Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Selasa, 3 Dzulqa’dah 1447 / 21 April 2026
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.



 Pertemuan #31: Wajibnya Mengetahui Pembatal-pembatal Keislaman  

 📖 65. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:

وَلِلْبُخَارِيّ:

Dalam riwayat Bukhari, Nabi ﷺ bersabda,

((بَيْنَا أَنَا قَائِمَ إِذَا زُمْرَةً، حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلُّ مِنْ بَيْنِيْ وَبَيْنِهِمْ، فَقَالَ: هَلُمَّ، فَقُلْتُ: أَيْنَ؟ قَالَ: إِلَى النَارِ، قُلْتُ: وَمَا شَأَنُهُمْ؟ قَالَ: إِنَّهُمُ ارْتَدُوْا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرَى، ثُمَّ إِذَا زُمْرَةً ... -فَذَكَرَ مِثْلَهُ-، قَالَ: فَلَا أُرَاهُ يَخْلُصَ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ)).

"Saat aku sedang berdiri, tiba-tiba muncullah sekelompok orang, hingga manakala aku mengenali mereka, seorang laki-laki (yakni malaikat) keluar di antara diriku dengan mereka, lalu dia berkata, 'Ayo berangkat.' Aku bertanya, 'Ke mana (kamu membawa mereka)?' Dia menjawab, 'Ke neraka." Aku bertanya, 'Ada apa dengan mereka?' Dia menjawab, 'Mereka murtad sesudah wafatmu, kembali ke belakang (balik kafir)" Kemudian muncul sekelompok orang... -lalu rawi menyebutkan sepertinya-, beliau bersabda, 'Maka aku tidak menduga bahwa ada yang selamat dari mereka kecuali (sedikit) seperti unta merah yang diabaikan pemiliknya'.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6587, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu.

📃 Penjelasan:

Hadits ini seperti hadits sebelumnya, bahwa Nabi berada di tengah-tengah manusia yang besar pada Hari Kiamat emudian mereka dipanggil ke neraka dari sisi Rasulullah. Maka beliau bertanya, "Mengapa?" Maka mereka (para malaikat) menjawab bahwa mereka itu terus murtad sesudah wafatmu.

Hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang melakukan satu pembatal dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia akan menemui tempat kembali seperti dalam hadits tersebut, kecuali bila bertaubat kepada Allah sebelum kematian. Ini menekankan pada manusia agar mengetahui tentang pembatal-pembatal keislaman dan menjauhinya, agar pada Hari Kiamat tidak masuk ke dalam rombongan orang-orang itu, padahal dia mengaku sebagai Muslim.

Seseorang mungkin hidup dalam keadaan murtad dan mengaku Muslim, mengapa? Karena dia hidup di atas pembatal dari pembatal-pembatal Islam yang berjumlah banyak. Sebab-sebab riddah (keluar dari agama) itu berjumlah banyak, harus diperhatikan dan diketahui, dan memohon kepada Allah keteguhan di atas agama, jadi tidak cukup sekedar menisbatkan diri atau seseorang menjadi seperti bunglon, bila orang-orang buruk maka dia buruk, bila mereka baik maka dia ikut baik, akan tetapi dia harus mengetahui kebenaran agar bisa mengamalkannya, lalu memohon keteguhan kepada Allah. Hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang murtad dari agama Islam, maka dia termasuk penduduk neraka, sekalipun pada awalnya dia termasuk umat ini. Allah ﷻ berfirman,

وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۝٢١٧

"Dan barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam keadaan kafir, maka mereka adalah orang-orang yang gugur (pahala) amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah para penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah : 217).

Karena itu, kita wajib mengetahui apa bentuk-bentuk riddah yaitu apa pembatal-pembatal keislaman, agar kita menjauhinya, kebanyakan manusia hidup tidak peduli, mereka tidak menge. tahui dan tidak mengenal pembatal-pembatal keislaman, mereka terjerumus ke dalamnya tanpa menyadarinya karena kebodohan yang tidak bisa dijadikan dasar udzur, karena siapa yang hidup di antara para ulama di negeri Islam, maka dia tidak diberikan udzur dalam kebodohan, karena dia bisa bertanya kepada mereka dan belajar, serta menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Adapun siapa yang masa bodoh, tidak memperhatikan ilmu, tidak belajar, dan merasa cukup dengan penisbatan dirinya kepada Islam, serta mengikuti manusia ke mana pun mereka berjalan, maka pada Hari Kiamat dia termasuk orang-orang yang merugi. Hadits ini mendorong untuk mengetahui pembatal-pembatal keislaman, sehingga seorang Muslim bisa menjauhinya, agar tidak masuk ke dalam rombongan orang-orang tersebut, pada Hari Kiamat.

*****

📖 66. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:

وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عَبَّاسِ

Dalam riwayat keduanya, dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

((فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: ﴿ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ (117) إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ (118).

"Maka aku berkata sebagaimana perkataan hamba yang shalih (Isa putra Maryam), 'dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'. (QS. Al-Maidah ayat 117 - 118).

Al-Bukhari, no. 6526: dan Muslim, no. 2860 (58).

📃 Penjelasan:

Nabi bersabda saat itu; saat menyaksikan pemandangan yang menakutkan ini, saat mereka didorong ke dalam api neraka dari sisi beliau, maka beliau mengucapkan apa yang dikatakan hamba shalih, yaitu Nabi Isa putra Maryam alaihissalam pada Hari Kiamat, saat Allah ﷻ berfirman kepadanya,

يَٰعِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ

"Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". (Al-Maidah: 116).

Ini membuka kedok orang-orang Nasrani yang berkata bahwa al-Masih adalah putra Allah, atau satu dari tiga unsur, atau mereka berkata bahwa al-Masih adalah Allah, atau bahwa Allah adalah al-Masih putra Maryam. Allah ﷻ berfirman kepadanya pada Hari Kiamat, ﴾َأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتمَّخِذُونِيِ وَأُتِىَ إلَهَيْنِ مِن دُونِ اَللَّهِ قَالَ سُبْحَنَك﴿ "Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, 'Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan (yang disembah) selain Allah?' (Isa) menjawab, 'Mahasuci Engkau'." Ini adalah penyucian bagi Allah ﷻ dari perkataan tersebut. ﴾ِّمَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِى يِحَق﴿ "Tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku," karena ibadah adalah hak Allah, bukan hak al-Masih, bukan hak ibunya, dan bukan hak selain keduanya dari para makhluk. Ibadah adalah hak Allah ﴾ِّقَالَ سُبْحنَكَ مَا يَكُونُ لِي أَن﴿. "(Isa) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku'." Karena ini adalah hak Allah Uluhiyah dan ibadah adalah hak Allah.

﴾ِّ إِن كنتُ قَلَتَهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ، تَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِى وَلَا أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّم الْغُيُوبِ﴿ "Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada DiriMu. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib." Ini adalah bukti lain bahwa al-Masih tidak mengatakan perkataan ini, seandainya dia  mengucapkannya, niscaya Allah ﷻ mengetahuinya, karena Allah mengetahui segala sesuatu. Ini adalah dalil bahwa dia tidak berkata demikian kepada mereka, karena bila dia mengucapkannya, tentulah Allah mengetahuinya.﴾مَاقُلَتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرتَنِى بِه﴿ "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku." Ini menunjukkan bahwa seorang rasul itu utusan yang disampaikan kepadanya (wahyu) dari Allah, dia tidak mendatangkan sesuatu dari sisi dirinya sendiri, akan tetapi dia hanya seorang penyampai dari Allah. ﴾ْإلَّا مَا أَمَرْتَِى بِهِ, أَنِ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّى وَرَبَّكُم﴿"Kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian'," jadi al-Masih berstatus sebagai hamba, bukan Rabb (Tuhan) sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang Nasrani.

﴾وَكُنتُ عَلَتِهِم شَهِيدًا مَّا دُمّتُ فِيِهمٌ﴿ "Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka," semasa hidupnya. Dia mengajak umatnya kepada Tauhid, dan melarang mereka berbuat syirik, dia tidak pernah memerintahkan mereka berbuat syirik selamanya.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah". (Ali Imran: 79).

Tidak seorang nabi pun yang berkata demikian. Tetapi (justru dia berkata), وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ 'Jadilah kalian orang -orang yang rabbani, karena kalian mengajarkan Kitab'." Inilah yang dikatakan oleh Nabi Isa.

كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ. وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا۟ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ وَٱلنَّبِيِّۦنَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِٱلْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Jadilah kalian orang-orang yang rabbani, karena kalian mengajarkan Kitab dan karena kalian mempelajarinya!' Dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kalian menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan," selain Allah. Tidak ada seorang Nabi pun yang menyuruh umatnya berbuat demikian selamanya. Apakah patut) dia menyuruh kalian menjadi kafir setelah kalian menjadi Muslim?" (Ali Imran: 79-80).

Seorang Nabi tidak memerintahkan kepada kekafiran selamanya, tidak bisa dibayangkan bahwa seorang nabi mengajak kepada syirik dan kekafiran.

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

"Maka ketika Engkau telah mewafatkanku, Engkau-lah Yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu." (Al-Ma idah: 117).

Al-Masih alaihissalam wafat saat diangkat, yang dimaksud dengan "wafat" di sini adalah diangkat, lalu dia diangkat dalam keadaan hidup, ruhnya tidak terpisah dari jasadnya, dia diangkat dengan ruh dan jasadnya ke langit. Allah & berfirman,

﴿إِنِِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَى﴾

"Sesungguhnya Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepadaKu." (Ali Imran: 55).

Kemudian di akhir zaman, dia akan diwafatkan dengan wafat kubra, yaitu terpisahnya ruh dari jasad. Allah & berfirman,

﴿وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖۚ .﴾

"Tidak ada seorang pun di antara Ahli Kitab, kecuali dia akan benar-benar beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya." (An-Nisa : 159).

Ini terjadi di akhir zaman, al-Masih meninggal dunia, dimakamkan -seperti nabi-nabi lainnya- di kuburan, di akhir zaman.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم