بسم الله الرحمن الرحيم
🎙| Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘| Materi : Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Mencela Angin
🗓 | Hari : Selasa, 11 Rabi'ul Akhir 1448 / 22 September 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 | Daftar Isi:
Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Mencaci Maki Angin
Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita akan satu faedah dari Bab 57: dari hadits Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu
Maka, apapun yang kita lakukan, baik urusan dunia maupun akhirat kita, jika diniatkan karena untuk mengikuti hadits ini, maka akan bernilai ibadah, meskipun dalam urusan yang mubah.
Kitab Tauhid Bab 58 | Larangan Mencaci Maki Angin
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki angin. Apabila kamu melihat suatu hal yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَخَيْرِ مَا فِيْهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang untuknya Kau perintahkan ia, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan keburukan yang ada di dalamnya, dan keburukan yang untuknya Kau perintahkan ia.”
(HR. Turmudzi, dan hadits ini ia nyatakan shahih)
📃 Penjelasan:
Bab ini menjelaskan kepada kita tentang larangan mencela angin, maka celaan kita kepada angin hukumnya haram.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ushoimiy mengatakan bahwa hadits ini mauquf kepada Ubay bin Ka’ab, tetapi marfu' secara hukum, karena ada hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Angin itu adalah bagian dari rahmat Allah. Ia bisa datang membawa rahmat dan bisa datang membawa azab. Jika kalian melihat angin, janganlah kalian memakinya! Mintalah kepada Allah kebaikannya dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya! "
[Diriwayatkan oleh Nasā`i, Abu Daud dan Ahmad]
Mencaci-maki angin adalah kesalahan. Haram hukumnya mencaci-maki angin meskipun terkadang ia menghancurkan, keharaman hal ini ditinjau dari dua sisi:
- Pertama, angin adalah makhluk Allah yang akan berjalan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Dia tidak bersalah sehingga berhak untuk dicela.
- Kedua, mencela angin sama dengan mencela Allah karena angin adalah makhluk Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:
إنما نهى عن سبها لأن سب المخلوق سب لخالقه، فلو وجدت قصرا مبنيا وفيه عيب فسببته، فهذا السب ينصب على من بناه
Dilarang mencela angin, karena mencela makhluk sama dengan mencela khalik (pencipta)nya. Jika engkau mendapati sebauh istana dan ternyata ada aibnya lalu engkau mencelanya maka celaan itu akan tertuju kepada orang yang membangunnya. (Al-Qaulul Mufid: 2/379)
Jika kita mencela angin karena Allah ﷻ maka hukumnya kafir, namun jika hanya angin yang dicela, maka ini merupakan akhlak yang buruk kepada Allah ﷻ.
Hukum mencela angin sama dengan mencela waktu (masa), Jangan mencela masa, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kamu mencela masa, karena Allâh adalah masa!” [HR. Muslim, 2246
Ayat-ayat dan Hadits tentang Angin
-
Angin menyebarkan benih Tumbuhan
وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr [15] ayat 22).
-
Angin adalah Pembawa Kabar Gembira dan Rahmat
- Firman-Nya dalam Q.S. Al-A'raf Ayat 57:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)...”
- Firman-Nya dalam surat Al-Furqan Ayat 48
وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۚ وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً طَهُورًا
Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,
-
Angin adalah tentara Nabi Sulaiman
Allah ﷻ menganugerahkan mukjizat kepada Nabi Sulaiman alaihi salam berupa kemampuan mengendalikan angin, sebagaimana dalam surat Shad ayat 36:
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ
"Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki."
-
Allah ﷻ mengirimkan angin untuk menggerakkan awan
Firman-Nya dalam surat Ar-Rum Ayat 48:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ
“Allah-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya berkeping-keping; lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya.”
-
Angin adalah tentara Allah ﷻ:
Dalam surat Al-Ahzab ayat 9:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ ٩
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara (malaikat) yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
-
Angin membinasakan kaum 'Aad
Kaum 'Aad dibinasakan oleh Allah ﷻ dengan azab berupa angin topan yang sangat kencang dan dingin selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Allah7 berfirman dalam Surah Al-Ahqaf ayat 24:
فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًۭا مُّسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ قَالُوا۟ هَـٰذَا عَارِضٌۭ مُّمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا ٱسْتَعْجَلْتُم بِهِۦ رِيحٌۭ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
"Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita.' (Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih." (QS. Al-Ahqaf: 24)
-
Nabi ﷺ ditolong dengan angin Shaba
Dalam Shahih Al-Bukhari hadis nomor 1035
٢٥ - بَابُ قَوۡلِ النَّبِيِّ ﷺ: (نُصِرۡتُ بِالصَّبَا)
25. Bab sabda Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Aku ditolong dengan angin Shaba”
١٠٣٥ - حَدَّثَنَا مُسۡلِمٌ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعۡبَةُ، عَنِ الۡحَكَمِ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: (نُصِرۡتُ بِالصَّبَا، وَأُهۡلِكَتۡ عَادٌ بِالدَّبُورِ). [الحديث ١٠٣٥ - أطرافه في: ٣٢٠٥، ٣٣٤٣، ٤١٠٥].
1035. Muslim telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Aku ditolong dengan angin Shaba (angin timur laut) dan kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin Dabur (angin barat daya).”
Angin adalah udara yang berhembus dan merupakan anugerah dari Allah ﷻ yang mengandung oksigen dan kita bisa memanfaatkannya, di planet lain seperti Mars penuh dengan Carbon Dioksida yang mengandung racun. Dan yang mengatur angin hanyalah Allah ﷻ.
Doa Ketika Angin Bertiup Kencang
Berikut beberapa do'a yang bisa dibaca ketika angin kencang:
1. Riwayat Ibnu Majah:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dari angin ini, dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya."
(HR. Ibnu Majah 2/1228, dalam Shahih Ibnu Majah 2/305)
2. Dalam Sunan al-Tirmizi, dari Ubai bin Ka'ab dengan redaksi lain. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam: janganlah kalian mencaci angin. Lalu apabila engkau melihat yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحَ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحَ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
"Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya." (HR. Al-Tirmidzi)
3. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang beliau berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya." (HR. Muslim, no. 2122, Kitab Shalatil Istisqa', bab berlindung saat melihat angin (kencang)l.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ushoimiy Hafidzahullah mengatakan, makna hadits ini adalah:
- Angin ada yang bersifat membawa keburukan yaitu yang berhembus dengan kencang yang terkadang membawa penyakit
- Kadang berhembus sepoi-sepoi yang mengandung kebaikan. Yang dibawa juga kebaikan, seperti membantu penyerbukan bunga dan aroma yang enak dan segar.
- Maka, kita memohon akan kebaikan dan menolak keburukan angin tersebut.
- Demikian juga terkadang, angin untuk menggiring awan ke tempat yang akan dituruni hujan.
- Maka, kita berlindung dari keburukan angin yang besar dan bersyukur dengan kebaikan dengan angin yang membawa kebaikan.
Kaitannya dengan Tauhid
- Mencela angin berarti mencela yang menciptakan angin, sehingga mengurangi akidah.
- Mencela angin berarti mencela takdir Allah ﷻ. Hingga kita harus menerimanya dan menunaikan syari'atnya.
Wallahu a‘lam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم