Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃ Materi : Bekal Terbaik Menjelang Ajal Tiba
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA. hafizhahullah (ANB Channel).
🗓️┃ Hari/ Tanggal : Sabtu, 17 Januari 2026 M / 28 Rajab 1447
🕌┃ Tempat : Masjid Baabussalam Mojolegi Boyolali





Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu. Apalagi dilakukan setelah maghrib menjelang Isya, yang pahalanya seperti pahala Ribath.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات؟ » قالوا : بلى يا رسول الله،‍‍ قال: « إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المسجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط فذلكم الرباط فذلكم الرباط

“Apakah kalian mau aku tunjukkan amalan yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat? Mereka menjawab, “Mau , wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Menyempurnakan wudhu’ pada saat-saat yang tidak disukai, memperbanyak langkah kaki menuju ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Yang demikian itulah ar Ribath” (HR. Muslim)

Menyempurnakan wudhu’, berjalan kaki menuju masjid, merindukan datangnya waktu shalat merupakan jihad fi sabiilillah. Karena seorang muslim -ketika melakukan hal-hal tersebut- berjuang dengan gigih melawan nafsunya. Karena melawan hawa nafsu bukan perkara ringan, maka Rasulullah menyerupakannya dengan “ar ribath” yang pada asalnya merupakan istilah di dalam medan jihad. Maka, para salaf dahulu disaat puasa Ramadhan, lebih menyukai tinggal di masjid setelah shalat, untuk menjaga puasa mereka.

Berbicara mengenai ajal, maka, kita semua adalah makhluk yang menjelang ajal. Siapapun kita dan berapapun usia kita, pasti menjelang ajal, karena tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, semua memiliki peluang yang sama.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 34:

وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Maka, semua manusia menunggu kapan akan dimasukan ke dalam barzakh. Alam setelah alam dunia menunggu hari kebangkitan. Firman-Nya:

حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِۙ ۝٩٩ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun ayat 99-100).

Berbicara mengenai alam ghaib tidak boleh berdasarkan budaya, tetapi harus berdasarkan dalil. Maka, orang yang sudah mati tidak mungkin akan kembali lagi.

Demikian juga keyakinan bulan Ruwah. Bulan Ruwah adalah sebutan Jawa untuk bulan Sya'ban (bulan ke-8 Hijriah), bulan mulia menjelang Ramadan yang identik dengan tradisi mengenang dan mendoakan arwah leluhur (Ruwahan) melalui ziarah kubur, kenduri, atau pengajian, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan ampunan bagi mereka yang telah meninggal, sekaligus pengingat kematian bagi yang masih hidup.

Hal ini bukan ajaran Nabi ﷺ dan tidak ada keyakinan arwah pulang ke rumah, karena bertentangan dengan Al-Qur’an (QS. Al-Mu'minun 99). Maka, semua keyakinan yang bertentangan dengan dalil yang shahih, pasti itu salah.

Maka dimana Arwah berada?

Tergantung kondisi para pemilik ruh:

  • Roh para nabi: Roh mereka berada di tempat tertinggi, bersama para malaikat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada detik-detik wafatnya, mengatakan, “Ar-Rafiiqul a’la (kumpulkanlah aku bersama sahabat terbaik yang berada di atas).”
  • Roh para syuhada: Roh mereka berada di tembolok burung-burung hijau di surga. Burung ini memiliki sarang yang menggantung di bawah ‘Arsy, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat muslim.
  • Roh orang mukmin yang shaleh: Roh mereka berada di tembolok burung (bukan burung berwarna hijau) yang bergelantungan di pohon-pohon surga, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad yang dinilai sahih oleh Al-Albani.
  • Roh ahli maksiat (orang yang gemar bermaksiat): Roh mereka berada di tempat mereka mendapat siksaan.
  • Roh orang kafir: Roh mereka disiksa di alam kubur, dengan siksaan yang pedih.

Nabi ﷺ pernah ingin memperdengarkan suara penghuni kubur. Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata: “Ketika beliau berada di kebun milik Bani Najjar, di atas kendaraan bighalnya dan kami bersama beliau, tiba-tiba bighalnya berbelok hingga hampir beliau terlempar, ternyata di situ ada enam, lima atau empat kuburan, beliau berkata: ‘Adakah yang tahu siapa penghuni kuburan ini?’ Seseorang menjawab: ‘Saya tahu siapa yang dikuburkan ini’. Beliau bertanya: ‘Kapan beliau meninggal dunia?’ ia menjawab: ‘Mereka meninggal ketika masih melakukan kesyirikan’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ

“Sesungguhnya umat ini diuji di kuburan. Seandainya tidak memikirkan nanti kalian tidak mau saling menguburkan, niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar kalian bisa mendengarkan adzab kubur yang sekarang sedang aku dengar.” (HR. Muslim)

Inilah hikmah kenapa manusia tidak mendengar adzab kubur. Kalau manusia mendengar, maka tidak ada yang berani ke kuburan.

Maka, karena mengerikannya keadaan di alam kubur, apa yang perlu kita persiapkan?

1. Istiqomah dalam Beriman dan Beramal

Firman Allah ﷻ dalam Surat Al-Hijr Ayat 99:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Maka, berusaha untuk istiqomah hingga husnul khatimah, yaitu meninggal dalam keadaan:

  1. Beriman dan tidak syirik
  2. Ahlussunnah dan Tidak berakidah menyimpang.
  3. Tidak meninggalkan kedzaliman kepada orang lain.

Maka, husnul khotimah bukan berarti meninggal dalam keadaan beribadah, karena Nabi ﷺ meninggal di pangkuan Aisyah, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhuma meninggal di atas ranjangnya.

Maka, husnul khatimah adalah prestasi yang hanya dicapai dalam seluruh proses kehidupan kita. Berusahalah untuk tetap istiqamah beriman dan beramal hingga ajal menjemput kita. Seperti melaksanakan shalat dan puasa wajib.

2. Sabar dengan Ujian

Setiap manusia pasti mendapatkan ujian, ada yang diuji dengan harta, ada yang diuji dengan sakit hingga meninggal. Ujian adalah Bagian dari Penciptaan: Allah menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia tentang siapa yang terbaik amalnya (QS. Al-Mulk: 2).

Semua ujian hakikatnya adalah penghapus dosa-dosa jika bersabar. Bahkan Nabi ﷺ meninggal dalam keadaan sakit.

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: (الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَة)

Diriwayatkan dari Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu ’anhu berkata, Aku bertanya: wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau bersabda: “Para nabi kemudian mereka yang berada di bawahnya lalu mereka yang berada di bawahnya. Seorang hamba akan diberi cobaan berdasarkan kualitas agamanya (imannya). Apabila agamanya kuat maka ujiannya semakin berat dan apabila agamanya lemah maka dia kan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan akan senantiasa bersama seorang hamba sampai dia dibiarkan berjalan di atas muka bumi ini tanpa membawa dosa”

(HR. At-Turmudzi no. 2322 dan Ibnu Majah no. 4013 dengan sanad yang shahih)

Abu Said al Khudri Radhiyallahu’anhu berkata:

وَضَعَ رَجُلٌ يَدَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا أُطِيقُ أَنْ أَضَعَ يَدِي عَلَيْكَ مِنْ شِدَّةِ حُمَّاكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ يُضَاعَفُ لَنَا الْبَلَاءُ كَمَا يُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ إِنْ كَانَ النَّبِيُّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ يُبْتَلَى بِالْقُمَّلِ حَتَّى يَقْتُلَهُ وَإِنْ كَانَ النَّبِيُّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى يَأْخُذَ الْعَبَاءَةَ فَيَخُونَهَا وَإِنْ كَانُوا لَيَفْرَحُونَ بِالْبَلَاءِ كَمَا تَفْرَحُونَ بِالرَّخَاءِ

Seorang laki-laki meletakkan tangannya di kening Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian dia berkata: "Demi Allah, aku tidak kuat lama untuk meletakkan telapak tanganku di atas keningmu ya Rasulullah, dikarenakan panas demam yang begitu tinggi." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Ujian kami para Nabi berlipat ganda sebagaimana kami mendapatkan pahala yang berlipat ganda pula. Ada diantara Nabi yang diuji dengan kutu yang membuatnya meninggal, ada juga diantara Nabi yang diuji dengan kemiskinan hingga dia harus menanggung beban yang amat berat dan melemahkannya, tetapi mereka berbahagia dengan ujian sebagaimana mereka bergembira dengan sebuah kemudahan."

(Musnad Ahmad no. 11458)

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

Diriwayatkan dari Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:  “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia akan menyegerakan untuknya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki kejelekan untuk hamba-Nya maka Dia akan menahan darinya hukuman karena dosanya sehingga kelak di akhirat Dia akan menyempurnakan hukuman untuknya” (HR. At-Tirmidzi, no. 2319 dengan sanad yang hasan)

3. Jangan sampai Su'udhan kepada Allah ﷻ

Yaitu dengan cara bersabar ketika menghadapi ujian yang Allah ﷻ berikan.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda 3 hari sebelum wafatnya,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali dia berhusnudzon kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Menjadi wasiat terakhir beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam menunjukkan pentingnya perkara ini. Bisa juga dikatakan, husnudzan kepada Allah menentukan balasan baik kepada hamba dari-Nya. Sebaliknya, su’udzon (berperasangka buruk) menentukan balasan buruk dari-Nya.

Berhusnudzan kepada Allah di akhir hayat berarti tidak berputus asa dari rahmat Allah, ampunan, maaf, dan pertolongan-Nya. Berarti hadits tersebut melarang berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, menyuruh agar menguatkan harapan kepada Allah di akhir hayat.

Semoga Allah meneguhkan saya dan Anda sekalian saat datang kematian; senantiasa husnudzan kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari-Nya. Amiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم