Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : “Mengevaluasi Peran Ayah Bunda Dalam Pendidikan Anak”
🎙┃Pemateri : Ustadz Dr. Sufyan Bin Fuad Baswedan. Lc, M.A. حفظه الله تعالى
🗓┃Hari & Tanggal : Jum'at, 4 Sya’ban 1447 H | 23 Januari 2026 M
🕰┃Waktu : 09.00 - 11.00 WIB
🕌┃Tempat : Masjid Ibaadurrahmaan Goro Assalaam. Jl. A. Yani No.308, Gumpang Lor, Pabelan, Kec. Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
📖┃Daftar Isi :

 



Mendidik Anak, Tiket Menuju Surga

Pertemuan#3: Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Pada pertemuan sebelumnya (Pertemuan #1) atau (Pertemuan #2) telah dibahas mengenai:

Bab 1: Kewajiban Orang Tua Dalam Mendidik Anak

  1. Hakikat Tanggung Jawab Pendidikan dalam Islam.
  2. Orang Tua sebagai Pemimpin dalam Keluarga.
  3. Ancaman Bagi Orang yang Mengabaikan Amanah.
  4. Anak Saleh Sebagai Investasi Akhirat.

Bab 2: Keutamaan Mendidik Anak Perempuan dalam Islam

  1. Perhatian Khusus Syariat Terhadap Anak Perempuan.
  2. Pahala Besar bagi Orang Tua yang Membesarkan Anak Perempuan.
  3. Contoh Keteladanan: Pengorbanan Ibu dan Besarnya Balasan.
  4. Menanggung dan Membesarkan Putri sebagai Penghalang Neraka.
  5. Hikmah Mengapa Anak Perempuan Mendapat Keutamaan Khusus.
  6. Keutamaan Bagi Yang Memiliki Satu Putri.

Bab 3: Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan anak dalam Islam merupakan proses berjenjang yang dimulai jauh sebelum pernikahan, berlanjut ketika anak lahir, dan terus berlangsung sepanjang pertumbuhan dan perkembangannya. Peran orang tua mencakup aspek spiritual, moral, emosional, dan sosial demi membentuk generasi yang saleh dan berkarakter.

A. Peran Orang Tua Pra Nikah

1. Menjadi Calon Orang Tua yang shalih/shalihah

Proses pendidikan anak dimulai sebelum kelahirannya, bahkan sebelum pernikahan terjadi. Islam menekankan bahwa keberkahan anak sangat dipengaruhi oleh kesalehan calon orang tua. Kesalehan sebelum menikah akan menjadi fondasi munculnya keluarga yang kokoh secara iman, akhlak, dan tanggung jawab.

2. Memilih pasangan yang shalih/shalihah

Pemilihan pasangan hidup merupakan langkah strategis dalam membangun generasi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa wanita dinikahi karena empat hal, dan yang paling utama adalah agamanya. Hal ini berlaku pula bagi laki-laki. Pasangan yang saleh/salehah akan menjadi lingkungan pertama bagi anak dan penentu kualitas pendidikan dalam rumah.

B. PERAN ORANG TUA PASCA-NIKAH

Memberikan Nama yang Baik

Nama adalah doa. Islam menganjurkan memberi nama yang bermakna baik, indah, dan mengandung harapan positif, karena nama melekat sepanjang hidup dan menjadi identitas moral seorang anak.

Rasulullah ﷺ:

ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ

Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]

Dalam sebuah riwayat (tidak diketahui sanadnya) dikisahkan: Ada seseorang mengadu kepada Umar: “Sesungguhnya anakku telah berbuat durhaka pada diriku”. Sayyidina Umar lalu menasehati anak itu: “Apakah kamu tidak takut kepada Allah atas kedurhakaanmu pada orang tuamu. Sesungguhnya hak orang tua adalah ini dan itu?” Umar menjelaskan.

Anak itu kemudian bertanya: “Wahai Amirul Mukminin! Apakah anak Juga memiliki hak atas orang tuanya?”.

“Iya! Hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang baik, diberikan nama yang bagus dan diajar Al-Qur’an”. Jawab Umar.

Anak tersebut lalu menimpali: “Demi Allah. Ayahku tidak memilihkan ibu yang baik untukku. Ibuku adalah seorang budak yang dibeli di pasar seharga 400 Dirham. Ia juga memberikan nama yang tidak baik kepadaku. la menamaiku ‘Ju’al’. Ia juga tidak mengajarkan Al-Qur’an kepadaku, kecuali satu ayat saja.”

Umar langsung menoleh kepada sang ayah dan berkata: “Engkau mengatakan anakmu telah mendurhakaimu. Padahal, engkau telah mendurhakai anakumu sebelum ia mendurhakaimu”.

Memberikan Nafkah yang Halal

Rezeki halal sangat berpengaruh terhadap keberkahan hidup dan pembentukan akhlak anak. Nafkah yang halal akan menumbuhkan hati yang bersih dan karakter yang jujur, sedangkan harta haram menjadi sumber kerusakan moral dan spiritual.

Nafkah yang utama adalah sandang, pangan dan papan. Maka, jikalau anak-anak diwajibkan untuk dinafkahi secara halal, maka bagaimana lagi untuk bekal akhiratnya, tentu lebih diutamakan. Dan hal pertama yang harus diajarkan adalah Tauhid, karena inti diciptakannya manusia adalah untuk beribadah.

Kemudian diajarkan ilmu agama yang hukumnya wajib, seperti shalat, puasa baru kemudian zakat dan haji.

Ustadz memberikan penekanan pada umur diperintahkan shalat, yaitu tatkala berumur 7 tahun (dihitung dengan kalender Hijriyah).

Memberikan Teladan yang Baik

Anak belajar lebih banyak melalui pengamatan daripada perkataan. Keteladanan kedua orang tua merupakan pendidikan paling efektif. Sikap, ucapan, disiplin ibadah, dan akhlak orang tua akan menjadi pola yang ditiru anak sepanjang hidupnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaff ayat 4:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ۝٣

Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.

Memberikan Kebebasan Bermain dalam Batasan yang Mubah

Bermain adalah kebutuhan perkembangan anak. Orang tua hendaknya memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk bermain dan bereksplorasi, selama berada dalam batasan syar’i yang mubah, aman, dan mendidik.

Ustadz mencontohkan bolehnya mainan burung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada saudara Anas yang masih kecil,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

Wahai Abu ‘Umair, apa yang engkau lakukan dengan burung kecil itu?” (HR. Bukhari no. 6203)

Bahkan ada ulama yang telah mensyarahkan hadis ini di dalam sebuah karya khusus, dan telah mengeluarkan daripadanya lebih dari 60 faedah dan pengajaran. Beliau ialah Abu al-‘Abbas Ahmad Ibn al-Qas al-Tabari al-Syafi’i (Fath al-Bari, 10/481).

Mengapresiasi Kebaikan Anak Sekecil Apa Pun

Pengakuan dan apresiasi dari orang tua menumbuhkan rasa percaya diri anak, memupuk motivasi, dan mengokohkan karakter positif. Kebaikan kecil yang diapresiasi akan melahirkan kebaikan-kebaikan besar di masa depan. Tidak Mencela Anak, Terutama yang Belum Baligh Cacian, makian, atau label buruk akan merusak perkembangan emosional anak, terutama yang belum baligh dan masih sangat bergantung pada bimbingan orang tua. Islam menganjurkan kelembutan dalam mendidik, bukan penghinaan.

Nabi ﷺ mencontohkan akhlak yang tinggi tatkala sahabat meminta izin untuk berzina. Kalau dilihat dari kacamata awam, tentu akan dinilai kurang ajar atau cacat akal. Akan tetapi Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang logis hingga merubah pola pikir penanya.

Sisi positifnya:
1. Meminta izin meskipun untuk maksiat, tidak langsung melanggar.
2. Dia seseorang yang jujur.
3. Bertanya langsung kepada pemberi fatwa yaitu Nabi ﷺ.

Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.”

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina.

  • Lihat hadits riwayat Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.

Selain, itu Nabi ﷺ menjuluki banyak sahabat dengan julukan positif sesuai dengan sifatnya. Seperti:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq: Julukan Ash-Shiddiq (yang membenarkan/jujur).
  • Umar bin Khattab: Dijuluki Al-Faruq (pembeda).
  • Khalid bin Walid: Diberi gelar Saifullah (Pedang Allah) karena ketangkasannya dalam memimpin peperangan.
  • Sa'id bin Zaid: Salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dikenal dengan julukan Abul A'war dan keutamaannya doanya yang mustajab.
  • Zubair bin Awwam: Dijuluki sebagai pembela/pengawal Nabi (Hawari) karena keberanian dan kesetiaannya.
  • Utsman bin Affan: Dikenal dengan julukan Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Nabi (Ruqayyah dan Ummu Kultsum).
  • "Dzatun Nithaqain" (pemilik dua ikat pinggang) diberikan kepada Asma' binti Abu Bakar karena saat membantu hijrahnya Rasulullah ﷺ dan ayahnya, ia merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian untuk mengikat bekal makanan dan minuman, dan satu bagian lagi dipakai seperti biasa.

Memaafkan Kesalahan Anak Melalui Kebaikan yang Pernah Dilakukannya

Anak adalah manusia yang sedang belajar. Orang tua perlu banyak memaafkan, mengingat jasa dan kebaikan anak, serta membimbing dengan cara yang bijak. Pendekatan ini akan menumbuhkan kasih sayang dan hubungan emosional yang sehat.

Ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Karena menyesal:

عن ابن مسعود رضي الله عنه مرفوعاً: أن رجلاً أصاب من امرأةٍ قُبْلَةً، فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فأخبره، فأنزل الله تعالى : (وأقم الصلاة طَرَفَيِ النَّهَار وزُلَفًا مِنَ اللَّيلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبنَ السَّيِئَات) [هود: 114] فقال الرجل: ألي هذا يا رسول الله؟ قال: «لِجَمِيعِ أُمَّتِي كُلِّهِم».
[صحيح] - [متفق عليه]

Dari Ibnu Mas‘ūd -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwasanya ada seorang pria yang mencium seorang wanita, lalu ia datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian menyampaikan hal itu. Maka Allah -Ta'ālā- pun menurunkan ayat, “Dan tegakkanlah salat di kedua ujung siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.” Maka pria itu berkata, “Apakah ini (khusus) untukku, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Untuk semua umatku secara keseluruhan.”
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]

Mengajarkan Dasar-Dasar Keimanan

Pendidikan iman merupakan pilar utama. Anak perlu dikenalkan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir sejak usia dini dengan metode yang lembut, mudah, dan bertahap.

Padahal kajian-kajian sangat banyak dan gratis, maka sungguh keterlaluan kita yang ilmunya tidak pernah nambah. Maka, untuk bisa mendidik anak, orang tua harus mempelajari dasar-dasar iman.

Banyak sekali contoh yang dapat kita teladani dari Rasulullah maupun para
salaf terkait Pelajaran keimanan bagi anak-anak.

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتيَانٌ حَزَاورَةٌ، «فَتَعَلَّمْنَا الْإيمَانَ قَبلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ القُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»

Jundub bin Abdillah mengatakan, 'Dahulu di masa Rasulullah , kami adalah anak-anak yang masih remaja. Kami mempelajari keimanan terlebih dahulu sebelum belajar Al-Qur'an, barulah kemudian kami pelajari Al-Qur'an, maka bertambahlah keimanan kami terhadapnya (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani).

Nabi juga mengajarkan kepada Ibnu 'Abbas yang masih kanak-kanak agar dirinya menghafal beberapa petuah dari Beliau.

Modul Daurah: Download di sini...

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم