Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

Daftar Isi:



Hidayah Adalah Nikmat yang Sangat Berharga

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Majelis ilmu merupakan nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Melalui majelis ilmu, seseorang kembali mengingat akhirat, bersemangat melakukan kebaikan, dan memperoleh kekuatan untuk menahan diri dari kemaksiatan. Oleh karena itu, hendaknya kita menghadiri majelis ilmu dengan niat yang ikhlas karena Allah, mengharapkan pahala dan ilmu yang bermanfaat.

Pada kesempatan ini, kita membahas tema Jagalah Hidayah. Hidayah merupakan nikmat yang sangat berharga karena dengannya seseorang dapat menempuh jalan yang mengantarkannya kepada surga Allah.

Dua Jenis Hidayah

Secara umum, hidayah terbagi menjadi dua macam:

1. Hidayah dalalah wal irsyad, yaitu petunjuk berupa penjelasan, arahan, dan ajakan menuju kebenaran. Seorang dai, guru, atau orang yang memberikan nasihat dapat menyampaikan petunjuk ini kepada orang lain. Allah ﷻ berfirman:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar membimbing manusia kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52).

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat memberikan petunjuk dalam bentuk penjelasan dan bimbingan menuju jalan yang lurus. 

2. Hidayah taufik, yaitu pertolongan Allah yang menjadikan hati seseorang terbuka untuk menerima kebenaran, meyakininya, dan mengamalkannya. Hidayah ini sepenuhnya berada di tangan Allah. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sungguh, engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qasas [28]: 56).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan pamannya, Abu Thalib, menerima Islam. Beliau telah menyampaikan dakwah kepadanya, tetapi Abu Thalib tidak memperoleh hidayah taufik untuk mengucapkan kalimat tauhid sebelum meninggal dunia.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran, sedangkan terbukanya hati untuk menerima kebenaran merupakan karunia Allah. Kita tidak boleh merasa mampu memberikan hidayah kepada siapa pun tanpa pertolongan-Nya.

Mengapa Hidayah Harus Dijaga?

Hidayah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah hidayah taufik, khususnya dua nikmat besar: hidayah untuk memeluk Islam dan hidayah untuk mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar.

Hidayah sangat mahal karena menjadi sebab seseorang menempuh jalan keselamatan dan meraih surga. Tidak ada kenikmatan dunia yang dapat menyamai kenikmatan surga yang Allah persiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Al-Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824).

Kisah Abu Thalib juga menunjukkan bahwa kedekatan dengan orang saleh tidak otomatis membuat seseorang memperoleh hidayah taufik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendakwahi pamannya, tetapi beliau tidak dapat menjadikan pamannya menerima Islam.

Abu Thalib kelak mendapatkan keringanan azab karena syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi bukan berarti ia masuk surga. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa orang yang paling ringan azabnya di neraka adalah Abu Thalib, dengan bara api di kedua telapak kakinya yang membuat otaknya mendidih (HR. Al-Bukhari no. 3883 dan Muslim no. 209).

Karena itu, kita perlu bersungguh-sungguh menjaga hidayah yang telah Allah karuniakan. Jangan merasa aman dari kemungkinan hati berubah, tetapi teruslah memohon pertolongan Allah agar tetap berada di atas Islam dan sunnah.

Sembilan Cara Menjaga Hidayah

 

1. Istiqamah dalam Menuntut Ilmu Agama

Menjaga hidayah membutuhkan ilmu yang terus dipelajari. Menghadiri majelis ilmu tidak cukup hanya sekali atau dua kali, tetapi perlu dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Ilmu agama sangat luas. Pembahasan tafsir Al-Qur’an saja dapat memenuhi banyak jilid kitab. Jika kajian tafsir diselenggarakan sekali sepekan, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Itu baru satu cabang ilmu, belum ilmu-ilmu agama yang lain.

Oleh sebab itu, jika kesempatan kita menghadiri kajian terbatas, berusahalah untuk tetap istiqamah. Jangan sampai semangat menuntut ilmu hanya muncul sesekali, kemudian terputus dalam waktu yang lama.

Majelis ilmu memiliki beberapa manfaat penting:

  • Menambah semangat beramal. Nasihat dan pelajaran agama mengingatkan kita untuk melakukan kebaikan serta menjauhi kemaksiatan.
  • Memperoleh teman yang saleh. Berteman dengan orang-orang yang menginginkan kebaikan membantu kita bertahan di atas ketaatan. Ketika sendirian, seseorang lebih mudah merasa lemah, sedangkan kebersamaan dengan orang-orang saleh dapat menguatkan semangatnya.
  • Menambah pengetahuan agama. Dengan ilmu, kita mengetahui jalan kebaikan sekaligus memahami bagaimana mempertahankannya.
  • Menguatkan keyakinan. Akidah yang dibangun di atas ilmu lebih kokoh sehingga seseorang tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan dan berbagai pemikiran yang menyimpang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699).

Menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju surga. Karena itu, menjaga kesinambungan belajar agama termasuk usaha penting untuk mempertahankan hidayah Islam dan sunnah.

2. Memilih Guru dan Rujukan Ilmu yang Tepat

Tidak setiap majelis ilmu atau sumber informasi agama layak dijadikan rujukan. Kita perlu selektif dalam memilih guru, sebagaimana kita berhati-hati ketika mencari tenaga ahli untuk persoalan dunia.

Dalam urusan kesehatan, misalnya, seseorang mempertimbangkan kompetensi dan pengalaman dokter. Untuk persoalan mesin, ia mencari orang yang memahami bidang tersebut. Demikian pula dalam urusan agama, kita perlu merujuk kepada orang yang memiliki keilmuan dan kelayakan.

Kesalahan dalam memahami agama dapat memengaruhi keyakinan dan amalan seseorang, bahkan berdampak pada kehidupannya di akhirat. Karena itu, jangan memilih guru hanya berdasarkan kepandaian berbicara, popularitas, atau banyaknya pengikut.

Setidaknya, perhatikan tiga hal berikut:

  1. Ilmunya mumpuni. Guru hendaknya memiliki pemahaman agama yang kuat sehingga mampu menjelaskan dalil dengan benar dan membedakan kebenaran dari kesalahan.
  2. Takwanya baik. Ilmu tanpa ketakwaan dapat disalahgunakan untuk menipu, memperdaya, atau mengambil keuntungan dari orang lain.
  3. Akhlaknya mulia. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam perilaku dan adab.

Akhlak seorang guru dapat memengaruhi muridnya. Jika seorang guru terbiasa mencela, merendahkan orang lain, atau berbicara tanpa adab, kebiasaan tersebut berpotensi ditiru oleh orang yang belajar kepadanya.

Karena itu, ilmu perlu disertai adab. Ketika membantah pendapat yang salah, seseorang dapat menjelaskan letak kesalahannya berdasarkan dalil tanpa merendahkan pribadi yang dibantah.

Jangan sampai kita telah mengorbankan waktu, tenaga, dan harta untuk belajar, tetapi justru mengumpulkan pemahaman yang keliru. Memilih rujukan yang tepat merupakan bagian dari ikhtiar menjaga hidayah.

3. Menjaga Lingkungan dan Pergaulan

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap agama seseorang, terutama teman dekat. Teman dapat menguatkan semangat dalam kebaikan, tetapi juga dapat menjauhkan seseorang dari petunjuk.

Allah menggambarkan penyesalan seseorang pada hari kiamat karena salah memilih teman dekat:

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝٢٨ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي

“Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan setelah peringatan itu datang kepadaku.” (QS. Al-Furqan [25]: 28–29).

Ayat ini mengingatkan kita tentang besarnya pengaruh teman dekat. Teman yang baik dapat membantu kita mengingat Allah dan bertahan dalam ketaatan. Sebaliknya, teman yang buruk dapat menjauhkan kita dari ilmu dan amal saleh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378).

Teman dekat bahkan dapat menjadi cermin keadaan agama kita. Jika orang-orang yang paling dekat dengan kita senantiasa mendorong kebaikan, insyaallah pengaruh itu akan membantu kita. Sebaliknya, jika pergaulan dekat terus-menerus mengajak kepada keburukan, kita perlu mengevaluasi hubungan tersebut.

Apabila memiliki teman yang kurang baik, nasihatilah dengan cara yang tepat. Jika nasihat diterima, itu merupakan kebaikan. Namun, jika tidak berhasil dan pergaulan tersebut terus merusak agama, carilah lingkungan yang lebih baik.

Meninggalkan kebiasaan atau hubungan yang buruk demi menjaga agama bukanlah kerugian. Seorang muslim hendaknya berharap kepada Allah agar diberi pengganti yang lebih baik.

4. Menjauhi Perdebatan dan Syubhat

Semangat belajar agama harus disertai kebijaksanaan. Orang yang baru mulai menuntut ilmu terkadang sangat bersemangat membantah siapa saja yang berbeda pendapat dengannya. Padahal, semangat yang tidak diimbangi ilmu dan adab dapat menimbulkan masalah.

Perdebatan sering kali berubah menjadi upaya mempertahankan ego. Seseorang malu mengakui kesalahan karena takut dianggap kalah. Akibatnya, yang dipertahankan bukan lagi kebenaran, melainkan harga diri.

Karena itu, ketika mengetahui suatu kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman yang benar, berusahalah mengamalkannya. Jika ingin menasihati orang lain, sampaikan dengan baik. Jika nasihat diterima, alhamdulillah; jika tidak, jangan memaksakan diri dalam perdebatan yang tidak bermanfaat.

Perdebatan dalam persoalan agama bukan berarti selalu terlarang dalam setiap keadaan. Namun, perdebatan memerlukan ilmu, kemampuan memahami dalil, ketulusan mencari kebenaran, dan adab yang baik. Orang yang belum memiliki bekal memadai sebaiknya tidak mudah melibatkan diri di dalamnya.

Daripada berdebat di hadapan banyak orang, persoalan agama dapat dipelajari melalui kajian yang membahas satu masalah secara terarah. Pertanyaan diajukan, kemudian guru yang memiliki kompetensi menjelaskan dalil dan jawabannya dengan memadai.

Selain perdebatan, seorang muslim juga harus berhati-hati terhadap syubhat, yaitu perkara atau pemikiran yang membuat kebenaran menjadi samar sehingga seseorang berisiko menerima kesalahan sebagai sesuatu yang benar.

Jangan sengaja mencari-cari syubhat ketika ilmu dan kemampuan kita belum memadai. Jika syubhat datang dan kita tidak mampu menjawabnya, tanyakan kepada guru yang tepercaya dan carilah penjelasan dari sumber yang benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah yang dipaparkan kepada hati manusia:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ

“Fitnah-fitnah akan dipaparkan kepada hati seperti anyaman tikar, satu demi satu. Hati yang menerimanya akan diberi satu titik hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya akan diberi satu titik putih.” (HR. Muslim no. 144).

Hadis ini menunjukkan bahwa fitnah yang terus diterima dapat memengaruhi hati. Karena itu, jangan meremehkan syubhat atau menganggap diri selalu aman ketika membaca dan mendengarkan pemikiran yang menyimpang.

Tujuan kita bukan mencari perdebatan, melainkan memperoleh kebenaran dan mengamalkannya. Jika membutuhkan jawaban terhadap suatu syubhat, carilah penjelasan dari orang yang berilmu, bukan sekadar mengikuti pertukaran argumen yang tidak berujung.

5. Terus Berdoa Memohon Keteguhan Hati

Hidayah merupakan karunia Allah. Oleh sebab itu, usaha menjaga hidayah harus disertai doa yang terus-menerus. Jangan merasa bahwa ilmu, pengalaman, atau banyaknya amal menjadikan kita pasti aman dari penyimpangan.

Salah satu doa yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an adalah:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 8).

Doa ini sangat sesuai bagi orang yang telah memperoleh hidayah Islam dan ingin tetap berada di atasnya. Kita memohon agar Allah menjaga hati, tidak menyimpangkannya setelah memperoleh petunjuk, dan melimpahkan rahmat-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3522).

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja sering memohon keteguhan hati kepada Allah, kita tentu lebih membutuhkan doa tersebut. Hati manusia dapat berubah, sedangkan Allah-lah yang memberikan taufik dan menjaga hamba-Nya.

Karena itu, perbanyaklah doa agar tetap berada di atas Islam, mengikuti sunnah Nabi, dan meninggal dalam keadaan memperoleh rida Allah.

6. Mengamalkan Ilmu yang Telah Dipelajari

Ilmu tidak cukup hanya didengar, dicatat, atau dihafalkan. Ilmu perlu diamalkan. Mengamalkan ilmu, meskipun sedikit, merupakan salah satu cara untuk menjaga hidayah dan memperkuat keteguhan dalam kebaikan.

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

“Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan nasihat yang diberikan kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan keteguhan mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 66).

Ayat ini menjelaskan bahwa melaksanakan nasihat bukan hanya mendatangkan kebaikan, tetapi juga menguatkan keteguhan seseorang.

Ketika mempelajari suatu kewajiban, berusahalah melaksanakannya. Ketika mengetahui suatu larangan, berusahalah meninggalkannya. Jika ilmu yang diperoleh hanya berhenti pada pengetahuan, manfaatnya tidak akan sempurna.

Jangan menunggu sampai mengetahui semua hal untuk mulai beramal. Amalkan apa yang telah diketahui dengan benar, kemudian lanjutkan belajar dan memperbaiki diri. Dengan demikian, ilmu dan amal berjalan bersama dalam menjaga hidayah.

7. Membaca dan Merenungi Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kaum muslimin. Karena itu, salah satu cara menjaga hidayah adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai usaha memahami maknanya.

Jangan hanya membaca ayat tanpa berusaha memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Jika belum memahami bahasa Arab, manfaatkan terjemahan. Jika terjemahan belum memberikan penjelasan yang cukup, bacalah tafsir yang tepercaya.

Di zaman sekarang, berbagai aplikasi Al-Qur’an dan sarana digital dapat membantu seseorang mempelajari terjemahan serta tafsir. Namun, kemudahan teknologi tetap perlu disertai kehati-hatian: periksa kembali penjelasan yang diperoleh dan utamakan kitab tafsir serta rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Allah menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil.” (QS. Al-Furqan [25]: 32).

Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap untuk memperteguh hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah pentingnya mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dan merenungi kandungannya agar hati semakin kuat di atas petunjuk.

Bacalah Al-Qur’an secara rutin, pahami maknanya sesuai kemampuan, pelajari tafsirnya, lalu amalkan petunjuknya. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan hanya menjadi bacaan, tetapi juga pedoman dalam menjalani kehidupan.

8. Membaca dan Merenungi Sirah Nabi Muhammad

Mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menghadirkan ujian. Seseorang mungkin menghadapi celaan, dijauhi oleh sebagian orang, atau mendapatkan tuduhan karena berusaha menjalankan agama dengan benar.

Dalam keadaan seperti itu, membaca dan merenungi perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menguatkan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi berbagai ujian dalam berdakwah. Beliau dituduh dengan tuduhan yang tidak benar, mengalami pemboikotan bersama kaum muslimin, kehilangan orang-orang yang mendukungnya, dan akhirnya berhijrah meninggalkan tanah kelahirannya. Di Madinah pun, perjuangan beliau tidak berhenti; kaum muslimin masih menghadapi berbagai ancaman dan peperangan.

Jika kita merenungi ujian yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan menyadari bahwa kesulitan yang kita hadapi dalam menjalankan agama belum sebanding dengan perjuangan beliau.

Allah berfirman:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud [11]: 120).

Ayat ini menunjukkan bahwa kisah para rasul bukan sekadar cerita sejarah. Kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran yang dapat meneguhkan hati ketika menghadapi ujian.

Selain memberikan penghiburan, membaca sirah Nabi juga menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Semakin kita mengenal kehidupan, perjuangan, dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semakin besar pula kecintaan kita kepada beliau. Kecintaan itu akan mendorong kita untuk lebih bersungguh-sungguh mengikuti dan mempertahankan sunnahnya.

Karena itu, jadikan sirah Nabi sebagai bacaan yang rutin dipelajari, bukan sekadar kisah yang dibaca sesekali.

9. Berhati-hati terhadap Fitnah Dunia dan Syahwat

Di antara ujian yang dapat mengganggu keteguhan seseorang adalah fitnah harta, kedudukan, dan syahwat. Seseorang mungkin telah mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau mengikutinya karena takut kehilangan keuntungan dunia atau menghadapi tekanan dari orang-orang di sekitarnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336).

Harta dapat menjadi ujian ketika seseorang lebih mengutamakan keuntungan dunia daripada kebenaran. Ada orang yang mengetahui suatu kewajiban, tetapi enggan melaksanakannya karena khawatir kehilangan penghasilan, kedudukan, atau dukungan keluarga.

Karena itu, seorang muslim perlu menjaga niat dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama hingga mengorbankan agamanya.

Selain harta, syahwat juga merupakan ujian besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan suatu fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah perempuan.” (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740).

Hadis ini memperingatkan tentang besarnya bahaya fitnah syahwat. Seseorang yang sebelumnya bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan beramal dapat berubah apabila tidak menjaga diri dari godaan tersebut.

Peringatan ini juga mengingatkan bahwa pengaruh pasangan dan lingkungan keluarga dapat memengaruhi keteguhan beragama. Karena itu, baik laki-laki maupun perempuan perlu menjaga agama, memilih pasangan dengan pertimbangan yang baik, dan saling membantu dalam ketaatan.

Jangan merasa bahwa ilmu dan amal yang telah dimiliki membuat kita kebal terhadap fitnah. Tetaplah berhati-hati, menjaga batasan syariat, dan memohon pertolongan Allah agar tidak tergelincir.

Penutup

Hidayah Islam dan hidayah untuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dua nikmat yang sangat agung. Keduanya bukan semata-mata hasil kecerdasan, kekayaan, atau usaha manusia, melainkan karunia Allah yang harus disyukuri dan dijaga.

Di antara ikhtiar untuk menjaga hidayah adalah:

  1. Istiqamah dalam menuntut ilmu agama.
  2. Memilih guru dan rujukan ilmu yang tepat.
  3. Menjaga lingkungan serta pergaulan.
  4. Menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat dan berhati-hati terhadap syubhat.
  5. Terus berdoa memohon keteguhan hati.
  6. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
  7. Membaca dan merenungi Al-Qur’an.
  8. Membaca dan merenungi sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9. Berhati-hati terhadap fitnah dunia dan syahwat.

Semua ikhtiar tersebut perlu disertai ketergantungan kepada Allah. Kita tidak boleh merasa aman dari kemungkinan hati berubah. Teruslah belajar, beramal, memilih lingkungan yang baik, dan memohon agar Allah meneguhkan hati di atas kebenaran hingga akhir hayat.

Semoga Allah menjaga kita di atas Islam dan sunnah Nabi-Nya, memberikan keteguhan dalam ketaatan, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Poster Ringkasan

Jagalah Hidayah Sembilan Ikhtiar Penting

*****

 

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini