Pembahasan Kitab Tauhid

Karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan dan Team Ahli Tauhid. Terdiri dari tiga buku yang resumenya kami sajikan di hadapan antum semua. Jangan bosan belajar Tauhid. Karena inilah tujuan dakwah para Rasul. Baarokallohufiikum...
Kitab Tauhid 1 Kitab Tauhid 2 Kitab Tauhid 3

بسم الله الرحمن الرحيم

🎙Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘 Materi : Kitab Tauhid Bab 44 | Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu" - Pertemuan 1-2
🗓 Hari : Selasa, 8 Sya’ban 1447 / 27 Januari 2026 | 15 Sya’ban 1447 / 3 Februari 2026 
🕰 Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 Daftar Isi:



 Bab-44 | Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu" #1

٤٣ - قول: ماشاء الله وشئت

Bab 44: Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu". 

Pendahuluan

Pada bab sebelum-sebelumnva telah kita sebutkan berbagai macam bentuk orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan bagi Allah ﷻ. Di antara bentuk mengambil tandingan bagi Allah adalah dengan mengatakan, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu".

Secara umum, perkataan semacam ini dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis:

  1. Pertama, yaitu perkataan, مَا شَاءَ اللهُ وحده "Atas kehendak Allah semata", Perkataan semacam ini adalah perkataan yang disunnahkan.
  2. Kedua, yaitu perkataan, ماشاء الله ثم شئت "Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu". Hukum perkataan jenis kedua ini adalah dibolehkan namun tidak dianjurkan. Meskipun perkataan ini disebutkan dalam hadits. namun akan kita sebutkan bahwa terdapat dalam riwayat yang lain bahwa Nabi Muhammad ﷺ menganjurkan untuk mengucapkan jenis perkataan yang pertama saja.
  3. Ketiga, yaitu perkataan, ماشاء الله وشئت “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Jenis yang ketiga ini terlarang karena mengandung kesyirikan dalam lafal. Letak kesyirikannya ada pada huruf و (dan) yang mengandung penyetaraan makhluk dengan Allah ﷻ. Jenis perkataan ketiga inilah yang akan menjadi pembahasan kita pada bab ini.

Matan Hadits ke-1:

Qutaibah berkata:

 أَنَّ يَهُوْدِيًّا أَتَى النَّبِيَّ، فَقَالَ: إِنَّكُمْ تُشْرِكُوْنَ تَقُوْلُوْنَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَتَقُوْلُوْنَ: وَالْكَعْبَةِ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ إِذَا أَرَادُوْا أَنْ يَحْلِفُوْا أَوْ يَقُوْلُوْا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَأَنْ يَقُوْلُوْا: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah, lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik, kalian mengucapkan: ‘atas kehendak Allah dan kehendakmu’ dan mengucapkan: ‘demi Ka’bah’, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan: ‘demi Rabb Pemilik ka’bah’, dan mengucapkan: ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu’. (HR. An Nasa’i dan ia nyatakan sebagai hadits shahih)

📃 Penjelasan Hadits ke-1:

Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullah menjelaskan beberapa faedah dari hadits ke-1:

1. Kenapa orang Yahudi disebut Yahudi:

Ada dua alasan yang beliau sebutkan:
1. Karena mereka mengatakan inna hudna (yahud berarti kembali).
2. Kakek mereka Yahudza bin Yakub.

Nabi ﷺ tidak mengingkari kritikan dari Yahudi, karena mereka mengucapkan kebenaran, maka tidak ditolak. Meskipun itu merupakan kritikan celaan, tetapi benar dan tidak dzalim.

2. Disyariatkan rujuk kepada Kebenaran, meskipun yang menyampaikan bukan ahli haq (ahli bathil).

3. Apabila ingin mengingkari sesuatu yang sedang berjalan di tengah masyarakat, hendaknya diberikan pengganti yang lebih baik. Ungkapkan kebenaran yang dekat dengan yang mereka lakukan, jika memungkinkan.

Pada hadits ini, mereka orang Yahudi melakukan kesyirikan besar, tetapi mengkritik kesyirikan kecil kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, seseorang atau suatu kaum lebih mendahulukan sesuatu yang kecil daripada yang besar.


 Bab-44 | Ucapan Seseorang "Atas Kehendak Allah ﷻ dan Kehendakmu" #2

 

 Sisi pendalilan dari hadits ini adalah:

  1. Nabi ﷺ membenarkan ucapan Yahudi bahwasanya hal itu adalah menjadikan sekutu bagi Allah ﷻ dan kesyirikan.
  2. Nabi ﷺ memerintahkan mengucapkan مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ - ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu’ dan melarang pengucapan ‘demi Ka’bah’ atau مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ, dan larangan menunjukkan keharaman.

Faedah hadits menurut Ustadz Firanda Hafidzahullah dalam syarahnya:

1. Terkadang sifat hasad dari orang lain bermanfaat bagi kita.

2. Bantahan terhadap Qadariyyah

Qadariyah merupakan kelompok yang meyakini bahwa manusia punya kehendak yang merdeka, dan kehendaknya tidak di bawah kehendak Allah ﷻ, Allah ﷻ hanya sekadar mengetahui. Mereka beranggapan bahwa tidak masuk akal jika kehendak manusia di bawah kehendak Allah ﷻ. Mereka berpendapat bahwa jika kehendak manusia di bawah kehendak Allah ﷻ , maka untuk apa Allah ﷻ mengazab manusia yang berbuat dosa sementara semuanya atas kehendak Allah ﷻ. Sebab keyakinan mereka inilah yang membuat mereka menolak bahwa kehendak manusia di bawah naungan kehendak Allah ﷻ, dan manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri di luar dari kehendak Allah ﷻ.

Tentunya, bantahan terhadap mereka adalah Allah ﷻ punya kehendak dan manusia juga punya kehendak. Sesungguhnya kita merasakan bahwa kita memiliki kehendak, akan tapi kita tahu persis bahwa kehendak kita di bawah kehendak Allah ﷻ. Buktinya adalah betapa sering kita menginginkan sesuatu namun kita tidak pernah berhasil meraihnya.

Di antara penyimpangan masalah takdir, sebagian dai terjerumus dalam pemahaman Qadariyah. Qadariyah ada dua model:

Pertama: Ghulatul Qadariyah (Qadariyah yang ekstrem). Mereka adalah kelompok Qadariyah yang mengingkari ilmu Allah ﷻ yang azali. Mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah sesuatu itu terjadi. Mereka mengatakan bahwa Allah ﷻ tidak mengetahui masa depan.

Penyimpangan jenis ini terjadi di zaman Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhu, sebagaimana kita ketahui bahwa Qadariyah yang pertama bernama Ma’bad Al-Juhani, dan keyakinan seperti ini hukumnya adalah kafir. (Lihat: Majmu’ Fataawa, Ibnu Taimiyah (7/385), dan mereka hanya dikategorikan ahli bid’ah, tidak sampai dikafirkan).

Kedua: Qadariyah yang tidak ekstrem. Kelompok kedua adalah kelompok Qadariyah yang tidak ekstrem, dimana mereka menetapkan ilmu Allah ﷻ yang azali, namun mereka mengingkari bahwa Allah ﷻ menciptakan hamba beserta perbuatannya. Maksudnya adalah mereka berkeyakinan bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri, dan Allah ﷻ tidak memiliki campur tangan atas perbuatan hambanya. (Lihat: Majmu’ Fataawa, Ibnu Taimiyyah (7/381))

Dari situ kemudian ada di antara mereka yang membagi takdir menjadi dua: takdir yang mutlak (terpaksa) dan takdir ikhtiari (pilihan).

Takdir terpaksa seperti warna rambut, bentuk wajah, dan yang lainnya, sedangkan takdir pilihan adalah hamba memilih apa yang mereka akan lakukan. Sehingga, bagi mereka Allah ﷻ hanya mengetahui apa yang mereka akan lakukan, namun Allah ﷻ tidak campur tangan dalam perbuatan sang hamba tersebut. Ibaratnya adalah seperti seorang guru yang memiliki 10 orang murid. Guru tersebut tidak ikut campur tangan dengan keberhasilan murid-muridnya, akan tetapi setelah dia mengajar maka dia bisa mengetahui bahwa siapa di antara murid-muridnya yang akan mendapat peringkat satu, dua, dan seterusnya, bahkan yang tidak lulus pun dia tahu. Demikianlah pemahaman Qadariyah yang membatasi Allah dengan hanya sekadar mengetahui, padahal yang benar adalah semua yang terjadi dalam alam semesta ini terjadi atas kehendak Allah ﷻ. Lihatlah Iblis, dia bisa hidup lama dan masuk ke dalam neraka karena kehendak Allah ﷻ. Bukankah Iblis juga punya kehendak? Tentu punya, akan tetapi kehendak Iblis berada di bawah kehendak Allah ﷻ. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dengan orang yang membagi-bagi Takdir dengan model seperti ini, karena hal tersebut merupakan pemahaman Qadariyah.

Maka dari itu, dalam lafal ini Nabi Muhammad ﷺ memberikan bantahan kepada Qadariyah yang meyakini bahwasanya manusia memiliki kehendak yang merdeka dan Allah ﷻ hanya sekadar mengetahui. Keyakinan Qadariyah adalah keyakinan yang salah, karena yang benar adalah semua sudah ditakdirkan oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ telah menciptakan surga dan neraka beserta penghuninya masing-masing, hanya saja berbicara tentang siapa yang menjadi penghuni surga dan neraka itu adalah rahasia Allah ﷻ.

3. Bantahan terhadap Jabariyah

Jabariyah adalah kelompok yang mereka menolak kehendak seorang hamba. Mereka berpendapat bahwa seorang tidak memiliki qudrah, sehingga setiap gerakan seluruh hamba di alam semesta ini seluruhnya terjadi dengan terpaksa, di luar dari kehendak hamba tersebut. Ibaratnya adalah seperti bulu yang tertiup angin, bulu tersebut tidak bisa apa-apa, sehingga dia akan bergerak ke mana pun arah angin bertiup. Intinya, Jabariyah menganggap bahwa semua kita di dunia ini telah diatur oleh Allah ﷻ dan tidak punya kehendak, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa, dan semua gerakan adalah gerakan terpaksa. Oleh karenanya mereka dinamakan Jabariyah, karena kata itu sendiri artinya adalah terpaksa.

Adapun bantahan terhadap kelompok Jabariyah ini adalah Nabi Muhammad ﷺ dalam lafal ini sendiri menyebutkan bahwa manusia itu memiliki kehendak. Dan kita Ahlussunnah waljamaah meyakini akan hal tersebut, bahwa kita manusia memiliki kehendak. Bukankah saat ini kita memiliki pilihan? Kita bisa memilih untuk belajar atau tidak. Bahkan kita punya pilihan apakah kita mau berdiri atau duduk. Kalau kita mau berdiri maka kita bisa berdiri, dan jika kita memilih untuk duduk maka kita bisa duduk. Ini artinya kita memiliki kehendak dan kita bisa memilih.

*****

📖 Matan Hadits ke-2:

Diriwayatkan Ahmad, bahwasanya Ibnu Abbas menuturkan:

أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَلنَّبِيِّ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، فَقَالَ: أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا؟ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi : “atas kehendak Allah dan kehendakmu”, maka Nabi bersabda: “apakah kamu telah menjadikan diriku sekutu bagi Allah? Hanya atas kehendak Allah semata”.

📃 Penjelasan Hadits ke-2:

Mencintai Nabi ﷺ harus sesuai Syariat

Mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebuah kewajiban. Bahkan, beliau harus lebih dicintai dari segalanya sampai pun dari diri kita sendiri. Menunjukkan bukti dari kecintaan itu pun tak kalah wajibnya, karena pengakuan cinta saja tak ada gunanya.

Akan tetapi, yang perlu dipahami bahwa mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendaknya dengan cara yang benar. Tidak boleh sampai ghuluw, berlebihan.

Kita tidak ragu bahwa para sahabat sangat mencintai Nabi Muhammad ﷺ , bahkan mereka lebih cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ daripada orang tua mereka, daripada kerabat mereka, dan lebih dari diri mereka sendiri. Akan tetapi terkadang mereka salah dalam pengagungan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana dalam riwayat ini. Saking mereka mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ sampai-sampai mereka mengatakan "Karena kehendak Allah dan kehendak engkau wahai Muhammad". Akan tetapi karena ungkapan tersebut salah, maka beliau menegur dan membenarkannya.

Para sahabat tidaklah meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ ikut menciptakan bersama Allah ﷻ, sahabat tidak meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ ikut mengatur alam semesta bersama Allah ﷻ, akan tetapi mereka meyakini bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah ﷻ. Hanya saja karena sekadar mereka mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ sehingga mereka ungkapkan dengan kata-kata yang terkadang berlebihan, yang kemudian Nabi Muhammad ﷺ tegur karena perkataan tersebut termasuk syirik kecil.

Jadi, tidak semua hal bisa kita ungkapkan secara serampangan dengan alasan cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Tidak boleh seorang yang kagum kepada Nabi Muhammad ﷺ kemudian memuji beliau dengan seenaknya saja. Kalau mengatakan "Karena kehendak Allah dan kehendak engkau wahai Muhammad" saja sudah termasuk syirik, maka bagaimana lagi dengan ungkapan yang lebih daripada itu? Seperti orang yang datang ke kuburan Nabi Muhammad ﷺ kemudian meminta kepada beliau. Atau seperti perkataan seorang penyair,

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّثيَا وَضَرَّتهَا ... وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوحِ وَالْقَلَمِ

"Di antara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat-Nya, dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan pena"

Kalimat seperti ini jelas-jelas salah. Kalau sekiranya dunia dan akhirat dari Nabi Muhammad ﷺ, maka apa yang berasal dari Allah ﷻ? Kemudian bagaimana bisa di antara ilmu beliau adalah ilmu Lauhul Mahfuzh? Sementara Nabi Muhammad ﷺ dalam banyak riwayat tidak mengetahui hal-hal gaib. Demikian pula seperti perkataan yang meriwayatkan hadits palsu berbunyi bahwa Allah ﷻ berfirman,

لَؤْلَاكَ لَمَا خُلِقَت الأَفْلَاكُ

"Jika bukan karena engkau Muhammad, aku tidak akan menciptakan alam semesta ini."

(Silsilah al-Ahadits Adh-Dha'ifah wa Al-Maudhu'ah No. (282), Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini maudhu', Demikian juga dalam Al-Fawaid Al-Majmu'ah Karya Asy-Syaukani (1/326)).

Subhanallah, sungguh perkataan mereka seperti ini sangat berbahaya, karena asalnya Allah menciptakan alam semesta untuk bertauhid kepada-Nya.

Pada suatu kesempatan, penulis pernah mendapati seseorang yang berkata bahwa Allah ﷻ menciptakan nur Muhammad, dan Nur Muhammad berasal dari nur Allah ﷻ. Subhanallah, jika demikian maka zat Nabi Muhammad ﷺ bagian dari zat Allah ﷻ. ketahuilah bahwa orang yang tidak sengaja mengucapkan perkataan yang seperti ini maka itu adalah kesyirikan, adapun kalau dia mengucapkan dengan sengaja maka itu adalah kekufuran. Demikianlah bentuk orang-orang yang cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ namun secara berlebihan. Padahal Anas bin Malik pernah berkata,

مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ رُؤْيَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمَّ يَقُومُوا إِلَيْهِ، لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

"Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para sahabat) cintai selain dari Rasulullah ﷺ. Apabila melihat beliau, mereka tidak bangkit karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukai yang demikian."

(HR. Bukhari No. 946 dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Lihatlah, para sahabat sangat cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, akan tetapi ketika mereka Ingin ungkapkan cinta mereka, maka mereka akan menimbang dengan timbangan syariat. Lantas bagaimana dengan sebagian orang yang melakukan acara maulid, kemudian meyakini bahwa ruh Nabi Muhammad ﷺ hadir sehingga mereka berdiri menyambut kedatangannya? Bukankah yang demikian adalah khurafat?

Imam Asy-Syaukani memiliki buku tentang hukum maulid, dan di dalam buku tersebut beliau menjelaskan bahwa di antara kemungkaran dalam maulid Nabi Muhammad ﷺadalah meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ hadir dalam acara tersebut.

Asy-Syaukani berkata,

"Sesungguhnya salah seorang penuntut ilmu yang spesial duduk di hadapanku untuk membaca sebagian ilmu-ilmu ijtihad. Dia menceritakan kepadaku bahwasanya ia hadir di malam tersebut dari bulan ini di sebagian acara maulid. Maka aku pun mengingkarinya dan aku merasa sedih darinya. Ia pun bercerita : "Telah hadir bersama kami (dalam acara maulid) sayyid fulan, fulan, dan fulan". Maka aku bertanya kepadanya tentang gambaran yang terjadi dengan kehadiran para said tersebut. Dia menjawab secara global, "Acara tersebut dimulai dengan dibacakan maulid oleh seorang pedagang, dan para sayyid tersebut terlena dan mendengarkan hingga sampai di antara mereka ada yang tidak sadar, lalu ia pun bangun seakan-akan baru terlepas dari ikatan seraya berkata : marhaban yaa nuuro 'ainii marhaban (selamat datang wahai cahaya mataku, selamat datang). Maka dengan berdirinya lelaki tersebut berdiri juga seluruh hadirin dari para sayyid dan selainnya. Lelaki tersebut bersuara keras sambil berdiri, begitu juga para hadirin. Ketika salah seorang dari hadirin kelelahan ia pun duduk, maka sebagian dari para tokoh tersebut berteriak mengingatkannya, dan telah terlihat darinya tanda-tanda marah, dia berkata kepada orang yang duduk tersebut, "'Berdirilah! Ini bukan tempat bermain !'", Demikianlah lafal yang ia ucapkan. Mereka tidak ragu bahwasanya Rasulullah ﷺ tiba kepada mereka pada saat itu. Kemudian mereka pun saling bersalaman, lalu datang sekelompok orang dalam keadaan terburu-buru di tangan-tangan mereka terdapat berbagai macam minyak wangi, seakan-akan mereka mengambil kesempatan dengan singgahnya Rasulullah -innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun-, dimanakah kemuliaan agama? Jika seandainya kemuliaan agama telah hilang, maka ke manakah rasa malu, muruah (kehormatan) dan akal sehat?"

[Risaalah fi Hukmi al-Maulid, sebagaimana tercantum di Al-Fath ar-Rabbaani fi Fataawa Al-Imaam Asy-Syaukaani, dilkumpulkan dan ditahqiq oleh Muhammad Subhi Hassaan Hallaaq (2/1090)].

Ketahuilah bahwa bukan seperti itu bentuk cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ yang benar.

Referensi: Bekal Islam - Syarah Kitab Tauhid Bab 3 oleh Ustadz Firanda Hafidzahullah

 •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Kajian Kitab Tauhid