بسم الله الرحمن الرحيم
🎙| Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘| Materi : Kitab Tauhid Bab 60 | Penjelasan tentang Orang yang Mengingkari Takdir
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Jajar Surakarta
📖 | Daftar Isi:
Pertemuan #1 : Kamis, 20 Rabi’ul Akhir 1448 / 1 Oktober 2026
Kitab Tauhid Bab 60 | Maa Jaa'a fii Munkiril Qadar | Penjelasan tentang Orang yang Mengingkari Takdir
Alhamdulillah, dengan taufik dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita dapat hadir di masjid pada malam hari ini untuk melanjutkan pelajaran membaca Kitab Tauhid alladzi Huwa Haqqullahi 'alal-'Abid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala. Pada pertemuan ini kita telah sampai pada Bab ke-60, yaitu pembahasan tentang orang yang mengingkari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kaitan Iman kepada Takdir dengan Tauhid Rububiyah
Beriman kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan bagian dari iman kepada tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah berarti meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Penguasa, dan Pengatur seluruh alam semesta. Karena itu, orang yang mengingkari takdir pada hakikatnya telah mengingkari salah satu perkara yang berkaitan dengan rububiyah Allah.
Penulis, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala, membawakan bab ini secara khusus untuk menjelaskan hukum orang yang tidak beriman kepada takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pembahasan ini juga berkaitan dengan bab sebelumnya tentang su'uzan kepada Allah, yaitu berburuk sangka kepada Allah. Mengingkari takdir termasuk salah satu bentuk su'uzan kepada Allah. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala memberikan perhatian khusus terhadap masalah takdir karena mengingkarinya merupakan kekufuran besar apabila pengingkaran tersebut berkaitan dengan pokok keimanan.
Su'uzan kepada Allah dan Kaitannya dengan Takdir
Su'uzan kepada Allah memiliki banyak cabang. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa secara umum su'uzan kepada Allah dapat berkaitan dengan dua hal:
1. Su'uzan terhadap perbuatan Allah terhadap alam semesta.
2. Su'uzan terhadap perbuatan Allah terhadap diri seorang hamba.
Secara lebih luas, berbagai bentuk kesesatan, penyimpangan, kekufuran, dan kemaksiatan pada dasarnya mengandung su'uzan kepada Allah. Sebaliknya, keimanan, ketakwaan, dan amal saleh mengandung husnuzan kepada Allah.
- Contoh: Percaya kepada Jimat. Orang yang percaya kepada jimat pada hakikatnya berburuk sangka kepada Allah. Mengapa? Karena dia menganggap bahwa dirinya akan mendapatkan bahaya apabila tidak menggunakan jimat tersebut. Seolah-olah perlindungan Allah tidak cukup baginya sehingga ia membutuhkan benda tertentu untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Apabila seseorang meyakini bahwa jimat tersebut memiliki pengaruh dengan sendirinya, maka masalahnya menjadi lebih besar karena ia telah memberikan sebagian sifat pengaturan alam kepada selain Allah.
- Contoh: Korupsi. Orang yang melakukan korupsi juga dapat mengandung su'uzan kepada Allah. Di antara bentuknya adalah keyakinan bahwa rezekinya akan sempit jika ia tidak mengambil harta dengan cara haram. Padahal Allah telah menyediakan rezeki yang halal. Ia juga dapat berburuk sangka kepada Allah ketika mengira bahwa Allah tidak akan melihat perbuatannya atau bahwa keburukannya tidak akan pernah terbongkar. Padahal Allah Maha Mengetahui dan tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tersembunyi dari-Nya.
- Contoh: Mentakwil Sifat Allah. Demikian pula orang yang menyimpangkan makna ayat dan hadis tentang sifat Allah karena menganggap bahwa makna zahirnya mengandung keserupaan antara Allah dengan makhluk. Ini juga merupakan bentuk su'uzan kepada Allah. Ia menyangka bahwa apabila nash dipahami sesuai dengan makna yang benar, maka berarti Allah menyerupai makhluk. Karena prasangka tersebut, ia kemudian memalingkan makna nash dari makna yang benar.
Hukum Su'uzan kepada Allah
Cabang-cabang su'uzan kepada Allah secara umum dapat kembali kepada dua hukum:
1. Kufur Akbar
Kufur besar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Di antaranya adalah su'uzan yang berkaitan dengan pokok-pokok keimanan. Contohnya adalah orang yang meyakini bahwa Allah mempunyai anak. Keyakinan tersebut mengandung berbagai bentuk su'uzan kepada Allah, di antaranya menganggap Allah membutuhkan keturunan atau penerus. Padahal Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan siapa pun.
2. Kufur Ashghar
Yaitu kekufuran yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Hal tersebut terjadi apabila su'uzan berkaitan dengan perkara yang bukan merupakan pokok keimanan, meskipun tetap merupakan dosa yang sangat berbahaya dan bertingkat-tingkat. Salah satu bentuk kekufuran besar yang berkaitan dengan su'uzan kepada Allah adalah mengingkari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Lima Pengantar dalam Memahami Takdir
Sebelum membahas dalil-dalil tentang orang yang mengingkari takdir, ada beberapa perkara penting yang perlu dipahami.
Pertama: Pengertian Takdir
Secara bahasa, qadar bermakna ukuran, penentuan, dan perencanaan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)." QS. Al-Qamar: 49.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan telah ditentukan dengan ukuran dan ketetapan-Nya.
Adapun secara syariat, takdir berkaitan dengan empat perkara:
- Ilmu Allah — Allah mengetahui segala sesuatu.
- Penulisan Allah — Allah telah menulis segala sesuatu yang akan terjadi.
- Kehendak Allah — segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya.
- Penciptaan Allah — Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Dengan demikian, iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, telah menuliskannya, menghendakinya, dan menciptakannya.
Kedua: Takdir adalah Rahasia Allah
Takdir merupakan perkara yang Allah rahasiakan dari makhluk-Nya. Apa yang Allah tuliskan di Lauhul Mahfuz tidak diberikan kepada manusia untuk diketahui secara keseluruhan. Allah hanya memberitahukan sebagian perkara kepada para rasul-Nya sesuai dengan kehendak-Nya dan sebagai bagian dari mukjizat atau wahyu.
Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lalu bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang takdir!” Ali menjawab:
طَرِيقٌ مُظْلِمٌ فَلَا تَسْلُكُوهُ
“Itu adalah jalan yang gelap, maka janganlah kalian menempuhnya.” Orang tersebut bertanya lagi untuk kedua kalinya, lalu Ali menjawab:
بَحْرٌ عَمِيقٌ فَلَا تَلِجُوهُ
“Itu adalah lautan yang dalam, maka janganlah kalian menyelaminya.” Orang tersebut masih bertanya untuk ketiga kalinya, maka Ali menegaskan:
سِرُّ اللَّهِ فَلَا تَكَلَّفُوهُ
“Itu adalah rahasia Allah, maka janganlah kalian memaksakan diri untuk membebani diri dengannya.” (Syarh Ushul I’tiqad: 1123, Syarh Aqidah Thahawiyah: 1/383)
Maksudnya bukan bahwa kita tidak boleh beriman kepada takdir atau mempelajari perkara takdir yang telah dijelaskan oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Yang dilarang adalah memaksakan diri untuk mengetahui hakikat dan rahasia takdir yang Allah sembunyikan dari manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ
"Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya." (QS. Al-Anbiya: 23).
Manusia tidak memiliki kedudukan untuk mengadili dan menilai keputusan Allah. Justru manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Karena itu, seseorang tidak boleh mempertanyakan keputusan Allah dengan sikap protes, seperti:
- "Kenapa Allah menjadikan saya miskin sedangkan orang lain kaya?"
- "Kenapa Allah memberikan ini kepada orang tersebut dan tidak kepada saya?"
Kita wajib meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui, Mahaadil, dan Mahabijaksana.
Ketiga: Akal Manusia Memiliki Batas
Perkara ketiga yang harus dipahami adalah bahwa akal manusia terbatas. Sebagaimana pancaindra manusia memiliki batas, akal manusia juga memiliki batas. Mata kita tidak mampu melihat segala sesuatu. Pendengaran kita juga terbatas. Demikian pula kemampuan akal.
Ada perkara yang dapat kita pahami dan ada perkara yang tidak mampu kita pahami. Orang yang memaksakan akalnya untuk memahami perkara yang berada di luar batas kemampuan akalnya justru dapat mengalami kebingungan.
Dalam masalah takdir, kita wajib mengikuti apa yang telah Allah dan Rasul-Nya jelaskan. Adapun perkara yang tidak dijelaskan, kita berhenti pada batas tersebut. Hal ini seperti seseorang yang menatap matahari secara terus-menerus. Mata manusia memang dapat melihat matahari, tetapi mata memiliki kemampuan yang terbatas. Jika dipaksakan terus-menerus, mata dapat mengalami kerusakan.
Demikian pula akal. Akal dapat memahami perkara yang Allah beritahukan kepada kita. Namun ketika seseorang memaksakan akalnya untuk mengetahui perkara gaib yang Allah sembunyikan, ia dapat tersesat. Bahkan akhirnya ia bisa meninggalkan dalil dan menjadikan akalnya sebagai hakim atas wahyu.
Keterbatasan Akal dalam Perkara Dunia
Untuk memahami keterbatasan akal, kita dapat melihat perkara yang dekat dengan kehidupan kita. Banyak orang belajar matematika, fisika, atau kimia. Meskipun ilmu tersebut merupakan perkara yang dapat dipelajari dan diamati, tidak semua orang mampu memahami seluruh rinciannya.
Demikian pula dengan teknologi. Kita setiap hari menggunakan telepon genggam. Kita mengetahui bahwa alat tersebut dapat mengirimkan gambar, suara, dan berbagai informasi. Namun, tidak semua orang memahami secara rinci bagaimana seluruh proses tersebut berlangsung. Padahal benda tersebut ada di depan mata dan kita gunakan setiap hari.
Jika perkara dunia yang berada di sekitar kita saja tidak mampu kita pahami secara sempurna, bagaimana mungkin kita memaksakan akal untuk memahami seluruh rahasia takdir Allah? Karena itu, kita harus mengetahui batas kemampuan akal.
Keempat: Ada Perkara Gaib yang Tidak Boleh Dibicarakan Tanpa Dalil
Ada perkara-perkara gaib yang tidak boleh kita bahas berdasarkan akal semata. Di antaranya adalah hakikat zat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita beriman kepada Allah, tetapi kita tidak boleh membayangkan atau menentukan hakikat zat Allah berdasarkan akal dan khayalan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan tentang bisikan setan dalam masalah ini. Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لا يزال الناس يتساءلون حتى يقال هذا خلق اللهُ الخلقَ ، فمن خلق الله ؟ فمن وجد من ذلك شيئا فليقل آمنت بالله
“Orang-orang akan ada saja yang bertanya-tanya, hingga akhirnya akan ditanyakan, Allah yang menciptakan makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah? Siapa yang mendapati hal tersebut, maka ucapkanlah, aku beriman kepada Allah.” (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu alaihiw a sallam juga bersabda,
يأتي الشيطانُ أحدَكم فيقول من خلق كذا وكذا ؟ حتى يقول له من خلق ربَّك ؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته
“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu? Hingga akhirnya dia akan bertanya siapa yang menciptakan tuhanmu? Jika hal itu terjadi, hendaknya dia berlindung kepada Allah dan sudahilah (jangan turuti menjawab pertanyaannya).” (HR. Muslim)
Makna Hadits
Jawabannya sebenarnya sudah ada dalam keimanan kita. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Allah tidak diciptakan. Jika Allah diciptakan, berarti Dia bukan Tuhan dan bukan Pencipta. Allah adalah Rabb seluruh alam, Pencipta, Pemilik, Penguasa, dan Pengatur seluruh makhluk. Karena itu, ketika muncul bisikan semacam itu, jangan diikuti.
Katakan: "Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya." Kemudian berhenti dan berlindung kepada Allah dari bisikan setan.
Jangan Membahas Kaifiyah Sifat Allah Tanpa Dalil
Perkara gaib berikutnya yang tidak boleh dibicarakan tanpa dalil adalah kaifiyah, yaitu bagaimana hakikat sifat Allah. Allah telah mengabarkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat." QS. Asy-Syura: 11.
Ayat ini menetapkan dua perkara:
- Allah memiliki sifat mendengar dan melihat.
- Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.
Kita beriman bahwa Allah Maha Mendengar. Tidak ada suara yang tersembunyi dari pendengaran Allah. Kita juga beriman bahwa Allah Maha Melihat. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari penglihatan Allah. Namun kita tidak membayangkan bagaimana hakikat pendengaran dan penglihatan Allah. Sebab Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.
Jangan Menyelami Rahasia Takdir
Perkara gaib berikutnya yang tidak boleh diselami tanpa dalil adalah rahasia takdir. Dalam pembahasan ini disebutkan sebuah hadis:
Abdurrazzaq meriwayatkan di dalam kitab Al Amali (51), dari jalur Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari Thawus, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا ذًُكِرَ أصحابي فَأَمْسِكُوْا و إِذَا ذًُكِرَ القَدَرُ فَأَمْسِكُوْا و إِذَا ذًُكِرَ النُّجُوْمُ فَأَمْسِكُوْا
“Jika sahabatku diperbincangkan, maka tahanlah diri. Jika masalah takdir dipersoalkan, maka tahanlah diri. Jika ramalan bintang-bintang dibicarakan, maka tahanlah diri“.
Maknanya adalah agar seseorang tidak berbicara terlalu jauh tentang takdir tanpa dasar dari Al-Qur'an dan Sunnah. Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dan digunakan para ulama dalam pembahasan adab terhadap perkara takdir. Maksudnya bukan meninggalkan iman kepada takdir. Justru kita wajib mempelajari dan mengimani apa yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang harus dihindari adalah menyelami perkara yang tidak dijelaskan oleh wahyu dengan spekulasi dan akal semata.
Kelima: Sikap yang Benar terhadap Takdir
Sikap seorang Muslim terhadap takdir adalah husnuzan kepada Allah. Kita meyakini bahwa semua yang Allah takdirkan berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna. Allah mengetahui segala sesuatu: yang tampak maupun yang tersembunyi; yang telah terjadi maupun yang akan terjadi; perkara yang diketahui manusia maupun yang tidak diketahuinya.
Allah juga memiliki hikmah yang sempurna dalam seluruh ketetapan-Nya. Karena itu, semua takdir Allah pasti mengandung hikmah. Ada hikmah yang dapat kita ketahui dan ada hikmah yang tidak kita ketahui. Ketidaktahuan kita terhadap hikmah suatu takdir tidak berarti bahwa takdir tersebut tidak memiliki hikmah.
Hikmah Takdir Tidak Selalu Kita Ketahui
Allah terkadang menyembunyikan hikmah dari sebuah ketetapan sebagai ujian bagi manusia. Di antara contohnya adalah ketika orang-orang musyrik mempertanyakan mengapa sebagian manusia mendapatkan keutamaan dan petunjuk sementara yang lainnya tidak.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَكَذٰلِكَ فَتَنَّا بَعۡضَهُمۡ بِبَـعۡضٍ لِّيَـقُوۡلُوۡۤا اَهٰٓؤُلَآءِ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ مِّنۡۢ بَيۡنِنَا ؕ اَلَـيۡسَ اللّٰهُ بِاَعۡلَمَ بِالشّٰكِرِيۡنَ
"Dan demikianlah Kami telah menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, 'Apakah mereka itu orang-orang yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?' Bukankah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur?" (QS. Al-An'am: 53).
Demikian pula ketika orang-orang musyrik mempertanyakan mengapa kerasulan diberikan kepada orang tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ
"Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya." (QS. Al-An'am: 124).
Ayat ini mengajarkan bahwa Allah paling mengetahui siapa yang layak menerima amanah kerasulan.
Jangan Mempertanyakan Hikmah Allah dengan Sikap Protes
Di antara pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran manusia:
- "Kenapa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang dipilih menjadi rasul, bukan orang lain?"
- "Kenapa Allah menciptakan makhluk?"
- "Kenapa Iblis dibiarkan sesat?"
- "Kenapa Nabi Adam 'alaihissalam ditakdirkan turun ke bumi?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa saja terlintas dalam pikiran manusia. Namun kita harus memahami bahwa tidak semua hikmah takdir dapat kita ketahui. Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Allah memiliki ilmu yang sempurna, sedangkan ilmu manusia terbatas. Karena itu, kewajiban kita adalah menerima berita dari Allah dan Rasul-Nya dengan iman serta meyakini bahwa seluruh ketetapan Allah mengandung hikmah.
Kesimpulan
Dari pembahasan ini dapat kita simpulkan beberapa perkara penting:
- Pertama, iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada tauhid rububiyah karena Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, dan Pengatur seluruh alam.
- Kedua, mengingkari takdir merupakan perkara yang sangat berbahaya dan apabila pengingkarannya menyentuh pokok iman, maka termasuk kekufuran besar.
- Ketiga, takdir berkaitan dengan empat perkara: ilmu Allah, penulisan Allah, kehendak Allah, dan penciptaan Allah.
- Keempat, rahasia takdir merupakan perkara yang Allah sembunyikan dari manusia. Kita tidak diperintahkan untuk mengetahui seluruh hakikatnya.
- Kelima, akal manusia memiliki batas. Karena itu, akal harus tunduk kepada wahyu, bukan menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu.
- Keenam, dalam perkara gaib, kita wajib berhenti pada apa yang dijelaskan oleh Al-Qur'an dan Sunnah.
- Ketujuh, kita wajib berhusnuzan kepada Allah dan meyakini bahwa seluruh takdir Allah memiliki hikmah.
- Kedelapan, tidak mengetahui hikmah suatu takdir bukan berarti tidak ada hikmah di baliknya. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak mengetahui kecuali apa yang Allah ajarkan kepada kita.
Karena itu, sikap seorang mukmin terhadap takdir adalah beriman, menerima, bersabar ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, serta senantiasa berhusnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Pertemuan #2 : Kamis, 25 Rabi’ul Akhir 1448 / 6 Oktober 2026
Buah Manis Beriman kepada Takdir
Kaum muslimin, muslimat, dan para penuntut ilmu rahimakumullah.
Alhamdulillah, dengan taufik dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita dapat melanjutkan pelajaran dari Kitab at-Tauhid alladzi huwa haqqullahi 'alal 'abid, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kita telah memasuki Bab ke-60: Maa Jaa'a fii Munkiril Qadar, yaitu pembahasan tentang hukum mengingkari takdir.
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan hubungan bab ini dengan Kitab Tauhid. Mengingkari takdir dapat mengurangi bahkan menghilangkan tauhid rububiyah, karena di antara konsekuensi tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta, Penguasa, Pengatur, dan Penentu segala sesuatu.
Mengingkari takdir juga termasuk bentuk su'uzan atau buruk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seseorang yang meyakini bahwa Allah menetapkan sesuatu tanpa ilmu, hikmah, atau keadilan berarti telah berburuk sangka kepada Rabbnya.
Pengertian Takdir
Secara bahasa, takdir berkaitan dengan penetapan dan pengukuran sesuatu sebelum diwujudkan. Adapun secara syariat, takdir mencakup ilmu Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi, pencatatan-Nya, kehendak-Nya, serta penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu yang terjadi.
Ada beberapa perkara penting yang perlu dipahami:
- Takdir adalah rahasia Allah.
- Akal manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua perkara yang Allah tetapkan dapat dijangkau oleh akal manusia.
- Ada perkara-perkara yang tidak boleh dibicarakan tanpa dalil, termasuk mencoba mengetahui secara terperinci hakikat zat Allah, bagaimana sifat-sifat Allah, dan alasan terperinci di balik setiap takdir Allah.
Kita mungkin dapat memahami sebagian hikmah secara umum, tetapi tidak selalu dapat mengetahui alasan secara rinci. Misalnya, mengapa seseorang dilahirkan kaya sementara yang lain miskin, mengapa seseorang mendapatkan kesehatan sementara yang lain sakit, atau mengapa Allah menetapkan suatu kejadian tertentu.
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di baliknya. Namun, seorang mukmin wajib meyakini bahwa semua takdir Allah mengandung hikmah, meskipun hikmah tersebut terkadang tidak kita ketahui.
Dari sini kita belajar untuk berhusnuzan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Buah-Buah Manis Beriman kepada Takdir
Agar semakin semangat mempelajari suatu ilmu, kita perlu mengetahui buah dan manfaat dari ilmu tersebut. Demikian pula dalam pembahasan iman kepada takdir. Ada banyak buah manis yang akan dirasakan oleh orang yang benar dalam memahami dan mengimani takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala.
1. Berhusnuzan kepada Allah
Orang yang benar-benar beriman kepada takdir akan memiliki husnuzan, yaitu berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia mengetahui bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan alam semesta, menguasai dan mengaturnya dengan sempurna. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengaturan Allah. Seandainya pengaturan Allah tidak sempurna, tentu alam semesta akan mengalami kerusakan. Akan tetapi, Allah mengatur seluruh makhluk dengan:
- ilmu yang sempurna,
- hikmah yang sempurna,
- keadilan yang sempurna,
- dan karunia yang luas.
Karena itu, seorang mukmin meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan untuk dirinya maupun untuk alam semesta pasti berdasarkan ilmu dan hikmah Allah yang sempurna. Jika sesuatu yang terjadi tampak buruk bagi kita, kita tetap yakin bahwa Allah menetapkannya dengan keadilan dan hikmah-Nya. Adapun nikmat dan kebaikan yang kita dapatkan merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Maka iman kepada takdir seharusnya tidak menjadikan seseorang berburuk sangka kepada Allah, tetapi justru semakin yakin bahwa pilihan Allah untuk dirinya lebih baik daripada pilihannya sendiri.
2. Bersabar Ketika Tertimpa Musibah
Buah kedua dari iman kepada takdir adalah kesabaran ketika tertimpa musibah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22–23).
Ayat ini merupakan pelipur lara bagi seorang mukmin ketika mendapatkan musibah. Musibah yang menimpa dirinya bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Semuanya telah diketahui dan ditetapkan Allah sebelum terjadi. Karena itu, ketika mendapatkan musibah, seorang mukmin mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.” “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.”
Ia juga mengingat bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Namun, iman kepada takdir bukan berarti seseorang tidak boleh bersedih.
Bersedih ketika musibah adalah sesuatu yang manusiawi
Kesedihan ketika kehilangan sesuatu yang dicintai merupakan perkara yang wajar. Seseorang boleh menangis dan merasa sedih. Yang tidak boleh adalah membiarkan kesedihan berlarut-larut hingga menghilangkan kesabaran, merusak husnuzan kepada Allah, atau mendorong seseorang mengucapkan sesuatu yang dimurkai Allah.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang yang beliau cintai. Air mata boleh berlinang dan hati boleh bersedih, tetapi lisan tetap dijaga. Inilah salah satu bentuk iman kepada takdir: sedih, tetapi tetap tunduk kepada syariat.
Takdir telah ditetapkan sebelum penciptaan langit dan bumi
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قَدَّرَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, sedangkan Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim, no. 2653).
Hadis ini menunjukkan bahwa berbagai ketetapan Allah telah diketahui dan ditulis sebelum terjadinya penciptaan langit dan bumi. Hal ini juga menjadi penjelasan yang sangat kuat terhadap kandungan QS. Al-Hadid ayat 22.
Karena itu, ketika musibah datang, seorang mukmin mengingat bahwa semua itu telah berada dalam ilmu dan ketetapan Allah. Keyakinan tersebut akan membantu hatinya untuk bersabar.
3. Tidak Sombong dan Tidak Ujub terhadap Keberhasilan
Buah ketiga dari iman kepada takdir adalah seseorang tidak sombong dan tidak ujub terhadap apa yang telah dicapainya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23).
Orang yang beriman kepada takdir mengetahui bahwa keberhasilan yang ia raih tidak semata-mata berasal dari kecerdasan, pengalaman, kemampuan, atau usahanya. Semua itu terjadi dengan takdir dan pertolongan Allah. Ada orang yang cerdas, berpengalaman, dan memiliki kemampuan luar biasa, tetapi pada suatu ketika mengalami kegagalan. Ada pedagang yang pandai, tetapi suatu saat mengalami kerugian. Ini menunjukkan bahwa hasil akhir tidak semata-mata berada di tangan manusia.
Jangan sombong dengan nikmat iman dan Islam
Di antara nikmat terbesar yang tidak boleh kita sombongkan adalah nikmat iman dan Islam. Jangan sampai seseorang mengatakan: “Saya mendapatkan hidayah karena saya memang layak mendapatkannya.” Atau: “Saya mendapatkan hidayah karena hati saya lebih bersih daripada orang lain.”
Tidak demikian.
Hidayah adalah karunia Allah. Seandainya Allah tidak memberikan karunia-Nya, kita tidak akan menjadi seorang muslim dan mukmin. Karena itu, ketika melihat orang yang belum mendapatkan hidayah atau seseorang yang sedang melakukan kemaksiatan, jangan merasa lebih tinggi karena menganggap diri kita lebih baik.
Justru hendaknya kita merasa kasihan dan berusaha mencari jalan agar orang tersebut mendapatkan petunjuk. Jika tidak mampu menyampaikan secara langsung, kita dapat berdakwah secara tidak langsung, misalnya dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat sesuai kemampuan. Kita juga tidak boleh terlalu percaya diri dengan kondisi iman kita. Kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita. Karena itu, kita terus memohon kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan Islam dan agar Allah tidak mencabut hidayah dari kita.
4. Qana'ah terhadap Rezeki Allah
Buah keempat dari iman kepada takdir adalah qana'ah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Sesungguhnya suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah, no. 2144; dishahihkan oleh Al-Albani).
Hadis ini mengajarkan bahwa seseorang tidak akan mati sebelum menyempurnakan rezekinya yang telah Allah tetapkan. Maka jangan sampai keinginan mendapatkan rezeki membuat seseorang mencari jalan yang haram.
Rezeki tidak bertambah dengan cara haram
Orang yang beriman kepada takdir memahami bahwa apabila ia telah mendapatkan kadar rezeki tertentu yang Allah tetapkan, maka mencari tambahan melalui jalan yang haram tidak akan mengubah ketetapan Allah. Karena itu, ia memilih:
- mencari rezeki dengan cara halal,
- meninggalkan yang haram,
- merasa cukup dengan yang Allah halalkan,
- dan meyakini bahwa rezeki yang halal mengandung keberkahan.
Seseorang boleh memiliki keinginan untuk mempunyai rumah yang lebih luas, kendaraan yang lebih baik, atau harta yang lebih banyak. Namun, ketika keinginannya belum terwujud, ia tetap yakin bahwa ketetapan Allah mengandung hikmah.
Belum tentu memiliki harta lebih banyak akan menjadi lebih baik baginya. Bisa jadi jika seseorang diberikan kekayaan yang sangat banyak, justru kekayaan tersebut menjadi sebab ia bermaksiat. Firaun memiliki kekuasaan dan kekayaan, tetapi semua itu tidak memberikan keselamatan kepadanya. Demikian pula kekuasaan tidak menjamin seseorang mendapatkan kebaikan. Maka orang yang memahami takdir akan belajar untuk qana'ah terhadap apa yang Allah berikan, sembari tetap berusaha mencari rezeki yang halal.
5. Semangat Berusaha dan Bertawakal kepada Allah
Buah kelima dari iman kepada takdir adalah seseorang akan berusaha dengan sungguh-sungguh sekaligus bertawakal kepada Allah. Iman kepada takdir tidak boleh menjadikan seseorang malas. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena ucapan ‘seandainya’ membuka jalan bagi amalan setan.” (HR. Muslim, no. 2664).
Hadis ini memberikan keseimbangan yang sangat penting. Sebelum sesuatu terjadi, seorang mukmin berusaha. Setelah berusaha dan hasilnya terjadi, ia bertawakal dan menerima takdir Allah. Jadi, tidak benar seseorang berkata:
“Semuanya sudah ditakdirkan. Kalau Allah menakdirkan saya mendapatkan rezeki, saya pasti mendapatkannya meskipun saya malas.”
Ini adalah pemahaman yang keliru terhadap takdir. Orang yang benar dalam memahami takdir justru semakin bersemangat untuk berusaha mencari kebaikan, karena ia tidak mengetahui apa yang telah Allah takdirkan untuk dirinya.
Takdir Kauniyah dan Takdir Syar'iyah
Dalam pembahasan ini dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara takdir kauniyah dan takdir syar'iyah.
- Takdir kauniyah: Takdir kauniyah berkaitan dengan apa yang Allah tetapkan terjadi di alam ini. Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan. Apakah kita akan berhasil atau gagal, sehat atau sakit, kaya atau miskin, mendapatkan sesuatu atau kehilangan sesuatu—semua itu berada dalam ilmu Allah.
- Takdir syar'iyah: Adapun takdir syar'iyah berkaitan dengan apa yang Allah syariatkan kepada manusia. Allah telah menunjukkan:
- mana yang baik,
- mana yang buruk,
- mana yang halal,
- mana yang haram,
- jalan ketaatan,
- dan jalan kemaksiatan.
Maka terhadap perkara yang telah Allah syariatkan, kita diperintahkan untuk berusaha sekuat tenaga meraih kebaikan.
Kita tidak boleh mengatakan, “Kalau Allah menakdirkan saya menjadi orang baik, saya akan menjadi baik,” lalu meninggalkan amal. Justru kita harus menjalankan syariat, berusaha melakukan kebaikan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Inilah pemahaman yang benar tentang takdir: Bersemangat dalam usaha, kemudian bertawakal terhadap hasil yang tidak kita ketahui.
Tawakal Bukan Berarti Malas
Tawakal yang benar harus dibangun di atas usaha yang benar. Seseorang berusaha sesuai dengan syariat Allah, mencari sebab-sebab yang dibenarkan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun seseorang yang tidak mau berusaha, melakukan sesuatu yang menyelisihi syariat, lalu mengatakan bahwa dirinya bertawakal kepada Allah, maka ini bukan tawakal yang benar.
Itu hanyalah angan-angan dan jalan yang dapat menjadi godaan setan. Karena itu, seorang mukmin harus memahami hubungan antara usaha, doa, tawakal, dan takdir dengan benar.
- Ia berusaha karena itu adalah bagian dari sebab yang Allah syariatkan.
- Ia berdoa karena hanya Allah yang mampu memberikan hasil.
- Ia bertawakal karena hasil akhir berada di tangan Allah.
Dan ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan harapannya, ia menerima ketetapan Allah dengan sabar dan husnuzan.
Keteguhan Para Sahabat dalam Mengimani Takdir
Para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan contoh nyata dalam memahami takdir. Ketika berjihad, mereka menghadapi musuh yang terkadang lebih unggul secara jumlah dan persiapan. Namun mereka tetap berani dan bertawakal kepada Allah.
Dari mana datangnya keberanian tersebut? Di antaranya karena keikhlasan dan kuatnya iman mereka kepada takdir. Mereka memahami bahwa apa yang telah Allah tetapkan pasti terjadi. Jika seseorang telah ditakdirkan meninggal di medan perang, ia akan meninggal di sana. Jika Allah tidak menakdirkan kematian baginya di tempat tersebut, ia tidak akan meninggal di sana.
Namun keyakinan ini tidak menjadikan mereka pasif. Mereka tetap menjalankan apa yang Allah syariatkan dengan penuh keberanian dan kesungguhan. Inilah keseimbangan iman kepada takdir: Tidak takut kepada sesuatu yang telah Allah tetapkan, tetapi tetap menjalankan syariat dengan penuh kesungguhan.
Khalid bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus
Di antara sahabat yang menjadi contoh dalam hal ini adalah Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu. Beliau dijuluki Saifullah al-Maslul, yaitu “Pedang Allah yang Terhunus”. Dalam perjalanan karier militernya, beliau dikenal sebagai panglima yang sangat kuat dan memiliki reputasi besar. Musuh yang berhadapan dengannya akan merasa gentar karena beliau dikenal sebagai seorang panglima yang sangat tangguh.
Namun terdapat sebuah pelajaran besar dari akhir kehidupan beliau. Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu ternyata wafat di atas tempat tidur, bukan di medan jihad, padahal beliau sangat menginginkan kematian di medan jihad.
Di sinilah terlihat bagaimana seorang mukmin harus memahami takdir. Manusia boleh memiliki keinginan, merencanakan, dan berusaha. Akan tetapi, keputusan akhir tetap berada di tangan Allah. Kita tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan untuk kita. Tugas kita adalah menjalankan apa yang Allah perintahkan dengan sebaik-baiknya.
Penutup
Iman kepada takdir bukanlah alasan untuk bermalas-malasan, meninggalkan usaha, atau menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, iman kepada takdir yang benar akan melahirkan kekuatan dalam diri seorang mukmin. Di antara buah manis iman kepada takdir adalah:
- Berhusnuzan kepada Allah, karena yakin semua ketetapan-Nya berdasarkan ilmu, hikmah, keadilan, dan karunia-Nya.
- Bersabar ketika tertimpa musibah, karena yakin bahwa semua telah berada dalam ketetapan Allah.
- Tidak sombong dan tidak ujub terhadap keberhasilan, karena semua nikmat dan pencapaian terjadi dengan takdir dan karunia Allah.
- Qana'ah terhadap rezeki, dengan mencari yang halal dan meninggalkan yang haram.
- Semangat dalam berusaha dan bertawakal, karena kita diperintahkan mengambil sebab-sebab yang benar, sementara hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
Dengan demikian, iman kepada takdir melahirkan dua sikap yang sangat penting: sebelum sesuatu terjadi, kita bersungguh-sungguh dalam usaha; setelah sesuatu terjadi, kita ridha dan bertawakal kepada Allah. Kita tidak mengetahui apa yang akan Allah takdirkan untuk kita. Karena itu, jangan berhenti berusaha dalam kebaikan, jangan meninggalkan doa, jangan berputus asa ketika menghadapi musibah, dan jangan sombong ketika mendapatkan nikmat.
Apa pun yang Allah tetapkan, seorang mukmin meyakini bahwa di baliknya terdapat hikmah yang sempurna.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita pemahaman yang benar tentang takdir, menjadikan kita hamba yang sabar ketika tertimpa musibah, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, qana'ah terhadap rezeki, serta senantiasa bersemangat melakukan kebaikan dan bertawakal hanya kepada-Nya.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم