Niatilah untuk Menuntut Ilmu Syar'i

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)
Kajian Aqidah

بِسْـمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم

📚┃Materi : Syarah Kitab Riyadush Shalihin. Hadits: https://shamela.ws/
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Nafi' Sukadi, hafizhahullahu Ta'ala.
🗓┃ Hari, Tanggal : Jum'at [Sebelum Maghrib], 23 Januari 2026 M / 4 Sya'ban 1447 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo


  Daftar Isi:



42 ــ باب بر أصدقاء الأب والأم والأقارب والزوجة وسائر من يندب إكرامه

Bab-42: Keutamaan Berbuat Baik Kepada Teman-Teman Kedua Orang Tua, Juga Kaum Kerabat, Istri Dan Orang-Orang yang Pantas Dihormati

Di antara kesempurnaan bakti kepada orang tua adalah menyambung tali persaudaraan dengan sahabat-sahabat mereka, karena hal itu dapat memasukkan kebahagiaan dalam diri keduanya. Sebab, kedua orang tua dapat melihat anak mereka itu yang merupakan aset mereka yang paling berharga, kebaikan dan kebajikannya telah meliputi seluruh sahabat dan keluarga besar keduanya, yang tidak mungkin  terwujud kecuali melalui mereka. Oleh karena itu, barangsiapa menanam kebaikan, maka dia akan merasa bahagia ketika melihat orang-orang di sekitarnya ikut memetik buahnya seraya mengambil  manfaat darinya. Dengan demikian, dia telah menanam tanaman dan memberikan manfaat serta melihat kebaikannya telah merata kepada semua orang.

Analogikan hal tersebut kepada kaum kerabat, istri, dan semua orang yang pantas dihormati; baik itu guru, sahabat, tetangga dan pemimpin yang adil.

Hadits No. 4/344: Keutamaan Khadijah dan Sikap Rasulullah kepada Sahabatnya

4/344 ــ وعن عائشةَ رضي الله عنها قالت مَا غِرْتُ علىٰ أحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرتُ عَلىٰ خديجةَ رضي الله عنها، وَمَا رَأَيْتُهَا قَطُّ، وَلَكِنْ كَانَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا، وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ، ثُمَّ يقَطِّعُهَا أَعْضَاءً، ثُمَّ يَبْعَثُهَا في صَدَائِقِ خَدِيجَةَ، فَرُبَّمَا قُلتُ لَهُ: كَأَنْ لَمْ يَكُنْ في الدُّنْيَا إلَّا خَديجَةُ! فيقولُ: «إنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ، وَكَانَ لي مِنْهَا وَلَدٌ». متفقٌ عليه.

4/344- Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengisahkan: Aku tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seperti cemburuku kepada Khadijah -raḍiyallāhu 'anhā- padahal sama sekali aku tidak pernah melihatnya. Akan tetapi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, kemudian beliau mengirimnya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Sampai-sampai pernah aku berkata kepada beliau, "Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini kecuali Khadijah!" Maka beliau menjawab, "Khadijah itu begini dan begini, dan dari dialah aku mempunyai anak." (Muttafaq ‘Alaih)

وفي روايةٍ: وإنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاة، فَيُهْدِي في خَلائِلِهَا مِنْهَا مَا يَسَعُهُنَّ.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, "Jika beliau menyembelih kambing, maka beliau selalu menghadiahkan sebagiannya kepada sahabat-sahabat dekat Khadijah dengan kadar yang secukupnya."

وفي روايةٍ: كَانَ إذَا ذَبَحَ الشَاةَ يَقُولُ: «أرْسِلُوا بِهَا إلىٰ أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ».

Dalam riwayat lain, "Apabila beliau menyembelih kambing, maka beliau mengatakan, 'Kirimkanlah daging kambing itu kepada sahabat-sahabat Khadijah.'"

وفي روايةٍ: قالت: اسْتَأْذَنَتْ هَالَة بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَديجَةَ عَلىٰ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَديجَةَ، فَارْتَاحَ لِذلِكَ، فقالَ: «اللهم هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ».

Dan dalam riwayat lain, Aisyah berkata, "Hālah binti Khuwailid, saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau lalu mengenal suara minta izinnya mirip dengan suara Khadijah sehingga membuat beliau merasa senang. Lalu beliau bersabda, "Ya Allah! Ini adalah Hālah binti Khuwailid."

📖 Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (VII/133-Fathul Bâri), dan Muslim (2435) (56). Riwayat kedua ada dalam Shahîh al-Bukhari, (VII/133 dan X/435-Fathul Bâri) dan Muslim (2435). Riwayat ketiga juga terdapat dalam Shahîh al-Bukhari, (VII/133-Fathul Bâri) dan juga Muslim (2435) (75). Adapun riwayat yang keempat terdapat dalam Shahîh Muslim (2437).

📗Kosa Kata Hadits

  • مَا غِرْتُ : Aku tidak merasa cemburu.
  • صَدَائِقُ : Adalah jamak dari kata shadigah yang berarti teman.
  • كَانَتْ وَكَانَتْ : Begini dan begitu, maksudnya Rasulullah memuji semua tindakan Khadijah.
  • وَكَانَ لي مِنْهَا وَلَدٌ: Anak-anak Nabi, yang semuanya berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim saja, sedangkan Ibrahim adalah anak hasil pernikahan beliau dengan Mariyah.
  • فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَدِيْجَةَ : Beliau ingat ketika Khadijah meminta izin kepada beliau, karena suaranya mirip dengan suara Khadijah.
  • فَارْتَاحَ لِذُلِكَ  : Berseri wajahnya oleh kedatangannya seraya merasa gembira, karena sempat membuat beliau teringat kepada Khadijah dan hari-hari beliau bersamanya, sehingga hal tersebut memunculkan kenangan di benak beliau.

💡kandungan Hadits

  1. Dalam hadits tersebut terdapat penjelasan mengenai keutamaan Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid, di mana dia telah membenarkan Rasulullah, membantu beliau dengan segenap harta kekayaannya, serta mendorong beliau untuk selalu bersikap teguh, dan dia termasuk salah seorang dari as-Sabiqunal Awwalun (mereka yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam).
  2. Kesetiaan Rasulullah ﷺ di dalam mengingat istri pertamanya yang dahulu pernah menolong beliau dan menghormati beliau.
  3. Di antara kriteria yang sangat dicintai pada pribadi wanita shalihah adalah penuh cinta kasih dan banyak memberikan keturunan. Maka, Rasulullah ﷺ telah memerintahkan umatnya untuk menikah dengan Wanita-wanita tersebut.
  4. Adanya rasa cemburu. Rasa cemburu bukan suatu hal yang tidak terdapat pada pribadi wanita-wanita pilihan lagi utama. Dan itulah Aisyah Radhiyallahu'anha yang sempat dicemburui oleh istri-istri Rasulullah yang lain, ternyata dia juga sempat cemburu kepada Khadijah Radhiyallahu'anha.
  5. Banyak mengingat dan mengenang menunjukkan besarnya cinta. Oleh karena itu, syi'ar orang orang yang cinta kepada Allah, Rabb seru sekalian alam, yaitu bahwa mereka itu adalah orang-orang yang banyak mengingat-Nya.
  6. Orang Muslim sudah sepatutnya selalu memelihara janji istri, sahabat, dan teman-teman bergaulnya serta mempertahankan rasa cintanya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal: yaitu dengan selalu mengingat dan memuji semua kebaikan yang dahulu pernah dilakukannya dan memuliakan orang orang yang dikenalnya.

******

Hadits No. 5/345: Teladan Sahabat dalam Memuliakan Orang Lain

5/345 ــ وعن أَنَس بن مَالِكٍ رضي الله عنه قال: خَرَجْتُ معَ جَريرِ بن عبدِ الله الْبَجَلِيِّ رضي الله عنه في سَفَرٍ، فَكَانَ يَخْدُمُني، فَقلتُ لَهُ: لا تَفْعَلْ، فقال: إنِّي قَدْ رَأَيْتُ الأَنْصَارَ تَصْنَعُ بِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم شَيْئاً، آليتُ عَلىٰ نَفْسي أَلا أَصْحَبَ أَحَداً مِنْهُمْ إلَّا خَدَمْتُهُ. متفقٌ عليه.

5/345- Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Aku pernah keluar bersama Jarīr bin Abdillāh Al-Bajaliy -raḍiyallāhu 'anhu- dalam suatu perjalanan. Ternyata ia melayaniku. Aku berkata, "Jangan lakukan!" Dia menjawab, "Sungguh aku telah melihat orang-orang Ansar melayani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sehingga aku bersumpah pada diriku bahwa aku tidak akan menyertai salah seorang dari mereka kecuali aku akan melayaninya." (Muttafaq ‘Alaih)

📖 Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (VI/83—Fathul Bari) dan Muslim (2513), dan lafazh di atas adalah miliknya.

📗Kosa Kata Hadits

  •  آليْتُ : Aku bersumpah.
  • شَيْئاً : Sesuatu. Artinya suatu hal besar yang tidak bisa diungkapkan perinciannya dengan kata-kata dan yang tidak dapat digapai oleh keinginan, yang ia menjadi petunjuk bagi kami menuju ke jalannya.

💡kandungan Hadits

  1. Sikap tawadhu para Sahabat Rasulullah ﷺ dan keutamaan mereka.
  2. Memuliakan orang yang berbuat baik kepada Nabi ﷺ meskipun orang itu lebih muda darinya.
  3. Menghormati dan memuliakan orang yang lebih tua.
  4. Beberapa keutamaan kaum Anshar dan pengabdian mereka kepada Rasulullah ﷺ.

*****

43 ــ باب إكرام أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وبيان فضلهم

Bab-43: Memuliakan Ahlul Bait Rasulullah ﷺ dan Penjelasan Keutamaan Mereka

Yang dimaksud dengan "ahlul bait" Rasulullah ﷺ di sini adalah orang-orang yang mempunyai ikatan nasab kepada Bani Hasyim dan Abdul Muththalib baik laki-laki maupun perempuan, serta beriman kepada beliau dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu. Yang juga termasuk ahlul bait beliau adalah istri-istri beliau (yakni . رَضِى اللهُ عَنهنَ (Ummahatul Mukminin Sekelompok ulama berpendapat bahwa "âlu Muhammad" (keluarga Muhammad) adalah para ulama yang bertakwa dari kalangan umatnya, tetapi pendapat tersebut tertolak dengan disebutnya kata "ahlul bait" atau "âlu Muhammad ﷺ" secara mutlak.

Allah ﷻ berfirman:

{إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا} [الأحزاب: 33]

“ ... Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzâb [33]: 33)

Ayat di atas merupakan nash qath'i yang menetapkan masuknya istri-istri Nabi Muhammad jg dalam jajaran "ahlul bait". Hal ini karena wanita-wanita mulia ini merupakan sebab turunnya ayat ini, dan sebab
turunnya ayat berarti masuk ke dalamnya tanpa diperselisihkan, baik dia sendirian menurut satu pendapat maupun bersama yang lainnya- menurut pendapat yang benar.

Allah ﷻ berfirman:

 {ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ} [الحج: 32].

“.. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya bal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj (227: 32)

Penafsiran ayat ini telah diterangkan sebelumnya dalam pembahasan Bab “Menjunjung Kehormatan Kaum Muslimin”.

*****

Hadits No. 1/346: Keutamaan Sahabat Nabi dan Kebaikan yang Melimpah

1/346 ــ وعن يَزِيدَ بنِ حَبَّانَ قال: انْطَلَقْتُ أَنا وَحُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وعَمْرُو بْن مُسْلِمٍ إلىٰ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رضي الله عنهم، فَلَمَّا جَلَسْنَا إلَيْهِ قال له حُصَيْنٌ: لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْراً كَثيراً، رَأَيْتَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، وسَمِعْتَ حَدِيثَهُ، وَغَزَوْتَ مَعَهُ، وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ، لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْراً كَثِيراً، حَدِّثْنَا يَا زَيْدُ مَا سَمِعْتَ مِنْ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم قال: يَا بْنَ أَخِي، وَاللهِ لَقَدْ كَبِرَتْ سِنِّي، وَقَدُمَ عَهْدِي، وَنَسيتُ بَعْضَ الَّذي كُنْتُ أَعِي مِنْ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم، فَمَا حَدَّثْتكُمْ فَاقْبَلُوا، وَمَا لا فَلا تكَلِّفُونِيهِ، ثُمَّ قال: قامَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يَوْماً فِينَا خَطِيباً بِمَاءٍ يُدْعَىٰ خُمّاً بَيْنَ مَكَّةَ وَالمَدِينَةِ، فَحَمِدَ الله وَأَثْنىٰ عَلَيْه، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ: أَلا أَيُّهَا النَّاسُ، فَإنَّمَا أنا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رسولُ رَبيِّ فَأُجِيبَ، وَأنا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ؛ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ الله، فِيهِ الهُدىٰ وَالنُّورُ، فَخُذُوا بِكِتَابِ الله، وَاسْتَمْسِكُوا بِه». فَحَثَّ عَلىٰ كِتَابِ الله، وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: «وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ في أَهْلِ بَيْتي، أُذَكِّرُكُمْ اللهَ في أَهْلِ بَيْتي»، فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ: وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ ؟ أَليْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ؟ قالَ: نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَلكِنْ أَهْلُ بَيتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ، قَالَ: وَمَنْ هُمْ ؟ قَالَ: هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيلِ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ، قَالَ: كُلُّ هؤُلاءِ حُرِمَ الصدَقَةَ؟ قَالَ: نَعَمْ. رواه مسلم.

1/346- Yazīd bin Ḥayyān berkata, Aku pergi menemui Zaid bin Arqam -raḍiyallāhu 'anhu- bersama Ḥuṣain bin Sabrah dan 'Amr bin Muslim. Setelah kami duduk, Ḥuṣain berkata kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid! Engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, engkau mendengar hadis beliau, engkau berperang bersama beliau, dan engkau salat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak, wahai Zaid! Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Zaid bin Arqam berkata, “Wahai keponakanku! Demi Allah, aku ini sudah tua dan masa hidupku bersama beliau sudah lama. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku hafal dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu maka terimalah, dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan, "Pada suatu hari, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri di tengah-tengah kami untuk menyampaikan khotbah di suatu tempat (persinggahan) yang memiliki air bernama Khumm yang terletak antara Mekah dan Madinah. Beliau memuji dan memuja Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan. Kemudian beliau bersabda, Ammā ba’du. Ketahuilah, wahai saudara-saudara sekalian, bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu Malaikat maut) akan datang dan aku harus memperkenankannya. Aku tinggalkan untuk kalian aṡ-ṡaqalain (dua hal yang berat). Pertama, Kitābullāh (Al-Qur`ān) yang di dalamnya terkandung petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah dan berpegang teguhlah kepadanya!' Beliau lantas menghimbau serta memotivasi kepada Kitab Allah. Kemudian beliau melanjutkan, '(Kedua), dan ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap ahli baitku.' Ḥuṣain bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Wahai Zaid! Siapakah ahli bait Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-? Bukankah istri-istri beliau termasuk ahli bait beliau?” Zaid bin Arqam menjawab, “Istri-istri beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- termasuk ahli bait beliau. Namun ahli bait yang beliau maksud adalah semua (keluarganya) yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.” Ḥuṣain berkata, “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab, “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga 'Aqīl, keluarga Ja’far, dan keluarga 'Abbās.” Ḥuṣain berkata, “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?” Zaid menjawab, “Ya.” (HR. Muslim)

وفي روايةٍ: «أَلا وَإنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْن: أَحَدُهُمَا كِتَابُ الله، وَهُوَ حَبْلُ الله، مَنِ اتَّبَعَه كَانَ عَلىٰ الهُدَى، وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلىٰ ضَلاَلَةٍ».

Dalam riwayat yang lain: “Ketahuilah! Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat. Salah satunya adalah Kitābullāh (Al-Qur`ān); yaitu tali (agama) Allah, Siapa yang mengikutinya maka dia akan mendapat petunjuk, dan Siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.”

📖 Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2408), dan riwayat kedua juga miliknya (2408) (37).

📗Kosa Kata Hadits

  • أَعِي  : Aku hafal.
  • مَاءُ خُمّ : Tempat (sumber) air khumm, yaitu tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah, yang di sana terdapat anak sungai yang sangat terkenal.
  • يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُوْلُ رَبي : Hampir datang utusan Rabbku. Maksudnya sudah dekat saat datangnya Malaikat maut yang mengajak untuk bertemu dengan Allah.
  • ثَقَلَيْنِ : Dua hal berat. Artinya segala sesuatu yang sangat penting dan berharga. Kedua hal ini (Kitabullah dan ahli bait Rasulullah) disebut demikian sebagai penghormatan atas hak-haknya sekaligus sebagai pemuliaan terhadap posisinya.

Sebagai tambahan keterangan, lihatlah juga kitab saya yang berjudul Majma'ul Bahrain fi Takhrîji Ahâditsil Wahyain, yang di dalamnya ada penjelasan bermanfaat.

Peringatan! Para Ulama berkata: "Tidak ada riwayat yang shahih dalam masalah nama Malaikat maut yang dikenal dengan Izrail."

💡kandungan Hadits

  1. Disunnahkan memberi pujian kepada orang yang berilmu dengan sifat-sifat yang sesuai, serta mendoakannya sebelum menuntut ilmu darinya. Oleh karena itu, tidak disunnahkan untuk memberi pujian secara berlebihan (basa-basi) kecuali dalam menuntut ilmu.
  2. Para Sahabat Rasulullah 4 termasuk orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebaikan yang melimpah.
  3. Seorang yang berilmu boleh mengemukakan beberapa bujjah/alasan sebelum memberitahukan kepada mereka kesalahan yang memang atau telah dilakukannya.
  4. Kesombongan menjadi sumber lupa dan sebab lemahnya kekuatan menghafal.
  5. Orang yang berilmu tidak boleh menyampaikan pengetahuan kecuali apa yang diketahuinya, dan tidak boleh juga ia menyampaikan suatu pembahasan tanpa didasari pengetahuan.
  6. Pencari ilmu tidak boleh menyulitkan guru, dan tidak membebaninya dengan pertanyaan di luar kemampuan keilmuannya, jika dia melihat gurunya sudah merasa cukup dengan jawaban yang diberikan.
  7. Seorang pengajar/guru harus benar-benar memanfaatkan waktu yang sesuai guna memberi pelajaran dan peringatan kepada teman-teman.
  8. Bagi pengajar harus memberi pesan kepada para pengikutnya dengan hal-hal yang baik untuk mereka.
  9. Rasulullah ﷺ juga manusia biasa yang didatangi oleh Malaikat maut, sebagaimana manusia lainnya.

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula)." (QS. Az-Zumar [39]: 30)

  1. Kewajiban berpegang teguh kepada Kitab Allah, karena ia merupakan tali Allah ﷻ yang sangat kuat dan jalan yang lurus. Maka barang siapa yang mengikutinya niscaya dia mendapatkan petunjuk, dan barang siapa meninggalkannya niscaya dia tersesat.
  2. Wasiat supaya senantiasa memperhatikan keluarga Nabi ﷺ dan kondisi/perihal mereka.
  3. Para istri Nabi ﷺ termasuk ahlul bait beliau.
  4. Diharamkan memberikan sedekah (zakat) kepada ahlul bait. Adapun yang dihalalkan bagi mereka hanyalah seperlima hewan kurban dan harta rampasan perang.

*****

Hadits No. 2/347: Keutamaan Sahabat Nabi dan Kebaikan yang Melimpah

٢/٣٤٧ ـ وعن ابن عمر رضي الله عنهما، عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه موقوفاً عليه أنه قال: ارقبوا محمداً صلى الله عليه وسلم في أهل بيته. رواه البخاري

معنى ((ارقبوا)) راعوه واحترموه وأكرموه، والله أعلم.

347. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu'anhuma, dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu'anhu secara mauquf 'alaih *), bahwa dia berkata: "Peliharalah kehormatan Muhammad jg dengan memuliakan ahlul baitnya." (HR. Al-Bukhari)

*) Mauquf 'alaih artinya ucapan ini dari Abu Bakar s bukan marfu' (dari ucapan Rasulullah ed).

📖 Pengesahan Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (VII/78-Fathul Bâri).

💡kandungan Hadits

  1. Hendaklah Muslim mengagungkan ahlul bait Nabi Muhammad ﷺ memuliakan, dan ber-wala' (bersikap loyal) terhadap mereka.
  2. Pengakuan para Sahabat terhadap hak-hak ahlul bait, khususnya dua syaikh: Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu'anhuma.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم