Kategori Aqidah

Masalah-masalah ilmiyah yang berasal dari Allah dan RosulNya, yang wajib diyakini oleh setiap muslim
Kajian Bertema Aqidah

Bismillah

Kajian : Kitab Al-Fiqhul Akbar #2 | Syaikh Dr. Amir Bahjat Hafidzahullah
Link Kajian :Youtube Masjid Ar-Rahman
Pemateri : Ustadz Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, M.A. Hafidzahullah
- Alumni S3 Jurusan Hadist UIM, Saudi Arabia
- Dosen STDI Imam Syafi'i, Jember
‎Hari : Setiap Selasa | Ba'da Magrib | 27 Oktober 2026 / 14 Jumadil Awwal 1448 
Tempat : Masjid Ar Rahman Surakarta (Jl. Babar Layar No.3, Danukusuman,Serengan - Surakarta
Daftar Isi:

  1. Mengenal Keberadaan Allah dan Membantah Syubhat Orang-Orang yang Mengingkari-Nya
    1. A. Dalil-Dalil tentang Wajibnya Mengimani Keberadaan Allah
      1. 1. Keberadaan Allah adalah sesuatu yang wajib
      2. 2. Dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan Allah
      3. 3. Logika sederhana tentang keberadaan pencipta
    2. B. Terkabulnya Do'a sebagai Bukti Keberadaan Allah
      1. 1. Tidak terkabulnya doa bukan bukti Allah tidak ada
      2. 2. Terkabulnya doa merupakan bukti adanya Dzat yang mengabulkan
      3. 3. Pertolongan Allah kepada orang yang berada dalam kesulitan
    3. C. Mukjizat Para Rasul sebagai Bukti Keberadaan Allah
      1. 1. Mukjizat Nabi Isa 'alaihissalam
      2. 2. Mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam membelah laut
      3. 3. Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ membelah bulan
    4. D. Beberapa Kelompok yang Mengingkari Keberadaan Allah
      1. 1. Ad-Dahriyyun: orang-orang yang menganggap waktu sebagai penyebab kehidupan dan kematian
      2. 2. Ath-Thabi'iyyun: kaum naturalis
      3. 3. Ash-Shudfiyyun: kelompok yang menganggap segala sesuatu terjadi secara kebetulan
      4. 4. Asy-Syuyu'iyyun: kaum materialis
      5. 5. Orang-orang yang menolak kebenaran karena kesombongan
    5. E. Pertanyaan: Dari Mana Allah Berasal? Siapa yang Menciptakan Allah?
      1. 1. Allah adalah Yang Pertama
      2. 2. Makhluk membutuhkan sesuatu di luar dirinya
    6. F. Tiga Kejadian Luar Biasa yang Tidak Berlangsung dengan Sebab yang Biasa
      1. 1. Mukjizat
      2. 2. Karamah para wali Allah
      3. 3. Istidraj
    7. G. Sesi Tanya Jawab
      1. 1. Apakah makmum wajib membaca Surah Al-Fatihah dalam shalat berjamaah?
      2. 2. Apakah permainan sepak bola hukumnya haram?
      3. 3. Siapakah Ash-Shabi'un?
      4. 4. Apakah Allah bisa menciptakan orang gila yang mampu membuat roket hanya dengan mengatakan kun fayakun?
      5. 5. Bagaimana hukum penjual memakan makanan yang sudah dibeli tetapi belum dibayar pembeli?
      6. 6. Bolehkah menjadi konsultan pajak untuk membantu mengurangi beban pajak seseorang?
      7. 7. Bolehkah memakai tas ransel ketika sedang ihram?
      8. 8. Kapan membaca taawuz dalam shalat?
      9. 9. Apakah membicarakan perbuatan buruk seseorang yang sudah diketahui masyarakat termasuk ghibah?
    8. H. Penutup dan Pelajaran Penting
    9. Poster Ringkasan 


Mengenal Keberadaan Allah dan Membantah Syubhat Orang-Orang yang Mengingkari-Nya

A. Dalil-Dalil tentang Wajibnya Mengimani Keberadaan Allah

1. Keberadaan Allah adalah sesuatu yang wajib

Iman kepada wujudullah (keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala) merupakan perkara yang sangat mendasar dalam akidah Islam. Keberadaan Allah adalah sesuatu yang wajib, sedangkan keberadaan makhluk tidak wajib. Allah-lah yang menciptakan seluruh makhluk, memulai penciptaan, dan mengadakan segala sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Allah Ta'ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ

"Itulah Allah, Tuhanmu yang sebenarnya. Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu dipalingkan?" (QS. Yunus: 32).

Keberadaan Allah tidak mungkin diingkari. Sebab, kita menyaksikan begitu banyak makhluk yang diciptakan. Logika dasar manusia yang masih sehat akan memahami bahwa sesuatu yang diciptakan pasti memiliki pencipta.

Tidak mungkin sebuah ciptaan muncul tanpa pencipta, terlebih lagi alam semesta yang begitu luas, teratur, dan memiliki sistem yang sangat kompleks.

2. Dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan Allah

Ada beberapa jenis dalil yang menunjukkan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

  • Pertama: Al-fithrah as-salimah (fitrah yang masih lurus).

Fitrah adalah naluri bawaan manusia yang masih sehat dan belum rusak. Fitrah yang lurus akan mengarahkan manusia untuk mengakui keberadaan Allah sebagai Pencipta.

Pengakuan terhadap adanya Sang Pencipta merupakan sesuatu yang tertanam dalam fitrah manusia. Ketika fitrah tersebut belum tercemari oleh berbagai syubhat dan penyimpangan pemikiran, manusia akan lebih mudah menerima kebenaran ini.

  • Kedua: Al-'aql ash-sharih (akal yang jernih).

Akal yang sehat dan digunakan dengan benar akan menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak mungkin ada dengan sendirinya. Setiap sesuatu yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta.

Seseorang yang menggunakan akalnya dengan benar akan memahami bahwa keberadaan alam semesta menunjukkan adanya Sang Pencipta yang mengadakan dan mengaturnya.

  • Ketiga: Al-hiss al-masyhud (realitas yang dapat disaksikan).

Yaitu berbagai kenyataan yang bisa kita rasakan, lihat, dan saksikan secara langsung. Di antaranya adalah terkabulnya doa, pertolongan Allah kepada hamba-Nya, serta berbagai mukjizat yang diberikan kepada para nabi dan rasul.

  • Keempat: Dalil syar'i.

Seluruh ayat Al-Qur'an merupakan dalil yang menunjukkan keberadaan Allah. Al-Qur'an adalah kalamullah, firman Allah, yang tidak mungkin dibuat dan ditandingi oleh manusia.

Allah memberikan tantangan kepada manusia untuk mendatangkan sesuatu yang semisal dengan Al-Qur'an. Tantangan tersebut tetap berlaku sejak Al-Qur'an diturunkan hingga hari kiamat, tetapi tidak ada manusia yang mampu menandinginya.

Apabila Al-Qur'an adalah kalam (firman), tentu ada yang berfirman dengannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.

  • Kelima: Dalil dari alam semesta dan diri manusia.

Allah mengajak manusia untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam semesta dan pada diri mereka sendiri.

Allah Ta'ala berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ ۝ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

"Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 20–21).

Alam semesta, bumi, langit, matahari, bulan, manusia, dan seluruh makhluk merupakan tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran serta keberadaan Allah sebagai Pencipta.

3. Logika sederhana tentang keberadaan pencipta

Bayangkan ada sebuah mobil di hadapan kita. Apakah mungkin mobil tersebut tiba-tiba ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya? Apakah mungkin mobil itu menciptakan dirinya sendiri?

Tentu tidak masuk akal.

Jika seseorang menganggap mobil harus memiliki pencipta, tetapi pada saat yang sama menganggap alam semesta yang jauh lebih besar dan kompleks dapat tercipta tanpa pencipta, berarti ada ketidakkonsistenan dalam cara berpikirnya.

Justru lebih tidak masuk akal apabila manusia dan seluruh alam semesta dianggap muncul begitu saja tanpa ada yang menciptakannya.

Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta. Keberadaan-Nya tidak bergantung kepada siapa pun dan tidak membutuhkan sesuatu di luar diri-Nya.

B. Terkabulnya Do'a sebagai Bukti Keberadaan Allah

Di antara bukti nyata keberadaan Allah adalah adanya orang-orang yang berdoa dan kemudian Allah mengabulkan doa mereka.

Ada orang yang berdoa meminta pertolongan, kemudian Allah memberikan pertolongan kepadanya. Ini merupakan kenyataan yang dapat disaksikan.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua doa harus dikabulkan sesuai dengan permintaan dan waktu yang diinginkan manusia.

1. Tidak terkabulnya doa bukan bukti Allah tidak ada

Ada sebagian orang yang mempertanyakan keberadaan Allah dengan mengatakan, "Kita sudah berulang kali berdoa kepada Allah agar saudara-saudara kita di Gaza, Yaman, dan Sudan diberikan pertolongan. Namun, keadaan mereka masih sulit. Berarti Allah tidak ada."

Ini merupakan kesimpulan yang keliru.

Ketika seseorang memanggil orang lain dari luar rumah, tetapi orang tersebut tidak menjawab, apakah berarti orang itu tidak ada? Tentu tidak. Bisa jadi dia sedang tidur, tidak mendengar, sedang sibuk, atau memang tidak ingin menjawab.

Demikian pula ketika seseorang menelepon orang lain tetapi tidak diangkat. Tidak berarti orang yang ditelepon itu sudah tidak ada. Bisa jadi teleponnya sedang disenyapkan atau dia sedang memiliki kesibukan.

Maka, tidak dikabulkannya doa seseorang bukan bukti bahwa Allah tidak ada. Allah memiliki hikmah dalam mengabulkan atau menunda suatu permintaan.

Terkadang Allah mengabulkan doa dengan segera, terkadang menundanya, dan terkadang memberikan sesuatu yang berbeda dari apa yang diminta hamba-Nya.

2. Terkabulnya doa merupakan bukti adanya Dzat yang mengabulkan

Apabila ada seseorang berdoa kemudian doanya dikabulkan, tentu ada Dzat yang mengabulkan permintaan tersebut. Tidak mungkin doa itu terkabul dengan sendirinya tanpa ada yang mengabulkan.

Sebagai contoh, ketika kita meminta hujan kepada Allah, kemudian hujan turun setelah kita berdoa, maka yang mengabulkan doa tersebut adalah Allah, bukan orang-orang yang berdoa.

Bukan pula karena doa seorang ustaz, santri, atau para penghafal Al-Qur'an semata. Mereka hanyalah hamba yang berdoa. Adapun yang mengabulkan doa adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Pertolongan Allah kepada orang yang berada dalam kesulitan

Bentuk pertolongan Allah yang lain adalah ghautsul makrubin, yaitu pertolongan kepada orang-orang yang sedang berada dalam keadaan sangat genting dan terdesak.

Hal ini lebih khusus daripada sekadar terkabulnya doa biasa, karena terjadi ketika seseorang menghadapi musibah atau kesulitan yang sangat besar dan tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Dalam keadaan seperti ini, manusia menyadari bahwa pertolongan yang sesungguhnya hanya datang dari Allah.

C. Mukjizat Para Rasul sebagai Bukti Keberadaan Allah

Bukti lain tentang keberadaan Allah adalah mukjizat yang diberikan kepada para nabi dan rasul. Para rasul diutus untuk menyampaikan risalah Allah kepada manusia. Namun, sebagian umat mereka menolak dan meminta bukti atas kebenaran pengakuan mereka sebagai utusan Allah.

Kemudian Allah memberikan mukjizat kepada para rasul sebagai bukti kebenaran risalah mereka. Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada nabi dan rasul-Nya, yang tidak mampu dilakukan oleh manusia biasa.

Beberapa contohnya adalah:

1. Mukjizat Nabi Isa 'alaihissalam

Kaum Nabi Isa meminta agar diturunkan hidangan dari langit. Allah mengabulkan permintaan tersebut sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah berfirman:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

'Isa putra Maryam berdoa, "Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Al-Ma'idah: 114).

Peristiwa tersebut merupakan mukjizat yang menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa melakukan apa saja yang Dia kehendaki.

2. Mukjizat Nabi Musa 'alaihissalam membelah laut

Ketika Nabi Musa dan Bani Israil dikejar oleh Fir'aun beserta bala tentaranya, mereka terhalang oleh lautan. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut.

Allah berfirman:

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar." (QS. Asy-Syu'ara: 63).

Laut yang semula menjadi penghalang tiba-tiba terbelah sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat melintas. Setelah mereka selamat, laut kembali seperti semula dan menenggelamkan Fir'aun beserta tentaranya.

3. Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ membelah bulan

Salah satu mukjizat Rasulullah ﷺ adalah terbelahnya bulan dengan izin Allah.

Allah berfirman:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

"Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan." (QS. Al-Qamar: 1).

Peristiwa ini juga disebutkan dalam hadis:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شِقَّتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: اشْهَدُوا

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Bulan terbelah menjadi dua bagian pada masa Rasulullah ﷺ. Kemudian Nabi ﷺ bersabda, 'Saksikanlah!'" (HR. Al-Bukhari no. 3636; lihat juga no. 4864).

Semua mukjizat tersebut menunjukkan bahwa ada Dzat yang mengatur dan merealisasikan kejadian luar biasa itu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.

D. Beberapa Kelompok yang Mengingkari Keberadaan Allah

Pembahasan tentang keberadaan Allah menjadi sangat relevan karena sejak dahulu terdapat orang-orang yang mengingkarinya. Pada masa tertentu, pemikiran tersebut melemah, tetapi kemudian kembali menguat seiring tersebarnya kebodohan terhadap agama dan berkembangnya pengaruh pemikiran yang menyimpang.

Di antara kelompok yang disebutkan dalam pembahasan adalah sebagai berikut.

1. Ad-Dahriyyun: orang-orang yang menganggap waktu sebagai penyebab kehidupan dan kematian

Istilah ad-dahr berarti waktu atau masa. Ad-Dahriyyun adalah kelompok yang menganggap bahwa kehidupan dan kematian semata-mata merupakan akibat perjalanan waktu.

Mereka beranggapan bahwa tidak ada kehidupan setelah kehidupan dunia. Manusia hidup, kemudian mati, dan semuanya berakhir karena berlalunya waktu.

Allah mengabadikan perkataan mereka:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

"Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.' Padahal mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka hanyalah menduga-duga saja." (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Mereka menjadikan waktu sebagai penyebab segala sesuatu, padahal waktu sendiri merupakan bagian dari ciptaan Allah. Berlalunya waktu tidak menjelaskan siapa yang menciptakan kehidupan, manusia, dan seluruh alam semesta.

2. Ath-Thabi'iyyun: kaum naturalis

Kelompok ini mengaitkan penciptaan alam semesta dengan hukum alam. Mereka menganggap alam semesta terbentuk karena proses alamiah tanpa membutuhkan Pencipta.

Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah alam itu sendiri memiliki ilmu dan kemampuan untuk menciptakan segala sesuatu?

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan alam? Apakah langit yang menciptakan manusia? Apakah matahari dan bulan yang menciptakan makhluk hidup?

Jika dikatakan alam yang menciptakan semuanya, perlu dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan alam tersebut.

Alam itu sendiri terdiri atas berbagai makhluk. Langit, bumi, manusia, hewan, dan benda-benda lainnya merupakan bagian dari alam. Semuanya membutuhkan pencipta.

Dengan demikian, menjadikan alam sebagai pencipta tidak menyelesaikan persoalan. Sebab, alam itu sendiri merupakan sesuatu yang diciptakan.

3. Ash-Shudfiyyun: kelompok yang menganggap segala sesuatu terjadi secara kebetulan

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pemikiran bahwa segala sesuatu muncul secara tiba-tiba tanpa adanya pengaturan atau pencipta.

Misalnya, matahari, bulan, bumi, manusia, dan seluruh alam semesta dianggap muncul begitu saja.

Jika segala sesuatu hanya terjadi secara kebetulan, bagaimana menjelaskan keteraturan yang terus berulang?

Matahari terbit dari timur secara teratur. Pergantian siang dan malam berlangsung dengan sistem yang konsisten. Musim hujan dan kemarau memiliki pola yang dapat diamati.

Apabila sesuatu yang sama terjadi secara berulang dan teratur, hal tersebut justru menunjukkan adanya sistem dan pengaturan, bukan kebetulan tanpa sebab.

4. Asy-Syuyu'iyyun: kaum materialis

Kelompok materialis memandang bahwa kehidupan merupakan hasil interaksi materi. Mereka menjelaskan terbentuknya makhluk hidup melalui proses pertemuan dan reaksi berbagai unsur.

Sebagai contoh, air terbentuk dari unsur hidrogen dan oksigen. Hidrogen dan oksigen memiliki karakteristik tertentu, demikian pula unsur-unsur lainnya.

Namun, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang menciptakan materi-materi tersebut dan menetapkan karakteristiknya?

Siapa yang menetapkan bahwa hidrogen memiliki sifat tertentu, oksigen memiliki sifat tertentu, dan ketika keduanya bergabung akan menghasilkan air?

Mengapa suatu zat memiliki karakteristik yang berbeda ketika bergabung dengan zat lainnya?

Bahkan, kehidupan manusia tidak hanya terdiri atas materi. Manusia dapat berpikir, menghafal, berbicara, merasakan kesedihan, kebahagiaan, dan membedakan baik serta buruk.

Materi yang tidak memiliki kehidupan dan perasaan tidak dapat begitu saja dijadikan penjelasan yang mencukupi tentang seluruh karakteristik kehidupan manusia.

5. Orang-orang yang menolak kebenaran karena kesombongan

Ada pula orang-orang yang sebenarnya mengetahui kebenaran, tetapi menolak mengakuinya karena kesombongan dan keinginan mempertahankan kedudukan.

Contohnya adalah Fir'aun.

Allah Ta'ala berfirman:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. An-Naml: 14).

Ayat ini menunjukkan bahwa ada orang yang menolak kebenaran bukan karena tidak mengetahui, tetapi karena kesombongan.

Fir'aun mengetahui tanda-tanda kebenaran yang dibawa Nabi Musa, tetapi lisannya tetap menentang. Hatinya mengetahui, namun kesombongan menghalanginya untuk mengakui kebenaran.

Inilah salah satu bentuk penyimpangan yang sangat berbahaya: mengetahui kebenaran tetapi menolaknya.

E. Pertanyaan: Dari Mana Allah Berasal? Siapa yang Menciptakan Allah?

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah adalah, "Kalau segala sesuatu ada penciptanya, siapa yang menciptakan Allah? Dari mana Allah berasal?"

Pertanyaan seperti ini perlu diluruskan karena mengandung kesalahan dalam memahami hubungan antara pencipta dan makhluk.

Kita harus membedakan antara makhluk dan Al-Khaliq. Segala sesuatu yang berstatus makhluk membutuhkan pencipta. Namun, Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta. Allah bukan makhluk sehingga tidak membutuhkan pencipta.

Jika Allah masih membutuhkan pencipta, berarti Allah bukan pencipta yang pertama. Artinya, ada sesuatu yang lebih dahulu daripada-Nya. Hal ini bertentangan dengan konsep bahwa Allah adalah Dzat yang mengawali segala sesuatu.

1. Allah adalah Yang Pertama

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Allah adalah Yang Awal dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.

Allah berfirman:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3).

Rasulullah ﷺ juga berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ

"Ya Allah, Engkaulah Yang Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir, tidak ada sesuatu pun setelah-Mu."

(HR. Muslim no. 2713, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Karena Allah adalah Yang Awal, tidak tepat menanyakan siapa yang ada sebelum Allah. Jika ada sesuatu sebelum-Nya, berarti sesuatu itulah yang lebih dahulu.

2. Makhluk membutuhkan sesuatu di luar dirinya

Sebagai contoh, sebuah botol berisi air membutuhkan dua hal: botol dan air. Keduanya harus ada agar terbentuk sesuatu yang disebut botol berisi air. Botol itu sendiri membutuhkan bahan baku. Bahan bakunya membutuhkan proses produksi. Bentuk, ukuran, warna, dan ketebalannya juga membutuhkan rancangan dan proses pembuatan.

Tidak mungkin botol tersebut muncul begitu saja tanpa bahan baku, tanpa proses, dan tanpa pembuat. Demikian pula seluruh makhluk. Selama sesuatu masih membutuhkan hal lain untuk keberadaannya, berarti ia bukan sesuatu yang berdiri sendiri dan bukan pencipta pertama.

Adapun Allah, keberadaan-Nya tidak bergantung kepada apa pun. Dia tidak diciptakan dan tidak membutuhkan sesuatu untuk mengadakan-Nya.

Inilah prinsip yang harus dipahami ketika menjawab pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah.

F. Tiga Kejadian Luar Biasa yang Tidak Berlangsung dengan Sebab yang Biasa

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan tentang apakah Allah mampu menjadikan orang gila membuat roket hanya dengan mengatakan kun fayakun.

Pembicara meluruskan bahwa pemahaman tentang kun fayakun tidak boleh dibangun hanya berdasarkan potongan video atau penjelasan yang tidak jelas sumbernya.

Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu. Namun, tidak berarti kita harus membenarkan setiap cerita luar biasa yang tidak memiliki dalil.

Secara umum, Allah menciptakan sesuatu melalui sebab-sebab yang biasa diketahui manusia. Namun, terdapat kejadian tertentu yang berada di luar kebiasaan.

Dalam kajian ini disebutkan tiga keadaan:

1. Mukjizat

Mukjizat merupakan kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai bukti kebenaran risalah mereka.

Contohnya adalah terbelahnya bulan pada masa Rasulullah ﷺ. Peristiwa tersebut benar-benar terjadi dengan izin Allah, bukan karena kemampuan manusia biasa.

Mukjizat disebut sebagai perkara yang menyelisihi kebiasaan (amrun khariqun lil 'adah).

2. Karamah para wali Allah

Karamah adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh dan memiliki kedudukan sebagai wali Allah.

Karamah tidak menjadikan seseorang sebagai nabi. Karamah juga bukan sesuatu yang bisa dilakukan sesuka hati atau diulang-ulang sesuai keinginan pemiliknya.

Bahkan, orang yang mengalami karamah terkadang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mendapatkan karunia tersebut.

Pembicara menyebutkan dua kitab yang membahas karamah para wali:

  • Karamat al-Awliya' karya Imam Al-Lalaka'i.
  • Karamat al-Awliya' karya Al-Hasan bin Muhammad Al-Khallal.

Di antara contoh karamah yang dibahas adalah:

a. Karamah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu

Imam Al-Lalaka'i mengumpulkan sejumlah riwayat tentang karamah Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dalam kitabnya.

b. Karamah Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu

Disebutkan riwayat bahwa Rasulullah ﷺ mendoakan Sa'ad agar doanya dikabulkan Allah.

Dalam transkrip, redaksi doa yang dibacakan adalah:

اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَهُ إِذَا دَعَا

"Ya Allah, kabulkanlah doanya apabila dia berdoa."

Pembicara menjelaskan bahwa Sa'ad termasuk sahabat yang dikenal memiliki doa mustajab. Riwayat khusus dengan redaksi tersebut perlu diperiksa kembali pada kitab yang dirujuk dalam rekaman sebelum dicantumkan nomor hadisnya.

c. Karamah Sa'ad ketika Perang Uhud

Disebutkan pula riwayat bahwa Sa'ad melihat dua orang yang berpakaian putih berada di sebelah kanan dan kiri Rasulullah ﷺ ketika Perang Uhud. Mereka adalah malaikat yang membantu Rasulullah ﷺ.

Riwayat tersebut disebutkan dalam kitab-kitab hadis sahih.

d. Karamah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu

Dikisahkan bahwa ketika wilayah milik Anas bin Malik mengalami kekeringan, beliau berwudu, kemudian keluar menuju tanah lapang dan mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu, beliau berdoa kepada Allah.

Tidak lama kemudian, awan berkumpul dan turunlah hujan. Ketika hujan reda, Anas mengutus seseorang untuk memeriksa wilayah yang terkena hujan.

Ternyata, hujan tersebut hanya membasahi wilayah milik Anas, sedangkan daerah di sekitarnya tidak terkena hujan sebagaimana wilayah tersebut.

Kejadian ini disebut sebagai salah satu contoh karamah yang Allah berikan kepada hamba-Nya.

3. Istidraj

Istidraj adalah keadaan ketika Allah memberikan kenikmatan atau kemampuan luar biasa kepada seseorang, padahal hal tersebut bukan tanda bahwa orang itu dicintai atau dimuliakan Allah.

Seseorang bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia, tetapi justru semakin jauh dari Allah. Salah satu contoh yang dibahas adalah Dajjal.

Dalam hadis-hadis tentang Dajjal disebutkan bahwa ia akan memiliki berbagai kemampuan luar biasa sebagai ujian bagi manusia.

Di antaranya:

  • Dajjal akan mendatangi suatu kaum dan mengajak mereka mengikutinya.
  • Allah menjadikan berbagai kejadian luar biasa sebagai ujian bagi orang-orang yang hidup pada masa kemunculannya.
  • Dajjal akan memerintahkan bumi mengeluarkan kekayaan yang terpendam.
  • Ia akan mengalami berbagai kejadian yang membuat orang-orang mudah tertipu dan menganggapnya sebagai Tuhan.

Namun, semua kemampuan tersebut bukan bukti bahwa Dajjal adalah wali Allah. Justru Dajjal adalah pendusta besar dan merupakan fitnah terbesar bagi manusia.

Maka, jangan mengukur kebenaran seseorang hanya dari kemampuan luar biasa yang dimilikinya.

Kemampuan luar biasa tidak selalu menunjukkan kemuliaan di sisi Allah.

G. Sesi Tanya Jawab

1. Apakah makmum wajib membaca Surah Al-Fatihah dalam shalat berjamaah?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan hukum membaca Surah Al-Fatihah bagi makmum dalam salat berjamaah, khususnya salat Subuh, Magrib, dan Isya.

Jawabannya berkaitan dengan perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Menurut mazhab Hanbali sebagaimana dijelaskan pembicara, makmum tidak wajib membaca Al-Fatihah. Kewajiban membaca Al-Fatihah berlaku bagi imam dan orang yang salat sendirian.

Adapun menurut pendapat ulama yang mewajibkan Al-Fatihah bagi imam maupun makmum, makmum tetap harus membacanya.

Pembicara mengingatkan bahwa masalah ini perlu dikembalikan kepada pendapat fikih yang diikuti dan dirajihkan seseorang.

Kapan makmum membaca Al-Fatihah jika mengikuti pendapat yang mewajibkannya?

Ada dua keadaan:

  1. Ketika imam memberikan jeda setelah membaca ayat-ayat Al-Fatihah. Makmum dapat memanfaatkan jeda tersebut untuk membaca Al-Fatihah.
  2. Jika imam tidak memberikan jeda yang cukup, makmum dapat membaca Al-Fatihah setelah imam menyelesaikan Al-Fatihah dan sebelum imam melanjutkan bacaan surah.

2. Apakah permainan sepak bola hukumnya haram?

Ada pertanyaan yang mengaitkan sejarah permainan sepak bola dengan peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Diceritakan bahwa orang-orang Khawarij menendang-nendang kepala Utsman yang telah dipenggal, kemudian peristiwa tersebut dianggap sebagai asal mula permainan bola.

Pembicara mengkritik cerita tersebut karena tidak sesuai dengan fakta sejarah yang beliau ketahui. Utsman bin Affan tidak meninggal dalam keadaan kepalanya dipenggal sebagaimana cerita tersebut.

Beliau juga mengingatkan agar tidak mudah menerima sebuah kesimpulan hukum yang dibangun di atas cerita sejarah yang tidak jelas.

Tidak tepat mengharamkan sepak bola hanya dengan mengaitkannya pada cerita tersebut. Perlu diteliti terlebih dahulu kebenaran sejarahnya dan apakah memang terdapat kesamaan yang dapat dijadikan dasar pengharaman.

Jika semua benda berbentuk bulat diharamkan dengan alasan menyerupai kepala manusia, tentu akan muncul banyak kesulitan yang tidak berdasar.

3. Siapakah Ash-Shabi'un?

Dalam pembahasan tafsir, muncul pertanyaan mengenai kelompok Ash-Shabi'un.

Pembicara menyebutkan adanya beberapa penjelasan ulama tentang identitas kelompok tersebut. Salah satunya menyebutkan bahwa mereka merupakan kelompok yang menyimpang dari agama Nasrani.

Ada pula penjelasan yang mengaitkan mereka dengan agama Nabi Nuh 'alaihissalam.

Pembicara mengingatkan bahwa penjelasan tentang kelompok ini perlu dikembalikan kepada pembahasan para ulama tafsir.

Namun, rekaman tidak memuat penetapan akhir yang tegas mengenai pendapat mana yang paling kuat. Oleh karena itu, tidak perlu memaksakan satu kesimpulan tanpa pemeriksaan sumber tafsirnya.

4. Apakah Allah bisa menciptakan orang gila yang mampu membuat roket hanya dengan mengatakan kun fayakun?

Pertanyaan ini perlu dipisahkan menjadi dua hal.

  1. Pertama, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang melemahkan kekuasaan Allah.
  2. Kedua, kita tidak boleh memastikan suatu kejadian tertentu tanpa adanya dalil atau bukti yang benar.

Dalam penciptaan, Allah bisa mengadakan sesuatu melalui sebab yang biasa kita ketahui. Allah juga bisa menciptakan kejadian luar biasa sebagaimana mukjizat, karamah, dan istidraj.

Namun, tidak ada dalil yang mengharuskan kita mempercayai cerita bahwa Allah menciptakan orang gila yang mampu membuat roket hanya dengan ucapan kun fayakun.

Jika seseorang menyampaikan cerita seperti itu, hendaknya ditanyakan sumber dan dasar keterangannya.

5. Bagaimana hukum penjual memakan makanan yang sudah dibeli tetapi belum dibayar pembeli?

Pertanyaan berikutnya mengenai seorang pembeli yang telah membeli makanan, tetapi belum membayar dan belum mengambil barangnya. Karena makanan tersebut mudah rusak, penjual akhirnya memakannya.

Pembicara menjelaskan bahwa persoalan ini bukan langsung masuk dalam kategori riba. Persoalannya adalah hak kepemilikan dan kewajiban mengganti barang milik orang lain.

Jika makanan tersebut memang sudah menjadi hak pembeli, kemudian penjual memakannya, maka penjual harus bertanggung jawab mengganti makanan tersebut.

Apabila pembeli datang dan menanyakan barangnya, penjual dapat menyediakan pengganti yang setara.

Namun, apabila transaksi tersebut belum selesai dan belum terjadi serah terima, perlu dilihat kembali akad yang berlangsung.

Dalam pembahasan fikih, terdapat larangan memperlakukan harta secara sia-sia. Jika makanan memang akan rusak dan tidak mungkin disimpan atau dijual kembali, maka perlu dipertimbangkan keadaan tersebut dengan tetap menjaga hak pembeli.

Pembicara juga membedakan antara penjual yang merupakan pemilik toko dan karyawan. Karyawan tidak boleh memakan barang dagangan milik toko tanpa izin karena barang tersebut bukan miliknya.

6. Bolehkah menjadi konsultan pajak untuk membantu mengurangi beban pajak seseorang?

Pembicara menjawab bahwa pada dasarnya membantu orang lain melalui konsultasi dapat termasuk bentuk tolong-menolong dalam kebaikan.

Namun, beliau mengingatkan tentang prinsip bahwa harta seorang muslim tidak halal diambil tanpa kerelaannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

"Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan hatinya."

(HR. Ahmad, diriwayatkan dalam Musnad Ahmad; nomor riwayat perlu disesuaikan dengan edisi yang digunakan).

Pembicara menjelaskan bahwa pungutan yang mengambil harta seseorang tanpa kerelaannya merupakan persoalan yang harus dikaji dari sisi hukum syariat.

Adapun jasa konsultasi pajak perlu dilihat berdasarkan praktiknya. Membantu seseorang memahami kewajiban perpajakan dan menggunakan ketentuan yang sah berbeda dengan membantu melakukan manipulasi atau penipuan.

7. Bolehkah memakai tas ransel ketika sedang ihram?

Pertanyaan berikutnya berkaitan dengan penggunaan tas ransel ketika ihram, khususnya tas olahraga yang dapat digunakan untuk menyimpan air minum hingga dua liter.

Pembicara menjelaskan bahwa tas ransel bukan termasuk pakaian yang dilarang dikenakan oleh laki-laki ketika ihram.

Tas tersebut merupakan perlengkapan atau aksesori untuk membawa barang, sebagaimana sabuk dan jam tangan.

Larangan pakaian ihram bagi laki-laki berkaitan dengan jenis pakaian tertentu yang disebutkan dalam hadis Rasulullah ﷺ, bukan semua benda yang memiliki jahitan.

Tas ransel juga tidak tepat disamakan dengan gamis, celana panjang, sarung, sorban, atau penutup kepala.

Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan pembicara, memakai tas ransel ketika ihram diperbolehkan.

8. Kapan membaca taawuz dalam shalat?

Muncul pertanyaan mengenai hukum membaca taawuz setelah doa iftitah.

Pembicara menyampaikan bahwa beliau belum dapat memastikan jawaban secara langsung dan mengakhiri jawabannya dengan menyatakan bahwa Allah lebih mengetahui.

Dengan demikian, pembahasan ini tidak dapat disimpulkan lebih jauh berdasarkan rekaman yang tersedia.

9. Apakah membicarakan perbuatan buruk seseorang yang sudah diketahui masyarakat termasuk ghibah?

Pertanyaan terakhir membahas seseorang yang membicarakan perbuatan orang lain, padahal perbuatan tersebut sudah diketahui dan dilakukan secara terang-terangan di hadapan masyarakat.

Pembicara menjelaskan bahwa para ulama memberikan pengecualian dalam masalah ghibah ketika terdapat kebutuhan syar'i yang dibenarkan.

Salah satu contohnya adalah membicarakan orang yang secara terang-terangan menampakkan kefasikan dan kemaksiatannya, dengan tujuan memberikan peringatan kepada masyarakat.

Namun, pembicaraan tersebut harus memiliki tujuan yang benar, seperti menjelaskan hukum suatu perbuatan atau memperingatkan masyarakat agar tidak mengikutinya.

Jika pembicaraan tersebut tidak memiliki tujuan syar'i dan hanya untuk menghabiskan waktu dengan membicarakan keburukan orang lain, maka perbuatan itu tidak layak dilakukan oleh seorang mukmin.

Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan kaidah yang terkenal:

الْقَدْحُ لَيْسَ بِغِيبَةٍ فِي سِتَّةٍ
مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرِ

وَمُجَاهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ
وَمَنْ طَلَبَ الْإِعَانَةَ فِي إِزَالَةِ مُنْكَرِ

Artinya:

"Menyebutkan keburukan seseorang tidak termasuk ghibah dalam enam keadaan: orang yang dizalimi, orang yang sedang memperkenalkan seseorang, orang yang memberikan peringatan, orang yang terang-terangan melakukan kefasikan, orang yang meminta fatwa, dan orang yang meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran."

Catatan: Redaksi syair ini dikenal dalam pembahasan pengecualian ghibah. Atribusi dan redaksi persisnya perlu dicocokkan dengan kitab yang digunakan sebelum dipastikan sebagai kutipan langsung Imam An-Nawawi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Hadis ini mengingatkan bahwa seorang mukmin harus menjaga lisannya. Tidak semua hal yang diketahui perlu dibicarakan. Jika tidak ada manfaat atau tujuan syar'i, lebih baik meninggalkannya.

H. Penutup dan Pelajaran Penting

Dari keseluruhan pembahasan kajian ini, terdapat beberapa pelajaran penting yang perlu diperhatikan:

  1. Keberadaan Allah merupakan kebenaran yang pasti. Fitrah yang lurus, akal yang sehat, realitas kehidupan, dan dalil syariat semuanya menunjukkan keberadaan Allah.
  2. Setiap makhluk pasti membutuhkan pencipta. Alam semesta tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri atau muncul tanpa sebab.
  3. Tidak terkabulnya doa bukan bukti bahwa Allah tidak ada. Allah memiliki hikmah dalam mengabulkan, menunda, atau mengganti permintaan hamba-Nya.
  4. Mukjizat para nabi merupakan bukti kekuasaan Allah. Allah mampu mewujudkan sesuatu di luar kebiasaan manusia.
  5. Kejadian luar biasa tidak selalu menunjukkan kemuliaan. Mukjizat, karamah, dan istidraj memiliki pengertian serta kedudukan yang berbeda.
  6. Pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Allah merupakan pertanyaan yang keliru. Allah adalah Al-Khaliq, bukan makhluk yang membutuhkan pencipta.
  7. Jangan mudah menerima syubhat tanpa berpikir kritis. Setiap klaim harus diperiksa dasar dan kebenarannya.
  8. Menjaga lisan merupakan bagian dari keimanan. Pembicaraan harus memiliki manfaat dan tujuan yang dibenarkan syariat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga akidah kita, memberikan pemahaman agama yang benar, dan melindungi kita dari berbagai syubhat yang dapat merusak keimanan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

*****

Poster Ringkasan 

Poster fiqhul akbar 2

*****

 

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini