Bismillah
📚┃Materi : KUMPULAN HADIST AKHLAK (Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr)
🎙┃Pemateri : Ustadz Ja'far Ad Demaky,S.Ag حفظه الله تعالى (Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo )
🗓| Hari: Senin, 19 Jumadil Awal 1447 / 10 November 2025
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading - Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
🗓| Daftar Isi:
أحاديث الأخلاق - صِلَةُ الأَرْحَامِ - Ahaditsul Akhlak - Bab 5: Silaturahim
Alhamdulillah, washolatu wassalamu 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa shohbihi wa man waalah, Amma ba'du.
Ustadz mengawalai kajian dengan mengingatkan kita untuk mengamalkan ilmu, itulah indikasi menutut ilmu kita untuk akhirat. Bukan untuk tujuan dunia. Karena hakekat ilmu untuk diamalkan bukan hanya sebatas pengetahuan.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
ليس العلم بكثرة الرواية ولكن العلم الخشية
"Ilmu itu bukanlah banyaknya (hafalan) riwayat, melainkan rasa takut (kepada Allah)." (Al Fawa'id, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)
Selanjutnya menyambung bahasan Ahadits Akhlak, kita akan membahas dua poin yaitu hadits tentang menyambung silaturahim dan ancaman bagi yang memutusnya. Pertemuan Sebelumnya
Keutamaan Menyambung Silaturahim
Hadits ke-12: Makna Silaturahim yang Sesungguhnya
وعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِ وِ رَتَِ َلَّعَنَّْا، عَنِ النَّبِيِّلوِ لهْ قَالَ: ((لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.
Dari Abdullah bin Amr, dia meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Orang yang menyambung silaturahim bukanlah sama dengan orang yang membalas (sekadar imbalan), tetapi orang yang menyambung silaturahim adalah dia yang ketika hubungan darahnya terputus, dia tetap menjaganya."
Maksudnya: Orang yang berhubungan baik sejati bukanlah orang yang hanya membalas; karena orang yang membalas adalah orang yang menyeimbangkan amal orang lain dengan amal yang setara. Jika dia berhubungan dengan kerabat sebagai bentuk pembalasan atau untuk menerima gantinya, maka itu tidak dianggap sebagai seorang wāsil, melainkan hanya sebagai orang yang membalas. Sementara orang yang wāsil sejati adalah orang yang ketika hubungan darahnya terputus, tetap menjaganya, karena dia menganggap menjaga hubungan darah sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, untuk mendapatkan pahala dan menjauhi siksa-Nya; karena Allah ﷻ telah memerintahkan hal itu.
Orang-orang dalam hal ini terbagi menjadi tiga golongan:
- Yang menyambung, yaitu orang yang memuliakan kerabatnya dengan menyambung silaturahmi meskipun mereka tidak menyambungnya kepadanya, bahkan walaupun mereka berbuat jahat kepadanya.
- Yang saling membalas atau setara, yaitu orang yang hanya menyambung silaturahmi jika mereka menyambungnya terlebih dahulu.
- Pemutus, yaitu orang yang memutus silaturahmi, baik mereka menyambung atau memutuskannya.
Hadits ke-13: Seseorang yang Berbuat Baik kepada Kerabatnya, tetapi Dibalas Keburukan
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ: أَنَّ رَجُلاً ، قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي ، وَأُحْسِنُ إلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إلَيَّ ، وَأحْلُمُ عَنهم وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ ! فَقَالَ : (( لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ ، فَكأنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ ، وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ تَعَالَى ظَهيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang lelaki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya mempunyai beberapa orang kerabat. Saya menyambung hubungan tali kekeluargaan dengan mereka, tetapi mereka malah memustukannya dariku. Saya berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk padaku. Saya senantiasa bersikap ramah kepada mereka, tetapi mereka tidak tahu diri.” Kemudian beliau bersabda, “Seandainya benar apa yang kamu katakan, maka seakan-akan kamu menyuapkan abu panas kepada mereka. Allah senantiasa memberi pertolongan kepadamu karena perbuatan mereka, jika kamu tetap berbuat demikian.” (HR. Muslim, no. 2558)
Makna "Saya menyambung mereka tetapi mereka memutuskan saya" (أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي); artinya: mereka membalas silaturahmi saya dengan pemutusan, dan tidak membalas kebaikan saya dengan kebaikan. Kemudian disebutkan jenis-jenis sambungan yang selalu dia utamakan kepada mereka, dan jenis-jenis kejahatan yang mereka lakukan kepadanya.
Makna: ((Dan Aku berbuat baik kepada mereka)) (وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ); yaitu: Aku memperlakukan mereka dengan kebaikan. Kebaikan adalah kata yang mencakup makna seluruh kebaikan. ((Dan mereka berbuat buruk kepadaku)); (ويسيئون إليَّ) yaitu: mereka membalas perbuatanku dengan keburukan. ((Dan Aku bersikap sabar terhadap mereka)); (وأحلم عنهم) yaitu: Aku menghadapi ketidaktahuan mereka terhadapku dengan kesabaran, sedangkan mereka ((tidak mengetahuiku)) (يجهلون عليَّ); yaitu: mereka memperlakukanku seperti orang yang bodoh dengan kekasaran, ketegasan, hinaan, dan sejenisnya.
Jadi inilah keadaannya dan penderitaannya dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang. Nabi membimbingnya agar menunjukkan apa yang harus dia lakukan. Lalu Nabi berkata kepadanya: ((Jika engkau seperti yang engkau katakan, seolah-olah engkau menuangkan abu panas kepada mereka)). ((Abu panas)) المَلَّ: abu panas yang dipanaskan untuk digunakan sebagai tempat menanak roti agar matang, artinya: Dia menjadikannya bagi mereka permadani yang mereka pijak.
Dan ini menunjukkan keutamaannya atas mereka, serta apa yang mereka peroleh dari menghadapi keadaan ini dengan pemutusan hubungan, keadaan mereka seperti orang yang menaburkan abu panas, sedangkan orang yang tetap menjalin hubungan tidak akan dirugikan oleh pemutusan hubungan mereka, bahkan dia memperoleh keutamaan, pahala dari Allah dan pertolongan-Nya Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Oleh karena itu, Ia bersabda: ((وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ))؛ ((Dan Allah akan selalu menjadi penolongmu terhadap mereka selama kamu tetap di jalan itu.)) yaitu: selalu ada bantuan, bimbingan, pertolongan dan perlindungan dari Allah untukmu. Dan di dalamnya: terdapat bukti cinta Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung terhadap orang yang menjalin hubungan dan tempatnya di sisi-Nya.
Hadits ke-15: Menyambung Silaturahim, Sebab Masuk Surga
Dan dari Al-Barā’ bin ‘Āzib, radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Seorang Badui datang kepada Nabi dan berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي عَمَلًا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، فَقَالَ: (لَئِنْ كُنْتَ أَقْصَرْتَ الْخُطْبَةَ، لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ، وَفُكَّ الرَّقَبَةَ))، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَلَيْسَتَا بِوَاحِدَةٍ؟ قَالَ: ((لَا، إِنَّ عِثْقَ النَّسَمَةِ أَنْ تَفَرَّدَ بِعِثْقِهَا، وَفَكَّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِينَ فِي عِثْقِهَا، وَالْمِنْحَةُ الْوَكُوفُ، وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الظَّالِمِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ، فَأَطْعِمِ الْجَائِعَ، وَاسْقِ الظَّمْآنَ، وَأمُرْ بِالْمَغَرُوفِ، وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِنْ لَمْ تُطِّقْ ذَلِكَ، فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلَّا مِنَ الْخَيْرِ)»، رواه أحمد
“Wahai Rasulullah beritahukanlah kepadaku mengenai amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga?’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Meski pertanyaan anda singkat, tapi sungguh apa yang anda kemukakan merupakan persoalan yang besar. (Jika Anda ingin masuk ke dalam surga, maka) Anda bisa membebaskan budak yang Anda miliki atau Anda bisa membantunya sehingga ia bisa membebaskan diri dari status budak. Orang badui itu berkata, “Wahai Rasulullah bukankah keduanya sama?
Rasulullah menjawab, Tidak, itqun nasamah عِتقُ النَّسمةِ adalah engkau [sendiri] yang membebaskan budak sedangkan fakkur raqabah فَكُّ الرَّقبةِ adalah engkau membantu budak tersebut dalam membebaskan dirinya dari perbudakan (seperti) pemberian unta yang mendatangkan manfaat yang banyak. Demikian pula yang dapat memasukkanmu ke dalam surga adalah mengembalikan (memulihkan kembali) tali silaturrahmi. Jika anda tidak mampu melaksanakannya, maka perintahkanlah manusia untuk berbuat baik dan cegahlah mereka dari kemungkaran. Jika engkau tidak mampu melakukannya, maka jagalah lidahmu dan janganlah menggunakannya kecuali untuk kebaikan.”
HR. Ahmad no. 18647 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 69 dan Dishahihkan oleh Al-Albani.
Ini adalah pintu yang mulia dari pintu-pintu kebaikan, dan posisi yang tinggi dari kedudukan menjaga hubungan kekerabatan; yaitu ketika seseorang dengan sungguh-sungguh menjaga hubungan kekerabatan sehingga dia tetap menyambung hubungan dengan kerabat yang zalim, artinya yang dikenal zalim baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain; karena penyambungan ini bisa menjadi sebab dia menahan diri dari kezaliman, atau sedikit mengurangi keparahan kezalimannya, dan memadamkan bara keburukan dan gangguannya, berbeda jika hubungan itu diputus, mungkin justru menambah keburukan dan gangguan. Menyambung hubungan dengan kerabat yang zalim adalah perbuatan sesuai dengan firman Allah Ta'ala:
ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fussilat Ayat 34).
Bahayanya Memutus Silaturahim
Hadits ke-16: Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim
وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّه صلى الله عليه و سلم : “لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ” يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Jubair bin Muth‘im Radiyallāhu anhu ia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaih) HR. Bukhari no. 5984 dan Muslim no. 2556.
Allah ta’ala berfirman dalam Surat Ar-Ra’du ayat 25:
وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوٓءُ ٱلدَّارِ
dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).
Hadits ini menyoroti besarnya dosa memutuskan tali silaturahmi dan menjadi peringatan keras terhadap tindakan tersebut. Hal ini sepenuhnya merupakan kemalangan dan bahaya, dan akibatnya bagi orang yang memutuskan tali silaturahmi sangat buruk di dunia dan akhirat. Hal ini menyebabkan kerugian dan kekurangan di keduanya.
Penolakan dalam pernyataan, "Orang yang memutuskan tali silaturahmi tidak akan masuk Surga," bersifat kekal jika orang tersebut menganggapnya boleh. Penolakan ini juga berlaku untuk masuk Surga pertama jika orang tersebut lalai dalam hal ini, lalai dalam kewajiban ini, dan menyia-nyiakan ketaatan yang diperintahkan oleh Allah ﷻ Orang seperti itu baru akan masuk Surga nanti, setelah orang lain yang berikhtiar dalam kebaikan, memelihara ibadah, dan menjauhi dosa dan pelanggaran. Mungkin ia akan melewati tahap azab sebelum masuk surga; karena para pelaku dosa - yang dosanya belum termasuk syirik dan kafir kepada Allah - keadaan mereka pada hari kiamat adalah berada di bawah kehendak Allah; jika Dia menghendaki, Dia akan menyiksa mereka, dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuni mereka, dan jika mereka disiksa, mereka tidak akan kekal di neraka; karena kekekalan di neraka hanya bagi orang-orang kafir dan musyrik.
Hadits ke-17: Allah tidak menerima amalan orang yang memutus silaturahim.
وعن أبي أَيُّوبَ سُلَيْمَان مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: جَاءَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ رَضَِ لّه عَنهُ عَشِيَّةَ الْخَمِيسِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: أُحَرِّجُ عَلَى كُلِّ قَاطِعِ رَحِمٍ لَمَا قَامَ مِنْ عِنْدِنَا، فَلَمْ يَقُمْ أَحَدٌ حَتَّى قَالَ ثَلَاثًا، فَأَتَى فَتَّى عَمَّةً لَةُ قَدْ صَرَمَهَا مُنْذُ سَنَتَيْنِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: يَا ابْنَ أَخِي، مَا جَاءَ بِكَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رََِلِلَهُ عَنهُ يَقُولُ: كَذَا وَكَذَا. قَالَتِ: ارْجِعْ إِلَيْهِ فَسَلْهُ: لِمَ قَالَ ذَاكَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ وَلهه يَقُولُ: ((إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ عَلَى اللهِ تَبَّاركَ وَتَعَالَى عَشِيَّةَ كُلِّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَلَا يَقْبَلُ عَمَلَ قَاطِعِ رَحِمٍ))، رواه البخاريُّ في ((الأدب المفرد)).
Dan dari Abu Ayyub Sulaiman, hamba dari Utsman bin Affan, dia berkata: Abu Hurairah radhiallahu 'anhu datang kepada kami pada malam Kamis malam Jum'at, lalu dia berkata: 'Aku akan menyampaikan peringatan terhadap setiap pemutus tali silaturahmi.' Tidak ada seorang pun yang berdiri sampai dia mengatakannya tiga kali, lalu datang seorang pemuda dari pihak ibu yang sudah berselisih dengannya sejak dua tahun lalu. Dia masuk ke rumahnya, lalu wanita itu berkata kepadanya: 'Wahai keponakanku, ada apa kamu datang?' Dia berkata: 'Aku mendengar Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata: begini dan begitu.' Dia berkata: 'Kembalilah kepadanya dan tanyakan padanya: mengapa ia berkata begitu?' Dia menjawab: 'Aku mendengar Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:' “Sesungguhnya amalan anak Adam dipersembahkan kepada Allah, Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, pada malam setiap hari Kamis menjelang Jumat, maka Allah tidak menerima amalan orang yang memutus silaturahmi.”
- Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam "Al-Adab Al-Mufrad" no. 61.
Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, tidak menyukai pada saat ini ketika amal-amal ditunjukkan kepada Allah agar ada pemutus di antara mereka, dan dia bermaksud untuk memberi peringatan kepada yang hadir jika ada yang memutus silaturahmi agar meninggalkan pemutusan itu. Oleh karena itu, seorang dari mereka bangkit bertaubat dan menyambung kembali hubungannya dengan bibinya yang telah diputusnya selama dua tahun.
Telah tercantum dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
(تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى
يَصْطَلِحَا)
"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan hari Kamis, maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seorang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya, lalu dikatakan: Tunggu keduanya hingga mereka berdamai, tunggu keduanya hingga mereka berdamai, tunggu keduanya hingga mereka berdamai." [HR. Muslim no. 2565].
Jika ini berlaku untuk umat Muslim secara umum, bagaimana jika permusuhan itu terjadi di antara kerabat? Tidak diragukan lagi bahwa masalah ini lebih besar.
Hadits ke-18: Pentingnya Mengetahui Nasab Keturunan Kita
وعَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رََِّلَّهَ عَنهَا أَنَّهُ قَالَ: ((احْفَظُوا أَنْسَابَكُمْ، تَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّهُ لَا بُعْدَ بِالرَّحِمِ إِذَا قَرُبَتْ، وَإِنْ كَانَتْ بَعِيدَةً، وَلَا قُرْبَ بِهَاإِذَا بَعُدَتْ، وَإِنْ كَانَتْ قَرِيبَةً، وَكُلُّ رَحِمٍ آتِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمَامَ صَاحِبِهَا، تَشْهَدُ لَهُ بِصِلَةٍ إِنْ كَانَ وَصَلَهَا، وَعَلَيْهِ بِقَطِيعَةٍ إِنْ كَانَ قَطَعَهَا))، رواه البخاريُّ في ((الأدب المفرد))(٣).
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Jagalah garis keturunan kalian, hubungkanlah kerabat kalian, karena tidaklah seorang kerabat itu dekat ketika ia merasa jauh, dan tidaklah ia jauh ketika ia merasa dekat. Setiap kerabat akan datang pada hari Kiamat sebagai saksi di hadapan pemiliknya, menyaksikan jika ia disambung, dan menuntut jika ia diputus." Riwayat al-Bukhari dalam (Al-Adab Al-Mufrad no. 73).
Menjaga hubungan keluarga adalah wajib dan tidak lengkap kecuali dengan pengetahuan seseorang tentang nasabnya, dan apa yang tidak dapat diwujudkan kewajiban kecuali dengannya maka itu juga wajib; jika seseorang tidak mengetahui kerabatnya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya bagaimana mungkin seseorang dapat menjalin silaturahmi jika ia tidak mengenal mereka?! Orang tua harus berhati-hati dalam memperkenalkan anak-anaknya kepada kerabat mereka, karena menjalin silaturahmi adalah wajib, dan kewajiban ini tidak dapat terpenuhi kecuali jika seseorang mengetahui silsilah mereka. Jika seseorang tidak mengenal kerabatnya, bagaimana mungkin seseorang dapat menjalin silaturahmi jika mereka tidak mengenal mereka?!
Allah ta’aala berfirman dalam Surat Muhammad ayat 22-23:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوٓا۟ أَرْحَامَكُمْ. أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَٰرَهُمْ
Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.
Pernyataannya, "Karena tidak ada jarak dalam silaturahmi jika dekat, meskipun jauh, dan tidak ada kedekatan di dalamnya jika jauh, meskipun dekat," berarti bahwa tidak ada jarak dalam silaturahmi jika terjalin dan terhubung, meskipun jauh. Karena, seperti kata pepatah, jarak ada di dalam hati. Jika hati dekat dan rukun, maka tidak ada jarak. Oleh karena itu, jika seseorang menjalin silaturahmi dengan beberapa kerabat jauhnya, ia merasakan kedekatan yang kuat dengan mereka. Sebaliknya, jika mereka kerabat dekat tetapi tidak ada kontak, ia merasa jauh dari mereka.
Pernyataan beliau: “Setiap ikatan kekerabatan akan datang di hadapan pemiliknya pada hari kiamat, menjadi saksi baginya tentang pemeliharaan ikatan kekerabatan jika ia memeliharanya, dan terhadapnya tentang pemutusannya jika ia memutuskannya.” Maka, pada hari kiamat, ikatan kekerabatan akan menjadi saksi bagi pemiliknya atau terhadapnya. Jika ia seorang yang memelihara ikatan, aku menjadi saksi atas pemeliharaan ikatannya, dan aku ridha bahwa Tuhan semesta alam akan memelihara ikatan dengan siapa pun yang memeliharanya. Jika ia seorang yang memutuskan ikatan, aku menjadi saksi atas pemutusannya, dan aku ridha bahwa Tuhan semesta alam akan memutuskan ikatan dengan siapa pun yang memutuskannya. Dan Allah, Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, telah memberikannya hal itu, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم