Kategori Fiqh

Pemahaman muslimin mengenai praktik-praktik ibadah berdasarkan Syariat
Kajian Bertema Fiqh

ʙɪsᴍɪʟʟᴀʜ

📚┃Materi : Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam #7
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abdul Fattach Imaduddin S.Pd.I hafizhahullahu.
🗓┃ Hari, Tanggal : Sabtu [Sebelum Maghrib], 31 Oktober 2026 M / 20 Jumadil Awal 1448 H
🕌┃Tempat : Masjid AL-Qomar - Jl. Slamet Riyadi no. 414 A, Purwosari Solo
📖┃Daftar Isi: 
  1. Kitab: Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam
  2. Penulis: Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah
  3. Hadits ke-14 sampai ke-17: Adab Buang Hajat dan Istinja
    1. Muqaddimah
    2. Hadits ke-14: Larangan Menghadap dan Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat
      1. Pelajaran dan faedah hadits
        1. 1. Larangan menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat
        2. 2. Larangan berlaku dalam keadaan terbuka maupun tertutup menurut keumuman lafaz hadits
        3. 3. Perintah menghadap timur atau barat disesuaikan dengan posisi penduduk Madinah
        4. 4. Metode pengajaran Nabi: Menjelaskan larangan sekaligus memberikan solusi
    3. Hadits ke-15: Nabi ﷺ Pernah Buang Hajat dengan Membelakangi Ka’bah di Dalam Bangunan
      1. Pelajaran dan faedah hadits
        1. 1. Bolehnya membelakangi Ka’bah ketika buang hajat di dalam bangunan
        2. 2. Menggabungkan dalil-dalil yang tampak berbeda
      2. Memahami makruh dalam pembahasan fikih
    4. Hadits ke-16: Anjuran Beristinja dengan Air dan Bolehnya Meminta Bantuan Orang Lain
      1. Pelajaran dan faedah hadits
        1. 1. Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
        2. 2. Bolehnya meminta bantuan orang lain dalam perkara yang berkaitan dengan bersuci
        3. 3. Bolehnya beristinja menggunakan air
        4. 4. Anjuran mempersiapkan sarana bersuci sebelum buang hajat
      2. Memperhatikan perencanaan fasilitas kamar mandi
    5. Hadits ke-17: Larangan Menggunakan Tangan Kanan untuk Membersihkan Kemaluan dan Larangan Bernapas di Dalam Bejana
      1. Pelajaran dan faedah hadits
        1. 1. Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air kecil
        2. 2. Larangan membersihkan kotoran dengan tangan kanan
        3. 3. Larangan bernapas di dalam bejana ketika minum
    6. Penutup: Pentingnya Memperhatikan Adab Thaharah
    7. Sesi Tanya Jawab
    8.  Poster Ringkasan
 


Kitab: Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam

Penulis: Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah

Hadits ke-14 sampai ke-17: Adab Buang Hajat dan Istinja


Muqaddimah

Bismillahirrahmanirrahim

Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.

Asyhadu an la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Amma ba’du.

Kaum muslimin dan muslimat, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati kita semua.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat yang telah diberikan kepada kita. Di antara nikmat tersebut adalah kesempatan untuk menghadiri salah satu majelis ilmu. Kita berharap majelis ini menjadi salah satu amalan yang dengannya Allah memudahkan jalan kita menuju surga-Nya.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kita harapkan syafaatnya pada hari kiamat kelak.

Pada kesempatan ini kita melanjutkan kajian kitab ‘Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam, karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah. Pembahasan kali ini memasuki hadits ke-14 sampai hadits ke-17, yang berkaitan dengan adab buang hajat dan bersuci.

Hadits ke-14: Larangan Menghadap dan Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat

Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah membawakan hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau bernama Khalid bin Zaid Al-Anshari.

Teks hadits: 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ، وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا، وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, janganlah kalian menghadap kiblat ketika buang air besar maupun buang air kecil, dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi, menghadaplah ke arah timur atau barat.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu kemudian menceritakan:

قَدِمْنَا الشَّامَ فَوَجَدْنَا مَرَاحِيضَ قَدْ بُنِيَتْ نَحْوَ الْكَعْبَةِ، فَنَنْحَرِفُ عَنْهَا وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Kami datang ke negeri Syam, lalu kami mendapati tempat-tempat buang hajat yang dibangun menghadap ke arah Ka’bah. Maka kami pun berpaling darinya dan memohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla.”

Riwayat ini menunjukkan bagaimana para sahabat berusaha menjaga adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pelajaran dan faedah hadits

1. Larangan menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat

Hadits ini menunjukkan larangan menghadap kiblat maupun membelakanginya ketika buang air besar dan buang air kecil.

Dalam kaidah usul fikih, hukum asal suatu larangan adalah menunjukkan keharaman (lit-tahrim), selama tidak ada dalil lain yang memalingkannya kepada hukum yang berbeda.

Namun, hukum larangan dalam masalah ini perlu dikompromikan dengan hadits-hadits lain yang akan dibahas selanjutnya. Sebab, terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang hajat dengan posisi membelakangi Ka’bah ketika berada di dalam bangunan.

2. Larangan berlaku dalam keadaan terbuka maupun tertutup menurut keumuman lafaz hadits

Lafaz hadits ini bersifat umum. Artinya, larangan tersebut mencakup tempat terbuka maupun tempat tertutup.

Akan tetapi, ketika dikumpulkan dengan hadits-hadits lainnya, para ulama menjelaskan adanya perbedaan hukum antara buang hajat di tempat terbuka dan di dalam bangunan.

3. Perintah menghadap timur atau barat disesuaikan dengan posisi penduduk Madinah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

“Namun, menghadaplah ke arah timur atau barat.”

Perintah ini disampaikan kepada penduduk Madinah. Posisi Madinah berada di sebelah utara Makkah. Dengan demikian, ketika seseorang menghadap ke arah utara atau selatan, ia akan menghadap atau membelakangi kiblat.

Oleh karena itu, perintah menghadap timur atau barat tidak boleh dipahami secara mutlak untuk semua negeri.

Bagi kaum muslimin di Indonesia, arah kiblat secara umum berada di sebelah barat laut. Maka, hendaknya posisi toilet diatur agar tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat.

4. Metode pengajaran Nabi: Menjelaskan larangan sekaligus memberikan solusi

Di antara faedah penting hadits ini adalah bagusnya metode pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika beliau menyebutkan sesuatu yang dilarang, beliau juga menunjukkan sesuatu yang dibolehkan.

Inilah metode pengajaran yang seharusnya diteladani dalam berdakwah. Dakwah bukan hanya menyampaikan perkara yang haram, syirik, atau bid’ah, tetapi juga menjelaskan perkara yang halal, tauhid, dan sunnah sebagai solusi.

Jangan hanya mengatakan, “Ini tidak boleh, ini haram, dan ini terlarang,” tanpa memberikan penjelasan tentang alternatif yang dibolehkan oleh syariat.

Dengan demikian, orang yang menerima nasihat tidak hanya mengetahui apa yang harus ditinggalkan, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan.

******

Hadits ke-15: Nabi ﷺ Pernah Buang Hajat dengan Membelakangi Ka’bah di Dalam Bangunan

Hadits berikutnya diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma.

Teks hadits: 

Beliau berkata:

رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةِ وَفِي رِوَايَةٍ: مُسْتَقْبِلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Pada suatu hari aku naik ke atas rumah Hafshah, lalu aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menunaikan hajatnya dengan menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka’bah.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Menghadap ke arah Baitul Maqdis.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma pernah naik ke atas rumah Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk Ummahatul Mukminin.

Ketika berada di atas rumah tersebut, beliau tanpa sengaja melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang buang hajat dengan menghadap ke arah Syam atau Baitul Maqdis dan membelakangi Ka’bah.

Syam merupakan wilayah yang mencakup Palestina dan negeri-negeri di sekitarnya. Di Palestina terdapat Masjid Al-Aqsha, yang dahulu menjadi kiblat pertama kaum muslimin sebelum Allah memerintahkan mereka untuk menghadap ke Ka’bah di Makkah.

Pelajaran dan faedah hadits

1. Bolehnya membelakangi Ka’bah ketika buang hajat di dalam bangunan

Hadits ini menjadi dalil bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang hajat dengan membelakangi Ka’bah ketika berada di tempat tertutup.

Hal ini menjadi salah satu dalil yang digunakan para ulama untuk mengompromikan hadits larangan pada pembahasan sebelumnya.

2. Menggabungkan dalil-dalil yang tampak berbeda

Ketika membahas suatu permasalahan fikih, seorang muslim hendaknya tidak hanya mengambil satu hadits, kemudian meninggalkan hadits lainnya.

Semua dalil yang berkaitan dengan permasalahan tersebut perlu dikumpulkan dan dipahami secara menyeluruh.

Dalam masalah menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat, para ulama mengompromikan hadits-hadits tersebut dengan membedakan antara tempat terbuka dan tempat tertutup.

Kesimpulan hukum yang dijelaskan dalam pembahasan ini adalah:

  • Di tempat terbuka: Menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat hukumnya haram.
  • Di dalam bangunan atau tempat tertutup: Hukumnya makruh, berdasarkan hadits yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya.

Dengan demikian, meskipun terdapat keringanan ketika berada di dalam bangunan, seorang muslim tetap dianjurkan menghindari posisi yang menghadap atau membelakangi kiblat.

Contoh lain: Hukum minum sambil berdiri

Untuk memahami bagaimana suatu larangan dapat berubah hukumnya karena adanya dalil lain, kita bisa melihat contoh minum sambil berdiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا

“Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ

“Barang siapa lupa, hendaklah ia memuntahkannya.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan kerasnya larangan minum sambil berdiri.

Namun, terdapat riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ

“Aku pernah memberikan minuman air Zamzam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau meminumnya dalam keadaan berdiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari dua kelompok dalil tersebut, para ulama menjelaskan bahwa minum sambil berdiri tidak sampai pada hukum haram, tetapi makruh.

Perbuatan Nabi bukanlah menyelisihi perkataan beliau. Justru perbuatan tersebut menjadi penjelas bahwa larangan itu tidak menunjukkan keharaman secara mutlak.

Memahami makruh dalam pembahasan fikih

Makruh adalah perkara yang apabila ditinggalkan karena mengharap pahala Allah, seseorang akan mendapatkan pahala, sedangkan apabila dilakukan tidak berdosa.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tetap berusaha meninggalkan perkara makruh dan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan.

Demikian pula dalam masalah buang hajat. Meskipun buang hajat menghadap atau membelakangi kiblat di dalam bangunan dihukumi makruh menurut penggabungan dalil yang dijelaskan, sebaiknya seorang muslim tetap menghindarinya.

Bahkan, aktivitas sehari-hari seperti buang hajat pun dapat menjadi ladang pahala apabila dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari membaca doa, mendahulukan kaki kiri ketika masuk, menjaga aurat, hingga memperhatikan arah kiblat.

*****

Hadits ke-16: Anjuran Beristinja dengan Air dan Bolehnya Meminta Bantuan Orang Lain

Hadits selanjutnya diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Teks hadits:

Beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa masuk ke tempat buang hajat. Kemudian aku bersama seorang anak yang sebaya denganku membawa sebuah bejana berisi air dan sebuah tongkat kecil. Lalu beliau beristinja dengan menggunakan air.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan kebiasaan beliau membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak buang hajat.

Beliau bersama seorang anak yang sebaya dengannya membawakan bejana berisi air dan sebuah tongkat kecil yang disebut ‘anazah. Air tersebut digunakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beristinja.

Pelajaran dan faedah hadits

1. Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Anas bin Malik merupakan salah seorang sahabat yang memiliki keutamaan besar. Beliau adalah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Khadimun Nabi).

Anas melayani Nabi sejak beliau hijrah ke Madinah hingga wafat. Karena kedekatannya dengan Rasulullah dan seringnya beliau menyertai Nabi, Anas menjadi salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

2. Bolehnya meminta bantuan orang lain dalam perkara yang berkaitan dengan bersuci

Hadits ini menunjukkan bolehnya meminta bantuan orang lain dalam urusan yang berkaitan dengan thaharah.

Misalnya:

  • Meminta orang lain membawakan air.
  • Meminta bantuan untuk menyiapkan perlengkapan bersuci.
  • Meminta bantuan dalam menyediakan sarana untuk berwudu.
  • Meminta bantuan lain yang diperlukan ketika hendak bersuci.

Hal tersebut dibolehkan selama orang yang dimintai bantuan tidak merasa keberatan dan tidak ada unsur yang dilarang oleh syariat.

3. Bolehnya beristinja menggunakan air

Hadits ini menunjukkan bahwa beristinja dengan air merupakan perkara yang disyariatkan.

Air merupakan sarana yang sangat baik untuk membersihkan najis. Apabila air tidak tersedia, seseorang boleh menggunakan sarana lain yang memenuhi ketentuan syariat, seperti tisu.

Namun, menggunakan air merupakan cara yang lebih sempurna untuk membersihkan najis.

4. Anjuran mempersiapkan sarana bersuci sebelum buang hajat

Di antara faedah hadits ini adalah anjuran mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bersuci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana air dan perlengkapan yang diperlukan dipersiapkan sebelum digunakan.

Hal ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan persiapan dalam menjalankan adab-adab thaharah.

Memperhatikan perencanaan fasilitas kamar mandi

Pelajaran ini juga dapat diterapkan dalam pembangunan dan penataan kamar mandi atau toilet.

Ketika membuat fasilitas bersuci, hendaknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Arah toilet: Usahakan posisi toilet tidak menghadap atau membelakangi kiblat.
  • Posisi gayung dan bak air: Sebaiknya ditata agar mudah dijangkau dengan tangan kanan ketika mengambil air.
  • Penggunaan tangan: Tangan kanan digunakan untuk perkara yang baik dan terhormat, sedangkan tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran.
  • Posisi keran dan perlengkapan bersuci: Aturlah agar mudah digunakan dan tidak menyulitkan orang yang sedang bersuci.
  • Saluran pembuangan air: Pastikan air mengalir dengan baik dan tidak menyebabkan lantai menjadi licin, terutama di sekitar pintu masuk.
  • Kebersihan kamar mandi: Atur fasilitas agar sisa kotoran dan air buangan tidak mengganggu kebersihan tempat tersebut.

Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan sarana thaharah dengan baik. Islam tidak hanya mengatur tata cara ibadah, tetapi juga mengajarkan agar fasilitas yang digunakan untuk beribadah dan bersuci ditata secara tepat.

*****

Hadits ke-17: Larangan Menggunakan Tangan Kanan untuk Membersihkan Kemaluan dan Larangan Bernapas di Dalam Bejana

Hadits berikutnya diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.

Teks hadits:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ، وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ

“Janganlah salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang buang air kecil. Jangan pula membersihkan kotoran setelah buang hajat dengan tangan kanannya, dan janganlah bernapas di dalam bejana.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini mengandung tiga larangan yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim.

Pelajaran dan faedah hadits

1. Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air kecil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang buang air kecil.”

Larangan ini ditujukan kepada laki-laki yang sedang buang air kecil.

Seorang laki-laki hendaknya tidak menggunakan tangan kanan untuk memegang kemaluannya ketika buang air kecil. Apabila diperlukan untuk mengarahkan kemaluan agar air kencing tidak mengenai pakaian atau tempat tertentu, hendaknya menggunakan tangan kiri.

2. Larangan membersihkan kotoran dengan tangan kanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ

“Jangan pula membersihkan kotoran setelah buang hajat dengan tangan kanannya.”

Larangan ini menunjukkan bahwa tangan kanan tidak digunakan untuk membersihkan kemaluan atau kotoran setelah buang hajat.

Islam mengajarkan agar tangan kanan digunakan untuk perkara-perkara yang baik dan terhormat, sedangkan tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran.

Dengan demikian, apabila seseorang hendak beristinja, hendaknya menggunakan tangan kiri.

3. Larangan bernapas di dalam bejana ketika minum

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ

“Dan janganlah bernapas di dalam bejana.”

Larangan ketiga dalam hadits ini berkaitan dengan adab minum.

Ketika seseorang minum, hendaknya ia tidak bernapas di dalam wadah atau bejana tempat minumnya.

Cara yang benar adalah minum beberapa teguk, kemudian menjauhkan bejana dari mulut untuk mengambil napas. Setelah itu, ia boleh melanjutkan minum kembali.

Jangan minum sambil terus-menerus mengambil napas di dalam bejana.

Adapun hikmah larangan tersebut, salah satunya dapat berkaitan dengan kebersihan. Ketika seseorang bernapas di dalam wadah minum, dikhawatirkan udara dari hidung dan mulut membawa kotoran atau sesuatu yang dapat mengotori minuman.

Namun, yang terpenting adalah seorang muslim mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ketika telah mengetahui hikmahnya maupun belum mengetahuinya.

Penutup: Pentingnya Memperhatikan Adab Thaharah

Demikian beberapa hadits yang menjelaskan adab-adab ketika buang hajat dan bersuci.

Dari hadits ke-14 sampai ke-17 dalam kitab ‘Umdatul Ahkam, kita mendapatkan sejumlah pelajaran penting, di antaranya:

  • Larangan menghadap dan membelakangi kiblat ketika buang air besar maupun buang air kecil.
  • Perbedaan hukum menghadap atau membelakangi kiblat antara tempat terbuka dan tempat tertutup berdasarkan penggabungan dalil-dalil.
  • Pentingnya memahami seluruh dalil dan tidak mengambil satu hadits dengan mengabaikan hadits lainnya.
  • Bagusnya metode pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak hanya menyebutkan larangan, tetapi juga memberikan alternatif yang dibolehkan.
  • Keutamaan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagai pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Bolehnya meminta bantuan orang lain dalam mempersiapkan sarana bersuci.
  • Disyariatkannya beristinja dengan menggunakan air.
  • Anjuran mempersiapkan sarana thaharah sebelum buang hajat.
  • Larangan menggunakan tangan kanan untuk memegang kemaluan ketika buang air kecil.
  • Larangan membersihkan kotoran setelah buang hajat dengan tangan kanan.
  • Larangan bernapas di dalam bejana ketika minum.

Perkara-perkara tersebut mungkin terlihat sederhana karena berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Namun, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bahkan, aktivitas yang dilakukan setiap hari seperti buang hajat, membersihkan diri, dan minum dapat bernilai ibadah apabila dikerjakan sesuai tuntunan syariat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita taufik untuk memahami agama-Nya, mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan senantiasa menjaga adab-adab yang telah beliau ajarkan.

Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.

*****

Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan: Bagaimana jika posisi toilet yang sudah tersedia terlanjur menghadap ke arah kiblat?

Jawaban:

Apabila posisi toilet terlanjur menghadap ke arah kiblat, seseorang dapat berusaha menghindari posisi tersebut dengan sedikit memiringkan badan ketika buang hajat, sehingga tidak tepat menghadap atau membelakangi kiblat.

Hal ini merupakan bentuk usaha untuk menghindari larangan dan menjaga adab ketika buang hajat.

Meskipun hukum menghadap atau membelakangi kiblat di dalam bangunan menurut penggabungan dalil yang telah dijelaskan adalah makruh, bukan haram, seorang muslim tetap hendaknya berusaha menjauhinya.

Semoga Allah memberkahi kita semua. Barakallahu fiikum.

 Poster Ringkasan

 Umdatul Ahkam Panduan Wudhu Nabi

 

*****

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini