Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

📚┃ Materi : Merawat Benih-benih Cinta
🎙️┃ Pemateri : Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden, Lc Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 13 September 2026 M / 02 Rabi’ul Akhir 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Karim Pabelan Kartasura


Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu, dimana majelis ilmu adalah majelis terbaik di sisi Allah ﷻ, yaitu majelis yang dibacakan ayat-ayat dan sunnah Nabi ﷺ.

Kajian pada kali ini membahas masalah yang berkaitan dengan pernikahan dan hubungan suami isteri. Agar pernikahan menjadi langgeng dan awet.

1. Pasangan menjadi sumber ketenangan satu dengan yang lain

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum Ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Sakinah yaitu ketenangan. Zaman Bani Israil, mereka meninggalkan sakinah dalam bentuk tabut (peti) yang menjadikan ketenangan dalam Bani Israil hingga selalu menang dalam peperangan. Karena Kekuatan dalam peperangan adalah sakinah. Sehingga malaikat membantu peperangan dengan menjadikan hati musuh takut dan gelisah, hingga kalah.

Maka, dalam perkawinan diperlukan sakinah yang diberikan Allah ﷻ. Mawaddah berkaitan dengan cinta yang sifatnya batin dan rahmah berupa kasih sayang yang sifatnya bisa lahir. Maka, cinta tidak harus ada dalam pernikahan, jika kasih sayang ada, maka pernikahan akan tetap jalan.

Perbaiki hubunganmu dengan Allah ﷻ, maka Allah ﷻ akan perbaiki hubunganmu dengan manusia. Inilah maksud Mawaddah dan rahmah.

Urusan hati berkaitan dengan karunia Allah ﷻ:

لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

Seandainya engkau (Nabi Muhammad) menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, (Al-Anfal Ayat 63)

Maka, yang melengketkan suami isteri adalah Allah ﷻ.

Lihatlah Khadijah menenangkan Nabi Muhammad ﷺ saat menerima wahyu pertama di Gua Hira dengan cara menyelimuti beliau, mendengarkan cerita kekhawatirannya, dan mengingatkan kembali segala bentuk kebaikan yang pernah beliau lakukan.

Meneguhkan Hati dengan Fakta: Khadijah menolak kekhawatiran Nabi dengan berkata tegas: "Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selama-lamanya."

Khadijah mengantarkan Nabi menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang berilmu, untuk mendapatkan kejelasan tentang malaikat yang datang.

Sakinah menurut Ar-Razi ada dua ketenangan batin dan fisik (tenang saat bergejolaknya syahwat).

Firman-Nya dalam surat Al-Furqan ayat 74:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan (suami/istri) kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan: 74)

Dalam al-Quran disebut qurrota a'yun sebanyak 3 kali dan 4 kali dalam hadits.

Makna asal kata qurrah adalah dingin, air di mata ada 2: sejuk (air mata kebahagiaan) dan panas (air mata kesedihan).

Qurrah juga bermakna menetap. Maka secara bahasa, qurrata a'yun adalah wanita membuatmu puas sehingga kamu tidak mencari yang lain. (lisanul Arab).

Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, maknanya isteri dan anak-anak menjadi orang yang bertakwa dan suami menjadi pemimpinnya.

Kata qurrata a'yun (قُرَّةَ أَعْيُنٍ) dalam Al-Qur’an bisa bermakna:

  1. QS. Al-Furqan [25] ayat 74: Doa memohon pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati.
  2. QS. Al-Qashash [28] ayat 9: Perkataan istri Firaun (Asiyah) kepada Firaun tentang bayi Musa alaihissalam agar dijadikan penyejuk mata.
  3. QS. As-Sajdah [32] ayat 17: Penjelasan tentang balasan bagi orang yang beramal saleh berupa nikmat yang menyejukkan pandangan mata sebagai rahmat tersembunyi.

Dalam hadits Isteri yang qurrata a'yun adalah:

1. Menyejukkan pandangan mata.
2. Menurut suami
3. Tidak menyelisihi suami dalam hal yang tidak disukai suami.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Larangan Memukul yang Merusak

Suami juga harus membuat nyaman isteri, selalu membantu dan tidak pernah memukul.

Rasulullah ﷺ tidak pernah membalas urusan pribadi tetapi akan membalas jika melecehkan kehormatan Allah ﷻ. Hadis ini diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mukminin,

‎وَاللَّهِ مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ

“Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi. Tapi jika ajaran Allah dilanggar, maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah).” (HR. Bukhari no. 6288)

Tidak boleh memukul ada 3 tempat: di wajah atau kiasannya seperti area jantung, kemaluan, tidak meninggalkan luka6dan tidak boleh lebih dari 10.

Berkenaan dengan memukul area wajah, secara tegas Rasulullah ﷺ telah melarangnya, berdasarkan sabda beliau ﷺ :

إذَا قاتَلَ أحَدُكُمْ فلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ.

“Jika salah seorang dari kalian berperang (memukul), maka hendaklah ia menghindari bagian wajah” (HR. Bukhari : 2372).

Sehingga dijelaskan oleh Imam Badruddin al-‘Aini rahimahullah dalam kitab beliau Umdatul Qori:

إِنَّه إِذا وَجب اجتناب الْوَجْه عِنْد الْقِتَال مَعَ الْكَافِر، فاجتناب وَجه العَبْد الْمُؤمن أوجب.

“Jika berperang dengan orang kafir saja wajib menghindari memukul bagian wajah, tentunya menghindari memukul bagian wajah seorang hamba yang beriman lebih wajib lagi” (Umdatul Qori: 13/115).

2. Muasyarah bil makruf (QS. An-Nisa Ayat 19).

Istilah mu'asyarah (مُعَاشَرَة) dalam tata bahasa Arab berasal dari wazan (pola kata) Faa'ala - Yufaa'ilu - Mufaa'alatan (فَاعَلَ - يُفَاعِلُ - مُفَاعَلَةً).

Kata Kerja Turunan (Tsulatsi Mazid): عَاشَرَ - يُعَاشِرُ - مُعَاشَرَةً ('Aasyara - Yu'aasyiru - Mu'aasyaratan). Wazan ini memiliki makna musyarakah (saling/interaksi dua arah). Jadi, mu'asyarah artinya saling bergaul, saling berhubungan, atau hidup bersama secara timbal balik.

Mu‘asyarah bil ma‘ruf adalah prinsip bergaul, berinteraksi, atau memperlakukan pasangan hidup (suami istri) dengan cara yang baik, patut, santun, dan saling menghargai.

Maasyiru hunna bil makruf - yang diawali oleh suami, isteri sifatnya selalu menunggu.

Bil Makruf bermakna baik sesuai syari'at ataupun adat setempat. Sebagaimana kamu ingin dihormati, maka hormatilah dia. Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma berkata : Sebagaimana kamu menghendaki isterimu berhias maka berhiaslah kamu didepannya.

Penafsiran Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu mengenai laki-laki yang memiliki kelebihan satu derajat di atas wanita merujuk pada firman Allah ﷻ dalam Surah Al-Baqarah ayat 228:

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan (darajah) di atas istrinya."

Ibnu Abbas memberikan penjelasan yang sangat mendalam dan berakhlak mulia mengenai makna "satu derajat" tersebut.

"Darajat (satu derajat lebih tinggi) di sini adalah anjuran bagi para suami untuk memperlakukan istrinya dengan sangat baik, melapangkan harta dan akhlaknya bagi sang istri. Serta bersedia menggugurkan sebagian hak suami yang ada pada istrinya, sementara sang suami tetap menunaikan seluruh kewajibannya kepada istri."

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bertutur,

إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau.” (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany)

Padahal pintu surga ada delapan, dan dia bebas memilih pintu mana saja.

Larangan Isteri Menolak Suami

Diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih tingkat tertinggi bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح

“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya dan sang istri menolak sehingga semalaman sang suami marah, maka para malaikat melaknat istri tersebut sampai pagi” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Makna lahir (literal) hadis ini dapat menunjukkan bahwa melayani keinginan seksual suami merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan istri kapan pun sang suami menghendaki sehingga sang istri boleh dipaksa jika menolaknya.

Hak Isteri: Nafkah Dzahir

  • Boleh mengambil uang suami jika pelit sebagaimana hadits berikut.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Hindun binti ‘Utbah, istri dari Abu Sufyan, telah datang berjumpa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat pelit. Ia tidak memberi kepadaku nafkah yang mencukupi dan mencukupi anak-anakku sehingga membuatku mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah berdosa jika aku melakukan seperti itu?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُذِى مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِى بَنِيكِ

“Ambillah dari hartanya apa yang mencukupi anak-anakmu dengan cara yang patut.” (HR. Bukhari, no. 5364; Muslim, no. 1714)

Hak suami adalah kewajiban isteri dan hak isteri adalah kewajiban suami.

Maka, jika keduanya menunaikan haknya, maka tidak akan ada yang saling menuntut.

Makna wanita dijadikan dari Tulang Rusuk

Rasulullah ﷺ bersabda agar berbuat baik kepada wanita karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok di bagian atasnya.

Maknanya:

1. Sesuai hadits, benar-benar dibuat dari tulang rusuk.
2. Makna Kiasan: Ungkapan "tulang rusuk yang bengkok" adalah perumpamaan tentang sifat dan perangai dasar manusia perempuan yang memiliki kekurangan atau kelemahan.

Cara Menghadapinya: Jika suami mencoba meluruskannya dengan paksa, maka ia akan mematahkannya (menghancurkan hubungan atau menyakiti istri). Jika dibiarkan, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, para suami diperintahkan untuk membimbing dengan lembut dan penuh kesabaran.

Wanita bagai gelas-gelas kaca

Maka, Jadilah suami yang pandai menjaga perasaan istrinya...

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui sebagian istrinya, sementara Ummu Sulaim bersama mereka. Maka beliau berkata,

وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ، رُوَيْدَكَ سَوْقًا بِالقَوَارِيرِ

“Hati-hati wahai Anjasyah, pelan-pelanlah jika sedang mengawal gelas (piala) kaca (maksudnya para wanita, pent.).” (HR. Bukhari no. 6149 dan Muslim no. 2323)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan Anjasyah agar tidak terlalu semangat dalam melantunkan syair ketika menggiring unta. Karena kalau terlalu semangat, unta-unta itu akan berjalan dengan sangat cepat. Padahal, di dalam rombongan ada para wanita. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingatkan agar Anjasyah memelankan lantunan syairnya, karena dia sedang mengawal gelas (piala) kaca, yaitu para wanita yang ada dalam rombongan.

3. Mereka adalah pakaian untuk pasangan masing-masing

Firman-Nya:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.

Maknanya:

  1. Pakaian adalah bentuk ketenangan.
  2. Sisi kesamaan pakaian, lengket dan melingkupi. Juga ditafsirkan hubungan suami isteri.
  3. Mencegah orang yang memakainya dari sesuatu yang tidak halal (sebagaimana dikatakan Al-Baghawi).
    Sebagaimana hadits Nabi ﷺ:

قَالَ جَابِرٌ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا أَحَدُكُمْ أَعْجَبَتْهُ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ فِى قَلْبِهِ فَلْيَعْمِدْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِى نَفْسِهِ ». رواه مسلم.

Jabir berkata, saya pernah mendengar Nabi saw. bersabda, “Jika salah satu dari kalian dibuat heran oleh seorang wanita, lalu wanita itu jatuh di dalam hatinya (membangkitkan syahwatnya), maka hendaklah ia bermaksud menuju istrinya, lalu berhubungan badanlah dengannya, karena sungguh hal itu dapat menolak apa yang ada di dalam dirinya (mengendalikan nafsunya). (H.R. Muslim).

  1. Melindungi dari bahaya.
  2. Menutup aibnya.

Jangan fokus pada kekurangannya tetapi lihatlah kebaikannya

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyatakan:

أقامت أم صَالِح معي عشرين سنة فما اختلفت أنا وهي فِي كلمة

Ummu Sholih tinggal bersamaku selama 20 tahun, aku dan dia tidak pernah berselisih meskipun hanya 1 kata (Thobaqot al-Hanabilah)

Abu Darda berkata jika aku marah kamu (tugasmu menyenangkanku) dan jika kamu marah, tugasku menyenangkankanmu.

Hadits qudsi sebagai kesimpulan:

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «قَالَ اللهُ -عَزَّ وجَلَّ-: المُتَحَابُّون فِي جَلاَلِي، لَهُم مَنَابِرُ مِن نُورٍ يَغْبِطُهُم النَبِيُّونَ والشُهَدَاء».
[صحيح] - [رواه الترمذي وأحمد]

Dari Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau bersabda, "Allah berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan- Ku, mereka memiliki mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang yang syahid."

[Hadis sahih] - [Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad]

As-Syaukani rahimahullah tidak tidur memikirkan hadits ini, heran karena keutamaan yang membuat iri para nabi dan syuhada. Maka aku menemukan :

  1. Ayah ke anak: ada alasan supaya jika tua ada yang mengurus.
  2. Anak ke ayah: ada alasan nafkah.
  3. Isteri ke suami: karena alasan nafkah lahir.
  4. Suami ke isteri: karena alasan nafkah lahir.
  5. Cinta umum dalam masyarakat yang hanya urusan dunia.

Semuanya itu ada Tujuan dunia. Yang jika tujuan dunia itu dibuang, maka hilanglah cintanya.

Maka, cinta karena Allah ﷻ tidak ada urusannya dengan dunia tetapi karena Allah ﷻ, maka pembahasannya bukan masalah dan kewajiban, tetapi karena Allah ﷻ.

merawat benih cinta

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم