بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى - Staff Pengajar Ponpes Al-Madinah Surakarta
🗓┃Pertemuan 3: Kamis, 30 April 2026 / 13 Dzulqa’dah 1447 H
🕰┃ Ba'da Isya [19:30-20:30]
🕌┃ Masjid Ponpes Joglo Qur'an - Boyolali
Tadabbur Surat Al-Muzzammil | Ayat 20
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Sesungguhnya salah satu faedah dalam menuntut ilmu adalah dimudahkan jalan menuju ke surga. Kembali pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
📖 Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Muzzammil:
٢٠. ۞ إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَىِ ٱلَّيْلِ وَنِصْفَهُۥ وَثُلُثَهُۥ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَقْرِضُوا۟ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
ɪɴɴᴀ ʀᴀʙʙᴀᴋᴀ ʏᴀ'ʟᴀᴍᴜ ᴀɴɴᴀᴋᴀ ᴛᴀQỤᴍᴜ ᴀᴅɴĀ ᴍɪɴ ṠᴜʟᴜṠᴀʏɪʟ-ʟᴀɪʟɪ ᴡᴀ ɴɪṢꜰᴀʜỤ ᴡᴀ ṠᴜʟᴜṠᴀʜỤ ᴡᴀ ṬĀ`ɪꜰᴀᴛᴜᴍ ᴍɪɴᴀʟʟᴀŻĪɴᴀ ᴍᴀ'ᴀᴋ, ᴡᴀʟʟĀʜᴜ ʏᴜQᴀᴅᴅɪʀᴜʟ-ʟᴀɪʟᴀ ᴡᴀɴ-ɴᴀʜĀʀ, 'ᴀʟɪᴍᴀ ᴀʟ ʟᴀɴ ᴛᴜḤṢỤʜᴜ ꜰᴀ ᴛĀʙᴀ 'ᴀʟᴀɪᴋᴜᴍ ꜰᴀQʀᴀ`Ụ ᴍĀ ᴛᴀʏᴀꜱꜱᴀʀᴀ ᴍɪɴᴀʟ-Qᴜʀ`Āɴ, 'ᴀʟɪᴍᴀ ᴀɴ ꜱᴀʏᴀᴋỤɴᴜ ᴍɪɴɢᴋᴜᴍ ᴍᴀʀḌĀ ᴡᴀ ĀᴋʜᴀʀỤɴᴀ ʏᴀḌʀɪʙỤɴᴀ ꜰɪʟ-ᴀʀḌɪ ʏᴀʙᴛᴀɢỤɴᴀ ᴍɪɴ ꜰᴀḌʟɪʟʟĀʜɪ ᴡᴀ ĀᴋʜᴀʀỤɴᴀ ʏᴜQĀᴛɪʟỤɴᴀ ꜰĪ ꜱᴀʙĪʟɪʟʟĀʜɪ ꜰᴀQʀᴀ`Ụ ᴍĀ ᴛᴀʏᴀꜱꜱᴀʀᴀ ᴍɪɴ-ʜᴜ ᴡᴀ ᴀQĪᴍᴜṢ-ṢᴀʟĀᴛᴀ ᴡᴀ Āᴛᴜᴢ-ᴢᴀᴋĀᴛᴀ ᴡᴀ ᴀQʀɪḌᴜʟʟĀʜᴀ QᴀʀḌᴀɴ ḤᴀꜱᴀɴĀ, ᴡᴀ ᴍĀ ᴛᴜQᴀᴅᴅɪᴍỤ ʟɪ`ᴀɴꜰᴜꜱɪᴋᴜᴍ ᴍɪɴ ᴋʜᴀɪʀɪɴ ᴛᴀᴊɪᴅỤʜᴜ 'ɪɴᴅᴀʟʟĀʜɪ ʜᴜᴡᴀ ᴋʜᴀɪʀᴀᴡ ᴡᴀ ᴀ'Ẓᴀᴍᴀ ᴀᴊʀĀ, ᴡᴀꜱᴛᴀɢꜰɪʀᴜʟʟĀʜ, ɪɴɴᴀʟʟĀʜᴀ ɢᴀꜰỤʀᴜʀ ʀᴀḤĪᴍ
20. Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir: Sesungguhnya Rabbmu -wahai Rasul- mengetahui bahwa kamu kadang-kadang mengerjakan salat kurang dari dua pertiga malam, kadang-kadang salat setengah malam, dan kadang-kadang sepertiga malam, dan demikian pula segolongan orang-orang beriman yang bersamamu mengerjakan salat malam. Allahlah yang menetapkan ukuran malam dan siang serta menghitung waktu-waktunya. Allah -Subḥānahu- mengetahui bahwa kalian tidak bisa mengitung dan memastikan batas waktunya, lalu kalian merasa berat untuk mendirikan salat pada sebagian besar waktunya demi mencapai apa yang diminta karena itulah Allah mengampuni kalian. Maka, salatlah pada malam hari dengan kadar yang mudah bagi kalian. Allah mengetahui bahwa di antara kalian -wahai orang-orang yang beriman- ada yang akan sakit sehingga mendapat kesulitan karena penyakitnya dan yang lain bepergian untuk mencari rezeki dari Allah, serta yang lain lagi pergi untuk memerangi orang-orang kafir demi mencari keridaan Allah dan agar menjadikan kalimat Allah sebagai yang tertinggi. Mereka ini merasa kesulitan untuk mengerjakan salat malam, sebab itu salatlah pada malam hari dengan kadar yang mudah bagi kalian. Kerjakanlah salat wajib dengan sempurna, keluarkan zakat harta kalian, dan sedekahkan sebagian harta kalian di jalan Allah. Setiap kebaikan yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian akan mendapatinya lebih baik dan pahalanya lebih besar. Mintalah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang bertobat kepada-Nya dan Maha Penyayang terhadap mereka.
📃 Penjelasan:
1. Penetapan sifat Rububiyah Allah ﷻ, pada kata ɪɴɴᴀ ʀᴀʙʙᴀᴋᴀ - Sesungguhnya Rabb-mu. Yaitu keyakinan bahwa Allah ﷻ adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Pemelihara alam semesta.
2. Penetapan sifat Asma wa Shifat Allah ﷻ pada kata ʏᴀ'ʟᴀᴍᴜ - Mengetahui.
Al-Alim (العليم) adalah salah satu nama mulia dalam Asmaul Husna yang berarti Allah ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun tersembunyi, di bumi maupun di langit. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-An'am Ayat 59:
۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ٥٩
Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).
3. Ada 3 pilihan waktu dalam pelaksanaan qiyamul lail:
- Awal malam: Ba'da Isya - Pertengahan malam.
- Pertengahan malam sampai sepertiga akhir malam.
- Sepertiga akhir malam. (Waktu terbaik).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، -حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ-، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟. متفق عليه
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Rabb kita tabāraka wa ta’ālā turun ke langit terendah pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman, ’Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku penuhi, siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni’.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (no. 1145, 7494) dan Muslim dalam kitabnya, Ṣaḥīḥ Muslim, (no. 758).
Shalat malam adalah salah satu pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana hadits berikut :
أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، والصَّدّقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ, قَالَ: ثُمَّ تَلاَ (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِع )حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ)
‘Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah tameng, sedekah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan seperti air memadamkan api, dan salatnya seseorang pada tengah malam. Lalu beliau membaca firman Allah, ‘Lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidurnya…’ sampai pada firman-Nya, ‘… yang telah mereka kerjakan.’ (QS. As-Sajdah: 16-17).
- HR. Tirmizi (2616) dan al-Nasai (2223) dan Ibnu Majah (72). Imam Tirmizi berkata, “Hadis ini hasan sahih.”
3. Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat malam sebelum tidur. Ada hadits dari Abu Hurairah tentang wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya. Abu Hurairah berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, (3) mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1981).
4. Dalil bolehnya shalat malam berjamaáh. Dalam kalimat: ᴡᴀ ṬĀ`ɪꜰᴀᴛᴜᴍ ᴍɪɴᴀʟʟᴀŻĪɴᴀ ᴍᴀ'ᴀᴋ - dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.
Terutama pada malam bulan Ramadhan.
- Dalil lainya adalah :
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيْلَةً ، فَلَمْ يَزَلْ قائِماً حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سُوْءٍ ! قِيْلَ : مَا هَمَمْتَ ؟ قَالَ : هَمَمْتُ أَنْ أجِلْسَ وَأَدَعَهُ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada satu malam. Beliau terus berdiri (lama) sampai aku bermaksud untuk melakukan sesuatu yang jelek.” Ibnu Mas’ud ditanya, “Apa yang hendak engkau lakukan?” Ia menjawab, “Aku bermaksud untuk duduk dan meninggalkan beliau.”
(Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 1135 dan Muslim, no. 773)
- Dalam riwayat lain:
عن عَبدُ اللَّهِ بنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: «بِتُّ عِندَ خَالَتِي مَيمُونَة، فَقَام النَبيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِن اللَّيل، فَقُمتُ عَن يَسَارِه، فَأَخَذ بِرَأسِي فَأَقَامَنِي عن يَمِينِه».
[صحيح] - [متفق عليه]
Dari Abdullah bin Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- ia berkata, "Aku pernah bermalam di rumah bibiku, Maimūnah, lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bagun untuk mengerjakan salat malam. Aku pun berdiri di sisi kiri beliau. Maka beliau memegang kepalaku lalu menempatkanku di sebelah kanannya."
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]
💡 Faedah Hadits:
- Bolehnya shalat malam berjamaáh.
- Boleh bergerak dalam shalat jika ada kebutuhan.
- Posisi makmum jika berjama'ah dua orang di sebelah kanan.
5. Allah ﷻ yang mengatur ukuran siang dan malam. Pada kalimat: ᴡᴀʟʟĀʜᴜ ʏᴜQᴀᴅᴅɪʀᴜʟ-ʟᴀɪʟᴀ ᴡᴀɴ-ɴᴀʜĀʀ - Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
Allah ﷻ yang menentukan ukuran siang dan malam. Dan hikmah adanya siang oleh Allah ﷻ terangkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 12:
وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا ١٢
Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu dan mengetahui bilangan tahun serta perhitungan (waktu). Segala sesuatu telah Kami terangkan secara terperinci.
6. Allah ﷻ Maha Menerima Taubat. Dengan nama-Nya at-Tawwab Firman-Nya: ꜰᴀ ᴛĀʙᴀ 'ᴀʟᴀɪᴋᴜᴍ ꜰᴀQʀᴀ`Ụ ᴍĀ ᴛᴀʏᴀꜱꜱᴀʀᴀ ᴍɪɴᴀʟ-Qᴜʀ`Āɴ - maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.
Bacalah dalam shalat malam sesuai kemampuan, karena berbagai alasan.
7. Seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmum, maka bacalah yang mudah.
Lebih baik surat pendek yang mudah dipahami dan tidak memberatkan jamaáhnya. Terkadang, memotong ayat tanpa memperhatikan hubungan dengan ayat lainnya.
Muadz bin Jabal ditegur Rasulullah ﷺ karena mengimami salat Isya dengan surat panjang, membuat makmum yang kelelahan bekerja merasa terbebani. Nabi menasihati agar imam meringankan bacaan (membaca surat sedang/pendek) guna mempertimbangkan kondisi makmum, terutama yang lemah, tua, atau memiliki keperluan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465)
8. Udzur yang dibolehkan meninggalkan shalat Jama'ah adalah sakit atau Safar. Firman-Nya : Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah ﷻ.
Bahkan boleh mengqashar shalat saat Safar. Firman-Nya dalam Surat An-Nisa Ayat 101:
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا۟ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ ۚ
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.
Qashar adalah rukhsoh atau keringanan, terdapat hadits,
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ
“Qashar shalat itu sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Maka terimalah sedekah tersebut.” (HR. Muslim no. 686)
Maka, ulama dzahiriah mewajibkan qashar, meskipun Jumhur ulama berpendapat Sunnah.
9. Jika seseorang tidak mampu menghadiri shalat jama’ah, tahajud, puasa dan lainnya padahal sebelumnya ia mampu hadir secara rutin, ingatlah keadaan seperti ini akan dicatat seperti ia melakukannya saat sehat dan kuat, yaitu sesuai dengan kebiasaannya ketika itu.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم