بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
📚┃Materi : Syarah Kitab Riyadush Shalihin. Hadits: https://shamela.ws/
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu Ta'ala.
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Sebelum Maghrib], 23 Januari 2026 M / 4 Sya'ban 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo
[٦ - كتابُ حمد الله تعالى وشكره] - Keenam: Kitab Memuji Allah dan Mensyukurinya
Pendahuluan
Syukur adalah ungkapan pujian dan pengakuan yang keluar melalui lisan seorang hamba atas tampaknya nikmat Allah, diikuti dengan rasa cinta, ridha, dan qana'ah (kepuasan) melalui hatinya, serta ketundukan dan kepatuhan melalui anggota-anggota tubuhnya.
Pujian adalah sanjungan dalam bentuk ucapan kepada yang disanjungnya dengan sifat-sifat Dzat-Nya Yang Mahatinggi serta karunia-Nya kepada seluruh makhluk.
Ahli ilmu dan para ulama membicarakan perbedaan keduanya. Mereka berkata, bahwasanya syukur lebih umum dalam segi macam dan sebab-sebabnya, tapi lebih khusus dalam segi hubungannya. Sedang pujian adalah sebaliknya. Maksudnya, syukur dapat terwujud dengan hati, ucapan, dan dengan perbuatan.
Dengan kata lain, syukur terjadi dengan ucapan, perbuatan, dan niat. Hubungan syukur adalah nikmat yang bukan sifat-sifat Dzat. Oleh karena itu, tidak dapat dikatakan: "Kita bersyukur kepada Allah atas kehidupan-Nya, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, dan ilmu-Nya."
Dia terpuji karenanya,' sebagaimana Dia terpuji karena kebaikan dan keadilan-Nya. Sesungguhnya syukur itu terlaksana karena limpahan kebaikan dan nikmat.
Segala yang berhubungan dengan syukur berhubungan pula dengan pujian, bukan sebaliknya. Demikian juga, segala yang terjadi dengan pujian, maka terjadi pula dengan syukur, dan bukan sebaliknya. Sebab, syukur terjadi dengan anggota badan, sedang pujian terjadi dengan hal dan ucapan.
*****
Bab 242: Keutamaan Pujian Dan Syukur
Allah ta'ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ [البقرة: ١٥٢]
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Allah ta'ala menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang sempurna kepada mereka, baik yang zhahir maupun yang bathin. Kemudian, Dia menganjurkan mereka untuk mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Sebab, hal itu dipandang sebagai suatu keharusan agar ibadah menjadi baik. Maka dari itu, barang siapa yang mengingat Dia, berarti dia telah bersyukur kepada-Nya. Barang siapa bersyukur kepada-Nya, pasti dia memperbagus ibadahnya. Barang siapa mengingat Rabbnya, niscaya Rabbnya ingat pula kepadanya. Barang siapa mensyukuri nikmat-Nya, tentu Rabb Yang Mahakuasa yang berbuat menurut kehendak-Nya pasti memberinya tambahan.
Allah ta'ala berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ [إبراهيم: ٧]
"... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu .... " (QS. Ibrahim [14]: 7)
Syukur memastikan bertambahnya nikmat. Oleh sebab itu, Allah ta'ala memerintahkan seseorang untuk bersyukur. Atas dasar syukur itu pula Dia berjanji untuk menambah kebaikan baginya.
Allah ta'ala berfirman:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ [الإسراء: ١١١]
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah ...." (QS. Al-Isrâ' [17]: 111)
Ayat di atas menunjukkan betapa mulianya pujian kepada-Nya, Di dalam ayat itu Allah memakai kata perintah dan menganjurkan Rasul-Nya untuk melakukannya.
Allah ta'ala juga berfirman:
وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [يونس: ١٠] .
"... Dan penutup doa mereka ialah, "Al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin" (segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam).'" (QS. Yunus [10]: 10)
Inilah keadaan para penduduk Surga. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah terpuji selama-lamanya, diibadahi sepanjang masa. Maka dari itu, Allah ﷻ memuji diri-Nya tatkala memulai menciptakan makhluk dan seterusnya, ketika memulai Kitab-Nya, dan pada saat Dia memulai menurunkannya. Dia berfirman:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِىّ أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ اَلْكِنَبَ
"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Kitab kepada hamba-Nya ... " (QS. Al-Kahfi [18], dan seterusnya ... dan seterusnya sampai tak terhingga. Dialah yang terpuji di dunia dan di akhirat, serta di segala situasi dan kondisi. Karena itulah, dalam hadits shahih disebutkan:
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يُلْهَمُوْنَ التَّسْبِيْحَ وَالتَّحْمِيْدَ كَمَا تُلْهَمُوْنَ النَّفَسَ.
"Sungguh, penghuni Surga itu diilhami tasbih dan tahmid sebagaimana kalian diilhami bernafas."
Hal itu terjadi karena mereka meyakini akan semakin bertambahnya nikmat Allah ﷻ kepada mereka. Nikmat-Nya semakin berulang dan semakin bertambah, tidak ada habisnya serta tidak dibatasi oleh Waktu dan bilangan. Allah , Mahasuci Dia, berjanji kepada mereka untuk menambahnya. Tiada ilah selain Dia dan tiada Rabb (Yang memiliki) melainkan Dia.
Hadits No. 1/1393: Penjelasan Isra' Rasulullah ﷺ
١/١٣٩٣- وعن أبي هُرَيْرة، رضي اللَّه عنْهُ، أَنَّ النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أُتِي لَيْلةَ أُسْرِيَ بِهِ بِقَدَحَيْن مِن خَمْر ولَبن، فنظَرَ إلَيْهِما فأَخذَ اللَّبنَ، فَقَالَ جبريلُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "الحمْدُ للَّهِ الَّذي هَداكَ للفِطْرةِ لوْ أخَذْتَ الخَمْرَ غَوتْ أُمَّتُكَ" رواه مسلم.
1393. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwasanya Nabi ﷺ pada malam di Isra'kan,diberi dua gelas khamer dan susu. Setelah memperhatikan keduanya, beliau mengambil susu. Maka Jibril berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan engkau kepada fitrah. Andai engkau mengambil khamer, pasti akan tersesatlah umatmu." (HR. Muslim)
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (168).
Hadits ini juga terdapat pada al-Bukhari (VI/428-Fathul Bâri). Lafazh ini milik al-Bukhari. Hadits ini terlewatkan oleh penyusun (Imam an-Nawawi) Rahimahullah (sehingga tidak disandarkan kepada al-Bukhari).
- Menetapkan secara pasti adanya peristiwa Isra' Rasulullah.
- Bimbingan Allah kepada Nabi-Nya untuk memilih yang sesuai dengan fitrah.
- Penjelasan keutamaan susu daripada makanan lainnya.
- Penjelasan bahwa sejelek-jelek minuman adalah khamer.
- Hancurnya suatu bangsa adalah karena khamer. Khamer tidak lain induk segala kejelekan.
- Dianjurkan memuji Allah ﷻ apabila seseorang mendapatkan nikmat, baik yang zhahir maupun yang bathin, atau nikmat itu merupakan keselamatan dari kejahatan. Segala puji bagi Allah, di dunia dan di akhirat.
Hadits No. 2/1394: Keutamaan Bacaan Hamdalah
٢/١٣٩٤- وعنْهُ عنْ رَسُولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: "كُلُّ أمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدأُ فِيهِ ب: الحمد للَّه فَهُوَ أقْطُع" حديثٌ حسَنٌ، رواهُ أَبُو داود وغيرُهُ.
1394. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Setiap urusan penting yang tidak dibacakan alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), maka urusan itu terputus (kurang berkah)." (Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.)
Dha'if. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4840), Ibnu Majah (1894), an-Nasa-i dalam Amalul Yaumi wal Lailah (494), dan Ahmad (II/359), al-Baihaqi dalam as-Sunan (III/208-209), dan ad-Da'wât (1) melalui jalur Qurrah, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan sanad marfu'.
Abu Dawud berkata: "Hadits ini diriwayatkan oleh Yunus, Aqil, Syu'aib, Sa'id bin Abdil Aziz, dari az-Zuhri, dari Nabi jg dengan mursal." Al-Baihaqi menetapkannya pula (III/209). Saya (penulis) berkata: "Kedua sanad ini menunjukkan bahwa yang benar dalam sanad ini terdapat periwayatan secara mursal."
- Makna ذِي بَالٍ : Hal penting menurut syara.
Hadits ini sanadnya dha'if, saling bertentangan matannya, sehingga tidak perlu dijadikan pegangan, karena Allah telah mencukupkan kita dengan hadits-hadits shahih dari Nabi dari hadits-hadits dha'if yang diriwayatkan hanya sekadar alasan kekaguman dan kehati-hatian.
*****
Hadits No. 3/1395: Baitul Hamdi Bagi yang Mengucapkan Istirja' Tatkala Mendapatkan Musibah.
٣/١٣٩٥- وعَن أَبي مُوسى الأشعريَّ رضي اللَّه عنْهُ، أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: "إِذَا ماتَ ولَدُ العبْدِ قَالَ اللَّه تَعَالَى لملائِكَتِهِ: قَبضْتُمْ ولَدَ عبْدِي؟ فيقولُون: نَعمْ، فَيقولُ: قبضتُم ثَمرةَ فُؤَادِهِ؟ فيقولونَ: نَعَمْ، فيقولُ: فَمَاذَا قَالَ عَبْدي؟ فيقولونَ: حمِدكَ واسْتَرْجَع، فَيقُولُ اللَّه تَعالى: ابْنُوا لِعَبْدِي بيْتاً في الجنَّةِ، وسَمُّوهُ بَيْتَ الحمْدِ "رواهُ الترمذي وقالَ: حديثٌ حسنٌ.
1395. Dari Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda: "Jika anak seorang hamba meninggal dunia, Allah bertanya kepada para Malaikat-Nya: 'Kalian telah mencabut ruh anak hamba-Ku?' Mereka menjawab: 'Ya.' Dia bertanya: 'Kalian telah mengambil buah hatinya?'. Mereka menjawab: 'Ya.' Lantas Dia bertanya: 'Apa kata hamba-Ku?'. Mereka menjawab: 'Dia memuji-Mu dan mengucapkan Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'un (Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.)' Allah berfirman: 'Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di Surga dan namakanlah dengan Baitul Hamdi.'" (HR. At-Tirmidzi. Dia berkata: "Hadits hasan.")
Pengesahan hadits dan penjelasannya telah diberikan sebelumnya,pada pembahasan hadits nomor (922), di dalam Bab (152): "Doa yang Dibacakan untuk si Mayit."
- Pemuliaan Allah pada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan menanyakan keadaan mereka pada saat pemberian ujian kepada mereka serta penisbatan mereka kepada-Nya.
- Pemeliharaan Allah kepada hamba-hamba-Nya serta penjagaan hati mereka pada saat menyelesaikan musibah yang menimpa mereka.
- Orang-orang yang beriman mengalami peningkatan dari tingkatan tingkatan sabar ke tingkatan keridhaan dan pujian. Dan bahwasanya mereka itu senantiasa berdoa seraya berucap: Innâ Lillâhi wa Innâ ilaihi Râji'un.
- Penjelasan mengenai pahala orang yang senantiasa memanjatkan pujian dan selalu bersabar, yaitu Allah & akan memberikan ganti kepadanya sebuah rumah di Surga yang diberi nama Baitul hamdi.
*****
Hadits No. 4/1396: Ridha Allah ﷻ bagi yang Mengucapkan Hamdalah setelah Makan
٤/١٣٩٦- وعنّْ أنَسَ رضي اللَّه عنهُ قَالَ: قَالَ رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: "إنَّ اللَّه لَيرضي عنِ العبْدِ يَأْكُلُ الأكْلَةَ فَيَحْمَدُهُ عَليْهَا، وَيَشْرب الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا". (رواه مسلم)
1396. Dari Anas Radhiyallahu’anhu , dia berkata: "Rasulullah bersabda: 'Sesungguhnya Allah benar-benar meridhai seorang hamba, yakni apabila makan suatu makanan ia memuji-Nya atas makanan tersebut dan apabila minum suatu minuman ia memuji-Nya atas minuman tersebut.'" (HR. Muslim)
Pengesahan hadits dan penjelasannya telah diberikan pada bahasan hadits nomor (140), dalam Bab (13): "Banyaknya Jalan Menuju Kebaikan". Diulangi lagi pada hadits (436), dalam Bab (51): "Ar-Raja (Harapan)".
- Disunnahkan memanjatkan pujian setiap kali selesai makan dan minum, karena hal tersebut merupakan etika makan dan minum.
- Seorang Mukmin harus mencari keridhaan Allah dalam makan dan minum, serta menuntut hal tersebut untuk membantunya dalam upaya menaati Allah.
- Penetapan sifat ridha Allah . Sedangkan penakwilan sifat tersebut kepada makna "menerima" atau "kehendak untuk menerima", maka yang demikian itu jelas merupakan pengingkaran terhadap sifat
tersebut dan bertentangan dengan apa yang menjadi pendapat kaum Salafush Shalih.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم