بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم
- Kitab Al-Buyu' - Riba #3
- 2. Hukum Riba
- 4. Beberapa Barang yang padanya Diharamkan Melakukan Riba - Lanjutan
- 📖 Hadits ke-2: Jenis Barang Ribawi yang Sama harus Sama Berat
- 📖 Hadits ke-3: Jenis Barang Ribawi yang Sama harus Kontan
- 📖 Hadits ke-4: Jika Sama Jenis Barang Ribawi Harus Sama Beratnya
- 📖 Hadits ke-5: Jenis Barang Ribawi yang Berbeda Boleh Tidak Sama Beratnya asal Kontan
- 📖 Hadits ke-6: Nabi pernah Membeli Makanan Bertempo dengan Gadai Baju Besi
- 📖 Hadits ke-7: Larangan Muzabanah
- 📖 Hadits ke-8: Kelonggaran Penjualan Kurma Kering dengan Taksiran
- 📖 Hadits ke-9: Larangan Menjual Kurma Basah dengan Kurma Kering
- 📖 Hadits ke-10: Penjualan Perhiasan Emas dan Permata Harus Dipisahkan
- 4. Beberapa Barang yang padanya Diharamkan Melakukan Riba - Lanjutan
- 2. Hukum Riba
Kitab Al-Buyu' - Riba #3
2. Hukum Riba
4. Beberapa Barang yang padanya Diharamkan Melakukan Riba - Lanjutan
📖 Hadits ke-2: Jenis Barang Ribawi yang Sama harus Sama Berat
Dari Abi Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu secara marfu', bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
عن أبي سعيد الخدري- رضي الله عنه- مرفوعاً: «لا تبيعوا الذهب بالذهب إلا مثِلْاً بمثل، ولا تُشِفُّوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا الوَرِقَ بالوَرِقِ إلا مثلا بمثل، ولا تُشفوا بعضها على بعض، ولا تبيعوا منها غائبا بناجز».
“Janganlah kamu menjual emas kecuali sama, janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain, janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama, janganlah kamu tambah sebagiannya atas sebagian yang lain, dan janganlah kamu menjual emas dan perak yang barang-barangnya belum ada dengan kontan.”
(Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 379 no: 2177, Muslim III: 1208 no: 1584, Nasa’i VII: 278 dan Tirmidzi II: 355 no: 1259 semakna).
📖 Hadits ke-3: Jenis Barang Ribawi yang Sama harus Kontan
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الذَّهُبُ بِالذَّهِبِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالفِضَّةُ بِالفِضَّةِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرٌ بِالْبُر رِبَا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيْرُ بِاالشَّعِيْرِ رِبًا إِلَّا هَاءَ وَهَاءَ.
“Emas dengan emas adalah riba kecuali begini dengan begini (satu pihak mengambil barang, sedang yang lain menyerahkan) bur dengan bur (juga) riba kecuali begini dengan begini, sya’ir dengan sya’ir riba kecuali begini dengan begini, dan tamar dengan tamar adalah riba kecuali begini dengan begini.”
(Muttafaqun’alaih: Fathul Bahri IV: 347 no: 2134, dan lafadz ini bagi Imam Bukhari, Muslim III: 1209 no: 1586, Tirmidzi II: 357 no: 1261, Nasa’i VII: 273 dan bagi mereka lafadz pertama memakai adz-dzahabu bil wariq (emas dengan perak) dan Aunul Ma’bud IX: 197 no: 3332 dengan dua model lafadz).
📖 Hadits ke-4: Jika Sama Jenis Barang Ribawi Harus Sama Beratnya
Dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu, ia bertutur:
كُنَّا نُرْزَقُ تَمْرَ الْجَمْعِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الْخِلْطُ مِنَ التَّمْرِ فَكُنَّا نَبِيعُ صَاعَيْنِ بِصَاعٍ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ " لاَ صَاعَىْ تَمْرٍ بِصَاعٍ وَلاَ صَاعَىْ حِنْطَةٍ بِصَاعٍ وَلاَ دِرْهَمَ بِدِرْهَمَيْنِ " .
Kami pada masa Rasulullah ﷺ pernah mendapat rizki berupa tamar jama’, yaitu satu jenis tamar, kemudian kami menukar dua sha’ tamar dengan satu sha’ tamar. Lalu kasus ini sampai kepada Rasulullah ﷺ maka Beliau bersabda, “Tidak sah (pertukaran) dua sha’ tamar dengan satu sha’ tamar, tidak sah (pula) dua sha’ biji gandum dengan satu sha’ biji gandum, dan tidak sah (juga) satu Dirham dengan dua Dirham.”
(Muttafaqun ’alaih: Muslim III: 1216 no: 1595 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IV: 311 no: 2080 secara ringkas dan Nasa’i VII: 272).
Manakala terjadi barter di antara enam jenis barang ini dengan lain jenis, seperti emas ditukar dengan perak, bur dengan sya’ir, maka boleh ada kelebihan dengan syarat harus diserahterimakan di majlis:
Berdasar hadits Ubadah tadi:
“…tetapi jika berlainan jenis maka juallah sesukamu, apabila tunai dengan tunai.”
📖 Hadits ke-5: Jenis Barang Ribawi yang Berbeda Boleh Tidak Sama Beratnya asal Kontan
Dalam riwayat Imam Abu Daud dan lainnya dari Ubadah Radhiyallahu’anhu Nabi ﷺ bersabda:
وَلَاَ بَأُسَ بِبيْعِ الذَّهَبِ بِالفِضَّةِ، وَالغِضَّةِ أَكْثُرُهُمَا، يَدَا بِيَدٍ وَأَمَّا نَسِيْئَةً فَلاَ، وَلاَ بَأْسَ بِبيْعِ البُرِّ بِالشَّعِيْرِ، الشَّعِيْرِ أَكْثُرُهُمَا، يَدَا بِيَدٍ وَإِمَّا نَسِيْئَةً فَلاَ.
“Tidak mengapa menjual emas dengan perak dan peraknya lebih besar jumlahnya daripada emasnya secara kontan, dan adapun secara kredit, maka tidak boleh; dan tidak mengapa menjual bur dengan sya’ir dan sya’irnya lebih banyak daripada burnya secara kontan dan adapun secara kredit, maka tidak boleh.”
(Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 195 dan ‘Aunul Ma’bud IX: 198 no: 3333).
📖 Hadits ke-6: Nabi pernah Membeli Makanan Bertempo dengan Gadai Baju Besi
Apabila salah satu jenis di antara enam jenis ini ditukar dengan barang yang berlain jenis dan ‘illah ‘sebab’, seperti emas ditukar dengan bur, atau perak dengan garam, maka boleh ada kelebihan atau secara bertempo, kredit:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ
Dari Aisyah radhiallahu’anha bahwa Nabi ﷺ pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertempo, sedangkan Nabi ﷺ menggadaikan sebuah baju besinya kepada Yahudi itu. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1393 dan Fathul Bari IV: 399 no: 2200).
Dalam kitab Subulus Salam III: 38, al-Amir ash-Sha’ani menyatakan. “Ketahuilah bahwa para ulama’ telah sepakat atas bolehnya barang ribawi (barang yang bisa ditakar atau ditimbang, edt) ditukar dengan barang ribawi yang berlainan jenis, baik secara bertempo meskipun ada kelebihan jumlah atau berbeda beratnya, misalnya emas ditukar dengan hinthah (gandum), perak dengan gandum, dan lain sebagainya yang termasuk barang yang bisa ditakar.”
📖 Hadits ke-7: Larangan Muzabanah
Namun, tidak boleh menjual ruthab (kurma basah) dengan kurma kering, kecuali para pemilik ‘ariyah, karena mereka adalah orang-orang yang faqir yang tidak mempunyai pohon kurma, yaitu mereka boleh membeli kurma basah dari petani kurma, kemudian mereka makan dalam keadaan masih berada di pohonnya, yang mereka taksir, mereka menukarnya dengan kurma kering.
عَنْ عَبْدِ الله ابْنِ عُمَرَ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ نَّهَى عَنِ الْمُزَابَنَةِ وَالْمُزَابَةُ بَيْعُ الثَّمَرِ بِالتَّمَرِ كَيْلاً وَبَيْعُ الْكَرَمِ بِالزَّبِيبِ كَيْلاً.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahuanhu, bahwa Rasulullah ﷺ melarang muzabanah. Muzabanah ialah menjual buah-buahan dengan tamar secara takaran, dan menjual anggur dengan kismis secara takaran. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 384 no: 2185, Muslim III: 1171 no: 1542 dan Nasa’i VII: 266).
📖 Hadits ke-8: Kelonggaran Penjualan Kurma Kering dengan Taksiran
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ, رَخَّصَ لِصَاحِبِ الْعَرِيَّةِ أَنْ يَبيعَهَا بخَرْصِهَا مِنَ التَّمْر.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ memberi kelonggaran kepada pemilik ‘ariyyah agar menjualnya dengan tamar secara taksiran. (Muttafaqun‘alaih: Muslim III: 1169 no: 60 dan 1539 dan lafadz ini baginya dan sema’na dalam Fathul Bari IV: 390 no: 2192, ‘Aunul Ma’bud IX: 216 no: 3346, Nasa’i VII: 267, Tirmidzi II: 383 no: 1218 dan Ibnu Majah II: 762 no: 2269).
📖 Hadits ke-9: Larangan Menjual Kurma Basah dengan Kurma Kering
Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang menjual kurma basah dengan tamar hanyalah karena kurma basah kalau kering pasti menyusut.
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ: أَنَّ النَّبِيَّ : سُئِلَ عَنْ بَيْعِ الرُّطَبِ بِالتَّمْرِ فَقَالَ: أَينْقُصُ الرُّطَبُ إِذَا يَيسَ؟ قَالُوْا: نَعَمْ, فَنَهَى عَنْ ذَلِكَ.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ pernah ditanya perihal menjual kurma basah dengan tamar. Maka Beliau (balik) bertanya, “Apakah kurma basah itu menyusut apabila telah kering?” Jawab para sahabat, “Ya, menyusut.” Maka Beliaupun melarangnya. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1352, ‘Aunul Ma’bud IX: 211 no: 3343, Ibnu Majah II: 761 no: 2264, Nasa’i VII: 269 dan Tirmidzi II: 348 no: 1243).
Dan, tidak sah jual beli barang ribawi dengan yang sejenisnya sementara keduanya atau salah satunya mengandung unsur lain.
Riwayat Fadhalah bin Ubaid yang menjadi landasan kesimpulan ini dimuat juga dalam Mukhtashar Nailul Authar hadits no: 2904. Imam Asy-Syaukani, memberi komentar sebagai berikut, “Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh menjual emas yang mengandung unsur lainnya dengan emas murni hingga unsur lain itu dipisahkan agar diketahui ukuran emasnya, demikian juga perak dan semua jenis barang ribawi lainnya, karena ada kesamaan illat, yaitu haram menjual satu jenis barang dengan sejenisnya secara berlebih.”
📖 Hadits ke-10: Penjualan Perhiasan Emas dan Permata Harus Dipisahkan
عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: اشْتَرَيْتُ يَوْمَ خَيْبرَ قِلَاَدَةً بِاثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا فِيهَا ذَهَبٌ وَخَرَزٌ فَفَصَّلْتُهَا فَوَجَدْتُ فِيهَا أَكْثَرَ مِنِ اثْنَيْ عَشَرَ دِينَارًا فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ فَقَالَ لاَ تُبَاعُ حَتَّى تُفَصَّلَ.
Dari Fadhalah bin Ubaid ia berkata: “Pada waktu perang Khaibar aku pernah membeli sebuah kalung seharga dua belas Dinar sedang dalam perhiasan itu ada emas dan permata, kemudian aku pisahkan, lalu kudapatkan padanya lebih dari dua belas Dinar, kemudian hal itu kusampaikan kepada Nabi ﷺ, Maka Beliau bersabda, ‘Kalung itu tidak boleh dijual hingga dipisahkan.’” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1356, Muslim III: 1213 no: 90 dan 1591, Tirmidzi II: 363 no: 1273, ‘Aunul Ma’bud IX: 202 no: 3336 dan Nasa’i VII: 279).
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم