ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Selasa, 18 Syawal 1447 / 7 April 2026
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
ﷺ Pertemuan#30: Mereka yang Terusir dari Telaga Nabi
📖 63. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
ولهما عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
Dan pada riwayat milik mereka berdua (al-Bukhari dan Muslim) dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، ولَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْ أُمَّتِي حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ؛ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي، فيُقَالُ: إِنَّكَ لا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ.
"Aku adalah farath (pendahulu) kalian ke telaga, sungguh akan didatangkan kepadaku orang-orang dari kalian, hingga saat aku menjulurkan tangan untuk memberi mereka (minum), maka mereka terhalang dariku, lalu aku berkata, Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku.' Maka Allah menjawab, 'Kamu tidak tahu bid’ah yang mereka buat-buat sesudahmu'.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 7049 dan Muslim no. 2297).
Mengimani keberadaan telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari prinsip ahlus sunah. dan ini bagian dari kesempurnaan iman kepada hari akhir.
Imam Al-Hafizh Abu ‘Amr bin ‘Abdul Barr mengatakan, “Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, merekalah yang dijauhkan dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), dan pelaku bid’ah lainnya. Begitu pula orang yang berbuat zalim dan terlaknat lantaran melakukan dosa besar. Semua yang disebutkan tadi dikhawatirkan terancam akan dijauhkan dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 3: 122)
Sabda Nabi ﷺ dalam hadits ini, أنافرطكم على الحوض (Aku adalah farath kalian pada telaga). Al-farath adalah orang yang mendahului datang ke sumber air untuk memberi minum kaumnya. Pada Hari Kiamat, Nabi ﷺ berada di sisi telaga, panjangnya sejauh perjalanan sebulan, lebarnya juga sejauh jarak perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu, bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit, barangsiapa minum sekali saja darinya, niscaya setelahnya dia tidak akan merasa haus selamanya. (Lihat hadits-hadits tentang sifat telaga dalam Jami' al-Ushul, karya Ibnu al-Atsir, 10/461-467. Hadits-hadits no. 7984-7992).
Pada Hari Kiamat umat akan datang ke telaga Nabi ﷺ dalam keadaan haus karena panas yang terik dan lamanya berdiri, mereka memerlukan air, maka Nabi ﷺ memberi mereka minum dengan tangan beliau, kecuali orang-orang yang merubah agama beliau, karena mereka diusir dari telaga, maka Nabi berkata, أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي (Wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku). Maka Allah menjawab, إِنَّكَ لا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ (Kamu tidak tahu apa yang mereka perbuat sesudahmu), yakni, mereka itu telah merubah. Ini menunjukkan bahwa siapa yang berbuat bid'ah di dalam agama Allah dan merubah ajaran agama, maka dia tidak akan bisa mendekat ke telaga Nabi ﷺ. Yang datang ke sana adalah ahli Tauhid dan ittiba'. Ahli Tauhid kepada Allah dan ittiba' kepada Rasulullah ﷺ, yang tidak merubah dan tidak mengganti ajaran agama. Bahkan keadaan mereka tetap sebagaimana waktu mereka ditinggal oleh beliau Nabi ﷺ, mereka berjalan di atas jalan terang beliau, malamnya seperti siangnya, mereka adalah orang-orang yang datang ke telaga Nabi ﷺ, minum darinya, dan Rasulullah ﷺ yang memberi mereka minum darinya.
Adapun siapa yang merubah dan mengganti ajaran agama, sekalipun dia menisbatkan diri kepada Islam, mengaku mengikuti Nabi ﷺ, maka pada saat itu dia akan diusir dari telaga tersebut. Ini merupakan peringatan terhadap bahaya bid'ah, penyimpangan dan perubahan dalam agama Allah ﷻ, dan kesesatan.
Di dalamnya terkandung motivasi untuk berpegang kepada agama yang shahih, teguh di atasnya, dan bersabar dalam memegangnya hingga ajal kematian agar pada Hari Kiamat bisa datang ke telaga Nabi ﷺ dan minum darinya. Dan الإختلاج adalah mengambil dengan cepat, menghalangi dan mengusir. Mereka diusir dari telaga Nabi ﷺ.
*****
📖 64. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال :
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
وَدِدْتُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانِي الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ مِنْ أُمَّتِكَ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ بُهْمٍ دُهْمٍ أَلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنَ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ ثُمَّ قَالَ أَلاَ لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ فَأُنَادِيهِمْ أَلاَ هَلُمُّوا فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا
"Aku ingin bahwa kita dapat melihat saudara-saudara kita." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah kami adalah saudara-saudara Anda?" Rasulullah bersabda, "Kalian adalah sahabat-sahabatku, sementara saudara-saudara kita adalah orang-orang yang belum datang." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana Anda akan mengetahui orang yang belum datang dari umat Anda?" Rasulullah menjawab, "Bagaimana pendapat kalian seandainya seorang laki-laki memiliki seekor kuda dengan kepala putih dan kaki-kakinya juga putih di antara kuda-kuda hitam legam, bukankah dia akan mengetahui kudanya?" Mereka menjawab, "Tentu (dia mengenalinya) wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya mereka akan datang (nanti pada Hari Kiamat) dalam keadaan wajah dan kedua tangan (mereka) putih cemerlang karena bekas wudhu. Aku adalah orang pertama yang mendahului kalian datang ke telaga (al-Kautsar). Ketahuilah, sungguh akan ada orang-orang yang diusir dari telagaku sebagaimana seekor unta asing yang tersesat diusir, maka aku memanggil mereka, 'Kemarilah kalian.' Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah merubah (agama mereka) sesudahmu.' Maka aku berkata, 'Menjauhlah, menjauhlah'."
(HR. Muslim, no. 249).
Hadits ini semakna dengan hadits sebelumnya bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ adalah mereka yang tidak merubal dan tidak mengganti (agama mereka), mereka datang pada Hari Kiamat dengan tanda yang menonjol jelas, maka Rasulullah ﷺ mengenali mereka dengan tanda tersebut di antara manusia lainnya, dan tanda itu merupakan bekas wudhu. Ini adalah keutamaan wudhu untuk shalat dan keutamaan thaharah, serta bekasnya masih menetap sebagai cahaya yang bersinar pada Hari Kiamat pada anggota tubuh kaum Muslimin, yang dengannya Nabi ﷺ mengenali mereka, ini adalah keutamaan wudhu. Ia adalah tanda umat ini, tanda yang membedakan mereka dari umat-umat lainnya.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa akan ada orang-orang yang terhalang dan diusir dari telaga (al-Kautsar), mereka datang bersama rombongan yang datang ke telaga dengan mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang Islam, akan tetapi mereka dihalangi dan diusir, sebagaimana seekor unta asing yang tersesat diusir, mereka dihalang-halangi sehingga tidak bisa mencapai telaga. Maka Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa?" Maka dijawab bahwa engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sesudahmu, maka Nabi ﷺ bersabda, 'Menjauhlah, menjauhlah bagi siapa yang merubah dan mengganti ajaran (agama mereka)." (Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui perkara yang ghaib).
Atau sebagaimana yang Nabi ﷺ sabdakan. Ini seperti hadits pertama, hanya saja di sini ada tambahan, bahwa Nabi ﷺ mepearl umat beliau dengan tanda putih pada wajah dan tangan disebabkan bekas wudhu.
Pada awal hadits, Nabi ﷺ bersabda, (Aku ingin bahwa kita melihat saudara-saudara kita). Nabi berangan-angan nelihat saudara-saudara beliau dari orang-orang beriman yang jan datang sesudah wafat beliau. Maka para sahabat bertanya, ("Wahai Rasulullah, bukankah kami dalah saudara-saudaramu?" Rasulullah bersabda, 'Kalian adalah sahabat-sahabatku"). Ini khusus bagi orang-orang yang menyertai Nabi ﷺ yang bertemu dengan beliau dan beriman kepada beliau, mereka disebut dengan (sebutan) para sahabat, mereka memiliki keutamaan besar, mereka adalah generasi terbaik. Sedangkan saudara-saudara adalah orang-orang yang datang pada akhir Zaman yang mengikuti Rasulullah ﷺ, sekalipun masa antara belau dengan mereka jauh. Ini menunjukkan keutamaan besar bagi dkhir umat ini yang berpegang kepada agama Rasulullah padahal mereka tidak bertemu beliau.
Para sahabat melihat Nabi ﷺ, bergaul dengan beliau dan berjihad bersama beliau, akan tetapi akan datang orang-orang yang tidak melihat Nabi ﷺ, namun mereka beriman kepada beliau, mereka tidak melihat beliau, mereka beriman kepada beliau dengan sebab Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ memerintahkan demikian. Mereka membenarkan Nabi ﷺ, dan ini adalah keutamaan besar. Jadi, para sahabat memiliki keutamaan sebagai sahabat, sedangkan mereka yang datang di akhir zaman itu mendapatkan keutamaan berpegang dan mengikuti, padahal mereka tidak melihat Nabi ﷺ dan mendapatkan keutamaan khusus.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم