Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah
Bismillah
 
Safari Dakwah Solo
📒 Tema : Krisis Akidah dan Solusinya
👤 Bersama : Ustadz Dr. Musyaffa' ad Dariny, M.A. Hafidzahullah
🗓 Ahad, 11 Oktober 2026 ⏱️ Ba'da Subuh– Selesai (WIB)
🕌 Masjid Darul Falah Klego Jl. Kanggede-Kemolong KM:07, Ngembal, Klego
Daftar Isi:

Pendahuluan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berkat nikmat-Nya, kita dapat berkumpul di salah satu rumah Allah untuk menghadiri majelis ilmu. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai mensyukuri nikmat-Nya, menjaga nikmat yang telah diberikan, dan menambahkan nikmat-nikmat lainnya kepada kita.

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas tema “Krisis Akidah dan Solusinya.”

Krisis berarti keadaan genting atau keadaan yang sangat memprihatinkan. Krisis akidah terkadang tidak kita sadari, padahal berbagai bentuk penyimpangan akidah dapat terjadi di tengah masyarakat. Karena itu, kita perlu mengenalinya agar tidak terjerumus ke dalamnya dan memiliki semangat untuk memperbaiki keadaan.

1. Pentingnya Mengenal Keburukan agar Terhindar Darinya

Mempelajari kebaikan penting agar kita dapat mengamalkannya. Mengenali keburukan juga penting agar kita dapat menjauhinya.

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu pernah menjelaskan bahwa para sahabat biasa bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan beliau bertanya tentang keburukan karena khawatir keburukan tersebut menimpanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Hudzaifah:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Orang-orang dahulu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir keburukan itu menimpaku.”  (Shahih Al-Bukhari, no. 3606; juga diriwayatkan dalam Shahih Muslim, no. 1847).

Seseorang yang tidak mengenali keburukan bisa saja melakukannya tanpa sadar. Ketika melihat banyak orang melakukan sesuatu, ia mungkin ikut-ikutan karena menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Karena itu, seorang muslim perlu memiliki ilmu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Banyaknya orang yang melakukan suatu perbuatan tidak otomatis menjadikan perbuatan tersebut benar.

Ada ungkapan Arab yang maknanya kurang lebih, “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, melainkan agar dapat menghindarinya.”

Oleh sebab itu, kita harus terus mempelajari agama dan menghadiri majelis ilmu. Ilmu agama merupakan bekal untuk menjaga diri, keluarga, dan masyarakat dari berbagai penyimpangan.

2. Tidak Memahami Makna La Ilaha Illallah

Salah satu tanda krisis akidah adalah banyaknya kaum muslimin yang belum memahami makna kalimat tauhid dengan benar.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

La ilaha illallah berarti: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah.

Makna ini berbeda dengan sekadar mengatakan, “Tidak ada pencipta selain Allah.” Pernyataan bahwa Allah satu-satunya Pencipta memang benar, tetapi bukan itulah makna utama kalimat la ilaha illallah.

Bahkan, kaum musyrikin yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Namun, pengakuan tersebut tidak membuat mereka menjadi muslim karena mereka masih mempersekutukan Allah dalam ibadah.

Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’”  (QS. Luqman [31]: 25. Makna serupa juga terdapat dalam QS. Az-Zumar [39]: 38).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa mengakui Allah sebagai Pencipta belum cukup apabila seseorang tidak memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.

Kalimat tauhid mengandung penolakan terhadap segala sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi. Manusia mungkin menyembah makhluk, benda, atau sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Akan tetapi, semua itu tidak berhak menerima ibadah.

Adapun keyakinan bahwa tidak ada wujud selain Allah juga bukan makna kalimat tauhid. Makhluk memang ada dan berbeda dari Sang Pencipta. Allah adalah Rabb yang menciptakan seluruh makhluk, sedangkan makhluk tetap merupakan ciptaan-Nya.

Karena itu, memahami makna la ilaha illallah merupakan fondasi mendasar dalam akidah Islam.

3. Berdoa dan Mempersembahkan Sembelihan kepada Selain Allah

Di antara bentuk krisis akidah adalah berdoa kepada jin, penghuni kubur, atau pihak yang diyakini memiliki kekuatan gaib untuk mendatangkan kekayaan, keselamatan, dan berbagai manfaat.

Contoh lainnya adalah menyembelih hewan di tempat tertentu dengan tujuan mendekatkan diri kepada penghuni kubur atau makhluk gaib. Ada pula orang yang menyembelih ayam dan meletakkannya di sudut rumah ketika mengadakan hajatan, dengan harapan acara berlangsung lancar dan terhindar dari gangguan.

Dalam masalah ini, yang harus diperhatikan bukan sekadar ucapan ketika menyembelih, melainkan juga tujuan ibadah tersebut. Membaca basmalah tidak mengubah sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah menjadi ibadah yang benar.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.’” (QS. Al-An‘am [6]: 162–163).

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah, termasuk penyembelihan yang bersifat ibadah, harus ditujukan kepada Allah semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (Shahih Muslim, no. 1978).

Adat istiadat harus ditimbang dengan syariat

Tidak berarti setiap adat istiadat harus ditinggalkan. Tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat pada dasarnya tidak menjadi masalah. Namun, tradisi yang mengandung kesyirikan atau keyakinan batil tidak boleh dipertahankan hanya karena diwariskan oleh leluhur.

Contohnya adalah ritual sesaji di gunung, sedekah laut, atau sedekah bumi apabila dilakukan sebagai persembahan kepada penguasa gaib atau untuk mencari perlindungan dari makhluk selain Allah.

Memberi makan manusia, bersedekah, dan berbuat baik kepada makhluk Allah merupakan perbuatan yang baik. Akan tetapi, perbuatan tersebut berbeda dari ritual persembahan yang didasari keyakinan bahwa penghuni laut, gunung, atau makhluk gaib dapat memberikan keselamatan dan memenuhi kebutuhan manusia.

Karena itu, penyimpangan seperti ini perlu dijelaskan kepada masyarakat dengan ilmu dan cara yang baik. Tujuannya bukan memusuhi masyarakat atau merendahkan tradisi mereka, melainkan mengajak mereka memahami tauhid dan meninggalkan keyakinan yang bertentangan dengan Islam.

4. Memercayai Paranormal dan Peramal

Bentuk krisis akidah lainnya adalah kebiasaan mendatangi paranormal atau peramal untuk mengetahui masa depan, mencari kekayaan, atau menyelesaikan persoalan hidup. Sebutan “orang pintar” tidak mengubah hakikat perbuatan mereka apabila mereka mengaku mengetahui perkara gaib yang hanya diketahui Allah.

Allah berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.’”  (QS. An-Naml [27]: 65).

Allah juga berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia.” (QS. Al-An‘am [6]: 59).

Allah dapat memberitahukan sebagian perkara gaib kepada rasul yang Dia kehendaki melalui wahyu. Namun, hal itu tidak berarti seorang rasul mengetahui seluruh perkara gaib dengan sendirinya. Terlebih lagi, manusia biasa tidak dapat mengklaim mengetahui masa depan secara mutlak.

Kisah hilangnya Kalung Aisyah radhiyallahu ‘anha

Dalam perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha kehilangan kalungnya. Rombongan pun berhenti untuk mencarinya di tempat yang jauh dari sumber air. Peristiwa tersebut kemudian menjadi sebab turunnya keringanan tayamum.

Setelah pencarian dilakukan, kalung itu ternyata ditemukan di bawah unta yang sebelumnya ditunggangi Aisyah.

Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara gaib secara mandiri. Beliau adalah rasul yang mulia, tetapi pengetahuan beliau mengenai perkara gaib bergantung pada wahyu Allah.

Kisah tersebut diriwayatkan dalam hadis Aisyah mengenai tayamum, antara lain dalam Shahih Al-Bukhari, no. 334, dan Shahih Muslim, no. 367.

Allah berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa keburukan.’” (QS. Al-A‘raf [7]: 188).

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak menggantungkan kehidupan kepada ramalan. Apabila seseorang mengaku mengetahui masa depan secara mutlak, pengakuan tersebut bertentangan dengan prinsip akidah Islam.

Adapun ramalan zodiak, prediksi nasib berdasarkan tanggal lahir, dan perkataan peramal mengenai kejadian yang akan datang tidak boleh dijadikan pegangan untuk menentukan nasib.

5. Menggunakan Jimat untuk Keselamatan dan Keberuntungan

Jimat masih digunakan oleh sebagian masyarakat untuk memperoleh keselamatan, keberuntungan, atau kelancaran usaha. Bentuknya tidak selalu berupa benda yang dibawa di tubuh. Ada pula yang ditempelkan di rumah, toko, atau kendaraan. Contohnya adalah benda yang dipercaya dapat membuat rumah makan menjadi laris, rajah yang diyakini mencegah kebakaran, atau gambar tertentu yang dipercaya mendatangkan perlindungan.

Dalam akidah Islam, suatu benda tidak boleh diyakini sebagai sebab mendatangkan manfaat atau menolak bahaya tanpa dasar yang benar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barang siapa menggantungkan tamimah (jimat), sungguh ia telah berbuat syirik.”

Rujukan: Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad. Nomor hadis dan redaksi persis riwayat ini perlu dicocokkan dengan edisi yang digunakan sebelum penerbitan.

Hadis tersebut memberikan peringatan keras terhadap penggunaan jimat. Keyakinan bahwa benda tertentu memiliki kekuatan gaib tanpa dalil bukan bagian dari tauhid yang benar.

Dalam pembahasan para ulama, perlu dibedakan antara syirik kecil dan syirik besar berdasarkan keyakinan, bentuk perbuatan, serta dalil yang berkaitan dengannya. Namun, pembagian ini tidak boleh dipakai untuk meremehkan penggunaan jimat. Seorang muslim harus menjauhi jimat dan menggantungkan perlindungan hanya kepada Allah, dengan menempuh sebab-sebab yang dibenarkan syariat dan terbukti secara nyata.

Sebab yang benar harus memiliki dasar

Sebab untuk memperoleh manfaat atau mencegah bahaya dapat diketahui melalui dua jalan:

  1. Dalil syariat, yaitu wahyu yang menunjukkan bahwa suatu amalan merupakan sebab datangnya manfaat atau perlindungan.
  2. Bukti empiris yang benar, yaitu penelitian atau pengalaman yang dapat dipertanggungjawabkan dan menunjukkan hubungan sebab-akibat yang nyata.

Di luar kedua dasar tersebut, keyakinan terhadap benda atau kejadian tertentu dapat berubah menjadi khurafat dan takhayul.

6. Tathayyur: Menganggap Sial Hari, Angka, dan Kejadian Tertentu

Tathayyur adalah menganggap suatu tanda, kejadian, atau hal tertentu sebagai pertanda kesialan tanpa dasar yang benar.

Contohnya:

  • Membatalkan keberangkatan kerja karena melihat kecelakaan di jalan.
  • Menganggap suara burung tertentu sebagai tanda akan terjadinya kematian.
  • Menentukan pernikahan berdasarkan hitungan weton karena takut rumah tangga menjadi tidak harmonis.
  • Menghindari angka tertentu karena diyakini membawa kesialan.

Semua itu merupakan bentuk keyakinan yang perlu diluruskan apabila tidak memiliki dasar syariat maupun hubungan sebab-akibat yang nyata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طِيَرَةَ

“Tidak ada tathayyur (anggapan sial).”

Sumber: Shahih Al-Bukhari, no. 5754, dan Shahih Muslim, no. 2220, dalam riwayat dengan redaksi yang berkaitan dengan penolakan tathayyur.

Islam tidak mengajarkan bahwa angka tertentu, hari tertentu, atau bulan tertentu secara otomatis membawa kesialan. Hari dan tanggal dapat dipilih berdasarkan kemudahan, kesiapan keluarga, serta pertimbangan yang wajar, bukan karena ketakutan terhadap ramalan.

Pernikahan pada bulan Syawal

Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya pada bulan Syawal dan mulai hidup bersamanya pada bulan Syawal.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ

“Dari Aisyah, beliau berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada bulan Syawal dan mulai hidup bersamaku pada bulan Syawal.’”

Sumber: Shahih Muslim, no. 1423.

Riwayat ini membantah anggapan bahwa menikah pada bulan Syawal membawa kesialan. Sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat tidak otomatis menjadi buruk menurut syariat.

Demikian pula, angka tertentu bukan penyebab seseorang memperoleh rezeki atau tertimpa musibah. Rezeki berada di bawah ketetapan Allah, sedangkan manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dengan cara yang benar.

7. Menganggap Semua Agama Benar

Di antara persoalan akidah yang perlu diperhatikan adalah anggapan bahwa semua agama sama-sama benar dalam perkara akidah dan bahwa siapa pun pasti masuk surga selama berakhlak baik.

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat adil, berakhlak baik, dan memenuhi hak sesama manusia. Namun, kebaikan dalam hubungan sosial tidak berarti bahwa semua keyakinan agama benar di sisi Allah.

Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”   (QS. Ali ‘Imran [3]: 19).

Allah juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka.”

Sumber: Shahih Muslim, no. 153.

Hadis ini menegaskan pentingnya iman kepada risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, kita tidak boleh menyamakan kebenaran akidah semua agama.

Berbuat baik kepada sesama manusia tetap merupakan kewajiban akhlak yang penting. Namun, akhlak sosial tidak dapat menggantikan kewajiban beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya.

Allah telah memberikan nikmat yang tidak terhitung kepada manusia. Oleh sebab itu, ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban yang sangat besar. Tidak tepat apabila seseorang hanya menilai kebaikan dari hubungan antarmanusia, tetapi mengabaikan hubungannya dengan Sang Pencipta.

Berhati-hati dalam menilai aliran dan pemikiran

Tidak semua kelompok yang mengatasnamakan Islam otomatis benar dalam seluruh keyakinan dan ajarannya. Setiap pendapat perlu ditimbang berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pemahaman generasi awal umat Islam.

Di antara penyimpangan yang dibahas pemateri adalah pandangan yang meremehkan pengaruh kemaksiatan terhadap iman, serta pandangan ekstrem yang mengeluarkan pelaku dosa besar dari Islam secara mutlak.

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dengan pemahaman para sahabat dan generasi awal umat ini. Pembahasan mengenai kelompok tertentu harus dilakukan dengan ilmu, kehati-hatian, dan penjelasan yang tepat, bukan sekadar mengikuti label atau prasangka.

8. Solusi Menghadapi Krisis Akidah

Setelah mengenali berbagai bentuk krisis akidah, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengatasinya.

A. Memperdalam ilmu akidah dan tauhid

Banyak penyimpangan terjadi karena ketidaktahuan. Oleh sebab itu, solusi pertama adalah mempelajari akidah yang benar secara teratur.

Pelajaran tauhid, khususnya tauhid uluhiyah—mengesakan Allah dalam ibadah—sangat dibutuhkan masyarakat. Salah satu kitab yang dapat dipelajari adalah Kitab At-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Kitab tersebut membahas dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis mengenai tauhid serta berbagai bentuk penyimpangannya.

Selain itu, dasar-dasar iman perlu dipelajari dengan baik, termasuk enam rukun iman, kedudukan para sahabat, serta tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kitab yang membahas petunjuk Nabi dalam berbagai aspek kehidupan adalah Zadul Ma‘ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad karya Ibnul Qayyim rahimahullah.

B. Menyampaikan kebenaran dengan lembut dan bijaksana

Ilmu harus disampaikan dengan cara yang baik. Tujuan dakwah bukan sekadar menunjukkan kesalahan orang lain, melainkan membantu mereka memahami kebenaran dan memperbaiki keyakinan.

Apabila penyampaian agama dilakukan dengan kasar atau merendahkan, orang yang dinasihati bisa menutup diri sebelum memahami isi nasihatnya.

Allah berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” Sumber: QS. An-Nahl [16]: 125.

Dakwah dapat dilakukan melalui percakapan sehari-hari, nasihat yang sesuai keadaan, mengajak keluarga menghadiri kajian, atau menghadirkan ustaz untuk mengisi pengajian di masjid, musala, maupun rumah.

C. Menyaring informasi sebelum mempercayainya

Tidak semua informasi yang viral benar. Terlebih lagi informasi tentang agama yang berasal dari sumber yang tidak jelas.

Sebelum menerima atau menyebarkan suatu informasi, periksa apakah isinya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta apakah sumbernya dapat dipercaya. Jangan menjadikan popularitas seseorang sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Sikap kritis dalam menerima informasi merupakan bagian dari upaya menjaga akidah.

D. Memperbanyak doa agar diteguhkan di atas agama

Hati manusia dapat berubah. Karena itu, kita perlu memohon kepada Allah agar diteguhkan di atas kebenaran.

Di antara doa yang sering dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Sumber: Jami‘ At-Tirmidzi, no. 2140.

Ketika membaca Surah Al-Fatihah, kita juga memohon petunjuk kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”  (QS. Al-Fatihah [1]: 6).

Permohonan hidayah ini perlu disertai usaha untuk mempelajari kebenaran, mengamalkannya, dan menjauhi hal-hal yang menyimpang.

E. Berlindung dari kesyirikan yang disadari maupun tidak disadari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa agar seorang muslim berlindung dari kesyirikan yang diketahui maupun yang tidak diketahui.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.”

Rujukan: Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad. Redaksi doa dalam transkrip dan nomor hadis perlu diverifikasi kembali dengan edisi sumber sebelum diterbitkan.

Doa ini sangat penting karena seseorang terkadang tidak menyadari bahwa perkataan, keyakinan, atau perbuatannya mengandung unsur kesyirikan. Dengan berdoa, belajar, dan memperbaiki diri, kita memohon agar Allah melindungi kita dari berbagai penyimpangan.

F. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah

Ketakwaan membantu seseorang membedakan antara kebenaran dan kebatilan, sekaligus mendorongnya untuk menerima kebenaran ketika telah mengetahuinya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu.” (QS. Al-Anfal [8]: 29).

Karena itu, selain menambah ilmu, seorang muslim harus meningkatkan ketakwaan melalui ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

9. Nasihat bagi Orang yang Tinggal di Lingkungan dengan Banyak Penyimpangan Akidah

Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah menyampaikan bahwa setelah kembali ke desa kelahirannya, ia mendapati banyak praktik yang menyimpang dari akidah Islam. Ia menghadapi dilema antara tetap tinggal untuk memenuhi amanah keluarga atau pindah demi menjaga agamanya.

Pemateri menjelaskan bahwa jawaban atas persoalan ini bergantung pada keadaan masing-masing orang.

Apabila seseorang memiliki ilmu dan cukup kuat menjaga agamanya, ia dapat tetap tinggal sambil berdakwah secara bertahap. Ia bisa menyampaikan nasihat dengan lembut, mengajak masyarakat belajar, dan mengadakan kajian. Cibiran yang diterima dalam perjuangan dakwah hendaknya dihadapi dengan sabar.

Seseorang yang belum memiliki ilmu luas pun dapat berkontribusi dengan cara yang sesuai kemampuannya, misalnya mengajak ustaz yang berkompeten untuk mengisi kajian.

Namun, apabila seseorang khawatir agamanya akan rusak karena pengaruh lingkungan yang sangat kuat, ia dapat mempertimbangkan untuk pindah ke tempat yang lebih mendukung keselamatan agamanya.

Menjaga agama merupakan perkara yang sangat penting. Dalam kondisi tertentu, meninggalkan tempat tinggal demi menjaga agama tidak otomatis berarti berdosa karena tidak memenuhi amanah keluarga. Keputusan tersebut perlu mempertimbangkan keadaan nyata, kemampuan, tanggung jawab, dan maslahat yang ada.

10. Cara Membentengi Diri agar Tetap Istikamah

Dalam menjawab pertanyaan tentang cara menjaga akidah, pemateri kembali menekankan beberapa langkah penting:

  1. Terus belajar ilmu agama, dimulai dari dasar-dasar iman dan tauhid, kemudian memperdalam pemahaman tentang Sunnah Nabi dan kedudukan para sahabat.
  2. Menyaring informasi, terutama informasi keagamaan yang berasal dari sumber yang tidak dikenal atau tidak jelas landasannya.
  3. Memperbanyak doa, memohon agar hati diteguhkan di atas agama Allah.
  4. Meningkatkan ketakwaan, karena ilmu perlu disertai ketaatan dan amal.
  5. Memilih lingkungan yang mendukung kebaikan, termasuk majelis ilmu dan pertemanan yang membantu seseorang tetap berpegang pada agama.

Popularitas seorang tokoh tidak menjamin bahwa semua pendapatnya benar. Karena itu, kebenaran harus ditimbang dengan dalil, bukan semata-mata berdasarkan ketenaran atau penerimaan masyarakat.

11. Menghadapi Kesulitan Ekonomi dengan Sabar dan Ikhtiar

Dalam sesi tanya jawab, jamaah juga meminta nasihat untuk menghadapi keadaan ekonomi yang sulit. Pemateri mengingatkan bahwa kesulitan ekonomi merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah.

Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Allah kemudian menjelaskan keadaan orang-orang yang sabar:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 156–157).

Sabar bukan berarti berhenti berusaha. Sabar berarti menahan diri dari kemaksiatan, tidak mengambil jalan yang diharamkan, dan tetap berusaha memperbaiki keadaan.

Di antara langkah yang dapat dilakukan adalah mencari peluang usaha baru, mengevaluasi pekerjaan, memperbaiki cara mengelola penghasilan, serta terus memohon pertolongan kepada Allah.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5–6).

Allah juga berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.”  (QS. Hud [11]: 6).

Jaminan rezeki dari Allah bukan alasan untuk bermalas-malasan. Seorang muslim tetap diperintahkan berusaha sebaik mungkin, berdoa, dan bertawakal. Keyakinan bahwa Allah menjamin rezeki hendaknya membuat hati lebih tenang, bukan membuat seseorang meninggalkan ikhtiar.

12. Apakah Semua Aliran yang Mengatasnamakan Islam Benar?

Pada sesi tanya jawab berikutnya, pemateri menjelaskan bahwa tidak semua aliran yang mengatasnamakan Islam dapat dianggap benar dalam seluruh ajarannya.

Ada pemahaman yang menyimpang dalam menilai para sahabat, ada pula pandangan yang meremehkan pengaruh dosa terhadap iman. Di sisi lain, terdapat pandangan ekstrem yang menganggap pelaku dosa besar otomatis keluar dari Islam.

Karena itu, umat Islam perlu mempelajari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu pemahaman yang berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para sahabat dan generasi awal umat Islam.

Penilaian terhadap suatu ajaran harus didasarkan pada dalil dan penjelasan ilmiah yang benar. Jangan menjadikan popularitas, slogan, atau banyaknya pengikut sebagai ukuran tunggal kebenaran.

Penutup

Krisis akidah dapat muncul dalam berbagai bentuk: tidak memahami makna tauhid, berdoa kepada selain Allah, melakukan ritual yang mengandung kesyirikan, mempercayai paranormal, menggunakan jimat, menganggap hari atau angka tertentu membawa kesialan, hingga meyakini bahwa semua agama sama-sama benar dalam perkara akidah.

Untuk menghadapinya, kita perlu memperdalam ilmu agama, mempelajari tauhid, menyaring informasi, memperbanyak doa, meningkatkan ketakwaan, dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah serta kelembutan.

Menjaga akidah bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga bagian dari kepedulian terhadap keluarga dan masyarakat. Dakwah perlu dilakukan dengan ilmu, kesabaran, dan cara yang baik. Jika lingkungan mendukung perbaikan, jadilah bagian dari perubahan tersebut. Namun, apabila lingkungan mengancam keselamatan agama dan seseorang tidak mampu menghadapinya, ia perlu mempertimbangkan langkah yang paling menjaga agamanya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita dari segala bentuk kesyirikan, meneguhkan hati kita di atas Islam, memberikan pemahaman agama yang benar, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah hingga akhir hayat.

وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Poster Ringkasan

Krisis Akidah dan Solusinya Infografis

******

 

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini