ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Selasa, 10 Dzulqa’dah 1447 / 28 April 2026
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
Pertemuan #32: Setiap Anak Terlahir di Atas Fitrah
Ustadz mengulang penjelasan yang dibahas pada pertemuan sebelumnya: Masalah penjelasan Isa Ibnu Maryam alaihissalam
📖 67. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ( مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ). ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }.
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi; sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna, apakah kalian melihat ada cacat padanya?”.
Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, (mengutip firman Allah subhanahu wata’ala QS Ar-Ruum: 30) yang artinya: “Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada makhluk ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus.”
HR. Al-Bukhari no. 1359, 1385, 4775; dan Muslim no. 6849
Hadits ini menafsirkan ayat di awal bab terdahulu, bahwa Allah memfitrahkan manusia di atas Islam, yakni di atas Tauhid. Seandainya mereka selamat dari para dai kesesatan niscaya fitrah mereka tetap bersih dan menerima kebenaran, serta mereka mengikuti para rasul. Jadi, fitrah saja tidak cukup, akan tetapi harus mengikuti para rasul. Fitrah mereka adalah shalih seperti tanah yang subur yang baik untuk tanaman. Apabila tanah itu tetap bersih dan belum tercemar, ia akan tetap baik untuk tanaman, dan bila ia dirubah atau dibuat gersang, kadar garam dan airnya naik, maka ia rusak dan tidak laik untuk ditanami.
Demikian juga manusia, bila fitrahnya dirubah, maka dia tidak menerima kebaikan, karena ia telah berubah dan menyimpang, seperti tanah yang rusak. Nabi telah membuat perumpamaan dengan kambing yang dibelah telinganya atau dipatahkan tanduknya, bahwa ia lahir dalam keadaan lengkap, selamat, tidak terbelah telinganya, kedua tanduk dan telinganya utuh, kemudian pemiliknya yang melakukan itu terhadapnya.
Demikian juga anak yang dilahirkan, di mana dia dilahirkan di atas fitrah yang sempurna, lalu bila fitrahnya dirubah, maka ia adalah ulah pendidik yang membelokkan fitrahnya dan merubahnya, seperti orang yang merusak tanah yang baik untuk ditanami, maka ia tidak bisa ditanami.
Orang yang telah diingatkan, tetapi terus dalam kesesatan disebabkan oleh beberapa hal:
- Mengikuti hawa nafsu.
- Mengikuti orang yang diidolakan sebagai figure tolak ukur kebenaran.
******
📖 68. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir hal itu akan menimpaku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: “Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, tetapi di dalamnya ada kabut (kekeruhan).” Aku bertanya: “Apa kekeruhannya?” Beliau menjawab: “Suatu kaum yang memberi petunjuk tidak dengan petunjukku, engkau mengenali mereka dan mengingkari (sebagian perbuatan mereka).” Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam. Barang siapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, gambarkanlah mereka kepada kami.” Beliau bersabda: “Mereka dari kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya: “Jika tidak ada jamaah dan tidak ada pemimpin?” Beliau bersabda: “Maka tinggalkanlah semua golongan itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dalam keadaan demikian.”‘”
HR. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847.
Pada pertemuan selanjutnya...
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم