Bismillah
Kajian : Kitab Al-Fiqhul Akbar #1 | Syaikh Dr. Amir Bahjat Hafidzahullah
Link Kajian : Youtube Masjid Ar-Rahman
Pemateri : Ustadz Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, M.A. Hafidzahullah
- Alumni S3 Jurusan Hadist UIM, Saudi Arabia
- Dosen STDI Imam Syafi'i, Jember
Hari : Setiap Selasa | Ba'da Magrib | 13 Oktober 2026
Tempat : Masjid Ar Rahman Surakarta (Jl. Babar Layar No.3, Danukusuman,Serengan - Surakarta
Daftar Isi:
Karakteristik Akidah Ahlusunah wal Jamaah dan Buah Manisnya dalam Kehidupan
Pendahuluan
Akidah merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Akidah yang benar tidak hanya berkaitan dengan keyakinan di dalam hati, tetapi juga berpengaruh terhadap cara seseorang beribadah, berpikir, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama manusia.
Dalam kajian ini, pembicara menjelaskan karakteristik akidah Ahlusunah wal Jamaah, buah-buah yang dihasilkan oleh akidah yang benar, serta dasar-dasar akidah yang terangkum dalam enam rukun iman. Pembahasan ini menunjukkan bahwa akidah bukan sekadar pengetahuan teoretis, melainkan keyakinan yang semestinya membuahkan ketundukan kepada Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, ketenteraman hati, dan akhlak yang baik.
A. Tujuh Karakteristik Akidah Ahlusunah wal Jamaah
1. Berpusat pada tauhid
Karakteristik pertama akidah Ahlusunah wal Jamaah adalah memusatkan pembahasan pada tauhid. Para rasul diutus untuk mengajak manusia beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya.
Tauhid bukan hanya mengakui bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, tetapi juga meyakini bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi. Seluruh bentuk ibadah harus ditujukan kepada-Nya sesuai dengan tuntunan yang telah disyariatkan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah taghut!’” (QS. An-Nahl [16]: 36).
Ayat ini menunjukkan bahwa seruan utama para rasul adalah mengajak manusia beribadah kepada Allah dan menjauhi segala sesembahan selain-Nya.
2. Bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang sahih
Karakteristik kedua adalah tawqifiyyah, yaitu akidah harus berlandaskan wahyu, bukan dibangun semata-mata berdasarkan pendapat pribadi, spekulasi, atau pemikiran manusia.
Dalam perkara akidah, seorang muslim wajib mengembalikan keyakinannya kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ yang sahih. Akal digunakan untuk memahami, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari wahyu, bukan untuk menolak wahyu yang telah jelas kebenarannya.
Hal ini bukan berarti Islam mengabaikan akal. Akal memiliki kedudukan penting, tetapi manusia harus menyadari keterbatasannya. Pemikiran manusia dapat benar dan dapat pula keliru. Karena itu, akal perlu digunakan dengan benar dan tidak dijadikan ukuran mutlak untuk menerima atau menolak ajaran agama.
Allah Ta'ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur'an? Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. An-Nisa' [4]: 82).
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah. Adapun pemikiran manusia dapat mengalami perbedaan dan pertentangan karena keterbatasan pengetahuan, sudut pandang, serta cara memahami suatu persoalan.
Oleh sebab itu, dalam memahami akidah, seorang muslim hendaknya mendahulukan dalil yang sahih dan memahami dalil tersebut dengan benar.
3. Selaras dengan fitrah yang lurus
Karakteristik ketiga adalah kesesuaiannya dengan fitrah manusia yang masih lurus. Fitrah merupakan keadaan asal yang Allah tetapkan pada manusia, yang mengandung kesiapan untuk menerima kebenaran.
Akidah yang benar tidak mengajak manusia kepada keyakinan yang rusak atau penghambaan kepada makhluk. Sebaliknya, akidah mengarahkan manusia agar mengenal Penciptanya, tunduk kepada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tujuan ibadah.
Allah Ta'ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).
Fitrah yang lurus perlu dijaga. Seseorang dapat menyimpang karena pengaruh lingkungan, kebiasaan, hawa nafsu, atau pemahaman yang keliru. Karena itu, mempelajari akidah yang benar merupakan bagian dari upaya menjaga fitrah.
4. Selaras dengan akal yang sehat
Karakteristik keempat adalah kesesuaiannya dengan akal yang sehat. Namun, perlu dibedakan antara akal yang digunakan secara benar dan pemikiran yang sekadar mengikuti keinginan atau dugaan.
Akal manusia tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang benar. Seseorang dapat menggunakan kecerdasannya untuk mencari kebenaran, tetapi kecerdasan yang sama juga dapat digunakan untuk membenarkan kesalahan, mempertahankan kebatilan, atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Karena itu, tidak setiap pendapat yang dianggap logis oleh seseorang otomatis benar. Pemikiran manusia perlu diuji berdasarkan bukti dan dalil yang benar.
Dalam memahami agama, akal yang sehat tidak seharusnya dipertentangkan dengan wahyu yang sahih. Apabila seseorang merasa menemukan pertentangan, ia perlu memeriksa kembali pemahamannya, memastikan keabsahan dalil, serta menilai apakah kesimpulannya benar.
5. Mencakup seluruh perkara iman (asy-syumul)
Karakteristik kelima adalah asy-syumul, yaitu menyeluruh dan tidak pilih-pilih. Seorang muslim wajib menerima seluruh perkara keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Iman tidak boleh diperlakukan seperti sesuatu yang dapat dipilih sebagian dan ditolak sebagian lainnya hanya karena sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
Rukun iman mencakup iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, serta takdir yang baik maupun yang buruk.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa' [4]: 136).
Ayat ini memperlihatkan bahwa keimanan mencakup sejumlah perkara yang saling berkaitan. Tidak benar jika seseorang mengaku beriman kepada Allah, tetapi dengan sengaja menolak salah satu perkara iman yang telah Allah tetapkan.
6. Saling selaras dan tidak bertentangan (at-tawāfuq wa 'adam at-tanāquḍ)
Karakteristik keenam adalah bahwa pembahasan akidah yang bersumber dari wahyu yang benar saling selaras dan tidak bertentangan satu sama lain.
Pembahasan mengenai iman kepada Allah tidak boleh dipahami dengan cara yang merusak keimanan kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, atau takdir. Seluruhnya merupakan bagian dari agama yang sama.
Dalam kajian, pembicara menekankan bahwa perbedaan pemikiran manusia dapat menghasilkan kesimpulan yang saling bertentangan. Karena itu, perkara akidah harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih.
Ayat tentang tidak adanya pertentangan dalam Al-Qur'an, yaitu QS. An-Nisa' [4]: 82 yang telah disebutkan sebelumnya, menjadi salah satu landasan untuk memahami prinsip ini.
Meskipun demikian, kesulitan seseorang dalam memahami dua dalil tidak serta-merta berarti kedua dalil tersebut bertentangan. Bisa jadi ia belum mengetahui konteks, makna, atau cara mengompromikan dalil-dalil tersebut dengan benar.
7. Bersikap pertengahan dan proporsional (al-wasathiyyah)
Karakteristik ketujuh adalah wasathiyyah, yaitu sikap pertengahan yang adil dan proporsional. Ahlusunah wal Jamaah berusaha menjauhi dua penyimpangan: berlebih-lebihan (al-ghuluw) dan meremehkan atau mengabaikan (al-jafā’).
Sikap pertengahan ini diterapkan dalam berbagai perkara agama, termasuk pembahasan iman, takdir, sikap terhadap para sahabat Nabi ﷺ, serta sikap terhadap pemimpin kaum muslimin.
Pertengahan bukan berarti mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Maksudnya adalah menempatkan sesuatu pada kedudukan yang semestinya, sesuai dengan petunjuk agama, tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi hak yang seharusnya diberikan.
Allah Ta'ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 143, bagian awal ayat).
Dengan demikian, tujuh karakteristik akidah yang dijelaskan dalam kajian ini adalah berpusat pada tauhid, bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, selaras dengan fitrah, sesuai dengan akal yang sehat, menyeluruh, saling selaras, serta bersikap pertengahan.
B. Buah Manis dari Akidah yang Benar
Akidah yang benar seharusnya memberikan pengaruh nyata dalam kehidupan. Bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara seseorang beribadah, mengambil keputusan, dan memperbaiki perilakunya.
1. Merealisasikan penghambaan kepada Allah dan membebaskan diri dari penghambaan kepada makhluk
Buah pertama adalah tahqīqul-'ubūdiyyah li Rabbil-'ālamīn, yaitu mewujudkan penghambaan kepada Allah, Rabb semesta alam.
Ketika seseorang benar-benar memahami tauhid, ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah. Ia tidak menjadikan manusia, setan, hawa nafsu, atau benda-benda lain sebagai sesuatu yang ditaati secara mutlak hingga mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ ٦٠ وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ ٦١
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin [36]: 60–61).
Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak mengikuti setan dalam penyimpangan dari perintah Allah. Penghambaan kepada Allah mengharuskan seseorang berusaha menundukkan hawa nafsu dan tidak menjadikan keinginan makhluk sebagai ukuran mutlak kebenaran.
Merdeka dalam pengertian ini bukan berarti bebas dari seluruh aturan. Justru, kemerdekaan yang dimaksud adalah terbebas dari penghambaan kepada selain Allah dengan kembali tunduk kepada-Nya.
2. Merealisasikan ittiba' kepada Rasulullah ﷺ dan menjauhi bid'ah dalam agama
Buah kedua adalah tahqīqul-ittibā' li Rasūlillāh ﷺ, yaitu benar-benar mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ merupakan utusan Allah yang menyampaikan wahyu dan memberikan teladan dalam beragama. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya mengikuti tuntunan beliau, khususnya dalam perkara ibadah, bukan membuat tata cara ibadah berdasarkan selera atau pendapat pribadi.
Allah Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran [3]: 31).
Ayat ini menegaskan bahwa kecintaan kepada Allah harus diwujudkan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ. Mengaku mencintai Allah tidak cukup tanpa kesungguhan mengikuti petunjuk utusan-Nya.
Dalam urusan ibadah, mengikuti Sunnah menjadi pedoman agar seorang muslim tidak membuat bentuk ibadah yang tidak memiliki dasar syariat. Semakin seseorang memahami petunjuk Rasulullah ﷺ, semakin besar pula peluangnya untuk terhindar dari praktik ibadah yang menyelisihi tuntunan beliau.
3. Memperoleh ketenteraman jiwa dan ketenangan hati
Buah ketiga adalah ar-rāḥah an-nafsiyyah wa ṭuma'nīnatul-qalb, yaitu ketenteraman jiwa dan ketenangan hati.
Ketika seseorang menjadikan wahyu sebagai pedoman, ia mempunyai landasan yang jelas dalam beragama. Ia tidak perlu terus-menerus berpindah keyakinan hanya karena mendengar pendapat yang berbeda-beda tanpa mengetahui dalilnya.
Sebaliknya, apabila seseorang hanya mengikuti pendapat manusia tanpa memahami dasar dan ukurannya, ia dapat mengalami kebingungan ketika berhadapan dengan banyak pandangan yang saling bertentangan.
Ketenteraman bukan berarti seseorang tidak pernah mempunyai pertanyaan atau menghadapi kesulitan. Ketenteraman tumbuh ketika ia mengetahui kepada siapa harus kembali, bagaimana memeriksa kebenaran, dan di mana mencari petunjuk.
Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 28).
Dalam transkrip, pembicara juga menyinggung pengalaman Imam Al-Ghazali yang dikaitkan dengan penyesalan setelah mendalami filsafat dan keinginannya kembali kepada ilmu hadis. Namun, redaksi kutipan yang beredar dalam rekaman tidak cukup jelas untuk dipastikan sebagai perkataan beliau secara verbatim. Karena itu, kisah tersebut tidak dinukil di sini sebagai kutipan langsung yang pasti.
Pelajaran yang ditekankan dalam kajian adalah pentingnya mencari petunjuk agama dari sumber yang jelas dan tidak membiarkan diri terus-menerus terombang-ambing oleh pemikiran yang tidak mempunyai landasan kuat.
4. Memiliki kemantapan berpikir dan terhindar dari pertentangan yang keliru
Buah keempat adalah al-qanā'ah al-fikriyyah wa as-salāmah min munāqaḍāt al-'aql, yakni kemantapan keyakinan dalam berpikir dan terhindar dari kontradiksi yang lahir dari pemahaman yang keliru.
Seseorang yang mempelajari akidah dengan benar akan berusaha memahami hubungan antardalil dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa ajaran agama saling bertentangan.
Ia juga menyadari bahwa akal perlu digunakan secara benar. Akal yang sehat membantu seseorang memahami bukti, menimbang informasi, dan mengoreksi kesalahan. Adapun akal yang digunakan untuk membenarkan keinginan pribadi dapat menjerumuskan seseorang pada kesimpulan yang keliru.
Kemantapan berpikir bukan berarti menolak pertanyaan atau berhenti belajar. Sebaliknya, kemantapan dibangun dengan ilmu, pemahaman yang benar, serta kesediaan untuk memeriksa kembali kesalahan.
5. Memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani
Buah kelima adalah talbiyat ḥājāt ar-rūḥ wa ḥājāt al-jasad, yaitu memenuhi kebutuhan rohani sekaligus jasmani.
Agama tidak hanya berbicara tentang kebutuhan fisik, tetapi juga membimbing hati dan jiwa. Demikian pula, keimanan tidak cukup berhenti sebagai pengakuan dalam hati tanpa diwujudkan dalam amal.
Seorang muslim dituntut untuk menjalankan konsekuensi keimanannya melalui ibadah dan ketaatan. Keyakinan kepada Allah seharusnya mendorong seseorang untuk berbuat baik, menjalankan kewajiban, menjauhi larangan, serta memperhatikan hak-hak orang lain.
Dengan demikian, akidah yang benar memberikan arah bagi kehidupan secara utuh: keyakinan menjadi landasan, ibadah menjadi bentuk penghambaan, dan perilaku menjadi salah satu wujud nyata dari keimanan.
6. Menyelaraskan keyakinan dengan perilaku dan akhlak
Buah keenam adalah at-takāmul bainal-i'tiqād was-sulūk, yaitu keselarasan antara keyakinan dan perilaku.
Akidah yang benar semestinya mendorong pemiliknya untuk memperbaiki akhlak. Seseorang tidak seharusnya merasa cukup dengan mempelajari persoalan akidah, tetapi mengabaikan kejujuran, amanah, adab berbicara, dan hak-hak sesama manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ٢٤ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24–25).
Dalam penjelasan kajian, pohon yang baik menjadi perumpamaan bagi keyakinan yang baik dan kokoh. Buah yang dihasilkannya menggambarkan kebaikan yang tampak dalam kehidupan. Analogi ini mengingatkan bahwa keyakinan yang benar seharusnya memberikan pengaruh positif pada perilaku seseorang.
Akhlak yang baik mencakup banyak sisi kehidupan, di antaranya:
- Akhlak kepada Allah: beribadah dengan ikhlas, menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
- Akhlak kepada Rasulullah ﷺ: mencintai beliau, mengikuti petunjuknya, dan menghormati Sunnahnya.
- Akhlak terhadap Al-Qur'an: mengimaninya, mempelajarinya, dan berusaha mengamalkannya.
- Akhlak kepada orang tua dan keluarga: berbakti, menjaga hubungan, dan menunaikan hak mereka.
- Akhlak kepada sesama muslim dan tetangga: menjaga lisan, berlaku adil, tidak menyakiti, serta menunaikan hak orang lain.
- Akhlak dalam kehidupan sehari-hari: berkata jujur, menjaga amanah, menjauhi perkataan kotor, dan menghindari pengkhianatan.
Tentu saja, seseorang yang sedang belajar tidak otomatis menjadi sempurna akhlaknya. Setiap manusia masih dapat melakukan kesalahan. Namun, ilmu akidah semestinya mendorongnya untuk terus memperbaiki diri. Apabila seseorang mengetahui kebenaran tetapi tetap meremehkan akhlak, ia perlu mengevaluasi pemahaman dan pengamalan ilmunya.
C. Dasar-Dasar Akidah: Enam Rukun Iman
Setelah menjelaskan karakteristik akidah dan buah-buahnya, pembicara melanjutkan pembahasan tentang asāsul-'aqīdah, yaitu dasar-dasar akidah yang dikenal sebagai enam rukun iman.
Enam rukun iman merupakan pokok keyakinan seorang muslim. Seluruh pembahasan akidah pada dasarnya berkaitan dengan salah satu atau beberapa rukun tersebut.
1. Dalil enam rukun iman dalam hadis Jibril
Dalil yang menghimpun enam rukun iman terdapat dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu.
Ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang iman, beliau menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
Sumber: HR. Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, hadis no. 8.
Berdasarkan hadis tersebut, enam rukun iman adalah:
- Iman kepada Allah.
- Iman kepada para malaikat.
- Iman kepada kitab-kitab Allah.
- Iman kepada para rasul.
- Iman kepada hari akhir.
- Iman kepada takdir, baik maupun buruk.
Enam perkara ini tidak dapat dipisahkan. Keimanan kepada Allah mengharuskan seseorang menerima wahyu-Nya, mengimani para utusan-Nya, serta membenarkan perkara gaib yang telah diberitakan oleh-Nya.
2. Dalil rukun iman dalam Al-Qur'an
Selain hadis Jibril, pembicara menjelaskan bahwa rukun iman juga disebutkan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an. Tidak disyaratkan seluruh rukun iman disebutkan bersama-sama dalam satu ayat. Sebagian ayat menyebutkan beberapa rukun, sedangkan ayat lainnya menjelaskan perkara iman yang berbeda.
Allah Ta'ala berfirman:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; melaksanakan salat, menunaikan zakat, menepati janji apabila berjanji, dan sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 177).
Ayat ini menghubungkan keyakinan dengan amal. Iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan nabi-nabi disebutkan bersama sedekah, salat, zakat, menepati janji, dan kesabaran. Hal ini menguatkan penjelasan sebelumnya bahwa akidah yang benar semestinya memiliki pengaruh terhadap perilaku.
Sementara itu, QS. An-Nisa' [4]: 136 secara tegas menyebutkan iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan hari akhir. Adapun iman kepada takdir ditegaskan dalam hadis Jibril dan dijelaskan pula dalam berbagai dalil lainnya.
3. Mengapa iman kepada takdir disebutkan secara tersendiri?
Pembicara menjelaskan bahwa iman kepada takdir sebenarnya berkaitan erat dengan iman kepada Allah. Hal ini karena ilmu, pencatatan, kehendak, dan penciptaan yang berkaitan dengan takdir termasuk perkara yang berhubungan dengan Allah Ta'ala.
Namun, iman kepada takdir disebutkan secara tersendiri dalam enam rukun iman karena persoalan takdir memiliki pembahasan khusus dan menjadi perkara yang banyak diperselisihkan manusia.
Pemisahan tersebut bukan berarti takdir berada di luar keimanan kepada Allah. Sebaliknya, penyebutan secara khusus menunjukkan pentingnya perkara tersebut.
4. Keimanan tidak dapat dipilih sebagian
Dalam kajian, pembicara menekankan bahwa iman bersifat menyeluruh. Seorang muslim tidak dapat menerima sebagian wahyu, kemudian menolak bagian lainnya hanya karena tidak sesuai dengan keinginan atau pemikirannya.
Iman kepada Rasulullah ﷺ, misalnya, menuntut seseorang membenarkan ajaran yang benar-benar beliau sampaikan dari Allah. Demikian pula, iman kepada Allah harus disertai penerimaan terhadap perkara gaib yang telah Allah kabarkan melalui wahyu-Nya.
Karena itu, pembahasan akidah tidak pernah benar-benar terlepas dari enam rukun iman. Terkadang suatu pembahasan berpusat pada satu rukun, tetapi dapat pula berkaitan dengan beberapa rukun sekaligus.
D. Definisi Iman kepada Allah dan Cakupannya
Pembahasan berikutnya adalah rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Pembicara menjelaskan definisi ini sebagai dasar penting yang harus diketahui oleh setiap muslim.
1. Pengertian iman kepada Allah
Iman kepada Allah didefinisikan dalam kajian sebagai:
الِاعْتِقَادُ الْجَازِمُ بِوُجُودِ اللَّهِ وَرُبُوبِيَّتِهِ وَأُلُوهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
“Keyakinan yang pasti terhadap keberadaan Allah, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.”
Redaksi Arab di atas merupakan perumusan ringkas dari empat cakupan yang dijelaskan pembicara, bukan kutipan verbatim yang telah dipastikan berasal dari suatu kitab tertentu.
Iman kepada Allah tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah itu ada. Iman tersebut mencakup keyakinan terhadap hak Allah sebagai Rabb, satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi, serta pengakuan terhadap nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya sesuai dengan dalil.
2. Empat cakupan iman kepada Allah
- Pertama, iman kepada keberadaan Allah (al-īmānu bi-wujūdillāh). Seorang muslim meyakini dengan pasti bahwa Allah benar-benar ada. Keyakinan ini menjadi dasar bagi seluruh bentuk keimanan lainnya.
- Kedua, iman kepada rububiyah Allah (al-īmānu bi-rubūbiyyatillāh). Seorang muslim meyakini bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu. Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya.
- Ketiga, iman kepada uluhiyah Allah (al-īmānu bi-ulūhiyyatillāh). Seorang muslim meyakini bahwa hanya Allah yang berhak diibadahi. Karena itu, doa, penyembelihan sebagai ibadah, nazar, tawakal dalam pengertian ibadah, dan seluruh bentuk ibadah lainnya harus ditujukan kepada Allah sesuai tuntunan syariat.
- Keempat, iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah (al-īmānu bi-asmā'illāhi wa ṣifātih). Seorang muslim mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, sesuai dengan keagungan-Nya dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Keempat cakupan ini saling melengkapi. Mengimani Allah bukan hanya mengakui keberadaan-Nya, tetapi juga mengakui hak-Nya untuk diibadahi dan membenarkan nama-nama serta sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya.
3. Hubungan nama dan sifat Allah
Pembicara menjelaskan bahwa nama-nama Allah memiliki makna yang berkaitan dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya.
Sebagai contoh:
- Al-'Alīm (الْعَلِيمُ): Allah Maha Mengetahui.
- As-Samī' (السَّمِيعُ): Allah Maha Mendengar.
- Al-Baṣīr (الْبَصِيرُ): Allah Maha Melihat.
- Al-Ḥayy (الْحَيُّ): Allah Maha Hidup.
Nama Al-'Alīm menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah, As-Samī' menunjukkan kesempurnaan pendengaran-Nya, Al-Baṣīr menunjukkan kesempurnaan penglihatan-Nya, dan Al-Ḥayy menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat hidup yang sempurna.
Dalam kajian, pembicara juga menyinggung istilah bahasa Arab musytaq, yakni kata yang dibentuk dari kata lain dan memiliki hubungan makna dengannya. Penjelasan tersebut digunakan untuk membantu memahami hubungan antara nama dan sifat Allah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa nama dan sifat Allah ditetapkan berdasarkan wahyu, bukan semata-mata berdasarkan analisis bahasa. Karena itu, pembahasan nama dan sifat harus mengikuti dalil yang sahih serta kaidah pemahaman yang benar.
4. Hubungan antara iman kepada Allah dan rukun iman lainnya
Iman kepada Allah memiliki hubungan erat dengan seluruh rukun iman.
- Mengimani kitab-kitab Allah berarti membenarkan wahyu yang diturunkan-Nya.
- Mengimani para rasul berarti membenarkan utusan yang dipilih Allah untuk menyampaikan wahyu.
- Mengimani malaikat berarti membenarkan makhluk Allah yang keberadaannya diberitakan melalui wahyu.
- Mengimani hari akhir berarti membenarkan perkara yang Allah kabarkan mengenai kehidupan setelah kematian.
- Mengimani takdir berarti membenarkan ketetapan Allah sesuai penjelasan Al-Qur'an dan Sunnah.
Karena itu, iman kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari penerimaan terhadap wahyu dan perkara-perkara iman yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.
E. Tanya Jawab: Lupa Membayar Ongkos Bus
Pada bagian akhir terdapat pertanyaan seorang peserta mengenai pengalaman naik bus Trans Jateng. Peserta tersebut tidak yakin apakah ia telah membayar ongkos perjalanan. Setelah sampai di rumah, ia menemukan uang yang sebelumnya dicari di dalam sakunya.
Pembicara menjawab bahwa apabila seseorang telah menggunakan jasa transportasi yang memang berbayar, kewajiban membayar ongkosnya tetap harus ditunaikan. Ia menyarankan agar peserta tersebut mencari cara untuk melunasi pembayaran, baik melalui mekanisme pembayaran yang tersedia maupun dengan menghubungi pihak terkait.
Inti jawaban tersebut adalah pentingnya menjaga amanah dan menunaikan hak pihak lain. Ketika seseorang menyadari bahwa ada kewajiban pembayaran yang belum diselesaikan, ia hendaknya berusaha menyelesaikannya, bukan mengabaikannya.
Bagian ini sekaligus menjadi contoh praktis bahwa keyakinan dan pengetahuan agama perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk kejujuran, tanggung jawab, dan kesungguhan menunaikan hak orang lain.
Penutup
Kajian ini menegaskan bahwa akidah Ahlusunah wal Jamaah memiliki karakteristik yang jelas: berpusat pada tauhid, berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, selaras dengan fitrah dan akal yang sehat, menyeluruh, saling selaras, serta bersikap pertengahan.
Akidah yang benar juga menghasilkan buah yang nyata: penghambaan hanya kepada Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, ketenteraman hati, kemantapan berpikir, terpenuhinya kebutuhan rohani dan jasmani, serta keselarasan antara keyakinan dan akhlak.
Enam rukun iman menjadi dasar seluruh pembahasan akidah tersebut. Di antara keenamnya, iman kepada Allah memiliki cakupan yang meliputi keyakinan terhadap keberadaan Allah, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Oleh karena itu, mempelajari akidah tidak cukup hanya dengan menghafal definisi atau istilah. Ilmu tersebut harus dipelajari berdasarkan dalil yang benar, dipahami dengan baik, dan diamalkan dalam kehidupan. Dengan demikian, akidah menjadi fondasi yang membimbing seorang muslim dalam beribadah, berpikir, bersikap, dan menunaikan hak-hak sesama manusia.
Poster Ringkasan

****