Kategori Fiqh

Pemahaman muslimin mengenai praktik-praktik ibadah berdasarkan Syariat
Kajian Bertema Fiqh

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam #2
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abdul Fattach Imaduddin S.Pd.I hafizhahullahu.
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu [Sebelum Maghrib], 04 Oktober 2026 M / 22 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo


Syarah Umdatul Ahkam — Hadits Ketiga dan Keempat Bab Thaharah

 

Mukadimah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba'du.

Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita. Di antara nikmat tersebut adalah kesempatan untuk hadir di majelis ilmu. Kita berharap majelis ini menjadi salah satu amal yang dengannya Allah memudahkan jalan kita menuju surga-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang kita harapkan syafaatnya pada hari kiamat.

Pada kesempatan ini kita melanjutkan kajian kitab Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam, karya Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullahu ta'ala. Kita masih berada dalam pembahasan thaharah dan telah sampai pada Hadits ketiga, kemudian dilanjutkan dengan Hadits keempat.

Hadits Ketiga: Ancaman bagi Orang yang Tidak Menyempurnakan Wudu

Al-Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullahu ta'ala membawakan Hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, Abu Hurairah, dan 'Aisyah radhiyallahu 'anhum.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَرضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ.

Dari ‘Abullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah tumit yang tidak terbasuh air wudhu dengan api neraka.” (HR. Bukhari, no. 165 dan Muslim, no. 241)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ketika sebagian sahabat berwudu dengan tergesa-gesa hingga bagian tumit mereka tidak terkena air, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Celakalah tumit-tumit dari api neraka. Sempurnakanlah wudu.”

Hadits ini menunjukkan pentingnya menyempurnakan wudu dan memastikan seluruh anggota wudu terkena air sebagaimana mestinya.

Para Perawi Hadits

Hadits ini disebutkan melalui tiga sahabat:

  1. Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma. - Meriwayatkan 700 Hadits
  2. Abdurrahman bin Sahr - Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. - Meriwayatkan 5374 Hadits
  3. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha. - Meriwayatkan 2210 Hadits

Mereka adalah sahabat-sahabat mulia yang memiliki jasa besar dalam menyampaikan ilmu dan Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada generasi setelah mereka.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu merupakan salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadits. Demikian pula 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.

Anjuran Mendo’akan Para Sahabat

Karena besarnya jasa para sahabat dalam menyampaikan agama kepada umat, termasuk adab kita ketika nama mereka disebutkan adalah mendoakan mereka dengan doa ridha:

  • رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ — radhiyallahu 'anhu untuk laki-laki.
  • رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا — radhiyallahu 'anha untuk perempuan.
  • رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ — radhiyallahu 'anhum untuk banyak orang.

Allah sendiri telah menyebutkan keridhaan-Nya kepada para sahabat.

Dalil Pertama: Keridhaan Allah kepada Para Sahabat

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” QS. At-Taubah: 100.

Ayat ini merupakan pujian Allah kepada As-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah menyatakan:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”

Dalil Kedua: Bai'atur Ridhwan

Allah juga berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” QS. Al-Fath: 18.

Ayat ini berkaitan dengan Bai'atur Ridhwan dalam peristiwa Hudaibiyah. Allah memberikan jaminan keridhaan-Nya kepada para sahabat yang mengikuti baiat tersebut.

Karena itu, ketika nama sahabat disebutkan, hendaknya kita mendoakan mereka dengan doa keridhaan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa mereka.

Kesempurnaan Wudu

Inti Hadits ketiga adalah kewajiban menyempurnakan wudu dengan memastikan seluruh anggota wudu terkena air.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.”  (QS. Al-Ma'idah: 6).

Dari ayat tersebut terdapat anggota wudu yang harus diperhatikan:

  1. Wajah, dibasuh.
  2. Kedua tangan sampai siku, dibasuh.
  3. Kepala, diusap.
  4. Kedua kaki sampai mata kaki, dibasuh.

Maka seluruh bagian yang termasuk anggota wudu harus benar-benar terkena air.

Salah satu bagian yang sering luput adalah tumit. Ketika seseorang berwudu tetapi tumitnya tidak terkena air, hal tersebut merupakan perkara yang sangat berbahaya karena wudunya tidak sempurna.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ancaman:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celakalah tumit-tumit dari api neraka.”

Karena itu, ketika berwudu, hendaknya seseorang memastikan air benar-benar sampai ke tumit. Jangan hanya mengalirkan air secara sekadarnya, tetapi pastikan seluruh bagian kaki terkena air. Jika diperlukan, kaki digosok agar kotoran, debu, atau tanah yang menempel terlepas dan air dapat mengenai anggota wudu dengan sempurna.

Makna “Wail”

Kata wail merupakan bentuk ancaman yang keras. Sebagian ulama menjelaskan bahwa wail merupakan kata yang digunakan sebagai ancaman dan peringatan keras. Sebagian ulama tafsir juga menjelaskan wail sebagai nama sebuah lembah di Jahannam.

Dengan demikian, penggunaan kata wail dalam Hadits menunjukkan kerasnya ancaman bagi orang yang meremehkan kesempurnaan wudu.

Al-Qur'an juga menggunakan kata wail dalam beberapa konteks. Allah berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

“Celakalah bagi orang-orang yang curang.” QS. Al-Muthaffifin: 1.

Allah juga berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” QS. Al-Humazah: 1.

Demikian pula Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya.” QS. Al-Ma'un: 4–5.

Dalam ayat tersebut perlu dibedakan antara sahun fi shalatihim dan sahun 'an shalatihim. Lupa yang terjadi di dalam shalat dapat memiliki hukum yang berbeda dan dalam keadaan tertentu dapat diperbaiki dengan sujud sahwi. Adapun kelalaian terhadap shalat menunjukkan sikap lalai dari shalat itu sendiri.

Salah satu bentuk kelalaian terhadap shalat adalah tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Kesucian dari hadas merupakan salah satu syarat sah shalat. Hadas kecil disucikan dengan wudu. Karena itu, apabila wudu tidak benar, maka shalat yang dibangun di atas wudu tersebut juga bermasalah.

Beberapa Faedah dari Hadits Ketiga

Dalam Tanbihul Afham Syarah Umdatul Ahkam, terdapat beberapa faedah penting dari Hadits ini.

  1. Wajib menyempurnakan anggota wudu: Wajib memastikan seluruh anggota wudu yang harus dibasuh benar-benar terkena air.
  2. Ancaman bagi orang yang meremehkan sebagian anggota wudu: Orang yang meremehkan bagian dari anggota wudu mendapatkan ancaman keras.
  3. Meremehkan bagian dari anggota bersuci merupakan perkara serius: Meremehkan bagian dari anggota bersuci merupakan perkara yang sangat serius karena berkaitan dengan sahnya ibadah shalat. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan ancaman yang keras.
  4. Kaki wajib dibasuh ketika tidak memakai khuff: Apabila kedua kaki terbuka, maka wajib dibasuh sampai mata kaki. Adapun ketika seseorang memakai khuff yang memenuhi ketentuan syariat, terdapat rukhsah untuk mengusap bagian atasnya.

Di antara ketentuan yang disebutkan dalam pembahasan adalah:

  • Khuff dipakai dalam keadaan suci.
  • Pengusapan dilakukan dalam batas waktu yang dibolehkan.
  • Untuk orang mukim, waktunya sehari semalam.
  • Untuk musafir, waktunya tiga hari tiga malam.
  • Tidak sedang dalam keadaan hadas besar.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah menjelaskan bahwa seandainya agama dibangun berdasarkan akal semata, tentu bagian bawah khuff lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mencontohkan mengusap bagian atas khuff.

Ini menunjukkan bahwa ibadah mengikuti tuntunan syariat, bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan akal manusia.

5. Balasan sesuai dengan jenis amal: Hadits ini menunjukkan adanya balasan terhadap perbuatan dan bahwa balasan tersebut sesuai dengan jenis perbuatan. Orang yang meremehkan wudu mendapatkan ancaman yang berkaitan dengan perbuatannya tersebut. Karena itu, jangan sampai seseorang meremehkan wudu. Pastikan tidak ada anggota wudu yang terlewat dari air.

*****

Hadits Keempat: Istinsyaq, Istijmar, dan Mencuci Tangan Setelah Bangun Tidur

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَنْثُرْ، وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ، وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian berwudu, hendaklah dia memasukkan air ke hidungnya kemudian mengeluarkannya. Barang siapa melakukan istijmar, hendaklah dia melakukannya dengan bilangan ganjil. Dan apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah dia mencuci tangannya sebelum memasukkannya ke dalam tempat air wudunya, karena salah seorang di antara kalian tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.” HR. Al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 237.

Hadits ini mengandung beberapa tuntunan penting berkaitan dengan bersuci.

1. Istinsyaq dan Istintsar

Istinsyaq adalah memasukkan air ke dalam hidung, sedangkan istintsar adalah mengeluarkan air tersebut dari hidung.

Dalam wudu, seseorang memasukkan air ke dalam hidung kemudian mengeluarkannya kembali. Hal ini merupakan bagian dari penyempurnaan wudu.

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ فِي أَنْفِهِ مَاءً ثُمَّ لِيَسْتَنْثِرْ

“Apabila salah seorang di antara kalian berwudu, hendaklah dia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian mengeluarkannya.” HR. Al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 237.

Hidung dan mulut termasuk bagian wajah. Allah berfirman:

فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Maka basuhlah wajah-wajah kalian.” QS. Al-Ma'idah: 6.

Karena hidung dan mulut merupakan bagian dari wajah, maka seorang muslim hendaknya memperhatikan keduanya ketika berwudu.

Tata Cara Istinsyaq

Air dapat diambil dengan tangan kanan. Dalam satu cidukan, sebagian air dapat digunakan untuk berkumur-kumur dan sebagian untuk dimasukkan ke hidung. Setelah air masuk ke hidung, air tersebut dikeluarkan dan hidung dibersihkan dengan tangan kiri.

Demikian pula mulut dibersihkan dengan berkumur-kumur. Jika ingin menyempurnakannya, seseorang dapat menggunakan siwak.

2. Siwak Ketika Berwudu

Siwak merupakan sunnah yang sangat ditekankan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudu.”

Riwayat ini disebutkan secara mu'allaq oleh Al-Bukhari; Hadits yang semakna diriwayatkan pula melalui jalur lain, di antaranya Ahmad no. 9928.

Dengan demikian, berkumur-kumur dan membersihkan hidung merupakan bagian yang ditekankan dalam pembahasan wudu, sedangkan siwak merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.

3. Bersungguh-sungguh dalam Istinsyaq, Kecuali Ketika Berpuasa

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan istinsyaq, kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” HR. Abu Dawud no. 2366; juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 788.

Ketika tidak berpuasa, seseorang dianjurkan bersungguh-sungguh dalam memasukkan air ke hidung. Adapun ketika sedang berpuasa, jangan berlebihan karena dikhawatirkan air masuk terlalu jauh dan tertelan. Artinya, orang yang berpuasa tetap melakukan istinsyaq, tetapi tidak berlebihan.

4. Istijmar dengan Bilangan Ganjil

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ

“Barang siapa melakukan istijmar, hendaklah dia melakukannya dengan bilangan ganjil.” HR. Al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 237.

Istinja' adalah bersuci menggunakan air, sedangkan istijmar adalah membersihkan najis setelah buang hajat dengan menggunakan sesuatu selain air yang memenuhi ketentuan, seperti batu atau benda sejenis yang dapat digunakan untuk membersihkan.

Pada masa sekarang, tisu dapat digunakan untuk istijmar. Ketika menggunakan istijmar, pembersihan dilakukan dengan bilangan ganjil. Tiga merupakan bilangan minimal yang disebutkan dalam pembahasan, kemudian dapat ditambah apabila belum bersih.

Yang menjadi tujuan adalah hilangnya najis. Jika tiga lembar tisu belum cukup, maka digunakan tambahan hingga tempat tersebut bersih.

5. Mencuci Tangan Setelah Bangun Tidur

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, hendaklah dia mencuci tangannya sebelum memasukkannya ke dalam tempat air wudunya, karena salah seorang di antara kalian tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.” HR. Al-Bukhari no. 162 dan Muslim no. 237.

Dalam riwayat Muslim disebutkan secara tegas:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali, karena dia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.” HR. Muslim no. 278.

Karena itu, setelah bangun tidur, jangan langsung memasukkan tangan ke dalam wadah air. Cuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali.

Ini merupakan bentuk kehati-hatian dalam bersuci dan menjaga kebersihan air yang digunakan untuk berwudu.

Kesucian dari Najis dan Hadas

Di antara syarat sah shalat adalah bersih dari najis dan suci dari hadas. Najis harus dibersihkan dari:

  • badan;
  • pakaian;
  • tempat yang digunakan untuk shalat.

Adapun hadas kecil dihilangkan dengan wudu.

Karena itu, setelah buang hajat seseorang harus memastikan dirinya telah bersih dari najis, baik dengan istinja' menggunakan air maupun dengan istijmar apabila memenuhi ketentuannya.

Setelah bersih dari najis, barulah dia melakukan wudu untuk menghilangkan hadas kecil.

Pertanyaan: Tentang Niat Wudu

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai niat wudu.

Para ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Dalam masalah melafazkan niat, terdapat perincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama, termasuk di dalam mazhab Syafi'i. Ada yang menganjurkan pelafalan niat sebagai sarana membantu menghadirkan hati, sementara yang lain tidak menganggapnya perlu.

Yang terpenting adalah seseorang benar-benar menghadirkan niat di dalam hatinya. Misalnya ketika hendak berwudu, seseorang menyadari dalam hatinya: “Saya berwudu untuk menghilangkan hadas kecil.”

Jika seseorang melafazkan:

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ

“Aku berniat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil.”

maka yang terpenting adalah dia memahami maknanya dan hatinya benar-benar hadir.

Namun, apabila seseorang tidak melafazkan niat, hal itu tidak menjadi masalah. Yang wajib diperhatikan adalah adanya niat di dalam hati.

Jangan Mencela Orang yang Berusaha Menghadirkan Niat

Dalam persoalan ini, hendaknya seorang muslim tidak mudah mencela orang lain. Jika ada seseorang yang melafazkan niat karena ingin membantu menghadirkan hati, jangan langsung dicela. Sebaliknya, orang yang tidak melafazkan niat juga tidak boleh sampai mengabaikan pentingnya menghadirkan niat. Yang perlu diperbaiki adalah hati kita.

Dalam shalat, misalnya, seseorang perlu mengetahui shalat apa yang hendak dia kerjakan: apakah shalat Magrib, Isya, Subuh, tahiyatul masjid, atau yang lainnya.

Demikian pula ketika berwudu, seseorang perlu menyadari bahwa dia tidak sekadar mencuci wajah, tangan, dan kaki untuk membersihkan badan. Dia sedang melakukan ibadah untuk menghilangkan hadas dan mendapatkan kesucian yang menjadi syarat untuk melakukan ibadah tertentu.

Niatlah yang membedakan antara:

  • kebiasaan dengan ibadah;
  • mencuci wajah biasa dengan membasuh wajah sebagai bagian dari wudu;
  • mencuci tangan biasa dengan membasuh tangan sebagai bagian dari wudu;
  • shalat wajib dengan shalat sunnah;
  • satu jenis shalat dengan shalat lainnya.

Karena itu, yang paling penting adalah menghadirkan hati.

Penutup

Hadits ketiga mengajarkan kepada kita agar tidak meremehkan kesempurnaan wudu. Jangan sampai ada bagian dari anggota wudu yang tidak terkena air, terutama bagian-bagian yang sering luput seperti tumit.

Hadits keempat mengajarkan beberapa tuntunan penting dalam bersuci:

  1. Melakukan istinsyaq dan istintsar ketika berwudu.
  2. Berk here-kumur dan membersihkan mulut.
  3. Bersiwak sebagai sunnah yang sangat dianjurkan.
  4. Tidak berlebihan dalam istinsyaq ketika sedang berpuasa.
  5. Melakukan istijmar dengan bilangan ganjil.
  6. Membersihkan najis dengan sempurna setelah buang hajat.
  7. Mencuci tangan tiga kali setelah bangun tidur sebelum memasukkannya ke dalam wadah air.
  8. Menghadirkan niat di dalam hati ketika beribadah.

Semua ini menunjukkan perhatian syariat terhadap kesucian dan kesempurnaan ibadah.

Jangan sampai kita memperhatikan shalat tetapi meremehkan wudu, karena wudu merupakan salah satu syarat penting untuk sahnya shalat. Perbaikilah wudu kita dan jangan meremehkan bagian sekecil apa pun yang telah diperintahkan syariat.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Subḥānakallāhumma wa biḥamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.

Poster Ringkasan

Fiqh Taharah Perfecting Wudu Guide

*****

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini