بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Al-Qur'an telah Ditinggalkan
🎙️┃ Pemateri : Ustadz Ahmad Ubaidillah Nasiden, Lc Hafizhahullah
🗓️┃ Hari, Tanggal : Sabtu, 12 September 2026 M / 01 Rabi’ul Akhir 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Raya Fatimah, Serengan, Surakarta
📖┃ Daftar Isi :
- 5 Bentuk Meninggalkan Al-Quran
- Keutamaan Ahli Al-Qur'an
- Rasulullah Terlambat Mendahulukan Hizib Qur'an Beliau
- Bagaimana Al-Quran Dibagi di Masa Rasulullah?
- Lalai = Orang yang tidak Shalat Malam dengan Minimal Sepuluh Ayat
- Kejadian itu di Bulan Ramadhan
- Cara Rasulullah Membaca al-Quran
- Jika Rasulullah Terhalang dari Wiridnya, Beliau Ganti di Esok Hari
- Ibnu 'Abbas Umur 10 Tahun Sudah Khatam Hafalan Al-Mufasshal
- Usaha Orang Kafir: Jangan Dengarkan Al-Quran!
Rasulullah ﷺ Berkata: Kaumku Mengabaikan Al-Qur'an. Sebagaimana firman-Nya:
وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَـٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَـٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًۭا
Dan Rasul (Muhammad) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur 'an ini diabaikan." Al-Furqan (25:30)
5 Bentuk Meninggalkan Al-Quran
Menurut Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Kitab "Al-Fawaid" ada 5 bentuk meninggalkan Al-Qur'an, yaitu:
- Meninggalkan mendengar dan menyimak - هَجر سماعهِ والإِيمانِ بِهِ والإِصغاء إلیه
Yaitu Tidak mau mendengarkan, menyimak, dan menerima Al-Qur'an dengan keimanan. - Meninggalkan pengamalan - هَجرُ الْعَمَلِ بِهِ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حَلَالِهِ وحرامِه
Yaitu Tidak mengamalkan perintahnya dan tidak berhenti pada batas halal-haramnya, meskipun tetap membaca serta mengakuinya. - Meninggalkan berhukum dengannya - هَجْرُ تَحْكِيمِهِ وَالتَّحَاكَم إِلَيْهِ
Yaitu: Tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai hakim dan rujukan dalam persoalan agama, baik usul maupun cabangnya. - Meninggalkan tadabbur dan pemahaman - هَجر تَدیرِهِ وتفهمِهِ
Yaitu Membaca tanpa merenungkan, memahami, dan mencari maksud Allah dalam ayat-ayat-Nya. - Meninggalkan berobat dengannya - هَجْرُ الاسْتِشْفَاءِ وَالتّدَاوِي بِهِ
Yaitu: Tidak menggunakan Al-Qur'an untuk mengobati penyakit hati, seperti syirik, keraguan, kemunafikan, kesombongan, hasad, dan syahwat.
Keutamaan Ahli Al-Qur'an
Kenapa Meninggalkan Al-Quran? Karena tidak Tahu Keutamaannya.
- Dikeluarkan oleh Ahmad no. 22950, ad-Dārimī no. 3391, dan al-Baghawī dalam Syarḥ as-Sunnah no. 1190, dan lafaz ini miliknya. Dinilai Hasan Gharib oleh beliau.
Dari Buraidah bin al-Huşaib al-Aslamī: Aku pernah duduk di sisi Nabi , lalu aku mendengar beliau bersabda:
تَعَلَّمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ؛ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةُ، وَتَرْكَهَا حَسْرَةُ، وَلَا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ.
"Pelajarilah Surah al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan para tukang sihir tidak mampu menghadapinya."
Kemudian beliau diam sesaat, lalu bersabda:
تَعلَمُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وآلَ عِمْرَانَ؛ فَإِنَهُمَا الزَّهْرَاوَانِ، وَإِنَّهُمَا تُظِلَّانِ صَاحِبَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ غَيَايتَانِ، أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرِ صَواف.
"Pelajarilah Surah al-Baqarah dan Āli 'Imrān, karena keduanya adalah dua surah yang bercahaya. Keduanya akan menaungi pembacanya pada hari kiamat, seakan-akan keduanya adalah dua awan, atau dua naungan, atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya berbaris."
- Yaitu cahaya di akhirat pada saat menyebrangi syirath dan menaungi di hari kiamat dimana 50 tahun=1 hari dan matahari didekatkan di atas kepala.
وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَأْتِي صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، فَيَقُولُ لَهُ: هَّلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِ فُكَ. فَيَقُولُ: أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرَآنُ الَّذِي أَظْمَأَْتُكَ بِالْهَوَاجِ، وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ.
"Sesungguhnya Al-Qur'an akan mendatangi pemiliknya pada hari kiamat, ketika kuburnya terbelah darinya, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Ia berkata kepadanya: 'Apakah engkau mengenalku?' Orang itu menjawab: 'Aku tidak mengenalmu.' Ia berkata: 'Aku adalah sahabatmu, Al-Qur'an, yang dahulu membuatmu haus pada siang-siang yang panas dan membuatmu begadang pada malam harimu."
وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَإِنَّكَ الْيَّوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ، فيُعْطَى الْمُلْكَ بِنِهِ، وَاَْخْلُدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأَسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حلَتَيْنِ لَا يَقُومُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنيا.
"Sesungguhnya setiap pedagang berada di balik perdagangannya, dan pada hari ini engkau berada di balik setiap perdagangan. Maka ia diberi kerajaan pada tangan kanannya, kekekalan pada tangan kirinya, diletakkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan, dan kedua orang tuanya dipakaikan dua pakaian yang tidak dapat ditandingi oleh penduduk dunia."
فيَقُولَانِ :مِمَ كُسِينَا هذَا؟ فيقَالُ لَهُمَا: بِأَخْذِ وَلَدِكما الْقُمرَآنَ . ثُمَّيُقَالُ: اقْرأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجِ الْجنَّةِ وَغُرَفِهَا، فَهُوَ فِي صُعُودٍ مَا دَامَ يقْرأ، هذَّا كَانَ أَوْ تَرْتِلًا.
"Kedua orang tuanya berkata: 'Karena apa kami dipakaikan pakaian ini?' Maka dikatakan kepada keduanya: 'Karena anak kalian mengambil Al-Qur'an.' Kemudian dikatakan kepadanya: 'Bacalah dan naiklah pada tingkatan-tingkatan surga dan kamar-kamarnya.' Maka ia terus naik selama ia membaca, baik dengan bacaan cepat maupun tartil."
Semakin Banyak Hafalan Quran, Semakin Tinggi Tingkatan Surganya
- At-Tirmiżī no. 2914 dan Abū Dāwud no. 1464 meriwayatkan dari 'Abdullāh bin 'Amr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقٍ، وَرَقِلْ كَمَا كُنْتَ تُريِلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرٍِ آيَة تَقْرَأُ بِهَاَ
"Dikatakan kepada orang yang akrab dengan Al-Qur'an: 'Bacalah, naiklah, dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dahulu membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca."
- Hadis ini dinilai sahih oleh al-Albānī dalam as-Silsilah aș-Şahīḥah 5/281 no.2240.
Keutamaan Hadits ini Hanya untuk Para Penghafal al-Quran
- Ibnu Hajar al-Haitamī berkata:
الخبر المذكور خاص بمن يحفظه عن ظهر قلب، لا بمن يقرأ بالمصحف؛ لأن مجرد القراءة في الخط لا يختلف الناس فيها ولا يتفاوتون قلّةً وكثرة، وإنما الذي يتفاوتون فيه هو الحفظ عن ظهر قلب، فلهذا تفاوتت منازلهم في الجنة بحسب تفاوت حفظهم
"Hadis yang disebutkan tersebut khusus bagi orang yang menghafal Al-Qur'an di luar kepala, bukan orang yang membacanya dari mushaf. Sebab, sekadar membaca tulisan tidak membuat manusia berbeda-beda dan bertingkat-tingkat dalam sedikit atau banyaknya. Yang membuat mereka berbeda-beda adalah hafalan di luar kepala. Karena itulah derajat mereka di surga berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kadar hafalan mereka". [al-Fatāwā al-Hadītsiyyah, hlm. 156].
Seperti Apa Derajat di Surga yang Dimaksud?
- Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَيِرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتّي وُلِدَ فِيهَا
"Barang siapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa Ramadhan, maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga; baik ia berjihad di jalan Allah maupun tetap tinggal di negeri tempat ia dilahirkan." Para sahabat berkata: · "Wahai Rasulullah, tidakkah kami memberi kabar gembira kepada manusia?"
إِنَّ فِي الْجنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمجَاهِدِينَ في سَبِيلِ اللهِ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ لسَّمَاءِ وَالْأرْضِ،
"Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah siapkan untuk orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara dua derajat seperti Jarak antara langit dan bumi.
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ، فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ؛ فَإنَّهُ أَوْسَطُ الْجنَّةِ وَأَعْلى الْجَنَّةِ، أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجّرُ أَنْهَارُ الْجنّةِ.
Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah kepada-Nya surga Firdaus. Sebab, ia adalah bagian tengah surga dan bagian tertinggi surga. Aku melihat-atau menurut dugaanku-di atasnya terdapat 'Arsy Ar-Raḥmān, dan darinya sungai-sungai surga memancar."
1 Ayat = 1 Derajat di Surga
- Riwayat Abū Sa'īd al-Khudrī - paling tegas: "setiap ayat satu derajat" . Redaksinya bahkan lebih eksplisit:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُمرَآنِ إِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ: اقْرأْ وَاصْعَدْ، فَيَقْرَأْ وَيَصْعَدُ بِكُلِّ آيّةٍ دَرَجَةً، حَتَّى يقْرأ آخِرَ شَيءٍ مَعَهُ.
"Dikatakan kepada pemilik Al-Qur'an ketika ia masuk surga: 'Bacalah dan naiklah.' Lalu ia membaca dan naik satu derajat dengan setiap ayat, hingga ia membaca ayat terakhir yang ada bersamanya."
- Riwayat Ibn Mājah no. 3780 dan Ahmad no. 11360. Jalurnya mengandung 'Ațiyyah al-'Aufī yang diperbincangkan, tetapi Syu'aib al-Arna'ut menilainya saīh li-ghairih, dan al-Albānī mensahihkannya berdasarkan penguat-penguatnya.
Lokasinya Jauh, Seperti Melihat Bintang
- Dari Abu Sa'id رضي الله عنه, dari Nabi , beliau bersabda:
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدَّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُقُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بينهم.
"Sesungguhnya penduduk surga benar-benar melihat para penghuni kamar-kamar tinggi di atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang bercahaya lagi jauh di ufuk, dari arah timur atau barat, karena adanya perbedaan derajat di antara mereka."
Para sahabat berkata:
يا رسول الله؛ تلك منازل الأنبياء لا يبلغها غيرهم يَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالُ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ.
"Wahai Rasulullah, itu adalah tempat-tempat para nabi, tidak ada selain mereka yang dapat mencapainya." Beliau bersabda: "Tidak demikian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, itu juga untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul."
· HR. Bukhari dan Muslim
Posisinya Sangat Dekat dengan Allah
- Dari Abu Bakr bin 'Abdillāh bin Qais, dari ayahnya, bahwa Rasulullah
bersabda:
جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيتُهُمَا وَمَا فِيِهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيتُهُمَا وَمَا فِيِهِمَا، وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جنَّةٍ عَدنِ
"Dua surga terbuat dari perak; bejana-bejananya dan apa yang ada di dalamnya juga dari perak. Dan dua surga terbuat dari emas; bejana-bejananya dan apa yang ada di dalamnya juga dari emas. Tidak ada penghalang antara kaum itu dengan melihat Rabb mereka selain selendang kebesaran pada wajah-Nya di Surga 'Adn."
· HR. Bukhari no. 4878
Penghafal Quran tidak Dibakar di Neraka
. Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:
لو كَانَ القُرَآنُ فِي إِهَابٍ مَا أَكَلَتْهُ النَّارُ
"Seandainya Al-Qur'an berada dalam sebuah kulit, niscaya api tidak akan memakannya."
. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 4/155 no. 17456; ath-Țabarānī dalam al-Kabīr, 17/308 no. 850; dan Ibnu 'Adī dalam al-Kāmil, 1/32. Dinilai hasan oleh al-Albānī dalam Șaḥīḥ al-Jāmi', 2/953 no. 5282.
Maksudnya sebagaimana kata al-Ashma'i dinukil Ibnu Qutaibah, maksudnya adalah para penghafal Quran tidak dibakar di Neraka.
Mengabaikan dengan Tidak Membaca al-Quran
Istilah membaca Al-Qur'an pada zaman Nabi adalah tidak menghafalkannya.
- Kisah Abdullah bin 'Amr yang Semangat Ibadah dan Meninggalkan Istrinya
Dari 'Abdullah bin 'Amr رضي الله عنهما, ia berkata:
أنكَحَني أبي امرَأةً ذاتَ حَسَبٍ، فكان يتَعاهَد كَنَّتَه، فيَسألها عن بَعِلِها
"Ayahku menikahkanku dengan seorang wanita yang memiliki kedudukan terpandang. Ayahku biasa memperhatikan keadaan menantunya dan bertanya kepadanya tentang suaminya.
فتَقولُ: نِعمَ الرَّجُلُ مِن رَجُلٍ لَم يَطَأْ لَنَا فِراشًا، ولَم يُفَتِشْ لَنَا كَنَفًّا مُنذُ أتَيناه!
Wanita itu berkata, 'Sebaik-baik lelaki adalah dia; sejak aku datang kepadanya, ia belum pernah menginjak tempat tidur kami dan belum pernah membuka selimut kami!'
Masalah Ini Dilaporkan kepada Nabi
Ketika keadaan itu berlangsung lama, ayahku menyampaikannya kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda:
ألِّْني بِهِ«
'Pertemukanlah dia denganku.'
· Setelah itu aku menemui beliau. Beliau bertanya:
كَيْفَ تَصُومُ؟(«
'Bagaimana engkau berpuasa?'
Aku menjawab, 'Setiap hari.'
Cukup Puasa Tiga Hari dan Khatam Quran Satu Kali Setiap Bulan!
Beliau bertanya:
·)) وَكَيْفَ تَحْتمُ ؟
'Dan bagaimana engkau mengkhatamkan Al-Qur'an?'
Aku menjawab, 'Setiap malam.'
· Beliau bersabda:
صُمْ فِي كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةً، وَاقْرَاِ الْقُمرَآنَ فِي كُلِّ شَْهْرِه
'Berpuasalah tiga hari setiap bulan dan bacalah Al-Qur'an hingga khatam setiap bulan.'
Aku berkata, 'Aku mampu lebih banyak daripada itu.'
Beliau bersabda:
صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ، صَوْمَ دَاوُدَ : صِيَامَ يَوْم، وَإِفْطَارَ يَوْم، وَاقْراً فِي كُلِّ سَيْع لَيَالٍ مَرَّةً
'Berpuasalah dengan puasa yang paling utama, yaitu puasa Dāwud: berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari. Dan khatamkanlah Al-Qur'an sekali dalam setiap tujuh malam.'
['Abdullāh berkata:]
فلَيتَني قَبِلتُ رُخصةَ رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَم، وذاكَ أنِّي كَبِرتُ وضَعُفتُ
'Seandainya dahulu aku menerima keringanan Rasulullah ﷺ. Sebab sekarang aku telah tua dan menjadi lemah.'
فكان يَقرأُ على بَعضِ أهلِهِ السَّبعَ مِنَ القُرآنِ بالنَّهارِ، والذي يَقرَؤَه يَعرِضُه مِنَ الَهارِ؛ ليَكونَ أخَفَّ عليه بالَيلِ
Ia kemudian biasa membacakan kepada sebagian keluarganya satu bagian dari tujuh bagian Al-Qur'an pada siang hari. Bagian yang hendak dibacanya, ia membacanya terlebih dahulu pada siang hari agar lebih ringan baginya pada malam hari.
وإذا أرادَ أن يتَقَوَّى أفطَرَ أيَّامًا وأحصى، وصامَ مِثلَهنَّ كَراهيةَ أن يَتَرُكَ شيئًا فارَقَ النَّيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَم عليه.
Apabila ia ingin menguatkan dirinya, ia tidak berpuasa selama beberapa hari dan menghitung hari-hari tersebut, kemudian ia berpuasa sejumlah hari yang sama dengannya. Hal itu karena ia tidak suka meninggalkan sesuatu yang dahulu tetap ia lakukan ketika berpisah dengan Nabi ."
· Takhrij: Diriwayatkan oleh Bukhari no. 5052 Muslim no. 1159 dengan sedikit perbedaan lafaz.
Rasulullah Terlambat Mendahulukan Hizib Qur'an Beliau
- Dari Aus bin Huzaifah ats-Tsaqafi رضِي الله عنه, ia berkata:
قَدِمْنا على النَّبيّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمْ في وَفدِ ثَقَيفٍ، فأَبطَأ علينا ذاتَ لَيلةٍ
"Kami datang menemui Nabi bersama utusan dari Tsaqif. Pada suatu malam beliau terlambat menemui kami.
· Beliau bersabda:
إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرَآنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَخُرُجَ حَتَّى قَضَيتهُ
· 'Sesungguhnya bagian bacaanku dari Al-Qur'an terlintas kepadaku, maka aku tidak suka keluar hingga aku menyelesaikannya.'
Bagaimana Al-Quran Dibagi di Masa Rasulullah?
Lalu kami bertanya kepada para sahabat beliau:
كيفَ كان صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُحزِّبُ القرآنَ؟
'Bagaimana Rasulullah ﷺ membagi Al-Qur'an menjadi beberapa bagian bacaan?'
· Mereka menjawab:
ثَلَاثًاً، وَخَمْسًا، وَسَبْعًا، وَتِسْعًا، وَاحْدَى عَشْرَةَ، وَثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَحِزْبَ الْمَفَصّلِ
'Tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan surah, sebelas surah, tiga belas surah, dan satu bagian berupa surah-surah al-Mufaşşal.'
Di Riwayat Abu Daud: Bagaimana para Sahabat Rasulullah membagi Al-Quran? Mereka ...
. Takhrij: Diriwayatkan oleh Abū Dawud no. 1393, Ibn Mājah no. 1345, dan Aḥmad no. 19021 dalam riwayat yang lebih panjang. Dihasankan Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar.
Lalai = Orang yang tidak Shalat Malam dengan Minimal Sepuluh Ayat
- Dari 'Abdullah bin 'Amr رضي الله عنهما, Rasulullah bersabda:
• مَنْ قَامَ بِعَشْرٍ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ قَامَ بِمِاتَةٍ آيّةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَاتِينَ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيّةٍ كُتِبَ مِنَ الْمُقَنْطِرِينَ
"Barang siapa berdiri salat dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak dicatat termasuk orang-orang yang lalai. Barang siapa berdiri salat dengan membaca seratus ayat, ia dicatat termasuk orang-orang yang taat. Dan barang siapa berdiri salat dengan membaca seribu ayat, ia dicatat termasuk orang-orang yang memperoleh pahala yang sangat banyak."
. Takhrij: Diriwayatkan oleh Abu Dāwud no. 1398, Ibn Khuzaimah no. 1144, dan Ibn Hibbān no. 2572. Dihasankan al-Albaņi.
- Catatan: al-muqanțirīn ( الْمُقَنْطِرِينَ) secara harfiah berkaitan dengan qintār, yakni harta atau jumlah yang sangat banyak, maksudnya, orang-orang yang mendapatkan pahala yang sangat besar.
Contoh Shalat Malamnya Rasulullah
. Dari Huzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه, ia berkata:
• صَلَّيتُ مع النَبيّ صلَّى اللهُ عليه وسلَم ذاتَ لَيَلةٍِ، فافتَتَحَ البَقَرةَ، فقُلتُ فيَرَكَعُ عِندَ المائةِ، ثُمَّ مَضى، فقُلتُ يصَلِي بها في رَكعةٍ، فَضى، فقُلتُ نیرَگَعُ بها
"Aku salat bersama Nabi pada suatu malam. Lalu beliau memulai dengan surah al-Baqarah. Aku berkata dalam hati, 'Beliau akan rukuk pada ayat keseratus.' Namun beliau terus melanjutkan [Riwayat an-
Nasa'i: 'beliau akan rukuk pada ayat keduaratus']. Maka aku berkata, 'Beliau akan menyelesaikan surah ini dalam satu rakaat.' Namun beliau terus melanjutkan. Maka aku berkata, 'Beliau akan rukuk setelah
menyelesaikannya.'
Kejadian itu di Bulan Ramadhan
Dalam Musnad Ahmad dari Hudhayfah رضي الله عنه:
أَتَيْتُ النَِّيَّ وَلَفِي لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَقَامَ يصِلى ... ثُمّ قَرا الْبَقَرَةَ، ثُمّ النِّسَاءَ، ثُمْ آلَ عِمْرَانَ ...
"Aku mendatangi Nabi s pada suatu malam di bulan Ramadan, lalu beliau berdiri melaksanakan salat ... kemudian beliau membaca al-Baqarah, lalu an-Nisā', lalu Āli 'Imran ... "
- Musnad Ahmad no. 23399 (cet. al-Risālah, 38/406).
Dalam Sunan an-Nasā'ī lafaznya bahkan langsung:
أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللهِ وَ لَّلدَفي رَمَضَانَ
"Bahwa ia [Hudhayfah] salat bersama Rasulullah pada bulan Ramadan."
· Kemudian disebut panjangnya rukuk, sujud, dan bahwa beliau hanya menyelesaikan empat rakaat hingga Bilal datang memberitahukan waktu Subuh. [Sunan an-Nasa'ī no. 1665].
Cara Rasulullah Membaca al-Quran
ثُجَّ افتَتَحَ النِّساءَ، فقَرها، ثُمَّ افتَتَحَ آلَ عِمرانَ، فقَرأها، يَقرأْ مُتَرَسِلًا؛ إذا مَرَّ بآيةٍ فيها تَسبيحُ سَبْحَ، وإذا مَرَّ بسُؤالٍ سَألَ، وإذا مَىَّ بتعوذِ تعوذ
· Kemudian beliau memulai surah an-Nisā' dan membacanya. Lalu beliau memulai surah Āli 'Imrān dan membacanya.
· Beliau membaca dengan perlahan dan tertib:
- Apabila melewati ayat yang berisi tasbih, beliau bertasbih.
- Apabila melewati ayat yang berisi permohonan, beliau memohon.
- Dan apabila melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau memohon perlindungan.
Kemudian beliau rukuk dan mulai mengucapkan:
سُبْحَانَ رَبِيَ الْعَظِيمِ
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung."
· Rukuk beliau kira-kira sama lamanya dengan berdirinya.
· Kemudian beliau mengucapkan:
» سَمِعَ اللّهُ لِنْ حَمدَهُ
"Allah mendengar orang yang memuji-Nya."
· Kemudian beliau berdiri lama, hampir sama dengan lamanya rukuk beliau.
· Kemudian beliau sujud dan mengucapkan:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi."
· Sujud beliau hampir sama lamanya dengan berdirinya.
· Sumber: Şahīh Muslim, no. 772
Jika Rasulullah Terhalang dari Wiridnya, Beliau Ganti di Esok Hari
Aisyah رضي الله عنهاmenjelaskan:
وَكَانَ نَبِيُّ اللهِ وَ لََّإذَا صَلَّى صَلَاَةً أَحَبَّ أَنْ يُدَاوِمَ عَليها، وَكَانَ إِذَا غَلَبَهُ نَوْمُ أَوْ وَجَعُ عَنْ قِيَامِ اللَّيلِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَي عَشْرَةَ رَكْعَةً
"Apabila Nabi ﷺ mengerjakan suatu salat, beliau senang mengerjakannya secara berkesinambungan. Apabila beliau tertidur atau sakit sehingga tidak dapat salat malam, beliau mengerjakan dua belas rakaat pada siang hari."
- Shahih Muslim no. 746
Ibnu 'Abbas Umur 10 Tahun Sudah Khatam Hafalan Al-Mufasshal
- Dari 'Abdullah, bin 'Abbas رضي اللهِ عنهما, ia berkata:
مات رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وأنا ابنُ عشر سنينَ وأنا مختونُ وقد قرأتُ المحكَمَ مِنَ القرآنِ
· "Rasulullah g wafat ketika aku berusia sepuluh tahun, dan ketika itu aku telah dikhitan serta telah membaca bagian al-muhkam dari Al-Qur'an."
· Ia berkata: Aku bertanya kepada Abū Bisyr, "Apa yang dimaksud dengan al-muḥkam?"
· Ia menjawab:
الْمُفَصَّلُ
- "Surah-surah al-Mufaşşal."
. Takhrij: Diriwayatkan oleh al-Bukhārī no. 5035, aț-Țayālisī no. 2761, dan aț-Țabarānī (10/234), no. 10577, semuanya dengan sebagian lafaznya. Dishahihkan Ahmad Syakir.

Usaha Orang Kafir: Jangan Dengarkan Al-Quran!
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسْمَعُواْ لَهَدذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلبُونَ ٢٦
· Dan orang-orang yang kafir berkata, "Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka)." Fussilat (41:26)
Mengabaikan dengan Meninggalkan Tadabbur Al-Qur'an
Jika tidak Menghayati Makna Al-Quran Berarti Hatinya Sudah Terkunci
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ
· Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur an, ataukah hati mereka sudah terkunci? [Muhammad (47:24)].
Abu Bakar Banyak Menangis Jika Membaca Al-Quran
• فَيَقِفُ عليه نِساءُ المشرِكينَ وأَبناؤُهم، يَعجَبونَ منه ويَنَظُرونَ إليه، وكان أبو بَكرٍ رَجُلًا بَكَّاءً، لا يَمَلِكُ عَينَيه إذا قَرا القُرآنَ، فأفزَعَ ذلك أشرافَ قُرَيشٍ مِنَ الُمُشرِكينَ.
Para wanita kaum musyrikin dan anak-anak mereka lalu berdiri mengerumuninya. Mereka merasa takjub kepadanya dan memandanginya. · Abū Bakr adalah seorang yang banyak menangis. Ia tidak mampu menahan kedua matanya apabila membaca Al-Qur'an. · Hal itu pun membuat para pembesar Quraisy dari kalangan kaum musyrikin merasa takut."
· Sumber: Șahī al-Bukhārī, no. 476
Kenapa Rasulullah Ulangi Ayat ini Semalaman?
· Ketika pagi tiba, aku berkata,
يا رسول الله، ما زلت تقرأ هذه الآية حتی أصبحت، ترکع بها وتسجد بها!
· 'Wahai Rasulullah, engkau terus membaca ayat ini hingga pagi, engkau rukuk dan sujud dengannya!'
· Beliau bersabda:
إِنِّي سَأَلْتُ رَبِي الشَّفَاعَةَ لِأَمَتِي فَأَعْطَانِهَا، وَهِيَ نَائِلَةُ -إِنْ شَاءَ اللّهُ -لِنْ لَا يُشْرِكُ بِالهِ شَيْشَا
· 'Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku syafaat untuk umatku, lalu Dia memberikannya kepadaku. Dan syafaat itu akan diperoleh-insyaallah- oleh orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.'
Mengabaikan dengan Tidak Mengamalkan al-Quran
Siksa Kubur untuk Orang yang tidak Mengamalkan Al-Quran
فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلِ مُضْطَجِع عَلَى قَفَاهُ، وَرَجُلُّ قَائِمُ عَلى رَأْسِهِ بِفِهْرِ أَوْ صَخْرَةٍ، فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ
· Lalu kami berjalan hingga sampai kepada seorang laki-laki yang terlentang di atas tengkuknya. Di dekat kepalanya ada seorang laki-laki yang berdiri membawa batu besar atau sebongkah batu. Ia memecahkan kepala orang itu dengan batu tersebut.
فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يلْثَِّمَ رَأْسُهُ، وَعَادَ رَأْسُهُ كَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ فَضَرَبَهُ
· Setiap kali ia memukulnya, batu itu menggelinding. Maka orang yang memukul itu pergi mengambil batu tersebut. Ia belum kembali kepada orang itu kecuali kepala orang tersebut telah pulih kembali, dan kepalanya kembali seperti semula. Laľu ia kembali memukulnya lagi.
· Aku bertanya: "Siapakah orang ini?"
Apa Penyebabnya Dia Disiksa Demikian?
وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ فَرَجُلُّ عَلَمَهُ اللّهُ الْقُمرَآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِالّيْلِ، وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْم الْقِيَامَةِ.
· Adapun orang yang engkau lihat kepalanya dihancurkan, maka ia adalah seseorang yang Allah ajarkan Al-Qur'an kepadanya, namun ia tidur darinya pada malam hari dan tidak mengamalkannya pada siang hari. Maka ia diperlakukan seperti itu sampai hari Kiamat.
· Dalam Riwayat lain:
فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأَخُذُ الْقُرَآنَ فَيَرْفُضُهُ، وَيَنَامُ عَنِ الصَّلَاَةِ الْمَكْتُوبَةِ
· "Ia adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an kemudian menolaknya, dan ia tidur meninggalkan salat wajib.
· - Șaņīḥ al-Bukhārī no. 7047, dari Samurah bin Jundub
Mengabaikan dengan Tidak Berobat denganya
Ruqyah Nabi dengan Mengusapkan Tangan ke Tubuh
Aisyah رضي الله عنهاberkata:
• كَانَ النَّبيُّ ََِ َِّإِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا، فَقَرأَ فِيِهِمَا: قُلْ هُوَ اللّهُ أَحَدُّ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَ يَمْسَح بِهِمَا مَا اسْتَطَاع مِنْ جسده
· "Setiap malam ketika hendak tidur, Nabi j4g menghimpunkan kedua telapak tangannya, meniup keduanya, lalu membaca al-Ikhlāș, al-Falaq, dan al-Nās. Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkaunya."
- Șaḥīḥ al-Bukhārī no. 5017
Nabi Melakukan Nafts (Meniup) dalam Ruqyah atau Ditiupkan Orang Lain
:رضي الله عنها Dari 'Aisyah Ummul Mukminin .
• أنَّ الَّيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَم كان إذا اشتكى يَقرأَ على نَفَسِه بالمُعوِذاتِ ويَنَفُثُ، فلمَّا اشتَدَّ وجَعُه كُنتُ أقراأ عليه، وأمسَحُ عنه بَيَدِه، رَجاءَ بَرَكَتِها.
· "Apabila Nabi ﷺ, merasa sakit, beliau membaca untuk dirinya sendiri surah-surah perlindungan (al-Mu'awwidzāt) dan meniupkan napas disertai sedikit ludah. · Ketika sakit beliau semakin berat, akulah yang membacakan untuk beliau, dan aku mengusapkan tangan beliau pada tubuhnya dengan mengharapkan keberkahan tangannya."
. A'isyah رضي الله عنهاberkata:
أَنَّ النَِّيَّ وَوََّلَ كَانَ يَتْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ
. "Ketika mengalami sakit yang menyebabkan wafatnya, Nabi meniup dirinya dengan membaca surah-surah perlindungan. Ketika sakit beliau semakin berat, aku membacakannya dan meniup beliau."
- Șaḥīḥ al-Bukhārī no. 5735
Tiga Syarat Ruqyah dengan Al-Quran
- Ibn Hajar menukil kesepakatan ulama bahwa ruqyah dibolehkan apabila memenuhi tiga syarat:
أَنْ يَكُونَ بِكَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ، وَبِاللِسَانِ الْعَرَبِيِّ أَوْ بِمَا يُعْرَفُ مَعْنَاهُ مِنْ غَيْرِهِ، وَأَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ الرَّقْيَةَ لَا تُؤَثُِّ بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَهِ تَعَالَى.
1. Menggunakan firman Allah, nama dan sifat-Nya, atau doa yang dibenarkan.
2. Menggunakan bahasa Arab atau bahasa lain yang maknanya diketahui.
3. Meyakini bahwa ruqyah tidak menyembuhkan dengan kekuatannya sendiri; Allah-lah yang menyembuhkan.
· Fath al-Bārī, 10/195
Ruqyah Tidak Meniadakan Pengobatan Medis
- Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan umatnya mencari pengobatan:
• تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللّهَ عَنَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
· "Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga menyediakan obatnya."
- Sunan Abī Dāwud no. 3855, sahih
Poster:

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم