Bismillah
📚┃Materi : KUMPULAN HADIST AKHLAK (Syarah Kitab Ahadits Akhlak, Karya Syaikh Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr)
🎙┃Pemateri : Ustadz Ja'far Ad Demaky,S.Ag حفظه الله تعالى (Pengajar Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo )
🗓| Hari: Senin, 11 Mei 2026 / 23 Dzulqa'idah 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid Al Kautsar Puri Gading - Jl. Puri Gading Raya Perum Puri Gading, Dusun I, Grogol, Kec. Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
📖|Daftar Isi:
أحاديث الأخلاق - كَفَالَةُ الْیَتِیمِ
Ahaditsul Akhlak - Bab 8: Mengkafil (Menyantuni) AnakYatim
Mengkafil (Meyantuni) Anak Yatim
Di antara keutamaan hukum Islam dan kesempurnaan akhlak yang dituntutnya adalah kepedulian terhadap anak yatim, yaitu anak yang kehilangan ayahnya sebelum mencapai usia baligh. Tidak ada lagi status yatim piatu setelah baligh. Termasuk dalam kategori ini juga adalah anak yang tidak diketahui asal-usulnya, karena ia dianggap yatim piatu karena kehilangan kedua orang tuanya. Sesungguhnya, ia lebih membutuhkan pertolongan daripada anak yang diketahui asal-usulnya karena ia tidak memiliki kerabat yang dapat dimintai pertolongan di saat membutuhkan. Oleh karena itu, siapa pun yang mensponsori anak yang tidak diketahui asal-usulnya akan menerima pahala yang sama dengan mereka yang mensponsori anak yatim.
Allah Yang Maha Kuasa telah menyebutkan anak yatim dalam Kitab-Nya di lebih dari dua puluh tempat, menyerukan kebaikan terhadapnya dan memperingatkan agar tidak menindasnya, merampas hartanya, atau merampas hak-haknya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:
وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (QS. Al-Baqarah ayat 83).
Dia menekankan kebaikan kepada anak yatim, sama seperti dia menekankan kebaikan kepada orang tua dan kerabat.
Allah ﷻ berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”(QS. Al-Ma’un [107]: 1-3)
Firman-Nya dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 9:
فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya: Kemudian Allah ﷻ berfirman: (Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (ayat 9)) yaitu sebagaimana kamu dahulu seorang yang yatim (Muhammad), lalu Allah melindungimu, maka janganlah berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. yaitu janganlah menghina, membentak, dan merendahkannya, tetapi berbuat baiklah dia, dan kasihanilah dia. (Tafsir Ibnu Kathir (81/427).
Dan sesungguhnya beliau ﷺ adalah orang yang paling penyayang dan penuh perhatian terhadap anak yatim, sampai-sampai karena rasa sayang dan perhatiannya yang begitu besar kepada mereka, beliau berkata: “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan seperti kedua orang ini.”
Hadits ke-1: Orang yang mengasuh anak yatim dekat dengan Nabi ﷺ di Surga
(Diriwayatkan oleh Sahl ibn Sa’d, semoga Allah meridainya, dari Nabi ﷺ yang berkata:
((أَنَا وَكَافِلُ الْيَِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا)) وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan seperti ini di Surga,” dan beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) (6005)
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ، أَوْ لِغَيْرِهِ، أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ. وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى،
“Orang yang menafkahi anak yatim, baik kerabatnya atau bukan, akan bersamaku di Surga seperti kedua orang ini,” dan Malik memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (Diriwayatkan oleh Muslim) (2983).
Ini menunjukkan bahwa ia akan bersama Nabi ﷺ di Surga, tetapi ini tidak berarti bahwa ia akan memiliki kedudukan yang sama dengannya, karena kedudukan tertinggi di Surga hanya dicapai oleh satu orang, dan hanya dia seorang.
Al-Hafiz Ibn Hajar, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Ini menunjukkan bahwa perbedaan kedudukan antara Nabi dan orang yang menafkahi anak yatim adalah jarak antara jari telunjuk dan jari tengah… dan cukup untuk membuktikan kedekatan kedudukan dengan kedudukan bahwa tidak ada jari lain di antara jari tengah dan jari telunjuk.” (Fath al-Bari (10/436).) Akhir kutipan.
Bahkan jika tidak ada hal lain yang disebutkan dalam bab ini selain ini, itu sudah cukup untuk menunjukkan keutamaan menafkahi anak yatim, merawat mereka, dan berbuat baik kepada mereka. Al-Hafiz Abu Umar Ibn Abd al-Barr, semoga Allah merahmatinya, berkata: Dan ini adalah keutamaan yang besar hingga barang siapa yang merawat anak yatim dan memberinya nafkah dari hartanya, jika ia juga termasuk orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” dan kemudian tetap teguh, maka ia akan memperolehnya. Dan itu sudah cukup bagimu sebagai suatu kebajikan dan kedekatan dengan kedudukan Nabi dan keluarganya di Surga. Dan tidak banyak perbedaan antara jari telunjuk dan jari tengah dalam panjang atau kedekatannya, meskipun perbandingan perbedaan itu dengan luasnya Surga sangatlah besar. (Al-Istidhkar (8/434).
Ibn Battal, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Wajib bagi setiap orang beriman yang mendengar hadits ini untuk berkeinginan untuk mengamalkannya agar ia dapat berada di Surga sebagai sahabat Nabi, semoga kedamaian Allah tercurah kepadanya, dan kelompok para nabi dan rasul—semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka semua—dan tidak ada kedudukan di sisi Allah di Akhirat yang lebih baik daripada persahabatan dengan para nabi.” Penjelasan Sahih al-Bukhari (9/217))
Menitipkan anak yatim mencakup memenuhi kebutuhan mereka, memberi mereka pakaian, serta membesarkan dan mendidik mereka. Termasuk juga membimbing mereka menuju kebaikan dan kejujuran. Mengkafil bukan hanya tentang memberi mereka makan, memenuhi kebutuhan fisik mereka, dan menyediakan pakaian, tetapi juga tentang memelihara jiwa dan hati mereka melalui pendidikan Islam, menanamkan dalam diri mereka adab dan akhlak agama ini, membesarkan mereka dengan cara yang benar, dan membimbing mereka di jalan kebenaran dan ketaatan kepada Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi.
Hadits ke-2: Orang yang Mengasuh Anak Yatim Seperti Jihad Fi Sabilillah, Shalat Malam tanpa Henti dan Puasa Terus Menerus.
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), dari Nabi (shalawat dan salam kepadanya), beliau bersabda:
السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ -وَأَحْسِبُهُ قَالَ :- وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ، وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ.
“Orang yang berusaha membantu janda dan fakir miskin adalah seperti orang yang berperang di jalan Allah—dan saya pikir beliau juga bersabda—seperti orang yang berdiri shalat tanpa henti, dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka.” (Disepakati) (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (6007) dan Muslim (2982).).
Definisi Armalah (Janda)
Janda adalah wanita yang tidak memiliki suami, baik karena ia tidak pernah menikah, atau karena suaminya meninggal atau menceraikannya. Ada juga yang mengatakan bahwa janda adalah wanita yang suaminya telah meninggal. Janda juga dapat memiliki anak dari suaminya.
Ia disebut janda (armalah) karena kata "irmal," yang berarti kemiskinan dan kehilangan penolong dan pelindungnya—suaminya. Jika ia memiliki anak darinya dan menjadi janda, kebutuhannya bahkan lebih besar, karena kebutuhan tersebut kini meluas kepada dirinya dan anak-anaknya. Karena alasan ini, hadits ini dikategorikan oleh beberapa ulama di bawah judul bab: "Orang yang Berusaha Membantu Janda dan Anak Yatim." Pernyataannya, "Seperti orang yang berjuang di jalan Allah," menunjukkan bahwa ini adalah salah satu bentuk jihad yang agung. "Seperti orang yang berdiri shalat tanpa henti, dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka" menyoroti keutamaan orang-orang yang merawat janda dan anak yatim, dan bahwa kedudukan orang yang melakukannya sama seperti kedudukan orang yang berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari.
Ibn Battal, semoga Allah merahmatinya, berkata: “Barangsiapa yang tidak mampu berjuang di jalan Allah, atau shalat malam, atau berpuasa siang, hendaknya ia mengamalkan hadits ini dan berusaha membantu para janda dan orang miskin, agar ia dibangkitkan pada Hari Kiamat di antara orang-orang yang berjuang di jalan Allah, tanpa…” Ia mengambil langkah ke arah itu, atau mengeluarkan satu dirham, atau bertemu musuh yang menakutinya.
Atau ia dapat dikumpulkan dengan orang-orang yang berpuasa dan shalat malam, dan mencapai kedudukan mereka sementara ia makan siang dan tidur malam sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, setiap orang beriman hendaknya berusaha untuk melakukan pekerjaan yang tidak pernah gagal ini, dan mencari pertolongan bagi janda atau orang miskin demi Allah Yang Maha Kuasa, agar ia dapat memperoleh kedudukan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, orang-orang yang berpuasa, dan orang-orang yang shalat malam, tanpa kerja keras atau kesulitan. Itulah karunia Allah; Dia memberikannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki. (Syarah Sahih al-Bukhari (9/218).)
Hadits ke-3: Orang yang Mengasuh Anak Yatim akan Melembutkan Hati
Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya): Seorang pria mengeluh kepada Nabi (shalawat dan salam kepadanya) tentang kekerasan hatinya. Nabi bersabda,
امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ
“Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)(9006).
Ia mengusap kepala anak yatim karena kebaikan dan kasih sayang, dan memberinya makan dari makanannya sendiri, tanpa mengutamakan dirinya sendiri di atas anak yatim tersebut dengan rezeki terbaiknya. Ini adalah salah satu cara membersihkan hati dari kekerasan.
Hal ini juga menunjukkan bahwa siapa pun yang menderita sifat tercela harus disembuhkan dengan kebalikannya. Kesombongan disembuhkan dengan kerendahan hati, kekikiran dengan kemurahan hati, dan hati yang keras dengan kasih sayang dan rahmat.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم