Kategori Akhlak

Cara bergaul seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.
Kajian Islam

Bismillah

📚┃Materi : KUMPULAN HADIST AKHLAK (Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr)
🎙┃Pemateri : Ustadz Ja'far Ad Demaky,S.Ag حفظه الله تعالى (Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo )
🗓| Hari: Senin, 23 Rajab 1447 / 12 Januari 2026
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading - Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah


أحاديث الأخلاق - رِحْمَةُ الْعِيَالِ - Ahaditsul Akhlak - Bab 6: Berkasih Sayang dengan Keluarga


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ رَِ لَّه َنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ َِله: ((إِنِّي لأَدخُلُ فِي الصَّلَاةِ، وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي، مِمَّا أَعْلَمُ لِوَجْدِ أُمِّهِ بِبُكَائِهِ))، متفق عليه(أخرجه البخاريُّ (٧١٠)، ومسلم (٤٧٠).).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku memulai shalat dengan niat untuk memperpanjangnya, tetapi kemudian aku mendengar seorang anak menangis, maka aku mempersingkat shalatku, karena aku tahu betapa sedihnya ibunya mendengar tangisannya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (710) dan Muslim (470)).

Wahai ayah, wahai ibu, kasih sayangmu kepada anakmu adalah jalan menuju rahmat Allah. Janganlah kalian meremehkan perbuatan baik dalam hal ini, sekecil apa pun itu.

*****

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ رََِّلَهُ عَنهُ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عَائِشَةَ رَضَّ َلَّهُ عَنهَا، فَأَعْطَتْهَا عَائِشَةُ ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ لَهَا تَمْرَةً، وَأَمْسَكَتْ لِنَفْسِهَا تَمْرَة، فَأَكَلَ الصَّبِيَّانِ التَّمْرَتَيْنِ وَنَظَرَا إِلَى أُمِّهِمَا، فَعَمَدَتْ إِلَى الثَّمْرَةِ فَشَقَّتْهَا، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ نِصْفَ تَمْرَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ رَضَوَلِلَّهَ عَنْهَا فَقَالَ: ((وَمَا يُعْجِبُكِ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللهُ بِرَحْمَتِهَا صَبِيَّيْهَا))، رواه البخاريُّ في ((الأدب المفرد))(أخرجه البخاريُّ في الأدب المفرد (٨٩)، وصخَّحه الألبانيُّ.).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: Seorang wanita datang kepada Aisyah radhiyallahu 'anha, lalu Aisyah memberinya tiga kurma. Wanita itu memberikan masing-masing satu kurma kepada setiap anak laki-lakinya, dan ia menahan satu kurma untuk dirinya sendiri. Kedua anak itu memakan dua kurma dan menatap ibunya, maka ia mengambil kurma tersebut dan membelahnya, lalu memberikan setengah kurma kepada setiap anak laki-lakinya. Nabi datang dan Aisyah radhiyallahu 'anha memberitahukan kejadian itu kepadanya, lalu Rasulullah bersabda: "Apa yang membuatmu senang dengan hal itu? Sungguh Allah telah mengasihi anak-anakmu dengan rahmat-Nya."

(Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (89), dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Ini adalah seorang wanita miskin yang tidak memiliki makanan. Ia datang kepada Aisyah, semoga Allah meridainya, yang memberinya tiga buah kurma. Ia memberikan satu kurma kepada masing-masing dari kedua anaknya dan menyimpan Satu untuk dirinya sendiri; ia lapar dan membutuhkan makanan. ((Kedua anak laki-laki itu memakan dua kurma dan menatap ibu mereka, lalu ia mengambil satu kurma, membelahnya menjadi dua, dan memberikan setengah kurma kepada masing-masing anak.)) Ia tetap lapar, lebih mengutamakan anak-anaknya daripada dirinya sendiri. Ini adalah contoh rahmat yang Allah Subhanahu wa ta’aala berikan kepada para ibu.

Ketika Aisyah, semoga Allah meridainya, menceritakan kepada Nabi, shalawat dan salam kepadanya, tentang wanita ini, beliau bersabda, “Apa yang begitu mengejutkan tentang itu? Allah telah menunjukkan rahmat kepadanya karena rahmatnya kepada kedua anaknya.” Ini berarti bahwa rahmat besar yang Allah, Yang Maha Tinggi, berikan kepada para ibu adalah alasan besar bagi rahmat Allah kepada mereka.

Oleh karena itu, seorang wanita hendaknya menganggap rahmatnya kepada anak-anaknya, kasih sayangnya kepada mereka, perhatiannya kepada mereka, dan pendidikannya kepada mereka sebagai ibadah kepada Allah. Tidak ada yang hilang di sisi Allah. Jika Allah memudahkan anak-anak ini untuk menjadi orang yang shaleh, taat, penyayang, dan baik kepadanya, maka ini adalah kebaikan yang berlipat ganda. Namun jika keadaannya berbeda, apa yang telah Allah siapkan untuknya sebagai balasannya lebih baik dan lebih kekal.

Doa orang tua untuk anak-anaknya pasti dikabulkan dan tidak pernah ditolak, sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِیهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

 “Ada tiga doa yang pasti dikabulkan: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud). Dan dalam riwayat lain:

وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

 “Dan doa orang tua untuk anaknya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (7510) dan At-Tirmidzi (1905), dan disahihkan oleh Al-Albani).

Doa orang tua untuk anak-anaknya pasti dikabulkan dan tidak pernah ditolak, sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Ada tiga doa yang pasti dikabulkan: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang dizalimi.” (Diriwayatkan oleh Ahmad (7510) dan At-Tirmidzi (1905), dan disahihkan oleh Al-Albani).

Sebagian hal yang menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak adalah sering berdoa untuk kesejahteraan mereka dan berhati-hati agar tidak berdoa melawan mereka, terutama dalam keadaan marah. Orang tua tidak boleh terburu-buru berdoa melawan mereka, jangan sampai doa tersebut dikabulkan, dan mereka kemudian sangat menyesalinya.

Rasulullah kita yang mulia memperingatkan kita tentang hal ini, beliau bersabda:

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

Janganlah kalian memohon keburukan atas diri kalian sendiri, janganlah memohon keburukan atas anak-anak kalian, dan janganlah memohon keburukan atas harta kalian, jangan sampai kalian berdoa keburukan pada  waktu di mana Allah mengabulkan permohonan dan mengabulkannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 3009).

Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

وَيَدْعُ الْإِنسَنُ بِالشَرِّ دُعَءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ اَلإِنسَنُ عَجمُولًا

“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan, dan manusia selalu tergesa-gesa.” [Al-Isra: 11]. Qatadah, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Ia berdoa melawan hartanya, mengutuk hartanya dan anak-anaknya. Sekiranya Allah mengabulkan doanya, niscaya Dia akan menghancurkannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tabari dalam Tafsirnya, 17/394.)

Syekh Abdur-Rahman as-Sa’di, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Ini disebabkan oleh ketidaktahuan dan tergesa-gesanya manusia, karena ia berdoa melawan dirinya sendiri, anak-anaknya, dan hartanya dengan kejahatan ketika marah, dan ia tergesa-gesa berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia tergesa-gesa berdoa untuk kebaikan.” (Tafsir As-Sa’di, 1/454.)

Anak-anak adalah nikmat yang besar dan hiasan kehidupan dunia ini, sebagaimana firman Allah Yang Maha Agung:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ اُلْحَيَوةِ الدُّنْيَا

Harta dan anak-anak adalah hiasan kehidupan dunia ini [Al-Kahf: 46].

Mereka adalah kebahagiaan orang tua mereka jika mereka taat kepada Allah. Di antara doa-doa hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا  ۝٧٤

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Furqan: 74].

Al-Hasan al-Basri, semoga Allah merahmatinya, ditanya tentang ayat ini, dan beliau berkata: “Ini berarti bahwa Allah menunjukkan kepada hamba Muslim istrinya, saudaranya, dan sahabatnya yang taat kepada Allah. Demi Allah, tidak ada yang lebih menyenangkan mata seorang Muslim daripada melihat seorang anak, atau cucu, atau saudara, atau sahabat yang taat kepada Allah Yang Maha Tinggi.” (Disebutkan oleh Ibn Kathir dalam Tafsirnya, 6/132).

Ibn Jurayj berkata mengenai ayat:

هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَجِنَا وَذُرِّيَّلثِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Berilah kami dari kalangan istri dan anak-anak kami kesenangan bagi mata kami” [Al-Furqan 25:74]: “Mereka akan menyembah-Mu dan melaksanakan ibadah-Mu dengan baik, dan mereka tidak akan mendatangkan bahaya bagi kami.” (Disebutkan oleh Ibn Kathir dalam Tafsirnya, 6/132).

Mereka adalah amanah yang besar dan tanggung jawab yang berat, dan Allah Yang Maha Tinggi telah memerintahkan kita untuk menjaga mereka. Dan membesarkan serta mendidik mereka dengan sifat-sifat yang baik, dan menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang mendatangkan kerusakan dan kehancuran.

Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوّا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالِْحِجَارَةُ

Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. [At-Tahrim ayat 6]

Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridainya, dari Nabi, semoga Allah memberinya rahmat dan keselamatan, bahwa beliau bersabda:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنَّ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنَّهُمْ،َ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهَ وَهِىَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيَّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِّيَّتِهِ

 “Sesungguhnya setiap orang di antara kamu adalah seorang gembala dan setiap orang di antara kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas ternaknya. Penguasa yang bertanggung jawab atas rakyat adalah seorang gembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas ternaknya. Laki-laki adalah seorang gembala atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Perempuan adalah seorang gembala atas rumah suaminya dan anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Budak adalah seorang gembala atas hartanya.” Tuannya bertanggung jawab atasnya. Sesungguhnya setiap orang di antara kamu adalah seorang gembala dan setiap orang di antara kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas ternaknya. (Muttafaq alaih; diriwayatkan oleh al-Bukhari (7138) dan Muslim (1829)).

Pernyataannya: (مَسْؤُولٌ) “bertanggung jawab”; Ini adalah pengingat bahwa Allah, Yang Maha Tinggi, akan menanyai hamba-hamba-Nya tentang amanah ini ketika mereka berdiri di hadapan-Nya pada Hari Kiamat. Sesungguhnya, sebagian ulama mengatakan: “Allah akan menanyai ayah tentang anaknya pada Hari Kiamat sebelum Dia menanyai anak tentang ayahnya; karena sebagaimana ayah memiliki hak atas anaknya, demikian pula anak memiliki hak atas ayahnya.”

Ibnu Umar, semoga Allah meridainya, berkata: “Didiklah anakmu, karena kamu akan dimintai pertanggungjawabannya; bagaimana kamu mendisiplinkannya? Apa yang kamu ajarkan kepadanya? Dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya atas ketaatan dan kepatuhannya kepadamu.” (Disebutkan oleh al-Wahidi dalam al-Tafsir al-Basit, 22/6).

Sebagaimana Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan anak-anak untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua mereka, firman-Nya: “Dan Kami telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya” [Al-Ankabut: 8], Dia juga memerintahkan orang tua untuk mendidik dan mendisiplinkan anak-anak mereka, sebagaimana firman-Nya: “Allah memberi petunjuk kepadamu tentang anak-anakmu” [An-Nisa: 11].

Nabi kita yang mulia memberitahukan kepada kita bahwa orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak mereka, membentuk keyakinan dan agama mereka, serta moral dan karakter mereka. Beliau bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ، هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ؟

“Setiap Seorang anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), tetapi orang tuanya menjadikannya seorang Yahudi, Kristen, atau Majusi, sebagaimana hewan melahirkan hewan. Apakah kamu melihat ada di antara mereka yang dilahirkan cacat? (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1385), dan redaksinya adalah miliknya, dan Muslim (2658)).

Ini adalah perumpamaan yang kuat dan nyata. Karena hewan biasanya dilahirkan sehat dan bebas dari cacat dan kekurangan. Ia tidak memiliki anggota tubuh yang terputus atau luka di tangan, telinga, atau kakinya. Sebaliknya, cacat tersebut disebabkan oleh pemilik atau pengasuhnya, baik karena kelalaian atau tindakan langsung.

Demikian pula, seorang anak dilahirkan dengan kebaikan bawaan. Jika ia belajar berbohong, menipu, terlibat dalam korupsi dan penyimpangan, atau tindakan tercela lainnya, ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan fitrahnya. Ini mungkin disebabkan oleh pendidikan yang buruk atau pengabaian, atau pengaruh eksternal dari teman-teman yang buruk atau pengaruh negatif lainnya.

Ulama Ibnu al-Qayyim, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Barangsiapa lalai mengajarkan anaknya apa yang bermanfaat baginya dan membiarkannya berbuat sesuka hatinya, maka ia telah berbuat salah kepadanya dengan cara yang paling buruk. Sebagian besar kerusakan moral anak-anak berasal dari kelalaian orang tua dan kegagalan mereka untuk mengajarkan kewajiban dan anjuran agama kepada mereka.” (Tuhfat al-Mawdud bi-Ahkam al-Mawlud, 1/229)

Sesungguhnya, anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah karunia dari Allah dan pembagian-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ يَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ اِنَاثًا وَّيَهَبُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ الذُّكُوْرَۙ ۝٤٩ اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًاۚ وَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًاۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ ۝٥٠

Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan (keturunan) laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. [Ash-Shura: 49-50]

Jika hadiah ini adalah seorang anak perempuan, Islam menyerukan kebaikan terhadapnya, perhatian pada pendidikannya, perawatan, dan perilaku yang baik, sehingga ia tumbuh menjadi wanita yang saleh, suci, dan berbudi luhur. Islam mengutuk orang-orang Arab pra-Islam yang mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebencian mereka terhadap kelahiran anak perempuan.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini