Menu Al-Qur'an

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". (Al-Hijr: 9).
Baca Al-Qur'an Digital Mushaf Kuno Tafsir Al-Qur'an Tajwid Murotal Juz 30 Download

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Al-Qur'an Bukan Hanya Sekedar Dibaca.
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Faaza Ridwan Lc. MH. hafizhahullahu.
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Ba'da Maghrib], 24 April 2026 M / 6 Dzulqa'idah 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo.



Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.

Sangat disayangkan betapa banyak diantara umat Islam yang begitu semangat membaca Al-Qur’an, tetapi sangat sedikit yang merenungi dan mentadabburinya. Padahal inti tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk diketahui kandungan maknanya dan diamalkan.

Al-Kitab atau Al-Qur’an disebut dalam Al-Qur'an sebagai kitab yang Mubarak (diberkahi), disebut sebanyak 4 tempat dalam Al-Qur’an:

1. Allah ﷻ berfirman :

كِتابٌ أَنْزَلْناهُ إِلَيْكَ مُبارَكٌ ‌لِيَدَّبَّرُوا آياتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبابِ

“(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mengambil pelajaran.” (Shad : 29)

2. Allah ‘azza wa jalla berfirman :

وَهذا كِتابٌ أَنْزَلْناهُ مُبارَكٌ

“Ini (Al-Qur’an) adalah kitab suci yang telah Kami turunkan lagi diberkahi (Al-An’am : 92)

3. Firman-Nya:

وَهذا كِتابٌ أَنْزَلْناهُ مُبارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati.” (Al-An’am : 155)

4. Allah ﷻ berfirman:

وَهٰذَا ذِكْرٌ مُّبٰرَكٌ اَنْزَلْنٰهُۗ اَفَاَنْتُمْ لَهٗ مُنْكِرُوْنَࣖ ۝٥٠

Ini (Al-Qur’an) adalah peringatan yang diberkahi yang telah Kami turunkan. Maka, apakah kamu menjadi pengingkar terhadapnya? (QS. Al-Anbiya ayat 50).

Keberkahan maknanya adalah bertambahnya kebaikan. Bentuk Mubarak dalam ayat-ayat di atas bentuknya nakirah (tanpa ال) yang maknanya umum. Maksudnya kebaikan yang banyak secara umum, seseorang yang mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, waktunya akan diberkahi, kecerdasannya akan meningkat, harta dan keluarganya InshaAllah juga akan diberikan keberkahan.

Keberkahan lainnya adalah besarnya pahala dalam membaca Al-Qur’an. Sabda Nabi ﷺ: Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَن قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, dia mendapatkan satu pahala,dan satu pahala dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala, aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf..”

[ HR Tirmidzi : 2910, hadits dishahihkan oleh Syekh Al-Albaniy di silsilah Al-ahadits As-shahihah : 660 ]

  • Orang yang membaca Al-Qur’an dia akan mendapatkan pahala yang sangat banyak dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Dengan membaca Al-Quran, setan Al-Khannas (jenis setan yang menggoda jiwa membisiki hati) akan lari terbirit-birit.

Perintah Tadabbur Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Dalam ayat lainnya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisaa’: 82)

Firman-Nya:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Dalam ayat di atas, terdapat kata tanya yang merupakan Istifham inkari. Istifham Inkari (استفهام إنكاري) adalah gaya bahasa Arab (dalam ilmu Balaghah) berupa kalimat tanya yang tujuannya bukan untuk mencari informasi, melainkan untuk mengingkari, menyangkal, atau menegaskan bahwa sesuatu itu tidak benar/tidak mungkin terjadi.

Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan bagi manusia yang menggunakan nalar dan mengikuti hati nurani. Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung yang diberi akal, pikiran, dan perasaan seperti manusia; pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah, karena gunung-gunung itu akan menggunakan nalar, rasa, dan nuraninya dalam memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Dalam surat Al-Hasyr Ayat 21, Allah ﷻ berfirman:

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

Makna Tadabbur

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mendefinisikan tadabbur sebagai berikut ini.

التأمل في الألفاظ للوصول إلى معانيها

“Merenungkan lafal-lafal untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya”

Kata tadabbur berasal dari wazan At-Tafa’ul (التفعل) yang berfungsi menunjukkan kepada makna membebani perbuatan dan meraih sesuatu setelah mengerahkan usaha yang sungguh-sungguh.

Dengan demikian, orang yang bertadabur adalah orang yang memperhatikan suatu perkara secara berulang-ulang atau dari berbagai sisi.

Cara Mentadabburi Al-Qur’an

1. Istiqamah

Jika seseorang ingin mentadabburinya, maka perlu membersihkan hati agar tidak ada kotoran dan penyakit hati.

Jika seseorang mempelajari dan memahami Al-Qur'an dilandasi ketakwaan, ia akan mendapatkan kemampuan (furqan) untuk menimbang perkara, sehingga mampu memilih tindakan yang baik dan menghindari yang buruk dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menghadirkan hati

Demikian yang dilakukan Nabi ﷺ. Beliau pernah meminta Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu untuk dibacakan Al-Qur'an.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قَالَ لِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « اقْرَأْ عَلَىَّ » .قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ « فَإِنِّى أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِى » . فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ ( فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا ) قَالَ « أَمْسِكْ » . فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacalah Al Qur’an untukku.”

Maka aku menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Qur’an untukmu, bukankah Al Qur’an diturunkan kepadamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku suka mendengarnya dari selainku.”

Lalu aku membacakan untuknya surat An Nisaa’ hingga sampai pada ayat (yang artinya), “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An Nisa’: 41).

Beliau berkata, “Cukup.” Maka aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau dalam keadaan bercucur air mata.” (HR. Bukhari no. 4582 dan Muslim no. 800).

Nabi ﷺ dalam hal ini istima' bukan sima'. Perbedaan utama antara sima' dan istima' terletak pada kesengajaan dan kefokusan. Sima' (سمع) adalah mendengar secara tidak sengaja, pasif, atau sekadar suara yang masuk ke telinga tanpa pemahaman khusus. Sementara istima' (استمع) adalah menyimak secara aktif, sengaja, fokus, dan bertujuan memahami makna.

3. Mengagungkan kedudukan Al-Qur’an

Jangan jadikan Al-Qur’an hanya sebagai penghias rumah. Baik dalam memperhatikan sikap dengan fisik Al-Qur’an, tidak diletakkan begitu saja.

Jika kita mengagungkan Al-Qur’an, maka akan memudahkan pandangan kita dalam mentadaburinya.

Seperti halnya pandangan orang mukmin terhadap dosa yang seperti gunung akan menimpanya. Tidak menganggap enteng.

4. Tarassul

Yaitu mengucapkan tasbih jika bertemu ayat yang menakjubkan, jika bertemu ayat-ayat yang berkaitan dengan neraka, berdo'a meminta perlindungan, jika membaca ayat tentang surga maka memohon dimasukkan Surga 3 kali.

5. Membaca Al-Qur’an adalah munajat

Yaitu interaksi dengan Allah ﷻ. Berdasarkan hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah ﷺ pernah menegur sahabat karena diam saat dibacakan surat Ar-Rahman, sementara bangsa Jin menjawab dengan lebih baik.

Jawaban jin atas ayat Fabiayyi ala'i robbikuma tukazziban adalah: “La bisyai-in min ni'amika rabaana nakdzibu falakal hamdu” (Tidak ada sedikit pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian).

6. Lakukan di waktu yang tepat

Dimulai di malam hari. Mentadabburi Al-Qur'an di malam hari adalah waktu terbaik untuk merenungi ayat Allah karena suasana tenang, minim distraksi, dan merupakan waktu yang diberkahi. Aktivitas ini meningkatkan ketenangan hati, memperkuat keimanan, menghindarkan dari sifat lalai, serta dianjurkan dilakukan dalam shalat malam (tahajud) untuk meresapi makna.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk selalu mentadabburi Al-Qur’an dan, mengamalkannya. Aamiin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم