بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃Materi : Syarah Kitab Riyadush Shalihin. Hadits: https://shamela.ws/
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu Ta'ala.
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Sebelum Maghrib], 16 Januari 2026 M / 27 Rajab 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo
[كتابُ العِلم] ٢٤١- بابُ فضل العلم
Bab-241 : Keutamaan Ilmu
📖 Hadits ke-4/1389: Keutamaan Menyebarkan Ilmu (Hadits)
١٤/١٣٨٩- وعنِ ابن مسْعُودٍ، رضي اللَّه عنْهُ، قالَ: سمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ: "نَضَّرَ اللَّه امْرءاً سمِع مِنا شَيْئاً، فبَلَّغَهُ كَمَا سَمعَهُ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعى مِنْ سَامِع ". رواهُ الترمذيُّ وقال: حديثٌ حَسنٌ صَحيحٌ.
1389. Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu’anhu, ia menuturkan: "Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: 'Semoga Allah ﷻ memperbagus (akhlak dan kedudukan) seseorang yang mendengar sesuatu (hadits) dari kami lalu menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar. Adakalanya orang yang disampaikan kepadanya suatu hadits lebih mengerti daripada orang yang mendengarnya secara langsung.'
(HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: "Hadits hasan shahih."
Shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2657, 2658), Ibnu Majah (232), Ahmad (I/437), al-Humaidi (88), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (112), dan lainnya melalui jalur Ibnu Mas'ud dengan hadits ini. Derajat hadits ini Shahiih.
Hadits ini juga mempunyai beberapa hadits penguat dari sejumlah Sahabat yang mencapai tingkat mutawatir.
- Makna نَضَّرَ اللَّه امْرءاً : Nabi mendoakan kebaikan untuknya. Maksudnya, semoga Allah memperbagus akhlak dan kedudukannya.
- Anjuran menyampaikan ilmu dan mengajarkan kebaikan kepada orang-orang.
- Seyogianya memelihara ilmu, tanpa menambah atau menguranginya. Sebab, seseorang yang memberikan ilmu berarti dia telah menerima amanat Allah.
- Tingkat pemahaman orang berbeda-beda. Oleh karena itu, terkadang orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu. Boleh jadi, terkadang orang yang membawa (menyampaikan) hadits bukanlah seorang yang mendalam pemahamannya.
- Do'a Nabi bagi seseorang dari umat beliau yang menyampaikan sebuah hadits yang didengarnya, yakni agar rahmat Allah senantiasa menjaganya, dan sehingga dia menjadi orang yang beruntung kelak di hari Kiamat.
📖 Hadits ke-15/1390: Hukuman Bagi yang Menyembunyikan Ilmu
١٥/١٣٩٠- وعن أَبي هُريرةَ، رضي اللَّه عنْهُ، قَالَ: قَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم:"منْ سُئِل عنْ عِلمٍ فَكَتَمَهُ، أُلجِم يَومَ القِيامةِ بِلِجامٍ مِنْ نَارٍ".رواهُ أَبو داود والترمذي، وَقالَ: حديثٌ حسنٌ.
1390. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: "Rasulullah bersabda: 'Barang siapa ditanya suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, Allah akan menyumbat mulutnya dengan besi kekang dari api Neraka kelak di hari Kiamat.'"
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan "Hadits hasan.")
Shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3658), at-Tirmidzi (2649) Ibnu Majah (261), Ahmad (1I/263, 305, 344, 353, 495), dan yang lainnya dengan sanad shahih.
- Orang yang menyembunyikan ilmu yang dibutuhkah dalam hal urusan umat Islam akan mendapatkan hukuman kelak, yakni di hari Kiamat.
- Barang siapa mencari ilmu seyogianya zakat ilmunya diberikan dengan menyebarkannya di tengah orang banyak.
📖 Hadits ke-16/1391: Kewajiban Menyampaikan Ilmu dengan Ikhlas
١٦/١٣٩١- وعنه قَالَ: قَالَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "منْ تَعلَّمَ عِلماً مِما يُبتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عز وَجَلَّ لا يَتَعلَّمُهُ إِلاَّ ليصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْيا لَمْ يجِدْ عَرْفَ الجنَّةِ يوْم القِيامةِ "يَعْنِي: رِيحَهَا، رواه أَبُو داود بإسناد صحيح.
1391. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia bertutur: "Rasulullah bersabda: 'Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridha Allah ﷻ, namun dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan suatu harta dunia, maka dia tidak akan mencium baunya Surga pada hari Kiamat.'
(HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).
Shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3664), Ibnu Majah (252) Ahmad (I/338), dan yang lainnya. Di sanadnya terdapat Fulaih bin Sulaiman, yang sedikit menjadi perbincangan. Namun, dalam hadits ini dia tidak sendirian, karena Abu Sulaiman al-Khuza'i menyetujuinya pada riwayat Ibnu Abdil Barr dalam kitab Jâmi'u Bayânil ilmi wa fadhlih (1/190). Dengan persetujuan ini, hadits tersebut menjadi hadits shahih. Wallahu a'lam.
- Di dalam mencari ilmu dan mengajarkannya seharusnya ikhlas semata-mata karena Allah ﷻ.
- Barangsiapa menjadikan ilmu sebagai kendaraan untuk mendapatkan kesenangan dunia dan kemegahannya, maka niscaya kelak Allah ﷻ akan mengadzabnya pada hari kiamat.
📖 Hadits ke-17/1392: Allah ﷻ Mencabut Ilmu dengan Meninggalnya Ulama
١٧/١٣٩٢- وعنْ عبدِ اللَّه بن عمرو بن العاص رضي اللَّه عَنهُما قَالَ: سمِعتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول:"إنَّ اللَّه لاَ يقْبِض العِلْم انْتِزَاعاً ينْتزِعُهُ مِنَ النَّاسِ، ولكِنْ يقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَماءِ حتَّى إِذَا لمْ يُبْقِ عَالِماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤوساً جُهَّالاً فَسئِلُوا، فأفْتَوْا بغَيْرِ علمٍ، فَضَلُّوا وأَضَلُّوا" متفقٌ عَلَيْهِ.
1392. Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu’anhu, ia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan menghapusnya dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabutnya dengan meninggalnya para ulama, sehingga apabila tidak ada seorang ulama pun, maka orang-orang mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Jika orang-orang itu, ditanya, mereka akan memberikan fatwa dengan tanpa didasari ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.' (Muttafaq alaihi)
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (XI/194-Fathul Bâri) dan Muslim (2673).
- Makna قَبْضِ العُلَماءِ : Meninggalnya para ulama.
- Meninggalnya ulama adalah suatu musibah yang menimpa umat dan meretakkan bangunan Islam.
- Anjuran memelihara ilmu dan peringatan agar tidak mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin.
- Fatwa adalah kepemimpinan hakiki. Maka itu, orang yang lancang mendahuluinya tanpa ilmu termasuk orang yang tercela dalam Islam.
- Jika ulama tidak memenuhi kewajibannya secara sempurna, maka yang akan menjadi pemimpin adalah orang-orang bodoh.
- Fatwa dengan pendapat adalah jalan kesesatan dan menyesatkan.
- Orang bodoh lancang berfatwa. Ia berfatwa tanpa berdasarkan ilmu. Berbeda dengan para ulama, jika mereka ditanya tentang sesuatu kemudian dia tidak mengetahui jawabannya, maka dengan tegas dia menjawab: "Saya tidak tahu."
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم