Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallohu'anhu, ia berkata: Nabi sholat Isya’ kemudian pergi dan menggandeng tangan Abdulloh bin Mas’ud Radhiyallohu'anhu hingga keluar bersama beliau menuju lembah padang pasir berkerikil di Makkah lalu beliau mendudukkannya kemudian beliau menggariskan untuknya sebuah garis kemudian bersabda:
(“Janganlah engkau meninggalkan garismu karena sesungguhnya akan berhenti di hadapanmu beberapa orang, janganlah engkau berbicara dengan mereka karena mereka tidak akan berbicara kepadamu.”)
Lalu Rosululloh pergi sesuai dengan keinginan beliau, hingga ketika aku dalam keadaan duduk dalam garisku tiba-tiba datang kepadaku beberapa orang, sepertinya mereka adalah orang Zuth(1), rambut dan jasad mereka, aku tidak melihat aurat dan baju mereka, mereka berhenti di hadapanku, tidak melewati garis itu, lalu mereka kembali menuju ke arah Rosululloh hingga ketika telah sampai akhir malam, (mereka tidak datang) namun Rosululloh yang datang kepadaku dalam keadaan aku sedang duduk, lalu beliau bersabda:
Artinya : (“Aku tidak tidur sejak tadi malam.”)
Sanad memiliki peranan yang sangat penting dalam menukilkan wahyu, baik Al-Qur’an Al-Karim maupun Sunnah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.
Demikian pula menukilkan berita dari kalangan salafus saleh dari para sahabat, tabi’in, dan yang setelahnya. Karena tanpa sanad, satu berita tidak bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dengan sanad akan memberikan beberapa faedah yang sangat agung. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Ilmiah dalam Penukilan
Dengan sanad, seseorang menukil wahyu Allah ‘azzawajalla dan hadits Rasul-Nya secara otentik sebagaimana asalnya, sehingga memberikan kekuatan hujjah bagi seorang muslim dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.
Abdullah bin Mubarak Rahimahullah mengatakan:
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” (Diriwayatkan Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/15)
Yahya bin Sa’id al-Qaththan Rahimahullah mengatakan, “Jangan kalian memerhatikan hadits, namun perhatikanlah sanadnya. Jika sanadnya sahih maka amalkanlah. Namun, jika tidak, jangan engkau tertipu dengan hadits yang sanadnya tidak sahih.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 9/188)
NII – Pesantren Al-Zaytun (1)
Bukti-bukti Kesesatan NII KW IX Abu Toto
Sepak terjang NII KW IX (Negara Islam Indonesia Komandan Wilayah IX), dalam kurun waktu di bawah kepemimpinan Haji Abdul Karim dan kemudian Haji Muhammad Ra’is dari tahun 1984 s/d 1992 maupun di bawah kepemimpinan Abu Toto Asy-Syaikh AS Panji Gumilang (gelar kebesarannya saat ini) sejak dari tahun 1992 hingga tahun 2001 telah menimbulkan banyak korban. Secara nyata yang lebih banyak dirugikan baik moril maupun material oleh KW IX sejak masa Haji Karim sampai Abu Toto adalah umat islam pada umumnya, dan secara khusus kalangan NII atau DI (Darul Islam).
Kerugian yang diderita ummat Islam secara moril adalah telah tercemarinya pemikiran dan pemahaman mereka tentang Islam, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari dan tanpa terasa telah terjerumus pada suatu keyakinan yang menjungkir-balikkan prinsip-prinsip keimanan (aqidah) yang untuk selanjutnya berdampak pada pelecehan terhadap syari’at serta bermuara pada kemerosotan akhlak.
Suatu tindakan pemurtadan sekaligus penindasan dan pemiskinan telah berlangsung terhadap umat Islam Indonesia yang dilakukan oleh KW IX di Indramayu Jawa Barat, Gerakan sesat yang mengatasnamakan NII di balik pesantren mewah Al-Zaytun. Suatu tindak kejahatan politik, sosial dan pelanggaran HAM yang sangat serius yang mungkin belum pernah dilakukan oleh kelompok sempalan maupun yang ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia.