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.
- Tafsir: Sesungguhnya Kami dahulu mengira bahwa orang-orang yang musyrik dari golongan manusia dan jin tidak berkata bohong ketika mereka mengklaim bahwa Allah mempunyai istri dan anak, sehingga kami membenarkan ucapan mereka karena taklid terhadap mereka'.
وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
wa annahû kâna rijâlum minal-insi ya‘ûdzûna birijâlim minal-jinni fa zâdûhum rahaqâ
6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
- Tafsir: Sesungguhnya dahulu di zaman jahiliah ada beberapa laki-laki dari golongan manusia meminta perlindungan kepada sekelompok laki-laki dari golongan jin saat mereka singgah di suatu tempat yang angker. Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari kejahatan kaumnya yang bodoh.” Maka, hal ini menambah rasa takut segolongan dari manusia terhadap segolongan jin.
وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا۟ كَمَا ظَنَنتُمْ أَن لَّن يَبْعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا
7. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,
wa annahum dhannû kamâ dhanantum al lay yab‘atsallâhu aḫadâ
- Tafsir: Sesungguhnya manusia menyangka sebagaimana kalian -wahai para jin- juga menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seseorang setelah kematiannya untuk perhitungan amalnya dan pembalasan.
4. Mengatakan tentang Allah ﷻ tanpa ilmu. Orang yang kurang akal mengatakan bahwa Allah ﷻ memiliki isteri atau anak. Padahal Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)
“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)
Inilah sanggahan yang telak pada orang yang menyatakan Allah memiliki anak seperti yang disuarakan oleh orang Nashrani. Orang Nashrani menyatakan Isa sebagai putera Allah. Juga orang Yahudi menyatakan bahwa Uzair itu putera Allah. Sedangkan orang musyrik menyatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Maha Suci Allah akan perkataan busuk mereka.
Dari sini, apakah pantas seorang muslim mengucapkan selamat natal, padahal maksud natal adalah memperingati kelahiran Isa sebagai anak Tuhan?! Tidak pantas menyatakan pula mengucapkan natal masuk dalam perselisihan fikih, dan bukan dalam ranah akidah.
5. Sifat dusta dari orang-orang yang musyrik dari golongan manusia dan jin.
6. Larangan meminta perlindungan kepada selain Allah ﷻ, seperti minta perlindungan disaat melewati tempat yang menakutkan (angker atau keramat), seperti mengucapkan permisi mbah... atau yang mbaurekso, dan lainnya.
Nabi ﷺ mengajarkan do'a:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A'udzu bi kalimatillahit taammaati min syarri ma khalaq.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan makhluk-Nya. (HR. Muslim no. 2708).
Atau membaca surat Al-Mu'awwidzatain (atau Al-Mu'awwidhatayn) adalah sebutan untuk dua surat terakhir dalam Al-Qur'an, yaitu Surat Al-Falaq (113) dan Surat An-Nas (114), yang berarti "Dua Pelindung" karena diawali dengan kalimat permohonan perlindungan ("Qul a'udzu" / Katakanlah, "Aku berlindung kepada...").
7. Persangkaan Orang-orang kafir dan golongan jin, tidak ada hari kebangkitan.
*****
Allah ﷻ berfirman dalam ayat 8-13:
وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ ٨
wa annâ lamasnas-samâ'a fa wajadnâhâ muli'at ḫarasan syadîdaw wa syuhubâ
8. (Jin berkata lagi,) “Sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit. Maka, kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.
- Tafsir: Para jin berkata lagi, "Sesungguhnya kami telah mencari kabar langit, lalu kami dapati langit itu penuh dengan penjaga-penjaga yang kuat dari golongan malaikat yang menjaganya dari curi dengar yang kami lakukan dan juga dipenuhi dengan panah api yang dilemparkan kepada siapa saja yang mendekati langit.
وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ ٩
wa annâ kunnâ naq‘udu min-hâ maqâ‘ida lis-sam‘, fa may yastami‘il-âna yajid lahû syihâbar rashadâ
9. Sesungguhnya kami (jin) dahulu selalu menduduki beberapa tempat (di langit) untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Akan tetapi, sekarang siapa yang (mencoba) mencuri dengar pasti akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
- Tafsir: Padahal, kami dahulu mengambil beberapa tempat di langit untuk mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh para malaikat, lalu kami mengabarkan hal itu kepada para dukun yang ada di bumi. Namun, sekarang keadaan sudah berubah karena barang siapa dari kami sekarang ini yang mencuri dengar maka ia akan mendapati api membara yang dipersiapkan untuknya, jika ia mendekat, api tersebut akan dilemparkan kepadanya hingga membakarnya.
وَّاَنَّا لَا نَدْرِيْٓ اَشَرٌّ اُرِيْدَ بِمَنْ فِى الْاَرْضِ اَمْ اَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًاۙ ١٠
wa annâ lâ nadrî asyarrun urîda biman fil-ardli am arâda bihim rabbuhum rasyadâ
10. Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki terhadap siapa yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan terhadap mereka.
- Tafsir: Sesungguhnya kami tidak mengetahui sebab penjagaan yang ketat ini; apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi ataukah Allah menghendaki kebaikan bagi mereka karena kabar langit telah terputus dari kami?!
وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ١١
wa annâ minnash-shâliḫûna wa minnâ dûna dzâlik, kunnâ tharâ'iqa qidadâ
11. Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
- Tafsir: Sesungguhnya di antara kami -golongan jin- ada yang bertakwa lagi baik dan ada yang kafir lagi fasik. Kami terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan mempunyai hasrat yang berbeda-beda.
وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللّٰهَ فِى الْاَرْضِ وَلَنْ نُّعْجِزَهٗ هَرَبًاۖ ١٢
wa annâ dhanannâ al lan nu‘jizallâha fil-ardli wa lan nu‘jizahû harabâ
12. Sesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.
- Tafsir: Sesungguhnya kami meyakini bahwa kami tidak mungkin melepaskan diri dari Allah -Subḥānahu- jika Dia menghendaki suatu perkara dari kami dan tidak mungkin melarikan diri dari-Nya karena Allah meliputi kami semua.
وَّاَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدٰىٓ اٰمَنَّا بِهٖۗ فَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِرَبِّهٖ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَّلَا رَهَقًاۖ ١٣
wa annâ lammâ sami‘nal-hudâ âmannâ bih, fa may yu'mim birabbihî fa lâ yakhâfu bakhsaw wa lâ rahaqâ
13. Sesungguhnya ketika mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami pun beriman kepadanya. Maka, siapa yang beriman kepada Tuhannya tidak (perlu) takut akan pengurangan (pahala amalnya) dan tidak (takut pula) akan kesulitan (akibat penambahan dosa).
- Tafsir: Sesungguhnya kami saat mendengarkan Al-Qur`ān yang menunjukkan kepada jalan yang lurus, kami langsung mengimaninya. Oleh sebab itu, barang siapa beriman kepada Tuhannya, niscaya ia tidak khawatir kebaikannya akan dikurangi dan tidak takut ditambahkan kepadanya dosa atas dosa-dosanya yang telah lalu.
Beberapa Faedah Ayat-ayat di Halaman Ini (572):
- تأثير القرآن البالغ فيمَنْ يستمع إليه بقلب سليم.
- Pengaruh Al-Qur`ān yang nyata bagi orang yang mendengarkannya dengan hati yang suci.
- الاستغاثة بالجن من الشرك بالله، ومعاقبةُ فاعله بضد مقصوده في الدنيا.
- Meminta pertolongan kepada jin merupakan sebagian dari kesyirikan kepada Allah.
- بطلان الكهانة ببعثة النبي صلى الله عليه وسلم.
- Batalnya perdukunan dengan diutusnya Nabi ﷺ.
- من أدب المؤمن ألا يَنْسُبَ الشرّ إلى الله.
- Di antara adab seorang mukmin ialah tidak menisbahkan keburukan kepada Allah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم