Kategori Akhlak

Cara bergaul seorang hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para manusia lainnya.
Kajian Islam

Bismillah

📚┃Materi : KUMPULAN HADIST AKHLAK (Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr)
🎙┃Pemateri : Ustadz Ja'far Ad Demaky,S.Ag حفظه الله تعالى (Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo )
🗓| Hari: Senin, 21 Sya’ban 1447 / 09 Februari 2026
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading - Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
📖| Daftar Isi:

 


أحاديث الأخلاق - حُقُوقُ الْجَارِ  
 Ahaditsul Akhlak - Bab 7: Hak-hak Tetangga


Ustadz memberi nasihat akan tiga hal yang perlu disiapkan sebelum menjumpai Ramadhan:

1. Taubat

Taubat adalah kewajiban seumur hidup, dan tidak ada jaminan kita bisa menjumpai Ramadhan. Hendaknya bagi seorang Muslim untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia dengan melakukan taubat nashuha (taubat yang sesungguhnya), mempersiapkan diri dalam puasa dan menghidupkan bulan tersebut dengan niat yang tulus dan tekad yang murni.

Taubatan nasuha harus diupayakan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, agar saat memasuki bulan mulia itu dosa telah diampuni.

Mengapa demikian, sebab dosa adalah penghalang untuk mendapatkan kebaikan yang lebih besar lagi. Tidaklah kita terhalang untuk melakukan ketaatan ketaatan yang biasa kita lakukan dengan tekun sepanjang siang dan malam, melainkan karena efek dari kemaksiatan yang kita lakukan.

2. Berdoa agar Menjumpai Ramadhan

Berdo’a agar Allah mempertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam keadaan bersemangat beribadah kepada Allah, seperti ibadah puasa, sholat dan dzikir.

3. Mengilmui Amalaiah Ramadhan

Wajib atas seorang yang beriman untuk beribadah kepada Allah dilandasi dengan ilmu, dan tidak ada alasan untuk tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Di antara kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim belajar untuk mengetahui perkara-perkara puasa serta hukum-hukumnya sebelum ia melaksanakannya (sebelum datang bulan Ramadhan), agar puasanya sah dan diterima Allah Ta’ala.


Keutamaan Berbuat Baik Kepada Tetangga

Syariat Islam yang diberkahi ini telah membawa akhlak mulia, tata krama yang halus, dan indahnya muamalah, yang menunjukkan kesempurnaan, kelengkapan, dan keagungannya. Syariat Islam membahas semua aspek, kepentingan, dan hak. Segala puji bagi Allah atas karunia dan karunia-Nya, dan kita memohon kepada-Nya, Yang Maha Tinggi, agar Dia ﷻ memberi kita semua keberhasilan dalam mematuhi adab dan akhlak mulianya.

Di antara adab mulia dan akhlak baik yang dianjurkan oleh Syariat Islam adalah memperhatikan hak-hak tetangga. Dan apa yang kamu ketahui tentang tetangga?! Dia adalah orang yang rumahnya dekat dengan rumahmu, tempat tinggalnya bersebelahan denganmu, dan dengan siapa kamu sering bertemu, melihat dan dilihat olehnya.

Namun ada perbedaan batasan tetangga yang disebutkan oleh para ulama madzhab:

  • Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa yang menjadi tetangga adalah 40 rumah dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri). Mereka berdalil dengan hadits, “Hak tetangga adalah 40 rumah seperti ini dan seperti itu.” Namun hadits ini dha’if.
  • Ulama Malikiyah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdempatan dilihat dari berbagai penjuru atau antar rumah itu hanya dipisah jalan sempit, bukan dipisah pasar besar atau sungai lebar yang melintang. Begitu pula disebut tetangga kalau dikumpulkan oleh satu masjid atau berada di antara dua masjid yang berdekatan. Bisa jadi pula disebut tetangga dengan patokan ‘urf (anggapan masyarakat) walau tidak memakai batasan tadi.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat bahwa tetangga itu yang berdampingan dan yang disatukan oleh masjid. Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i dan definisi menurut penilaian masyarakat (‘urf). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 16: 216-217)

Allah ﷻ telah menjadikannya hak yang Dia anjurkan kepada hamba-hamba-Nya untuk dijunjung tinggi, dan banyak hadits telah datang dari Nabi kita ﷺ, yang menjelaskan hak tersebut dan keagungan pentingnya. Sesungguhnya, Allah ﷻ telah mengaitkan hak tersebut dengan hak-Nya sendiri, subhanahu wa ta’aala. Hal ini terdapat dalam firman-Nya:

۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۞

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. [An-Nisa: 36]

Dan barangsiapa yang sombong dan angkuh, maka ia tidak akan menghormati hak tetangganya, atau hak apa pun, karena kesombongan dan keangkuhan yang telah timbul di dalam hatinya. Tetapi barangsiapa yang beriman dengan rendah hati Taat kepada Tuhannya, karena hak-hak ini memiliki tempat khusus di hatinya dan sangat dihargai olehnya, dan dia bersemangat untuk memenuhinya.

Hadits #1: Tingginya Hak Tetangga seperti Akan Mendapatkan Waris

1. Dari Aisyah, semoga Allah meridainya, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ لَيُوَرِّثَنَّهُ

 “Jibril terus-menerus mendesakku untuk berbuat baik kepada tetanggaku sampai aku mengira dia akan memberinya ahli waris.” Diriwayatkan oleh Muslim  (2624).

2. Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridainya, dia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرَّثُهُ

“Jibril terus-menerus mendesakku untuk berbuat baik kepada tetanggaku sampai aku mengira dia akan memberinya ahli waris.” Muttafaqun ’Alaih (al-Bukhari (6015) dan Muslim (2625).).

Sabdanya: (مَا زَالَ) “Dia terus”; Seruan berulang dari Jibril alaihissalam, kepada Nabi kita dan para sahabatnya mengenai tetangga: untuk berbuat baik, murah hati, dan hormat, untuk memenuhi hak-haknya, untuk menghiburnya, dan untuk menunjukkan kasih sayang kepadanya.

(Aku bahkan mengira dia akan mewarisi darinya); (حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرَثُهُ) Artinya, karena seringnya seruan tersebut, saya mengira bahwa wahyu akan turun kepada saya dari Allah bahwa tetangga akan mendapat bagian dalam warisan tetangganya; ini untuk menekankan dan menjelaskan kedudukan tinggi tetangga dan hak-hak yang dimilikinya.

Hak yang telah Allah berikan kepada tetangga ini berasal dari kedekatan rumah dan tempat tinggal, serta interaksi dan penglihatan yang terus-menerus terjadi setiap hari, tidak seperti situasi lainnya. Anda melihat tetangga Anda setiap hari, bahkan mungkin beberapa kali sehari, dan Anda mungkin membutuhkannya atau dia mungkin membutuhkan Anda. Jelas bahwa hubungan antara mereka yang rumahnya berdekatan lebih besar dan lebih dalam daripada hubungan antara mereka yang rumahnya berjauhan.

Hadits#2: Tetangga Terbaik di Sisi Allah

3. Dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, semoga Allah meridhainya, dari Rasulullah, semoga Allah memberinya rahmat dan keselamatan, bahwa beliau bersabda:

خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ.

“Sahabat terbaik di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada sahabatnya, dan tetangga terbaik di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada tetangganya.” Diriwayatkan oleh Ahmad (6566) dan al-Tirmidhi (1944), dan disahihkan oleh al-Albani.

Tetangga yang terbaik dan paling dihormati di sisi Allah adalah mereka yang berbuat baik kepada tetangganya, artinya mereka yang paling bermanfaat, baik hati, dan mendukung, serta menjunjung tinggi hak-hak mereka. Ini termasuk ajakan untuk memperhatikan hak-hak tetangga, dengan mengharapkan pahala dari Allah Yang Maha Tinggi.

Sebab jika seseorang berbuat baik kepada tetangganya, memenuhi hak-hak mereka, dan memberi mereka manfaat tanpa merugikan mereka, sedangkan tetangganya kurang baik, atau bahkan sebaliknya, maka mereka adalah yang terbaik di sisi Allah. Cukuplah kehormatan, kebajikan, dan kemuliaan bagi mereka untuk mencapai keunggulan ini dan meraih kedudukan yang tinggi ini.

Hal ini juga memberikan penghiburan kepada tetangga yang berbuat baik kepada tetangganya, meskipun mereka diperlakukan buruk oleh tetangganya. Karena dengan berbuat baik kepada mereka dan memenuhi hak-hak mereka, ia mencari pahala dari Allah, bukan dari mereka.

Ia menjaga hubungan dengan mereka demi Allah, mengharapkan pahala dan rasa syukur dari-Nya.

Hal ini menyoroti pentingnya seorang Muslim mempelajari hak-hak umum bertetangga sebagaimana dijelaskan dalam Sunnah, memelihara dan menerapkannya, agar ia menjadi tetangga yang terbaik di sisi Allah. Karena jika ia tidak mengetahui hak-hak ini, bagaimana ia dapat memenuhinya jika ia bahkan tidak tahu apa itu? Seseorang tidak dapat memberi apa yang tidak dimilikinya.

Dan jika tetangga terbaik di sisi Allah adalah orang yang paling baik kepada tetangganya, maka secara implisit, tetangga terburuk di sisi Allah adalah orang yang paling buruk kepada tetangganya, dengan menyakiti dan menganiaya mereka, sehingga mereka tidak aman dari kejahatan dan keburukannya.

Sabda-Nya, (خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ) “Yang terbaik di antara mereka adalah orang yang paling baik kepada tetangganya,” mencakup semua jalan kebaikan, yang jumlahnya banyak: seperti memulai salam, memiliki wajah yang ceria, bersikap ramah dalam memberi salam, menjaga hubungan baik, menyediakan makanan, hadiah, mengunjungi, dan menanyakan kabar seseorang, di antara bentuk-bentuk kebaikan dan perbuatan baik lainnya.

Hadits#3: Empat Sumber Kebahagiaan dan Kesengsaraan

4. Diriwayatkan dari Sa'd ibn Abi Waqqas, semoga Allah meridhainya, yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

أَرْبَعْ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ، وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ: الْجَارُ السُّوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضِّيقُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوء.

 “Empat hal yang mendatangkan kebahagiaan: istri yang saleh, tempat tinggal yang luas, dan tetangga yang saleh, Dan kendaraan yang nyaman, dan empat hal yang menjadi sumber kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, tempat tinggal yang sempit, dan kendaraan yang buruk. (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (4032), dan disahihkan oleh Al-Albani).

5. Dan dari Nafi’ ibn ‘Abd al-Harith, semoga Allah meridainya, dari Nabi, semoga Allah meridainya, yang bersabda:

مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ: الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ.

 “Di antara nikmat bagi seorang Muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang saleh, dan kendaraan yang nyaman.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (116), dan Al-Albani berkata: “Hasilnya sahih karena didukung oleh bukti-bukti.”).

Tidak diragukan lagi, salah satu nikmat dunia dan sumber kebahagiaan bagi seseorang adalah diberkahi dengan tetangga yang saleh. Ini karena seseorang mendapat manfaat dari kesalehan mereka, dan mereka menjadi teladan bagi diri sendiri dan anak-anak dalam kebaikan, dan membantu seseorang dalam ketaatan dan kesalehan. Seseorang juga aman dari bahaya mereka dan hasutan untuk berbuat salah dari mereka. Mereka adalah harta dan nikmat yang besar. Sesungguhnya, sebagian orang berdosa merasa senang dengan tetangga yang saleh dan menemukan kebahagiaan yang lebih besar pada mereka daripada pada tetangga yang sama-sama berdosa, karena mereka tahu bahwa tetangga yang saleh itu dapat dipercaya.

Sebaliknya, tetangga yang buruk adalah sumber kesengsaraan dan penderitaan yang besar di dunia ini, terutama di tempat tinggal seseorang. Ini seperti membangun rumah, bersusah payah dalam pembangunannya, dan menghabiskan harta berharga untuk itu, hanya untuk dikejutkan oleh tetangga yang buruk. Ia tidak menemukan kebahagiaan di rumahnya, tidak ada kenyamanan di sana, dan tidak ada ketenangan pikiran mengenai anak-anaknya, keluarganya, dan harta miliknya. Inilah sesuatu yang seharusnya kita hindari dengan berlindung kepada Allah.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini