ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Setiap SELASA ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
📖┃ Daftar Isi:
Pertemuan#11: Penjelasan tentang Kesempurnaan Iman dan Rukun-rukun Islam
وَفِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا
Dalam Ash-Shahih, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu secara marfu':
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang Muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin lainnya, selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.
Maksudnya, Islam tidak hanya terbatas pada rukun-rukun di atas, akan tetapi rukun-rukun ini merupakan asas-asas amal lainnya), karena Islam adalah semua ketaatan yang perintahkan atau Rasulullah ﷺ perintahkan.
Perintah-perintah Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ ada yang wajib dan ada yang mustahab (sunnah). Semuanya termasuk Islam, di antaranya ada yang bila ditinggalkan, maka itu menghancurkan keislamannya, diantaranya, juga ada yang bila ditinggalkan, maka itu tidak menghancurkan keislamannya akan tetapi mengurangi (kadar keislamannya) yakni di antaranya ada yang melengkapi keislamannya dengan kelengkapan yang wajib dan ada yang melengkapi keislamannya dengan kelengkapan yang mustahab (dianjurkan).
Kewajiban-kewajiban agama itu termasuk ketaatan. Ia melengkapi Islam dengan kelengkapan yang wajib, sedangkan hal-hal yang mustahab melengkapi Islam dengan kelengkapan yang dianjurkan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang Muslim (sejati) adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya."
Sehingga orang yang menahan gangguannya dari manusia adalah Muslim yang Islamnya sempurna. Adapun orang yang mengganggu manusia dengan lisannya atau tangannya, maka kami tidak berkata bahwa dia kafir, akan tetapi Muslim dengan iman yang kurang.
*****
وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ: (أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ الْإِسْلَامِ؟ فَقَالَ:
Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa dia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Islam, maka beliau bersabda:
أَنْ تُسْلِمَ قَلْبَكَ لِلَّهِ، وَأَنْ تُوَلِّيَ وَجْهَكَ إِلَى اللَّهِ، وَأَنْ تُصَلِّيَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ.
"Hendaknya hatimu berserah diri kepada Allah, hendaknya kamu menghadapkan wajahmu kepada Allah, kamu melaksanakan shalat wajib, dan membayar zakat yang wajib." - Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, no. 20022.
Ini dipahami dari sabda Rasulullah ﷺ,
الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ
"Islam adalah hendaknya kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, serta mendirikan shalat."
Rasul ﷺ menyebutkan rukun Islam yang paling penting, yaitu: Dua kalimat syahadat dan mendirikan shalat.
Dan sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu’anhu manakala Nabi ﷺ mengutusnya ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,
فَلْيَكُنَّ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إلَيْهِ شَهَادَةَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَفِي رِوَايَةٍ: إلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوك لِذَلِكَ، فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوك لِذَلِكَ: فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ
"Hendaknya perkara pertama yang kamu dakwahkan kepada mereka adalah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah ker Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah. Bila mereka menerima seruanmu pada dakwah tersebut, maka beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Bila mereka menerima dakwahmu, maka beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sedekah (wajib), yakni zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka."
Penulis menyebutkan rukun Islam yang berjumlah lima, dan yang paling penting adalah yang tiga ini.
*****
وَعَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ عَنْ أَبِيهِ: أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: مَا الْإِسْلَامُ؟ قَالَ:
Dari Abu Qilabah, dari Amr bin Abasah, dari seorang laki-laki dari penduduk Syam, dari bapaknya, bahwa dia bertanya kepada Rasulullah ﷺ "Apa itu Islam?" Beliau menjawab,
أَنْ تُسَلِّمَ قَلْبَكَ لِلَّهِ، وَيُسَلِّمُ اَلْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ
"Hendaknya kamu menyerahkan hatimu kepada Allah dan hendaknya kaum Muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tanganmu,"
قَالَ: أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْإِيمَانُ
Dia bertanya, "Islam apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "iman."
قَالَ: وَمَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ.
Dia bertanya, "Apa itu iman?" Beliau menjawab, "Hendaknya kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan kebangkitan sesudah kematian."
Sabda Nabi ﷺ (Hendaknya kamu menyerahkan hatimu kepada Allah) أَنْ تُسْلِمَ قَلْبَكَ لِلَّهِ, ini sebagaimana Firman Allah ﷻ,
فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ
"Katakanlah, 'Aku menyerahkan diriku kepada Allah." (Ali Imran: 20).
Dan sebagaimana Firman Allah ﷻ,
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ
"Tidak demikian. Akan tetapi barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah." (Al-Baaarah: 112).
Ini menunjukkan keikhlasan beribadah kepada Allah, meninggalkan ibadah kepada selainNya. Ini adalah dasar Islam.
(Dan hendaknya kaum Muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tanganmu) وَيُسَلِّمُ اَلْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ. Sebagaimana dalam hadits,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang Muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin lainnya, selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.
قَالَ: أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْإِيمَانُ
Dia bertanya, "Islam apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "iman." Karena Rasulullah ﷺ dalam hadits Jibril menjadikan iman lebih tinggi dan lebih khusus daripada Islam.
قَالَ: وَمَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ،
(Dia bertanya, 'Apa itu iman?" Belia, menjawab, 'Hendaknya kamu beriman kepada Allah...'"). Ini -sebagai mana dalam hadits Jibril di atas dan dinamakan rukun iman. Maka sebagaimana Islam memiliki rukun, iman juga memiliki rukun. Iman lebih luas daripada Islam. Iman memiliki pelengkap-pelengkap, kewajiban dan anjuran. Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda,
عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «الإيمانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أو بِضْعٌ وسِتُّونَ شُعْبَةً: فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لا إله إلا الله، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ»
"Iman itu ada tujuh puluh -atau enam puluh cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan, "tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah' dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman."
📖 Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 9 secara ringkas, dan Muslim, no. 35, secara lengkap dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Semua ketaatan termasuk keimanan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Iman bukan sebatas membenarkan dalam hati, -sebagaimana yang Murji'ah katakan-, akan tetapi iman adalah perkataan dengan lisan, pembenaran dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
✒┃ Materi :Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
▪ Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Setiap SELASA ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
Pertemuan#10: Perintah Berserah Diri Kepada Allah ﷻ dan Rukun-rukun Islam
17. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
فَإِنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ ۗ
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku".
"Bab Tafsir Islam." Sesudah penulis membawakan pembahasan bab-bab sebelumnya tentang ajakan dan dorongan kepada Islam, masuk ke dalamnya dan berpegang teguh padanya, maka beliau hendak menjelaskan apa itu Islam, karena bila Anda memuji sesuatu namun tidak menjelaskannya, maka tujuannya tidak terwujud. Maka penulis menjelaskan apa itu Islam, agar seseorang tidak mengaku bahwa apa yang dianutnya adalah Islam padahal ia menyelisihinya.
Setiap aliran mengklaim bahwa diri mereka berada di atas Islam dan bahwa selainnya bukan di atas Islam. Seandainya kita menyerahkan urusan ini kepada mereka, niscaya umat akan binasa, akan tetapi di antara karunia Allah ﷻ adalah bahwa Dia menjadikan Islam itu jelas dan nyata. Islam bukan hanya dengan pengakuan, (bukan dengan) penisbatan diri dan penyandaran belaka, akan tetapi seorang Muslim adalah orang yang berpegang Islam yang haq, maka Anda harus mengetahui Islam dari apa yang hadir di dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi Nya, bukan selain keduanya.
Selengkapnya: Syarah Fadhlul Islam#10: Perintah Berserah Diri Kepada Allah ﷻ dan Rukun-rukun Islam
✒┃ Materi : Syarah Fadhlul Islam - Kesempurnaan dan Keagungan Islam Serta Perintah Berpegang Teguh dan Menjaga Kemurniannya
- Syarah Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah.
🎙┃ Narasumber : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc., hafidzahullah ta'ala
▪ Alumnus LIPIA Jakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
📆┃Setiap SELASA ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃ Tempat : Masjid Ummul Mukminin 'Aisyah Radhiallāhu'anhā Blimbing Gatak Sukoharjo.
Pertemuan#9: Istiqamah - Kunci Kemenangan
15. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
وَفِي «الصَّحِيحِ»: عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: «يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ! اسْتَقِيمُوا! فَقَدْ سَبَقْتُمْ سَبْقًا بَعِيدًا، فَإِنْ أَخَذْتُمْ يَمِينًا وَشِمَالًا؛ لَقَدْ ضَلَلْتُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا»
Dalam Shahih Al-Bukhari: dari Hudzaifah ia berkata: “Wahai para ulama! (Qurra'). Hendaklah kalian istiqomah, maka kalian akan menang. Namun, jika kalian menoleh ke kanan dan ke kiri maka kalian akan tersesat sangat jauh.” - (HR. Al-Bukhari no. 7282)
(15). Atsar dari Hudzaifah bin al-Yaman ini menyebutkan, bahwa dia memasuki sebuah masjid, lalu berdiri di depan halaqah kajian, yakni berdiri di depan orang-orang yang belajar Al-Qur'an di masjid, lalu dia berkata kepada mereka, Hudzaifah bin al-Yaman berkata, Bila kalian beristiqamah, niscaya kalian telah mendahului jauh sekali. Yakni bila kalian beristiqamah dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an yang kalian pelajari dengan mengamalkannya, karena yang dimaksudkannya adalah berpegang kepada al-Qur'an dan mengamalkannya.
Allah ﷻ menyuruh taat kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7 :
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Adapun orang yang membaca al-Qur'an namun tidak berakhlak dengannya, maka dia telah menyimpang dari Al-Qur'an. Al-Qur'an al-Karim adalah jalan yang lurus yang barangsiapa berpegang teguh kepadanya, maka dia pasti selamat, dan barangsiapa menyimpang darinya, maka dia pasti tersesat.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ : “Akan muncul suatu kaum di akhir zaman, usia mereka muda-muda, pikiran mereka bodoh-bodoh, mereka mengucapkan sebaik-baik ucapan makhluk, tetapi keimanan mereka tidak melampaui tenggorokan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang keluar dari busur. Di mana pun kalian menjumpai mereka, bunuhlah mereka, karena pembunuhan mereka itu berpahala pada hari Kiamat bagi yang membunuh mereka". (HR. Bukhari (6930) Istabatul-Murtaddin dan Muslim (1066) Az-Zakat).
Atsar ini mengandung peringatan dari Hudzaifah kepada para qurra' agar mereka tidak hanya membatasi diri dalam membaca al-Qur'an pada membaguskan bacaan dan suara saja tanpa berusaha memahaminya, mengamalkan dan berakhlak dengan akhlak-akhlaknya. Barangsiapa melakukannya (yakni membaguskan bacaan dan suara saja), maka dia tidak dianggap termasuk Ahli al-Qur'an.
Berbeda dengan orang yang mengamalkan dan berakhlak dengan akhlak-akhlak al-Qur'an, maka dia adalah Ahli al-Qur'an, sekalipun dia orang awam yang tidak (bagus) membaca al-Qur'an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)
******
16. Imam Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah berkata:
وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَضَّاحٍ: أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ المَسْجِدَ فَيَقِفُ عَلَى الحِلَق، فَيَقُولُ:... فَذَكَرَهُ، وَقَالَ: أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدِ، عَنْ عَامِرٍ الشَّعْبِيِّ، عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: «لَيْسَ عَامٌ إِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌ مِنْهُ، لَا أَقُولُ: عَامٌ أَمْطَرُ مِنْ عَامٍ، وَلَا عَامٌ أَخْصَبُ مِنْ عَامٍ، وَلَا أَمِيرٌ خَيْرٌ مِنْ أَمِيرٍ، لَكِنْ ذَهَابُ عُلَمَائِكُمْ وَخِيَارِكُمْ، ثُمَّ يَحْدُثُ أَقْوَامٌ يَقِيسُونَ الأُمُورَ بآرَائِهِمْ؛ فَيُهْدَمُ الإِسْلَامُ وَيُثْلَمُ»
Dari Muhammad bin Wadhoh bahwa ia masuk masjid lalu berdiri di depan sekumpulan orang lalu ia berkata: Sufyan menceritakan kepadaku, dari Mujalid bin Sa’id, dari Amir Asy-Sya’bi, dari Masruq, ia berkata:
Abdullah bin Masud berkata: “Tidak ada tahun melainkan tahun berikutnya lebih jelek dari sebelumnya. Aku tidak mengatakan dari sisi tahun banyaknya hujan atau tahun kesuburan, atau pemimpin A lebih baik daripada pemimpin B, tetapi maksudku adalah wafatnya para ulama dan orang terbaik di antara kalian. Kemudian akan muncul kaum yang memahami agama sebatas dengan akalnya, sehingga Islam hancur dan lenyap.”
- (Diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Dani dalam as-Sunan al-Waridah fi al Fitan no. 210. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, 13/283 menisbatkan" kepada al-Baihaqi).
Muhammad bin Wadhdhah rahimahullah adalah salah seorang ulama yang menulis karya tulis yang menjelaskan tentang bid'ah, beliau memiliki sebuah buku yang tercetak dengan judul Al-Bida' wa an-Nahyu 'Anha (W. 286 H).
Atsar dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu’anhuma di atas berasal dari riwayat Ibn Wadhdhah. Dia mengabarkan bahwa manusia akan terus menurun, setiap tahun akan berkurang (kualitasnya) dibandingkan tahun yang sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari Anas radhiyallahu’anhu manakala mereka mengadukan al-Hajjaj dan kezhalimannya atas mereka, maka Anas berkata,
اصْبِرُوا، فإنه لا يأتي زمانٌ إلا والذي بعده شَرٌّ منه حَتَّى تَلْقَوا رَبَّكُم
"Bersabarlah, karena sesungguhnya tidaklah datang suatu tahun melainkan tahun yang sesudahnya lebih buruk darinya. Itulah yang telah aku dengar dari Nabi kalian" . (HR Bukhari, no. 7068).
Semakin jauh suatu zaman dari zaman Nabi ﷺ, semakin meningkat keburukannya, hal ini mengharuskan seorang Muslim waspada terhadap fitnah-fitnah dan keburukan-keburukan.
Kemudian dia mengabarkan di bagian akhir atsar bahwa bila para ulama dan orang-orang baik meninggal dunia, maka akan datang sesudah mereka orang-orang jahil yang menjadikan akal dan analogi mereka sebagai rujukan hukum, karena mereka tidak memiliki ilmu. Ini menyebabkan umat tersesat dan binasa, karena orang-orang jahil itu tidak becus untuk kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, karena keduanya adalah asas peletakan syariat. Sebagaimana dalam hadits,
إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزعهُ مِنَ النَّاسِ، وَلكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأفْتوا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara langsung dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama pun, orang-orang mengangkat para pemimpin yang jahil, lalu mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan."
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 100: dan Muslim, no. 2673: dari hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash.
Keberadaan para ulama adalah indikasi kebaikan, hilangnya mereka adalah indikasi keburukan, keberadaan orang-orang di zaman ini yang menjauhkan masyarakat dari para ulama, meremehkan para ulama, dan menciderai kehormatan mereka, ini termasuk tanda Hari Kiamat dan termasuk tanda berkurangnya (kualitas) di dalam Islam.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم