Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃Materi : Syarah Kitab Riyadush Shalihin.
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu Ta'ala.
🗓┃ Hari, Tanggal : Jumat [Sebelum Maghrib], 29 Agustus 2025 M / 6 Rabi'ul Awal 1447
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo


 

 Daftar Isi:

٢١٧- باب وجوب صوم رمضان وبَيان فضل الصيام وَمَا يتعلق بِهِ

Bab-217: Hukum Wajib Puasa di Bulan Ramadhan dan Penjelasan Keutamaan Puasa serta Hal-hal yang Berhubungan Dengannya

Hadits No. 1219: Puasa Ramadhan sebagai Penghapus Dosa

٥/١٢١٩- وعنْ أَبي هُرَيرةَ رضيَ اللَّه عنهُ، عن النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ: "مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً واحْتِساباً، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذنْبِهِ"متفقٌ عَلَيْهِ.

1219. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas, niscaya diampuni baginya dosa yang telah lalu." (Muttafaq 'alaih)

📃 Pengesahan Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/115-Fathul Bâri) dan Muslim (760).

📃Kosa Kata Hadits

  • Kata إيْمَانًا وَاحْتِسَابً : Membenarkan bahwa puasa itu wajib, senang untuk mendapatkan pahalanya, bersih jiwanya di dalam berpuasa, berpuasa bukan karena terpaksa, tidak merasakan berat melaksanakannya, dan tidak merasa hari-hari puasanya panjang seperti para pelaku maksiat yang digambarkan oleh Ahmad Syauqi:
Ramadhan telah usai, maka tuangkanlah khamer
karena ia telah merindukan peminumnya
sebagian besar hari-harinya berlalu sia-sia
sedikit sekali makhluk yang taat di dalamnya

🏷 Kandungan Hadits

  1. Penjelasan keutamaan bulan Ramadhan, dan ketinggian derajat, serta keterangan bahwa Ramadhan adalah bulan puasa. Barang siapa berpuasa di bulan itu, niscaya diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.
  2. Sebagian kaum Salaf tidak suka menyebut Ramadhan, berdasarkan kepada hadits dha'if: "Jangan berkata Ramadhan, karena ia termasuk bagian dari Asma Allah ta'ala”, tetapi katakanlah: 'Bulan Ramadhan." Mengenainya, hadits dalam bab ini sudah cukup untuk menjawabnya. Al-Bukhari dalam kitabnya membela hal ini. Di dalam kitabnya dia menulis judul Bab: 'Apakah Dikatakan Ramadhan atau Bulan Ramadhan' dan Bab Orang yang Berpendapat Bahwa Semuanya Leluasa." Selanjutnya, al-Bukhari mengutip hadits-hadits tentang itu, antara lain hadits bab ini. Akan tetapi dia meriwayatkannya secara mu'allaq, lalu di bab berikutnya diriwayatkan secara

*****

Hadits No. 1220: Bulan Ramadhan: Pintu Surga dibuka, Pintu Neraka ditutup dan Setan Dibelenggu

٦/١٢٢٠- وعنهُ رضيَ اللَّهُ عنهُ، أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ: "إِذا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجنَّةِ، وغُلِّقَت أَبْوَابُ النَّارِ، وصُفِّدتِ الشياطِينُ" متفقٌ عَلَيْهِ.

1220. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda: "Apabila bulan Ramadhan datang, maka dibukalah pitu-pintu Surga, dikuncilah pintu-pintu Neraka, dan dibelenggulah syaitan-syaitan." (Muttafaq 'alaih)

📃 Pengesahan Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/112-Fathul Bâri) dan Muslim (1079).

📃Kosa Kata Hadits

  • Kata صُفِّدَتْ : Dibelenggu dengan rantai.  

🏷 Kandungan Hadits

  1. Di bulan Ramadhan pintu-pintu Surga dibuka. Di dalam suatu riwayat disebutkan pintu-pintu rahmat, sementara dalam riwayat lain disebut pintu-pintu langit. Semua riwayat ini tidak mengandung pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Maka, yang dimaksudkan dengan pintu-pintu langit dibuka ialah agar amal shalih dan kalimat-kalimat thayyibah (Lâ ilâha illallâh) yang melimpah itu naik, sedangkan yang dimaksud dengan pintu-pintu rahmat ialah agar rahmat itu turun kepada umat sehingga dengan rahmat itulah mereka masuk Surga. Sebab, hamba Allah dapat masuk Surga hanya dengan rahmat Allah, bukan dengan amal mereka. Dengan amal mereka hanya mempunyai hak waris untuk mendapatkan Surga.
  2. Pada bulan Ramadhan pintu-pintu Jahannam dikunci karena pada waktu itu kejelekan dan kemaksiatan sedikit. Sebab, para hamba dengan tekun bertaubat dan merindukan Surga.
  3. Pada bulan Ramadhan di muka bumi ini sedikit sekali kejelekan. Sebab, syaitan-syaitan dibelenggu, juga jin-jin durhaka dirantai dan diikat. Maka dari itu, mereka tidak dapat bebas membuat kerusakan di tengah-tengah umat manusia, sebagaimana mereka lepas begitu saja pada bulan selain Ramadhan. Hal ini karena umat Islam sibuk dengan ibadah puasa, qiyamul lail, dan membaca al-Qur-an. Selain itu, syahwat mereka dikekang dan jiwa mereka ditempa sehingga menjadi bersih.
  4. Pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka dikunci, dan jin-jin durhaka dibelenggu. Semua itu dimulai sejak malam pertama bulan Ramadhan, sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi ﷺ:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ الثَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابُ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابُ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاعِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلُهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذُلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ.

"Jika telah tiba malam pertama bulan Ramadhan, maka syaitan-syaitan dan jin-jin durhaka dibelenggu; dikuncilah pintu-pintu Neraka, tidak ada satu pintu pun yang dibuka; dibuka pintu-pintu Surga, tidak ada satu pintu pun yang dikunci. Kemudian, ada yang berseru: 'Wahai pemburu kebajikan, kemarilah! Wahai pemburu kejahatan, berhentilah!' Allah pun membebaskan banyak orang dari Neraka. Itu terjadi setiap malam." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) Hadits ini hasan.

  1. Pemburu kejahatan tidak punya alasan untuk mengelak. Sebab, semua penyebab kejahatan ditahan atau diperkecil. Maka dari itu, tak ada yang dapat menghalangi kebajikan pada bulan yang penuh kebajikan selain orang yang memang bernasib buruk.

Peringatan

Al-Qurthubi sils dalam kitabnya, al-Mufhim, berkata: "Seandainya ada yang bertanya: 'Mengapa kita masih melihat pada bulan Ramadhan banyak terjadi kejahatan dan kemaksiatan? Andaikata syaitan-syaitan benar-benar dibelenggu, tentulah hal itu tidak akan terjadi?'"

Jawabnya:

"Kejahatan dan kemaksiatan itu mengecil bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan disiplin terhadap syarat-syarat dan etika-etikanya. Mungkin yang dimaksud bahwa syaitan yang dibelenggu itu hanya sebagian, bukan seluruhnya sebagaimana terungkap di dalam beberapa riwayat. Mungkin juga maksudnya memperkecil kejahatan di bulan Ramadhan. Fakta yang ada telah kita rasakan. Kalaupun kejahatan dan kemaksiaan terjadi, yang jelas ketika bulan Ramadhan lebih kecil volumenya daripada bulan yang lainnya. Sebab, dengan dibelenggunya syaitan-syaitan itu tidak berarti semua kejahatan dan kemaksiatan itu hilang, karena motif-motif lainnya tetap ada, seperti jiwa kotor, tradisi jelek, dan syaitan-syaitan manusia."

*****

Hadits No. 1221: Berpuasalah karena melihat hilal

 ٧/١٢٢١- وعنهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ: "صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤيَتِهِ، فإِن غمي عَليكم، فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبانَ ثَلاثينَ" متفقٌ عَلَيْهِ. وهذا لفظ البخاري.

وفي رواية مسلم:" فَإِن غُمَّ عَليكم فَصُوموا ثَلاثِينَ يَوْماً ".

1221. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: "Berpuasalah karena melihat hilal (Ramadhan) dan berbukalah karena melihat hilal (Syawwal). Jika hilal itu tertutup dari pandangan kamu, maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban menjadi tiga puluh." (Muttafaq 'alaih. Lafazh ini milik al-Bukhari.)

Di dalam riwayat Muslim: "Kemudian, jika hilal (Syawwal) itu tertutup dari pandangan kamu, maka berpuasalah tiga puluh hari."

📃 Pengesahan Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (IV/113-Fathul Bâri) dan Muslim (1081) (18).

🏷 Kandungan Hadits

  1. Puasa berkaitan dengan melihat hilal dengan mata. Berpuasa tidak boleh dengan perhitungan hisab dan semacamnya. Demikianlah kesepakatan para ulama.
  2. Sebagaimana pula jika ingin berbuka (Iedul Fitri), harus dilakukan dengan melihat hilal dengan mata.
  3. Jika hilal tertutup, tidak dapat terlihat oleh pandangan mata, maka harus menyempurnakan bulan Sya'ban menjadi tiga puluh hari. Ini menunjukkan bahwa hisab tidak dapat menentukan mulai atau selesainya bulan Ramadhan. Sebab ketika cuaca mendung sehingga hilal tidak dapat dilihat, maka hilal tidak dihisab, melainkan Sya'ban dan Ramadhan disempurnakan.

Keterangan Tambahan

  1. Dari penjelasan di atas, seorang Muslim tidak boleh memajukan bulan Ramadhan, yakni dengan berpuasa lebih dahulu sehari atau dua hari sebelumnya dengan alasan berhati-hati, kecuali apabila hari itu memang bertepatan dengan hari yang biasa dilakukan puasa setiap waktu. Hal tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَقَدَّمُوْارَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْم وَلا یَوْمَيْنِ إلَّا رَجُلُ كَانَ يَصُوْمُ یَومًا فَلْيَصُمْهُ.

"Janganlah memajukan Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari, kecuali seseorang yang sudah biasa berpuasa pada hari itu. Maka berpuasalah pada hari itu."

  1. Perlu diketahui bahwa orang yang berpuasa pada hari syak (ragu) berarti orang itu benar-benar telah mendurhakai Abul Qasim sebagaimana hadits berikutnya pada nomor (1227).
  1. Melihat hilal baru dapat dikatakan benar (pasti) apabila disaksikan oleh dua orang saksi Muslim yang adil. Ketentuan ini, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِةَ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوْا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا ثَلَاثِيْنَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُوْمُوْا وَأَفْطِرُوْ.

"Berpuasalah karena melihat hilal, berbukalah karena melihat hilal, dan berkurbanlah karenanya. Jika hilal tertutup dalam pandangan kamu, maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh. Jika ada dua saksi yang menyaksikannya, maka berpuasalah dan berbukalah." (HR. An-Nasa-i dan Ahmad. Dan ini hadits hasan).

  1. Perlu diketahui bahwa diterimanya dua orang saksi di dalam melihat bulan pada suatu waktu tidak berarti kalau satu orang saksi saja tidak diterima. Oleh karena itu, sah persaksian satu orang di dalam melihat hilal, sebagaimana hadits shahih dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma, bahwa dia berkata:

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ التَبِيَّ وَيهَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِیَامِهِ.

"Pernah orang-orang berusaha melihat hilal (bulan Ramadhan). Setelah itu, aku memberitahukan Nabi ﷺ bahwa aku melihatnya. Ternyata beliau berpuasa, dan memerintahkan orang-orang berpuasa." (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi dan lainnya dengan isnad shahih).

*****

٢١٨- باب الجود وفعل المعروف والإكثار من الخير في شهر رمضان والزيادة من ذَلِكَ في العشر الأواخر منه

 Bab-218: Sifat Murah Hati, Berbuat Baik, Dan Memperbanyak Amal Kebaikan Di Bulan Ramadhan, Terlebih Pada Sepuluh Malam Terakhir

 Hadits No. 1222: Rasulullah Lebih Dermawan di Bulan Ramadhan

١٢٢٢ - عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ رَِ لَلّهْعَنْهما قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَل اله عَلَيهِ وَسَلَّر أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ چِبْرِیْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ؛ فَلَرَسُوْلُ اللهِ صَلَ الهُ عليهِوَسَلَّمَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ. (متفق عليه)

 1222. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling pemurah. Lebih pemurah lagi ketika bulan Ramadhan, yakni sewaktu Jibril alaihissalam menemui beliau. Jibril alaihissalam biasa menemui beliau setiap malam Ramadhan kemudian bertadarus al-Qur’an kepada beliau. Sungguh, Rasulullah ﷺ saat ditemui Jibril alaihissalam benar-benar pemurah, lebih pemurah dalam memberikan sesuatu daripada angin yang berhembus." (Muttafaq 'alaih)

📃 Pengesahan Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (I/30-Fathul Bâri) dan Muslim (2307).

📃Kosa Kata Hadits

Makna   رِيْحُ الْمُرْسَلَةُ  : Angin yang bertiup dengan cepat serta banyak memberikan manfaat.

🏷 Kandungan Hadits

  1. Penjelasan sifat kemurahan hati Rasulullah ﷺ dan kedermawanan beliau, terutama di bulan Ramadhan. Sebab, Ramadhan merupakan bulan yang penuh ketaatan dan musim penuh kebajikan. Di bulan Ramadhan nikmat-nikmat Allah semakin bertambah dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Karena itu, Rasulullah ﷺ biasa mengutamakan diri untuk mengikuti sunnatullah terhadap para hamba-Nya. Maka dengan semua kandungan keutamaan Ramadhan ini, beliau lebih gigih lagi beraksi di dalam merealisasikan kemurahan hati beliau, baik dalam kedisiplinan waktu untuk beliau, untuk tamu beliau, untuk wahyu yang turun kepada beliau, dan untuk berinteraksi dengan lainnya. Wallâhu a'lam.
  2. Jibril alaihissalam biasa bertadarus Al-Qur'an bersama Nabi ketika bulan Ramadhan, seperti halnya ketika turunnya Al-Qur'an kepada beliau.
  3. Seorang hamba, setiap memperoleh sesuatu hal yang memperteguh keinginan dan tekadnya, akan semakin besar keinginannya untuk berderma, kapan saja dan di mana saja.
  4. Seyogianya para penuntut ilmu dan para ulama bertadarrus ilmu satu sama lain sehingga tidak lupa dan dapat terus-menerus belajar dari mereka.
  5. Anjuran untuk bermurah hati pada setiap waktu, terlebih lagi ketika berkumpul bersama dengan orang-orang baik di bulan Ramadhan.
  6. Dianjurkan memperbanyak tadarus Al-Qur'an di bulan Ramadhan karena bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur-an.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa, malam bulan Ramadhan disunnahkan berkumpul dengan orang-orang alim, seperti Rasulullah ﷺ dengan Jibril alaihissalam dan membaca Al-Qur’an lebih baik dilakukan di malam hari, dengan alasan:

  1. Rasulullah ﷺ bertadarus di malam hari bersama Jibril alaihissalam.
  2. Lebih semangat karena lebih sedikit aktifitas.
  3. Selarasnya Lisan dan hati, sehingga lebih khusyuk.
  4. Waktu malam hari lebih longgar.

*****

Hadits No. 1223: Rasulullah di 10 Malam Terakhir Ramadhan

١٢٢٣ - وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِ لَّهُ عَنهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَل الهُعليْهِ وَسَلَم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ الْمِثْزَرَ. (متفق عليه)

1223. Dari A'isyah Radhiyallahu’anha, dia menuturkan: "Apabila Rasulullah ﷺ telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya untuk beribadah, serta mengencangkan ikatan sarungnya (tidak berkumpul dengan istri-istrinya)." (Muttafaq 'alaih)

🏷 Kandungan Hadits

Pengesahan Hadits dan penjelasannya telah diberikan pada bahasan hadits nomor (1193) di dalam bab (214): "Keutamaan Qiyamul Lail pada Lailatul Qadar dan Penjelasan Beberapa Malam yang Lebih Diharapkan Kedatangannya".

  1. Penjelasan keistimewaan ibadah Rasulullah ﷺ serta kesabaran beliau di dalam menjalankannya.
  2. Penjelasan bahwa tidur saudaranya mati. Karena itu, di dalam hadits ini disebutkan ahya lailahu (menghidupkan malam harinya).
  3. Tidak berkumpul dengan istri pada waktu-waktu semacam ini bisa membuat seseorang lebih semangat dalam beribadah dan lebih tekun dalam mengamalkannya.
  4. Disunnahkan rutin dalam mengamalkan suatu ibadah, khususnya pada waktu-waktu seperti ini.
  5. Seyogianya menganjurkan keluarga untuk melaksanakan ibadah, dan mengarahkan mereka untuk berbuat ketaatan, serta menyuruh mereka shalat.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم